Disinyalir, Pergantian Kadistrik Batom Tak Prosedural

JUBI- Pergantian posisi jabatan di dalam pemerintahan merupakan hal yang biasa terjadi. Namun apa jadinya jika pergantian tersebut dianggap tidak melalui mekanisme yang benar di dalam proses demokrasi dan aturan tata pemerintahan.

Hal tersebut seperti diakui Kadistrik Batom Kabupaten Pegunungan Bintang, Marius Singpanki. Menurut Marius yang menjabat Kadistrik Batom sejak tahun 2004. Dirinya diganti secara mendadak bahkan terkesan tiba-tiba bersama dengan 4 Kadistrik lainnya. Keempat Kadistrik yang juga diganti tersebut adalah. Kadistrik Aboi, Metodius Singpanki, Kadistrik Borme, Paulus Eli Singpanki, Kadistrik Iwur Basilius Kofei dan Kadistrik Bime.
“Pergantian ini sangat mendadak dan tiba-tiba, sehingga saya kaget dan mempertanyakan hal itu. Bahkan saya mengetahui saat ada undangan dari Sekda untuk menghadiri acara pelantikan Kadistrik yang baru sebagai pengganti saya” ujar Marius yang sebelumnya telah mengabdi sebagai guru sejak tahun 1970.
Dikatakannya, dirinya menjadi guru yang pertama untuk wilayah Pegunungan Bintang. Sehingga sangat memahami dan mengerti masyarakat setempat. Bahkan pada tahun 1990 ketika wilayah Batom diserang TPN OPM dengan pengabdiannya yang tidak kenal lelah dibuktikannya dengan mengantar sendiri hasil ebtanas anak-anak didiknya ke Wamena. Sehingga masyarakat masih ingin dirinya menjabat sebagai Kadistrik.
Dalam pergantian tersebut pihaknya dialihkan atau mendapat job di lingkungan pemerintah kabupaten. Namun nampaknya job tersebut kurang mendapat tempat dihatinya. (Anang Budiono)

%d blogger menyukai ini: