Memancing Sampah Di Teluk Youtefa

JUBI – “Kalau tak ada ikan terpaksa memancing sampah plastik dan kaleng di Teluk Youtefa”

Kehidupan di Kota Jayapura membuat hampir sebagian besar masyarakat di pinggiran laut kampung Abe Pantai, memiliki mata pencaharian mereka adalah mencari dan memungut sampah di laut untuk dijual.
Dulunya mereka berprofesi sebagai penjual pinang dan mencari ikan, bahkan pekerjaan memulung ini pun mempengaruhi suami suami mereka untuk turut memungut sampah di dasar laut Teluk Youtefa.
Depan baik di halaman  rumah mereka bahkan dipinggiran jalan, terlihat karung-karung yang berisikan bermacam-macam sampah di letakan guna  menunggu jemputan dari bandar sampah yang biasa membeli sampah pada mereka.
Mama Selviana Aibekop adalah salah satu dari warga Abe Pantai kepada Jubi belum lama ini menuturkan pengalamannnya memungut sampah sampah di laut yang kemudian dikumpulkan dan dijual kepada pembeli
Ketika sedang asyik mengisi sampah yang di carinya di depan rumahnya dia mengatakan,  pekerjaan ini setiap harinya dilakukan oleh semua mama mama di Kampung Biak. Mama mama dari Biak ini mencari sampah di laut dan bukan lagi mencari bia atau siput seperti kebiasaan di kampung halaman mereka.
Jadi mereka hanya mencari sampah ke laut  dan pekerjaan ini dilakukan  mulai  pagi hari pukul tujuh atau delapan pagi sampai pulang jam empat sore.
Memang pekerjaan awal Mama Selviana adalah menjual pinang, mencari kulit bia untuk kapur pinang,  dan menjual Ikan di pasar.  Namun ketika mereka melihat orang mengumpulkan sampah dan mereka tahu bahwa sampah itu bisa di jual akhirnya mereka beralih profesi meninggalkan pekejaan pekerjaan yang pertama dan mencari sampah. Pekerjaan mencari sampah ini baru saja di ketahui, pada Mei 2008 lalau dan mereka memulainya pada bulan itu juga hingga saat ini. Jadi sudah tiga bulan lebih.
“Anak kami tidak tahu tapi biasa kami jualan di pasar itu kami lihat orang-orang buton yang biasa kumpul-kumpul sampah dengan anak-anak kecil akhirnya kami tanya mereka sampah itu kam kumpul untuk apa, trus dong bilang kitong kumpul untuk tong jual akhirnya kami sekarang cari kulit bia untuk bakar kapur pinang sekaligus cari sampah untuk jual, begitu anak,” ujar Mama Aibekop asal Kampung Sorido Distrik Yendidori Kabupaten Biak Numfor.
Dia melihat memungut sampah ini banyak memperoleh penghasil sehingga akhirnya dia menekuni pekerjaan barunya yaitu mencari sampah di laut. Pekerjaan ini sudah menjadi pekerjaan utama sehari hari, dan kehidupan mereka saat ini bergantung pada mencari sampah dan menjualnya. Untuk mencari sampah di laut ini mereka harus menggunakan perahu dayung yang di gunakan untuk mendayung sampai di pantai Holtekamp untuk mencari sampah. “Itupun kalau cuaca atau laut tidak angin alias teduh, tetapi kalau angin terpaksa harus sewa perahu jonson atau motor tempel untuk mengantar mereka ke sana untuk mencari sampah. Hanya untuk mencari sampah saja perahu jonson bisa di sewa, biasanya perahu jonson di sewa dengan harga Rp. 100. 000,- dalam satu untuk mengangkut para ibu-ibu untuk pergi mencari sampah,”tutur Selviana Aibekop.
“Kalau sewa perahu motor berarti satu orang tidak bisa harus berapa orang sekali, jadi dalam jumlah yang banyak yang mau mencari sampah baru bisa kami sewa perahu jonson dan pergi cari sampah tapi kalau tidak berarti tidak bisa. Tapi kalau pakai perahu atau mendayung berarti satu atau dua orang pun dayung sendiri pergi untuk cari sampah,. “tutur Selviana Aibekop.
Dalam mencari sampah ini juga perlu memperhitungkan pada cuaca laut dan harus betul-betul mengitung cuaca saat angin atau tidak, Jika salah perhitungan maka perahu yang digunakan untuk mencari sampah bisa celaka dalam arti bisa terbalik atau semang-semang cadik dari perahu itu bisa patah terkena ombak atau derasnya air laut Teluk Youtefa. Jadi betul-betul melakukan perhitungan dan harus tau kondisi cuaca laut,”ujar Mama berusia 56 tahun ini.
“Anak kalau pagi-pagi kitong (kita) bangun dan laut kelihatan tenang dan tak bergelombang,  kitong penggayu (dayung) pakai perahu tapi kalau angin terpaksa pakai perahu motor tempel,”ujar  Mama Selviana.
Sampah sampah yang telah dikumpulkan di laut dan dimasukan lagi ke dalam karung beras ukuran 50 kg dan kemudian diletakan  di pinggir halaman rumah mereka atau samping halaman rumah. Sampah sampah itu diletakan agar kena sinar matahari agar kering dan selalanjutnya di jual.
“Sampah sampah di laut yang dipungut meliputi plastik  sabun B29, plastik, pecahan tekol plastik, kaleng minuman ringan. Pokoknya sampah apa saja itu yang dicari dan dikumpulkan. Barang-barang campuran, jadi itu dipungut sembarang dari laut, serpihan atau pecahan plastik pun di cari untuk dan di kumpulkan. Setelah di kumpul dan di tampung dalam karung kemudian dijual perkilo,” jelas Mama Aibekop.
Dikatakannya, sampah ini dijual dengan perkilo, dengan harga yang sangat murah dan bervariasi, kalau sampah plastik satu kilo itu dijual dengan harga Rp 3.500,- , kalau sampah botol-botol itu satu kilo dijual dengan harga Rp.2.500,- waktu yang dibutuhkan untuk mencari sampah ini biasanya satu minggu yang digunakan untuk mencari sampah ini dan ditampung di dalam karung 50 kg, sampai penuh yang dan simpan dipinggir atau di depan rumah mereka. Jadi dalam satu bulan itu minggu kedua baru diambil atau dijual kepada agen yang biasa membeli sampah, biasanya hari-hari senin jam sembilan pagi pada minggu kedua baru diambil.
“Hasil yang diperoleh dalam dua minggu itu Rp. 300.000,- dalam dua sekali jika terjual habis, jadi kalau satu bulan hasil yang di dapat sebesar Rp. 600.000,- ya tergantung dari banyak sampah yang dikumpulkan, tidak menentu,”ujar Mama Aibekop.
Hasil yang didapat ini kata Mama Aibekop dipakai untuk beli makan dalam keluarga, menjadi modal untuk di pakai membeli pinang dan di jual lagi, dan kebutuhan lainnya. “Pekerjaan ini baru dimulai bulan Mei dan sudah mau masuk bulan ketiga sekarang. Biasanya di jual pada pengusahanya yang tinggal di daerah Tasangka, “ujar Mama dari enam orang anak ini..
Mama Aibekop mengatakan bahwa pekerjaan ini hampir setiap hari digeluti oleh ibu-ibu  sekitar daerah pesisir pantai itu akhirnya berdampak pada suami mereka juga. Suami mereka juga akhir-akhir ini hampir semua beralih profesi dengan mencari sampah. “Kadang mereka mencari ikan tetapi kalau tidak mendapat ikan maka mereka mencari sampah. Sehingga terlihat saat ini profesi pekerjaan dari satu keluarga adalah pencari sampah,”ujar Mama Aibekop.
Senada dengan Mama Aibekop Beny Yarangga yang awalnya profesi pekerjaannya sebagai pencari ikan, kepada Jubi mengatakan kalau mencari ikan sampai tidak dapat, terpaksa harus cari sampah. “Karena untuk mencari ikan ini biasanya ada musimnya. Sehingga kalau musimnya maka bisa mendapat ikan, tetapi kalau bukan musim berarti tidak bisa dapat ikan. Ada dua jenis ikan yang dicari, yaitu : ikan deho dengan ikan kaleng,” ujar Beni Yarangga. (Musa Abubar)

Iklan
%d blogger menyukai ini: