Kecerdasan Kaum Terdidik Dalam Perspektif NENGGI-KENGGI

Oleh : Willius Kogoya, S.Pd (*)

Pengantar
Bangsa Indonesia memiliki nilai-nilai budaya sebelum adanya pengaruh dari bangsa asing. Nilai-nilai budaya itulah yang diperjuangkan oleh para pendiri negara sebagai dasar berpijak bagi warga negara yang sekarang kita kenal sebagai Pancasila itu. Namun, nilai-nilai luhur tersebut dalam perkembangannya mengalami pasung surut dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat dalam mengisi pembangunan.
Khusus untuk orang Papua dijaman ini dan lebih-lebih yang ada di perkotaan, nilai budaya yang telah lama dianut dan diwariskan oleh nenek moyang nampaknya mulai mengalami pemudaran atau kelunturan. Dan terlihat jelas di era otonomi khusus yang menjadi kebanggaan orang Papua ini. Di daerah pedesaan atau kampung-kampung hampir gejala kelunturan itu pun mulai terlihat jelas. Karena itu, nilai-nilai budaya orang Papua harus digali dan dihidupkan kembali sebagai modal dasar dalam membangun negeri yang dulu dilupakan ini, agar orang Papua bisa menikmati hasil pembangunan yang katanya ditujukkan untuk mereka itu.
Dewasa ini berita yang sampai kepada kita setiap hari penuh dengan lenyapnya sopan santun, rasa aman dan adanya seruan dorongan sifat jahat diantara para siswa di berbagai jenjang pendidikan baik di Indonesia maupun di bagian lain di bumi ini.
Setiap tahun telah terekam meningkatnya tindak kekerasan dan kekecewaan, entah dalam kesepian anak-anak yang terpaksa ditinggal sendiri atau diasuh oleh baby sister atau dalam kepahitan anak-anak yang disingkirkan, disia-siakan atau diperlakukan dengan kejam.
Munculnya kondisi semacam ini mencerminkan meningkatnya ketidakseimbangan, emosi keputusasaan dan rapuhnya moral di dalam keluarga kita, masyarakat dan kehidupan kita bersama. Tentunya keadaan ini sangat pula berpengaruh terhadap perilaku siswa di sekolah. Perilaku yang sering terjadi di sekolah antara lain: sikap suka menentang guru, berkelahi, bohong (tidak jujur), cepat marah atau mudah tersinggung, corat-coret tembok, merokok, membolos dari  sekolah, menekan dan mengancam sesama temannya.
Disisi lain, siswa dengan dukungan orang tua cenderung mengejar target IQ (Intelegensi Quotient: kecerdasan inteligensi) dari pada EQ (Emotional Quotient: kecerdasan Emosional). Anak cerdas adalah anak aktif yang memiliki keseimbangan antara IQ, EQ dan SP (spiritual Quotient). Anak yang dikatakan IQnya tinggi perlu didukung oleh orang tua dan lingkungan agar memiliki EQ dan SP yang stabil. Karena tanpa diimbangi EQ dan SP, anak tidak mampu beradaptasi ketika ia menghadapi masalah. Akibatnya muncul frustasi atau perilaku yang mengarah pada kemerosotan moral.
Ketidak pahaman baik orang tua dan guru di sekolah tentang pentingnya peranan kecerdasan emosional maka tidaklah heran berbagai laporan di berbagai media masa di seluruh dunia ini memperlihatkan bagaimana masalah moral dewasa ini mengalami degradasi pada siswa di sekolah-sekolah.
Selain orang tua, guru Pendidikan Kewarganegaraan mempunyai tanggung jawab membimbing siwa untuk berperilaku baik sebagai warga sekolah maupun warga masyarakat dan sekaligus sebagai warga negara.

Pendapat  Para Ahli Pendidikan
Hampir semua orang tua menginginkan anaknya menjadi cerdas. Hingga dewasa ini kecerdasan masih menjadi tolak ukur kesuksesan anak di masa depan. Mencetak anak cerdas dan kreatif merupakan harapan orang tua serta guru di sekolah. Aktivitas mencetak mengandung makna peran aktif orang tua dan guru dalam masyarakat dan membentuk segala perilaku anak.
Sementara itu banyak orang yang menyamakan arti inteligensi dengan IQ. Padahal keduanya mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Inteligensi didefinisikan sebagai kesempurnaan perkembangan akal budi, seperti kepandaian dan ketajaman pikiran. Howard Garner, psikolog dari Harvard University, Amerika Serikat (dalam Dini Kasdu, 2004 dan Ali Nugraha dan Neni, 2003) menformulasikan 7 jenis kecerdasan, yaitu: kecerdasan linguistik, kecerdasan logika-matematika, kecerdasan kinestik, kecerdasan spasial, kecerdasan bermusik, kecerdasan intrapersonal.
Istilah IQ adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat test kecerdasan. Dengan demikian mendewakan hasil test IQ harus ditinggalkan karena ada faktor lain yang menjadi jaminan bagi anak menjadi sukses di masa depan, yaitu kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional meliputi kemampuan seseorang untuk mengenali emosinya sendiri serta mengelola emosi tersebut dengan cara yang benar. Disamping itu memiliki kemampuan untuk memotivasi diri sendiri serta tetap bersemangat untuk mengahadapi kesulitan.
Bagaimana dengan anak-anak yang tidak memiliki IQ tinggi? Menurut Daniel Goleman (65, 2002) dengan bukunya: Emotional Intelleggence, memperlihatkan bahwa keberhasilan hidup seseorang, 20 persen ditentukan oleh IQ dan 80 persen ditentukan oleh EQ.
Kecerdasan emosional menurut beberapa ahli pendidikan seperti Surya Makmur Nassution (dalam Shinta Rahmawati, 185, 2001),  Robert Coles (5, 2003) dan Larry J. Koenig, 89, 2003) dapat dilatih pada anak-anak sejak dini. Misalkan menciptakan suasana kedamaian, penuh kasih sayang dalam keluarga, memberikan contoh-contoh nyata berupa sikap-sikap saling menghargai satu sama lain, ketekunan dan keuletan menghadapi kesulitan, sikap, disiplin dan penuh semangat, tidak mudah putus asa, serta lebih banyak tersenyum dari pada cemberut.

Perspektif Nenggi-Kenggi
Ditinjau dari sudut etimologis, kata Nenggi Kengi terdiri dari dua kata, yakni “nenggi”, yang berarti tanganku, dan kata “kenggi” yang mengandung arti tanganmu. Jadi secara harfiah, Nenggi-Kenggi berarti tanganku dan tanganmu. Dengan demikian nampak jelas bahwa tanpa dua tangan pekerjaan yang ingin dikerjakan oleh seseorang tidak akan maksimal, hal ini dilihat dari sisi individual.
Dipandang dari sudut kehidupan sosial kemasyarakatan atau komunitas, tanganku dan tanganmu mengandung makna bahwa segala sesuatu yang dikerjakan itu harus menggunakan dua tangan dan hasilnya akan sangat bermanfaat bagi kehidupan individual maupun kolektifitas.  Uraian ini menunjukkan bahwa kata Nenggi-Kenggi sama dengan kata “gotong royong” yang merupakan cita-cita para founding fathers pada waktu mendirikan NKRI yang artinya dalam bahasa Indonesia, yakni bekerja bersama-sama, dari dan untuk kepentingan bersama.  Oleh sebab itu, dalam hidup berbangsa dan bernegara seperti di Indonesia, nilai kebersamaanlah yang memungkinkan kita hidup sebagai satu-kesatuan dalam berbangsa dan bernegara sekalipun ada perbedaan bahasa, budaya, agama dan ras dan kepentingan masing-masing lainnya.
Untuk mencerdaskan kehidupan bangsa terutama di Papua dalam bidang Pendidikan, baik di Provinsi lama dan Provinsi lain yang baru dimekarkan; lahirlah kebijakan Otonomi Khusus sebagai keinginan bersama antara sebagian orang Papua, pemerintah RI dan pihak dunia barat sebagai resolusi konflik dan solusi atas kebodohan, kemiskinan dan kurangnya sumber daya manusia di provinsi yang letaknya di kawasan Timur Indonesia.
Nilai penting dari konsep Nenggi-Kenggi, yaitu nilai mencapai sesuatu dengan bekerja sama dan nilai mengatasi masalah yang dihadapi dengan melibatkan berbagai pihak, baik secara fisik dan konsep. Sebagai contoh, candi Borobudur sebagai salah satu keajaiban dunia yang terdapat di Indonesia adalah sebagai hasil Nenggi-Kenggi yang diwujudkan dalam bentuk fisik. Contoh lain untuk dalam menciptakan manusia terdidik, membutuhkan; guru, materi atau teori pendidikan, orang tua, lingkungan dan sarana prasana dan motivasi pribadi yang bersangkutan serta keterlibatan pemerintah dengan kebijakan pemerintah yang bertujuan menciptakan kecerdasan bangsa. Pembangunan di Papua menurut penulis sendiri, cenderung mengejar target IQ (Intelegensi Quotient: kecerdasan inteligensi) dari pada EQ (Emotional Quotient: kecerdasan Emosional).
Yang diharapkan kepada semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung terlibat dalam sistem pendidikan berperan serta untuk menciptakan anak bangsa menjadi kaum terpelajar atau terdidik  yang cerdas artinya mencerdaskan si subyek atau anak didik aktif yang memiliki keseimbangan antara IQ, EQ dan SP (spiritual Quotient). Anak yang dikatakan IQnya tinggi perlu didukung oleh orang tua dan lingkungan agar memiliki EQ dan SP yang stabil. Karena tanpa diimbangi EQ dan SP, anak tidak mampu beradaptasi ketika ia menghadapi masalah. Akibatnya muncul frustasi atau perilaku yang mengarah pada kemerosotan moral dan akibat lain adalah menunjukkan ketidakmampuan pemerintah Indonesia dalam mendidik orang Papua, sehingga kepentingan memisahkan diri dari NKRI oleh orang Papua sewaktu-waktu dapat meningkat. Dengan kata lain tinggi iman, tinggi ilmu dan tinggi moral sudah semestinya lebih ditingkatkan dalam rangka membangun manusia Indonesia yang cerdas dan terdidik sesuai harapan kita bersama.

(*) (Dosen tetap FKIP-UNCEN dan sedang Studi pada S2 Ketahanan Nasional UGM)

%d blogger menyukai ini: