Tak Ada Air Bersih, Skabies Landa Warga

JUBI – “Penyakit kudis atau gatal-gatal masih banyak ditemukan dikalangan masyarakat yang tinggal di Kampung-kampung yang berada dipesisir pantai Jayapura. Tidak adanya air bersih menyebabkan masyarakat mengkonsumsi mata air yang berkapur untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci dan keperluan lainnya”

Kesehatan lingkungan  sangatlah penting untuk menjamin kehidupan yang sehat didalam keluarga dan masyarakat di suatu kampung. Kurangnya pemahaman akan kesehatan lingkungan. Sehingga membuat masyarakat yang tinggal di  pesisir pantai Jayapura pada umumnya menderita penyakit Skabies atau kudis. Ditambah lagi masalah tranportasi yang hanya bisa dijangkau dengan mengunakan motor tempel, oleh karena itu untuk menjaga kesehatan diri sendiri saja susah, apa lagi menjadi kesehatan lingkungan. Untuk itu pihak kesehatan jangan hanya menempatkan bidan. Tapi haruslah menempatkan perawat untuk membentuk pekerajaan bidan yang notabenenya membantu ibu hamil, melahirkan, menyusui dan balita.
Salah satu kampung yang tingkat skabiesnya tinggi adalah Kampung kendate. Kampung yang berada diwilayah Distrik Depapre Kabupaten Jayapura hanya memiliki seorang bidan
Penyakit yang seringkali diderita masyarakat adalah Malaria dan Diare. Namun kebanyakkan anggota masyarakat di kampung ini juga terlihat menderita Skabies (kudis). Menurut Lea Boway, 42 tahun bidan kampung Kendate penyebabnya adalah air yang digunakan masyarakat berasal dari karang yang masih hidup. “Airnya kalau kita masak, itu setengah bagian belanga itu kapur. Tapi setidaknya air yang bagus hanya air yang berasal dari mata air itu dan memenuhi syarat untuk dipakai mandi dan minum,” ujar Lea. Seperti juga Kampung Tablanusu, walaupun bukan berasal dari karang hidup, tapi airnya sama berkapur.
“Disini walaupun airnya mengalir bagus, masalah adalah karang hidup. Mandi boleh saja tapi badan gatal-gatal, terus kebanyakkan masyarakat di sini sakit ginjal karena terus menerus minum air yang berkapur,” kata Lea. Ia memperkirakan, hal ini diakibatkan masyarakat minum air dalam keadaan panas dan kapurnya belum mengendap dengan baik, sehingga saat mencapai usia 40 hingga 50 tahun banyak masyarakat mengeluh dan saat diperiksa, mereka menderita sakit ginjal.
Untuk penyakit malaria, selama ia tangani tidak ada yang meninggal dunia. Menurut pengamatannya, masyarakat asli Kabupaten Jayapura, jika ada merasa sakit seperti malaria, masyarakat langsung berobat dan diobati langung sembuh. Tapi jika masyarakat yang berasal dari luar Papua atau kabupaten lain, seperti Wamena dan Paniai biasanya agak parah. “Mereka datang ke Jayapura, mereka sepertinya kaget dan tidak bisa menyesuaikan diri dengan malaria. Mereka sangat rawan sekali, jika tidak diantisipasi lebih dini. Mungkin Cuma malaria plus satu saja langsung meniggal dunia. Tetapi anak-anak kecil disini sampai malaria plus 3masih bisa bermain,” ujar Lea. Bahkan saat panas tinggi, juga tetap bisa bermain. Tiap hari ada saja pasien yang datang berobat ke Polindesnya. Kadang sampai belasan, kadang juga tidak ada sama sekali.

Cenderung Penyakit Malaria dan Skabies.
“Kalau untuk penyakit Skabies biasanya saya kasih obat Amoxcilin dan CTM untuk gatal – gatalnya karena kami disini obatnya sangat terbatas, jadi kami hanya anjurkan agar dapat menjaga kebersihan. Walaupun air jelek, bagaimanapun juga kita harus berusaha supaya pakaian yang kita pakai tetaplah bersih,” lanjut Bidan Lea.
Polides ini dibangun sejak tahun 2006, karena permasalahan dana sehingga harus menunggu hingga ada dana lagi baru dapat diselesaikan. Hingga pada bulan Januari polides tersebut selesai dikerjakan dan boleh ditempati. Sebelumnya Bidan Lea tinggal di Tablanusu. Setiap harinya ia harus pulang pergi mengobati pasien di Kampung Kendate. “Dokter kasih tanggung jawab untuk saya yakni kalau ada ibu hamil, melahirkan, ibu menyusui dan bayi balita barulah saya datang untuk mengobati itu merupakan tanggung jawab bidan,” katanya. Untuk pengobatan lain seperti luka dan sebagainya, sebagai bidan itu dilengkapi dengan keterampiran untuk mengisi kekurangan perawat.  Sedangkan pekerjaan pokoknya yaitu membantu melahirkan ibu hamil. Jadi puskemsmas menempatkan bidan desa hanya untuk menolong ibu hamil. Distrik Depapre pada umumhya memiliki Polindes . Putu hanya ada di Yosufar saja yang sekarng menjadi distrik Rafinirirara. Polindes khusus memperkerjakan bidan bidan saja.
Mama Lea mengakui persediaan obat di polindesnya agak susah, jadi masyarakat haruslah dapat menjaga kebersihan lingkungan terutama terutama untuk ibu-ibunya. Setiap kali mengunjungi pasiennya, untuk pelayanan ibu hamil, ibu melahirkan Ia selalu meminta para ibu agar dapat menjaga kebersihan rumah, kamar, tempat tidur agar tidak mudah tertular oleh penyakit Skabies. “Karena anak main kotor dan pulang terus mandi, tapi tetap memakai pakaian yang kotor, ya.. sama saja kita memelihara penyakit di tubuh anak kita. Jadi pengobatan kita hanyalah sia-sia saja. Minimal kalau anak-anak main haruslah mandi yang bersih lalu pakai pakaian yang bersih, jika tidak kotoran tetap menempel di badan,” kata ibu lima anak ini. Jangan setelah sakit terus datang untuk berobat, namun tidak ada upaya pencegahan sama sekali.
Maksud dari pengecahan adalah menjaga lingkungan agar bersih, buang air pada tempatnya (anak-anak kecil di kampung sering kali buang air besar disembarang tempat) karena kadang ibu –ibu tidak tahu kalau itu menimbulkan penyakit.
Selama ini obat-obatan Polindes berasal Puskesmas induk Depapre. “Setiap kali pengobatan kita buat laporan, terus kita terima obat. Sementara obat itu kadang ada kadang kurang. Karena memang pengadaan di Polindes harus meminta ke gudang, kadang jumlahnya memang terbatas itu sudah yang saya terima. Jadi kita dari sekian kampung yang ada di Distrik Depapre, kita ada sebelas desa. Walaupun suadah terbagi Distrik pemecahan yang baru, tetapi khusus depapre ini masih dilibatkan,” ceritanya. WAlaupun sudah menjadi distrik sendiri, Distrik Rafinirara masih bergantung kepada Distrik Depapre dan masih belum terlepas dari pelayanan kesehatan dari Depapre. Jika diperhatikan distrik depapre memang berada di tengah-tengah, sehingga distrik yang luar wilyahnya seperti distrik Yokari dan kampung kampung distrik Demta yang dekat dengan Depapre masih berobat ke Depapre. Apa lagi distrik Yokari semuanya masih berobat ke distrik Depapre.
Contohnya kampung Moy. Hingga saat ini Kampung Moy masih datang berobat ke Depapre. “Jadi kita punya permintaan obat yang sedikit itu dari gudang sesuai dengan kita punyai target, tapi ternyata banyak pasien yang datang. Misalnya, saya meminta obat Paracetamol 100 butir, tetapi dalam kekurangan obat tidak mungkin dari gudang kasih 100 butir obat, mungkin akan dikasih 50 butir obat saja. Ini merupakan kendala-kendala selama bertugas di kampung-kampung yang ada di Depapre. Sementara kita sebagai petugas yang ada disini, karena kartu Askes  itu sebenarnya sudah berlaku, cumanya kekurangan kita di Kampung itu macam obat sampai kadang tidak ada itu mau ambil dari mana. Terpaksa jam sore yang pasien itu datang untuk berobat terpaksa saya harus pungut biaya sebesar Rp. 5000,- untuk pengobatan yang bukan di jam kerja,” katanya. Jam kerja antara pukul 08.00 – 12.00 WIP. Jika sampai kekurangan obat, uang hasil pengobatan diluar jam kerja ia gunakan sebagai alternatif pengadaan dengan membeli obat di Apotik di Kota Sentani.
Mama Lea sudah empat tahun bertugas dikampung Kendate. “Saya mulai bertugas pada tahun 1996 di Kampung Tablasupa, saya dipindahkan ke Lereh selama dua tahun. Kemudian saya dipindahkan ke Kendate jadi sudah empat tahun,” ceritanya. Mama Lea sendiri berasal dari Kampung Tablanusu, seluruh keluarnya termasuk anak-anaknya tinggal di Tablanusu bersama suaminya. “Mereka bersekolah disana, bisanya saya pulang pergi jika tidak ada pasien yang darurat. Namun Jika ada  ibu hamil barulah saya tetap bertahan disini. Mungkin sementar mau melahirkan jadi saya berada ditempat,” katanya. (Carol Ayomi)

Iklan
%d blogger menyukai ini: