Warga Pemukim dan Sekitarnya di Bantaran Kali Acai Kota Jayapura

JUBI-Misi dan Visi Kota Jayapura yaitu mewujudkan kota Jayapura sebagai kota Beriman, maju, mandiri dan sejahtera.

Akronim dari Beriman itu sendiri adalah bersih, indah, aman dan nyaman. Hal ini sejalan dengan RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) Kota Jayapura, menetapkan program prioritas pembangunan antara lain pada program penyelenggaraan kebersihan kota. Untuk mewujudkan misi dan visi tersebut berbagai upaya terus dilakukan dalam penyelenggaraan kebersihan kota.
Sehubungan dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk kota Jayapura dengan berbagai aktivitasnya, menyebabkan semakin meningkatnya volume sampah yang dihasilkan, sedangkan penanganan kebersihan dan persampahan oleh pemerintah Kota Jayapura dirasakan banyak masyarakat masih belum maksimal meskipun ada berbagai upaya kearah itu.
Karena lemahnya perangkat pendukung, rendahnya kesadaran dan partisipasi masyarakat pada tingkatan tertentu. Maka diperlukan adanya pengaturan tentang penyelenggaraan kebersihan yang didalamnya mengatur pula kewajiban masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam penyelenggaraan kebersihan kota, selain tanggungjawab dan kewajiban pemerintah kota Jayapura dalam hal ini Dinas Kebersihan Dan Pemakaman maupun pemerintah tingkat Kelurahan.
Pengaturan mengenai penyelenggaraan kebersihan ditetapkan menjadi pedoman bagi pemerintah dan masyarakat dalam mewujudkan kebersihan kota Jayapura.
Dari pantauan wartawan Jubi di lapangan, yakni di aliran kali Acai, kali yang mengalir dan membelah batas antara Distrik Abepura dan Distrik Jayapura Selatan ini kalau tidak diperhatikan dengan serius oleh pemerintah Kota Jayapura dan yang terpenting adalah masyarakat yang bermukim di sekitar aliran kali untuk menjaga agar tidak membuang sampah di kali adalah yang utama. Sebab kalau kesadaran masyarakat sekitar aliran kurang peduli bukan mustahil sampah akan memenuhi kali dan pada waktu hujan akan menyebabkan banjir dan meluapnya air.
Kali Acai yang muara alirannya di Pantai Enggros dengan kondisi sepanjang kiri dan kananya adalah masyarakat pemukim sangat rawan terjadi gangguan akibat sumbatan sampah. Bertambah kompleksnya persoalan yang muncul di sepanjang bantaran sungai, mendorong masyarakat sekitar Kali Acai untuk mengumpulkan sampah dipinggir kali untuk selanjutnya menunggu truk pengangkut sampah datang. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya di mana masyarakat kurang menaruh kesadaran akan pentingnya kebersihan kali dengan membuang langsung sampahnya di aliran kali.
Setidaknya ada tiga persoalan yakni pencemaran limbah industri, limbah domestic atau rumah tangga dan pengalihan fungsi bantaran dari lahan tumbuhnya vegetasi tanaman menjadi areal permukiman. Dampak dari tiga persoalan tersebut dikarenakan pemukim di wilayah perkotaan Jayapura semakin hari semakin bertambah padat. Perubahan karena bertambahnya pemukim ini secara tidak langsung juga mengakibatkan menurunnya kualitas lingkungan sungai.
Kepala Distrik Abepura, Max.D. Olua saat ditemui wartawan Jubi didruang kerjanya belum dapat menjelaskan panjang lebar. Hal tersebut dikarenakan keterbatasan waktu karena ada janji dengan walikota.
“Aduh maaf saat ini saya belum punya waktu dan terburu-buru untuk ketemu Walikota. Jadi lain waktu saja kita bicarakan”  tuturnya kepada wartawan Jubi pekan lalu di Kantor Distrik Abepura.
Sementara itu Ketua RT 07/VI Kelurahan Wai Mhorock, Gazali kepada wartawan Jubi mengatakan bahwa bantaran kali Acai pernah dibersihkan dengan cara kerja bhakti bersama saat menyambut hari lingkungan hidup beberapa waktu lalu. “Namun saat ini sudah hampir dua bulan belum ada lagi kegiatan kerja bhakti bersama,” tambah Gazali.
Menurut, Gazali yang juga bermukin di pinggiran kali Acai, kalau waktu hujan kondisi jalan disepanjang pinggiran kali sebelah kiri dari jalan Baru Abepura sangat becek bahkan kendaraan tidak bisa masuk.
“Pernah waktu hujan agak lama air meluap hingga sampai lutut orang dewasa. Disamping itu jalanan kondisinya baru ditimbun dan belum diaspal sehingga menyulitkan kendaraan yang akan lewat. Sementara hanya beberapa kali saja dari pihak Dinas Kebersihan Kota mengangkut sampah tetapi akhir-akhir ini sudah ada lagi” terangnya.
Gazali mengungkapkan banyak orang dari luar dengan memakai mobil atau motor terkadang membawa sampah yang ditaruh dalam kantong plastik untuk dibuang di kali begitu saja. Mereka membuang pada tengah malam atau kalau orang lagi sepi.
Pihaknya berharap kepada pemerintah Kota Jayapura untuk memperhatikan jalanan agar segera diaspal. Selain itu juga menginginkan kendaraan pengangkut sampah untuk secara intensif datang mengangkut sampah-sampah warga yang bermukim di pinggiran kali yang sudah ditaruh di depan halaman rumah masing-masing.

Manusia dan Lingkungan Sekitar Kali
Begitu penting arti lingkungan hidup bagi manusia di manapun. Meskipun kenyataannya masalah lingkungan sering kali diabaikan. Bahkan kenyataan yang terjadi justru selalu terjadi eksploitasi besar-besaran terhadap lingkungan. Salah satu eksploitasi tersebut dalam bentuk pemukiman sekitar bantaran kali. Meskipun dari awalnya Tuhan menciptakan alam dan segala isinya memang untuk kehidupan manusia dan segala mahkluk ciptanNya, namun seiring sejalan dengan tuntutan persaingan, manusia yang keluar sebagai mahkluk pemenang justru seakan-akan memanfaatkan kesempatan itu untuk mengeruk sebesar-besarnya segala manfaat dari alam dan lingkungan sekitarnya. Namun perlu disadari juga berbicara tentang kerusakan lingkungan, seringkali yang menjadi kambing hitamnya adalah masyarakat tradisional yang lahir dan tinggal di sekitar lingkungan itu sendiri. Sebagai contoh permasalahan yang terjadi pada masyarakat stren kali. mereka cenderung menjadi tertuduh, ketika air sungai menjadi kotor akibat banyaknya sampah rumah tangga. Padahal kalau mau di pikir ulang tidak semua sampah dan limbah yang mengalir kesungai akibat dari pembuangan sampah masyarakat pemukim pinggiran kali.
Akan lebih baik jika pemerintah daerah juga fokus pada pembangunan stren kali, artinya bukan menggusur namun mengatur. Dengan kata lain merubah kebijakan pemerintah sendiri untuk mendorong perubahan sikap pada masyarakat pemukim pinggir kali.
Perubahan tata kota yang bisa di lakukan salah satunya dengan memasang lampu penerangan di sepanjang bantaran sungai yang dapat meminimalisir masyarakat untuk membuang sampahnya di kali karena rasa malu dilihat orang lain.
Ini berkaitan dengan budaya masyarakat kita yang cenderung memandang sungai sebagai saluran pembuangan.
Seperti yang tertuang dalam Perda Kota Jayapura Nomor 10 tahun 2007 tentang penyelenggaraan keber- sihan pada Bab II, pasal 2 ayat 2 yang menyatakan bahwa setiap orang dan badan usaha berkewajiban untuk: 1. memiliki gerobak pengumpul untuk mengangkut sampah sampah dari rumah ke tempat pembuangan sementara. 2, memelihara kebersihan bangunan dan halaman sekitarnya dengan baik termasuk halaman luar pagar yang berbatasan dengan jaln umum. 3, memelihara kebersihan saluran air yang ada disekitar pemukiman.
Sementara mengenai larangan juga sudah tertuang dalam Bab III pasal 6 ayat 1 yang berbunyi setiap orang atau badan dilarang membuang sampah dan limbah lainnya di perairan laut, pantai, sungai, danau dan rawa serta roil dalam wilayah Kota Jayapura.
Selain UU dan Perda sebenarnya dalam UU Kehutanan No:41 pasal 50 juga melarang membangun di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) sesuai dengan UU tersebut kiri kanan kali tidak boleh ada bangunan termasuk sumber sumber air minum atau mata air sekitar ratusan radius tidak boleh ada kegiatan termasuk membuat kebun di sekitarnya. Namun kenyataannya sumber sumber air minum dan banyak permukiman penduduk di bantaran kali mulai dari Kali Anafre di jantung Kota Jayapura, bantaran Kali Acai, Kali APO juga di dekat aliran kali. Upaya untuk pembenahan kawasan kawasan aliran sungai memang perlu dilakukan sebab jika tidak daerah permukiman tersebut sangat rawan terhadap bahaya banjir mau pun krisis air bagi warga Kota Jayapura.  (Anang Budiono).

Iklan
%d blogger menyukai ini: