Warga Kota Jayapura Produksi Sampah 1200 Meter Kubik Per Hari

JUBI – Setiap pagi pukul 04.00 WIT subuh petugas sampah sudah mulai melakukan aktivitasnya. Sebanyak 30  truck pengangkut sampah milik  Dinas Kebersihan dan Pemakaman (DKP) Kota Jayapura yang hanya  berkapasitas 4 meter kubik membawa sampah sampah dari ratusan TPS ke TPA Nafri.

Truck truck ini  mampu bolak balik ke TPA sebanyak tiga  hingga empat kali  se hari. Produksi sampah warga Kota Jayapura bisa mencapai 825 hingga 1200 meter kubik sampah kota Jayapura masuk  ke TPA ini per hari.
Jika penduduk Kota Jayapura saat ini mencapai 300.000 jiwa maka diperkirakan jumlah sampah yang dihasilkan sebesar 900.000 kg sampah atau sekitar 900 ton per hari.
Ironinya sampah sebesar ini tak mampu diangkut karena terbatasnya armada truk dan juga TPS yang minim. Idealnya harus ada sebanyak 200 TPS sedangkan yang tersedia hanya 100 TPS.
Aktivitas di tempat pembuangan Akhir (TPA) Nafri, mulai sibuk untuk membongkar sampah pukul 04.00 subuh. Truck – truck sampah keluar masuk TPA Nafri membawa sampah dari seluruh penjuru Kota Jayapura. Truck-truck ini disambut oleh puluhan pemulung, mereka terdiri dari laki-laki, perempuan, orang tua hingga anak-anak. Hari masih gelap untuk melihat sampah, namun mereka tidak kehabisan akal. Tangan kanan memegang gancu, tangan kiri memegang karung plastik, sedangkan senter mereka dimasukan ke dalam mulut dan digigit. Dengan cekatan mereka mengaduk aduk sampah. “Kalau pagi begini memang ramai, sebab bisa satu rumah turun semua ke TPA. Tapi nanti sekitar jam enam, anak-anak pulang untuk berangkat sekolah,” tutur Yesinta, ibu tiga yang sudah memulung sejak tahun 2000.
Sekitar pukul 08.00, truck sampah yang masuk ke TPA semakin sering. Walaupun pancaran matahari sudah cukup terang, pandangan di TPA hanya sekitar 1 hingga 1,5 meter. Asap akibat pembakaran sampah di TPA ini cukup tebal untuk menghalangi pandangan mata, namun para pemulung ini sepertinya tidak terganggu. Mereka terus mengais ngais sampah diantara desingan lalat yang hinggap diatas sampah yang tidak terbakar.  Botol, botol plastik, kaleng, besi mereka ambil, sisanya dibakar. “Tambah siang, asapnya semakin tebal, jarak pandang semakin pendek,” kata Yesinta. Sebab itu, biasanya sekitar pukul 10.00 sebagian besar pemulung sudah pulang ke rumah masing-masing, sisanya memilah milah sampah sesuai dengan kategorinya di pondok-pondok  mereka yang mereka buat di sekitar TPA.
Dari sana sekitar tiga puluh pemulung mampu menghasilkan Rp.    1, 2 juta hingga Rp. 1,6 juta per bulannya.
“Kesannya saja jelek, kami bekerja di tempat sampah, namun penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari hari,” lanjut La Edy.
TPA Nafri beroperasi sejak tahun 1994. Tempat ini adalah sebuah jurang. Sampah dibuang langsung  ke jurang tanpa pengolahan sama sekali. Kalaupun ada, pemisahan dilakukan oleh pemulung, lalu sisanya di dorong traktor ke dalam jurang, lalu dibakar. “Dulu di mata jalan TPA ada tiga bak, rencananya disitu sampah –sampah akan dipisah-pisahkan, tapi sampai sekarang bak bak itu tidak digunakan,” cerita La Edy. Ketika ditelusuri, ketiga bak sampah itu memang masih ada, namun karena tidak digunakan, bak sampah ini kemudian tertutup ilalang dan tanah. Sehingga saat ini tidak nampak sama sekali.
Gara gara pemberitaan sampah, kantor redaksi harian pagi Papua Pos di Kota Jayapura, mendapat kiriman sampah tepat di depan kantor mereka oleh truk sampah akibat pemberitaan yang menyinggung instansi yang mengurus sampah sampah. Demikian pemberitaan yang dikutip Jubi dari Kompas 12 Maret 2008 lalu.
Sebegitu rumitkah sehingga persoalan sampah di kota Jayapura sangat tabu untuk diberitakan apalagi disorot kinerja dan cara pengelolaan sampah?
Salah seorang warga Kota Jayapura Bani Susilo mengatakan sampai saat ini pemerintah belum menyediakan alat atau mesin untuk memilah milah sampah plastic, logam atau organic dan non organic sehingga para pemulung atau industri yang mau memanfaatkan sampah tersebut tidak terlalu repot. “Selama ini dilakukan adalah inisiatif dari masyarakat dan pihak swasta yang merasa tertarik untuk mengelola dan memanfaatkan sampah sampah tersebut. Seharusnya pemerintah Kota Jayapura harus menangkap peluang yang ada dan bukan sekadar mengumpulkan sampah dan membuangnya serta membakarnya saja, üjar Bani Susilo Sekretaris DPD Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) kepada Jubi belum lama ini.
Selain itu tambah Bani Susilo sampai saat ini kontaner atau TPS yang ada sangat minim dan hanya diletakan pada beberapa titik saja. “Saya melihat lokasi gang yang sempit pihak petugas tidak mengangkut karena mungkin tak ada jalan masuk sehingga masyarakat membuangnya pada tempat yang tidak tepat,”tambah Bani Susilo.
Memang keluhan warga sangat tepat karena tidak semua petugas sampah mampu melayani semua warga. Pasalnya TPS atau container sangat terbatas dan juga armada pengangkut sampah sedikit.
Kepala Dinas Kebersihan dan Kebersihan Kota Jayapura M Soltief, SE kepada wartawan di Jayapura belum lama ini mengatakan, untuk memaksimalkan penanganan dan pengangkutan sampah di wilayah Kota Jayapura, idealnya harus tersedia 200 bak/kontainer sampah
“Bertambahnya dan padatnya penduduk di wilayah Kota Jayapura jelas membuat volume sampah semakin meninggi,”tegas Soltief.
Menurut mantan Kadinas PU Kota Jayapura ini menambahkan sampai saat ini baru ditempatkan sebanyak 100 bak sampah atau kontanier pada seratus titik tersebut seharusnya lebih dari itu,”tegas Soltief.
Selain fasilitas yang minim kata Soltief factor terpenting adalah tingkat kesadaran masyarakat yang masih minim dan memilih jalan pintas membuang sampah ke kali atau saluran air.
Kontainer atau Tempat Penampungan Sementara (TPS) idealnya adalah setiap rukun warga (RW) harus ditempati dua buah TPS atau Kontainer. Dengan perkiraan bahwa satu TPS dapat menampung 6 meter kubik sampah dengan rincian satu jiwa menghasilkan 2,7 Kg sampah.
Kalau data penduduk Kota Jayapura saat ini mencapai 300.000 jiwa maka diperkirakan jumlah sampah yang dihasilkan sebesar 900.000 kg sampah atau sekitar 900 ton per hari.
Meski demikian ada data lain yang menunjukan bahwa sebenarnya Kota Jayapura idealnya membutuhkan 813 bak kontanier atau TPS pada setiap RW.
Tampaknya petugas petugas sampah di setiap RT dengan gerobak sampah belum dimiliki sehingga warga sendiri yang inisiatif untuk membuang atau mengumpulkan di TPS atau pinggir jalan yang dilewati truk sampah. Kalau sampai truk tidak lewat terpaksa sampah menumpuk sampai berhari hari
Pembuangan sampah juga merambah sampai ke Danau Sentani terutama drainase dari wilayah permukiman di Waena dan sekitarnya.
Danau Sentani seluas 9630 hektar (Ha) merupakan sumber hidup bagi sekitar 5.000 keluarga di sekitarnya untuk mencari ikan.
Sedimentasi berupa pasir, batu, kayu dan plastic, kaleng, sampah penduduk kota, dan besi bekas sudah tertumpuk pada dasar danau Sentani. Padahal pemerintah Provinsi Papua telah mencanangkan Danau Sentani sebagai salah satu asset potensi wisata dan daerah tujuan wisata dengan Festival Danau Sentani 2008 lalu.
Faktor factor yang bisa dianggap pemicu adalah system drainase di Kota Jayapura belum tertata dengan baik terutama pembuangan saluran air dari perumahan. Apalagi master plan pembangunan system drainase Kota Jayapura memang belum ada. Hal ini diakui oleh Pelaksana  Tugas Kepala Dinas PU Kota Jayapura , Rudolf Rumbino belum lama ini kepada wartawan di Jayapura.
”Belum ada master plan untuk pembangunan sistem drainase Kota Jayapura yang representatif, tapi kami sedang berupaya untuk mengajukannya,”tegas Rumbino.
Memang kalau dikaji secara mendalam sebenarnya Kota Jayapura memerlukan sebuah master plan drainase yang lengkap dan detail. Ini penting agar pembangunan dan pengembangan Kota Jayapura tidak setengah tetapi menyeluruh dan memang daerah ini sangat berpencar dan jauh letaknya. Contoh ektrim adalah wilayah laba laba di Polimak yang setiap hujan pasti tergenang air. Begitu pula daerah Perumnas IV Padang Bulan yang beberapa waktu lalu tergenang air dan banyak rumah rumah terendam karena drainase yang tidak tertata baik. Apalagi daerah daerah seperti Perumnas IV Padang Bulan dan laba Polimak tak layak untuk permukiman.
Bambu Kuning di sekitar lokasi permukiman laba laba Polimak menjadi gambaran biasa saat musim hujan. Rumah rumah penduduk di sekitar Bambu Kuning terendam dan jalan ke Kota Jayapura terhambat karena genangan air.Masalah ini diperburuk lagi dengan kebiasaan penduduk yang secara sembarang membuang sampah di rumah mereka sehingga menghambat jalannya jalur air. Walau demikian sebenarnya kawasan permukiman di Bambu Kuning tak layak jadi permukiman karena merupakan daerah tangkapan air hujan. Saat ini Pemkot Jayapura sedang menimbun jalan tersebut dan akan memperparah lokasi terutama di tebing tebing termasuk lokasi sekolah Kalam Kudus yang berada dikemiringan dan ini akan terbuka peluang menjadi saluran air untuk turun ke Kali Anafre.
Melihat dampak dampak permukiman tersebut seharusnya Pemkot harus tegas kepada para penduduk yang hendak membangun rumah rumah baru sebab ini sangat membahyakan keselamatan dan keindahan Kota Jayapura. (Dominggus Mampioper dan Angel Flassy dari berbagai sumber)

%d blogger menyukai ini: