Respon Dalam Menghadapi Bencana “Papua Termasuk Wilayah Rawan Gempa”

Jubi – Pengalaman menanggulangi bencana alam bagi setiap orang pasti amat berbeda sesuai dengan pemahaman dan karakter masing masing daerah. Namun yang perlu diperhatikan adalah bagaimana respon menghadapi suatu bencana karena faktor solidaritas untuk menolong sesama atas dasar kemanusiaan

“Lalu apa yang dimaksud dengan bencana? Bencana alam karena banjir dan gempa bumi serta tsunami, bencana sosial dan bencana akibat ulah manusia,”ujar Kenni Mayabubun dalam memfasiltasi diskusi bulanan kerja sama Yayasan Kiprah, Oxfam, Foker LSM Papua di ruang Rapat Tabloid Jubi belum lama ini.
Menurut Kenny memang banyak definisi tentang bencana termasuk kebijakan kebijakan yang keliru juga bisa menimbulkan bencana.
“Kasus longsor dan banjir di Kabupaten Jayapura khususnya di Sentani jelas jelas merupakan ulah manusia karena telah merusak kawasan cagar alam Cykloops. Siklus banjir yang tadinya hanya lima tahunan berubah menjadi siklus tahunan dengan volume banjir yang sangat besar,”ujar Kenni mengingatkan peristiwa Maret 2007 lalu di Sentani. Begitu pula pengalaman gempa dan tsunami di Biak pada 1997 dan gempa di Nabire 2004 lalu. Kondisi ini membuktikan bahwa tanah Papua rawan gempa dan termasuk daerah rawan bencana atau gempa.
Untuk mempertegas persamaan persepsi tentang definsisi bencana maka menurut Markus Kajoi koordinator program dari Yayasan Kiprah Papua tujuan diskusi ini adalah untuk memperkenalkan, membagi pengetahuan dan informasi kepada peserta tentang Piagam Kemanusiaan dan standar standar minimun dalam merespon bencana. “Memberikan informasi kepada peserta mengenai apa saja yang perlu diperhatikan dam dilakukan dalam tanggap darurat bencana,”ujar Kajoi.
Untuk menyamakan persepsi mau pun pengertian masing masing peserta diskusi dari berbagai stake holder yang mengikuti diskusi tematik itu maka Leni Feronika dari OXFAM Papua memberikan panduan minimum dalam memahami sphere dan meresponsuatu bencana.
Menurut Leni Feronika sphere bertumpuh pada keyakinan dasar bahwa segala upaya kerja aksi kemanusiaan ditujukan untuk meringankan peneritaan manusia akibat bencana dan konflik. “Mereka yang terkena bencana memiliki hak kehidupan yang bermartabat (hak terhadap bantuan),” ujar Feronika.
Karena itu lanjut Feronika untuk memahami semua itu perlu ada pertanyaan reflektif misalnya saja apa itu kemanusiaan, apa hubungan bencana dengan kemanusiaa? Dan mengapa bencana yang menyangkut aspe kemanusiaan diatur?
Memang bahaya alam tidak mungkin dihindari tetapi belajar dari pengalaman warga Jepang meskipun gempa sebesar 7,8 skala ricter bahkan lebih dari itu mereka tak merasa takut karena konstruksi bangunan dan masyarakat sudah biasa menyesuaikan sesuai dengan standar. Berbeda dengan gempa di Yogya yang hanya skala 5 tetapi telah menghancurkan ribuan permukiman penduduk dan memakan banyak korban karena konstruksi yang tidak anti gempa dan kurang sosialisasi.
Tanah Papua sesuai data dari Badan Meteorologi dan Geofisika termasuk dalam kawasan rawan gempa mulai dari daerah kepala burung dan dari bagian utara sampai ke Jayapura. Kemungkinan besar hanya wilayah selatan yang agak berkurang bukan berarti bebas dari rawan gempa.
Sulit memang meramalkan terjadinya gempa tetapi hal ini bisa diketahui dengan mempelajari riwayat terjadinya suatu gempai pada tempat tersebut.
Misalnya saja gempa di Nabire dalam kurung 20 tahun (1982-2002) Nabire dan sekitarnya telah diguncang sebanyak enam kali gempa bumi yang menimbulkan bencana. Pada 6 Februari 2004 pukul 06.05 WIT dengan kekuatan 6,9 skala Richter(SR), selanjutnya pada 26 November 2004 dengan kekuatan 6,4 SR. Goncangan gempa yang kedua ini menyebabkan bencana dan kerusakan cukup berat. Kota Nabire dalam kurun waktu setahun terjadi dua kali gempa dengan skala rata rata 6,5 SR merupakan kegiatan gempa yang sangat aktif. Gempa yang aktif ini berasa pada jalur Word Pacific ring of fare. Jalur ini dimulai dari Kepulauan Solomon,Fiji, PNG dan bagian Utara papua,Nabire, Mnaokwari, Biak, Sorong, Halmahera, Sangihe Talaud, Philipina, Jepang, India, Amerika Serikat dan Amerika Latin.
Sebelumnya pada  7 Februari 1997 terjadi tusnami dan gempa tektonik di Biak sebesar 7 SR di Biak dan Manokari serta Sarmi akibat patahan yang terjadi di sekitar Samudera Pasifik yang menyebabkan ribuan rumah penduduk roboh dan tersapuh tsunami.
Menurut pakar geolog Prof alm Dr J Katili dalam bukunya berjudul Geolog of Indonesia 1986, setiap daerah aktif tektonik dapat terjadi gempa secara umum dalam kurun waktu tertentu secara konstan tetapi juga tidak secara konstan. Gempa terjadi dalam setiap 9 tahun atau 10 tahun merupakan aktifitas lempeng dunia. Namun yang tidak konstan dapat dipengaruhi oleh aktifitas gerakan lempeng lokal. Melihat gempa tektonik yang terjadi dua kali di Nabire dalam kurun waktu yang berdekatan pertama Februari 2004 dan kedua November 2004 maka dapat diperkirakan terjadi pergeseran lempengan di bagian Utara atau tumbukan antara sesar Ransiki dan Sorong.
Ada pula pendapat lain yang menyebutkan gempa Nabire terjadi karena ada tumbukan dua lempeng sehingga setiap benda yang mengalami tumbukan pasti ada gerakan yang memantul. Jadi gerakan pantul ini akan menyebabkan gempa gempa susulan yang akhirnya stabil sampai berkurang dan berhenti. Memang tampaknya di Nabire agak berbeda karena dua gempa susulan dengan rata rata 6,5 SR. Karena itu harus diwaspadai terhadap terjadi gempa gempa susulan sebab itu konstruksi rumah sudah kurang kuat dan jika terjadi gempa susulan maka dengan sendirinya rumah akan roboh. Sebenarnya pengalaman masyarakat lokal di Papua sejak dulu sudah membangun rumah rumah panggung dan beratap daun sagu. Konstruksi ramah lingkungand dan rumah panggung ini mudah meliuk kalau ada gempa dan juga tidak terendam banjir saat musim hujan.
Guna menghindari rumah jangan roboh sebaiknya memakai bahan bangunan yang terbuat dari kayu atau konstruksi tahan gempa anti gempa. Jika terjadi gempa atau goncangan rumah tinggal yang terbuat dari kayu akan mudah meliuk liuk. Selain itu kompor atau pun benda benda berbahaya harus diletakan pada tempat yang aman sehingga kalau ada gempa tidak menimbulkan kebakaran.
Namun ada baiknya jika menyimak pesan J Abranovit antara lain mengingatkan,” Meskipun kita tidak bisa menghilangkan bahaya bahaya alam yang kita timbulkan, meminimalkan bahaya bahaya yang kita perburuk, dan mengurangi kerentanan kita hingga semaksimal mungkin. Untuk melakukan hal ini diperlukan komunitas dan ekosistem yang sehat dan berdaya tahan. Dilihat dari pandangan ini, mitigasi bencana jelas merupakan suatu bagian dari sebuah strategi pembangunan berkelanjutan yang lebih luas yaitu membuat komunitas komunitas dan negara negara berkelanjutan secara sosial, ekonomi dan ekologi.”
Para peserta sebanyak 15 orang dari berbagai stake holder melakukan diskusi dan stimulasi respon bencana di Kota Jayapura. Diskusi yang terbagi dalam dua kelompok masing pertama  membahas identifikasi potensi bahaya di Kota Jayapura dan kedua membahas strategi dan mekanisme merespon bencana.
Dari hasil diskusi kelompok pertama telah diidentifikasikan bahwa daerah daerah di Kota Jayapura yang beresiko munculnya rawan longsor antara lain wilayah Klofkamp, Polimak, APO, dan Bhayangakara. Selain longsor dan rawan banjir ada juga wilayah pesisir pantai yang rawan abrasi misalnya daerah pantai Hamadi, Base G dan Skouw.
Salah seorang warga Skouw Klift Malo kepada Jubi belum lama ini mengatakan di Kampung Slouw Mabo, Skou Sae telah terjadi abrasi di pantai sehingga kebun kelapa dan rumah masyarakat ikut tersapu ombak. “Memang saat ini pihak Pemkot Jayapura telah membangun tanggul tanggul pemecah ombak untuk menahan arus laut ke pantai,”tegas Klift Mallo.
Sementara itu Pak Awom dari Forum Kota Jayapura menyarankan perlu adanya sosialiasasi bagi masyarakat tentang bagaimana wilayah wilayah yang telah ditempati merupakan daerah bersiko dan rentan terhadap bencana banjir mau pun longsor.
Lalu apa sebenarnya bahaya dan bagaimana untuk meresponsnya? Bahaya adalah suatu peristiwa fisik, fenomena atau aktifitas manusia yang berpotensi merusak, yang bisa menyebabkan hilangnya nyawa atau cidera, kerusakan harta benda, gangguan sosial dan ekonomi, atau kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan ini jelas diakibatkan oleh ulah dan aktivitas manusia(kadang kadang merupakan gabungan dengan bahaya alam) yang merusak dasar sumber daya alam atau membawa perubahan yang buruk terhadap proses proses alam atau ekosistem. Dampak dampak yang mungkin terjadi bervariasai dan bisa mengakibatkan meningkatnya kerentanan, frekwensi, dan intensitas bahaya alam. Contoh antara lain degradasi lahan, penggundulan hutan, penggurunan, kebakaran lahan liar, hilangnya keanekaragaman hayati, polusi tanah, air dan udara, perubahan iklim, naiknya permukaan air laut karena penipisan lapisan ozon.
Lepas dari bahaya dalam mengurangi resiko mau merespon sebaiknya menyimak pesan moral yang dikutip dari buku Hidup Akrab dengan Bencana,”Ketika hujan tidak turun dan kecemasan melanda, yang paling penting dilakukan adalah persiapan aktif dan oleh karenanya membangkitkan semangat penduduk. Tidak ada yang lebih menyedihkan selain depresi yang dirasakan oleh para penduduk karenanya depresi moral akan langsung mengakibatkan kehancuran fisik.” (Dominggus A Mampioper)

%d blogger menyukai ini: