Kini Lalat Hijau Banyak Ditemui Di Kampung Nafri

Dulu jumlahnya tak sebanyak sekarang ini tetapi sekarang kalau bersihkan ikan lalat hijau langsung berkumpul mengitari ikan.

JUBI – Muntaber dan penyakit kulit hanya dampak yang terlihat dalam jangka waktu pendek. Tapi penimbunan zat-zat beracun dalam tubuh justru akan menimbulkan berbagai penyakit berbahaya di masa akan datang bagi masyarakat.
Dua setengah tahun yang lalu, melalui sebuah rapat kampung, masyarakat Nafri memutuskan menutup Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Nafri. Akibatnya terjadi penumpukkan sampah di seluruh Kota Jayapura. Dalam waktu dua minggu di sepanjang jalan raya, perempatan jalan dan di bak bak sampah di kompleks perumahan sampah menggunung. Bau dan jumlah lalat sangat mengganggu, 200 ribu warga Kota Jayapurapun mengeluh. Itu sebabnya hampir setiap hari media lokal terus memberitakan keadaan ini.
Sembilan kilometer dari Kota Jayapura, 500 warga kampung Nafri marah besar. Warga kampung terserang terserang muntaber. Korbanpun berjatuhan, sekitar 4 orang anak meninggal dunia dan belasahan lainnya menjalani rawat inap di rumah sakit. “Itupun belum termasuk yang gatal – gatal, jumlahnya bisa ratusan,” kata Herodia Nero. Warga Nafri juga tidak diberikan alternatif lain, selain membuka TPA demi kepentingan 200 ribu warga Kota Jayapura.
Setelah 2 minggu pemalangan TPA Nafri berakhir setelah pemerintah melakukan pembicaraan dengan tokoh tokoh adat Nafri. “Saat itu ada perjanjian dengan Walikota. Katanya pemerintah akan mendatangkan alat pengolahan sampah, tapi sampai sekarang alat itu tidak ada, Masyarakat kampung juga tetap sakit-sakitan. Tapi kami masih bersabar” katanya. Saat ini mereka masih menunggu. Menurutnya jika ada korban lagi baru mereka baru bisa bersuara, sebab jika tidak ada korban dan menanyakan janji, pemerintah selalu berkilah masyarakat hanya mengada ada, atau membesar besarkan persoalan.
“Pemerintah berikan uang ke tokoh adat, langsung dong tutup mulut. Kita tidak berani melawan. Padahal masyarakat yang menderita ini tidak dapat apa apa,” kata Rachel Fingkreuw. Akhirnya masyarakat hanya pasrah menerima keadaan yang ada.
Kampung Nafri terletak di tepi pantai. Jarak antara kampung Nafri dan TPA hanya sekitar 2 kilometer. Sumber air bersih kampung ini adalah mata air yang dibuatkan intake, ditampung dalam bak penampungan dan disalurkan dengan pipa keseluruh kampung. Letak mata air kampung Nafri lebih rendah daripada jurang TPA Nafri dan hanya berjarak 1,5 kilometer dari TPA. “Terutama di musim hujan, banyak warga yang terserang diare, muntaber dan gatal-gatal. Airnya juga rasanya berbeda, seperti tidak enak dan tidak hilang walaupunsudah direbus.. Kalau sudah begitu, kami beli air galon untuk kebutuhan makan minum dan detol cair untuk campuran air mandi” cerita Rachel. Menurutnya keadaan ini terjadi hanya setelah adanya TPA di Nafri, sebab sebelumnya tidak demikian.
“Setelah ada TPA, kampung ini banyak lalat hijau. Kalau bersihkan ikan, lalat langsung berkumpul dalam dapur. Begitu juga dengan ikan masak. Tutup makanan dengan tudung saji saja tidak cukup, karena lalat berkumpul diatas tudung. Kita harus tutup tudung dengan kain, baru makanan selamat,” kata mama Revan. Setelah TPA ada di kampung Nafri, kampung juga lebih berdebu, tapi mama Revan tidak yakin apakah karena ada TPA. Tapi rumahnya yang berada di bawah gunung dan jauh dari jalan raya juga berdebu.
Simon Nero Kepala Kampung Nafri, mengatakan pengelolaan sampah di TPA ini tidak sesuai dengan perjanjian awal. Penjelasan pemerintah saat itu sampah yang akan dibua ng ke TPA dipisahkan lebih dahulu, antara sampah organik dan anorganik lalu dilakukan pengelolaan. Namun yang terjadi selama ini, sampah hanya dibuang ke dalam jurang, lalu di bakar.
Hasil penelitian konsultan lingkungan PT. Ananda Shania Konsultama tahun 2006, menunjukkan bahwa secara bakteriologis, telah terjadi pencemaran sumber air oleh bakteri coliform dan E. coli yang berbahaya di mata air Kampung Nafri. Hal itu disebabkan oleh sanitasi lingkungan Kampung Nafri yang kurang baik. Berdasarkan penelitian itu hasil komponen fisika kimia parameter yang selama ini diteliti, sangat berada di bawah ambang batas standar maksimum, bila mengacu pada peraturan pemerintah No 82 Tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air.
Bukan hanya itu saja, pencemaran itu juga terjadi karena system open dumping disertai pembakaran sampah yang dipakai selama ini dalam mengelola sampah di TPA Nafri, juga berakibat buruk pada lingkungannya, baik itu tumbuhan, hewan dan manusianya.
Beberapa rekomendasipun diberikan oleh konsultan kepada Pemerintah Kota Jayapura. Diantaranya, dengan segera dilakukannya perbaikan terhadap sanitasi lingkungan Kampung Nafri dan TPA itu sendiri, yang meliputi penataan pemukiman penduduk, pemeliharaan ternak (dikandangkan), penggunaan MCK (Mandi cuci kakus) yang baik, serta penyediaan sumber air bersih yang memadai untuk di konsumsi.
Rekomendasi yang kedua yaitu untuk mengurangi populasi lalat dan bau sampah perlu dilakukan penyemprotan secara periodik. Dan intinya hendaknya sistem manajemen pengelolaan sampah itu sendiri hendaknya diatur sedemikian rupa, sehingga penanganannya kedepannya tidak menimbulkan persoalan yang membahakan jiwa penduduk.
Yesinta, seorang pemulung di TPA Nafri mengatakan bahwa pengelolaan sampah di TPA ini hanya sebatas meratakan dan membakar, Jika ada pemisahan sampah organik dan anorganik sampah seharusnya harus dilakukan oleh masyarakat sendiri, namun pemerintah harus mensosialisasikan terlebih dahulu dan menyiapkan sarana dan prasarananya,” lanjut Mulyono. Prasarana yang dimaksudkannya adalah pemerintah harus menyediakan bak sampah sesuai dengan kriterianya. Satu kompleks perumahan mempunyai bak sampah organik yang terpisah dari yang anorganik. Dengan begitu petugas sampah dapat mengelola sesuai dengan kriterianya.
Sampai saat ini Armada sampah Kota Jayapura masih kerepotan membuang sampah. Di setiap sudut masih terlihat penumpukan sampah. Masyarakatpun belum disiplin mentaati peraturan buang sampah Kota Jayapura yang dipatok mulai pukul 18.00 hingga 03.00. Masyarakat masih suka membuang sampah seenaknya, masyarakat juga masih membuang sampah di selokan dan di sungai, sehingga tahap memisahkan sampah organik dan anorganik sepertinya masih lama baru akan terwujud. (Angel Flassy)

%d blogger menyukai ini: