Diversitas Jenis Tanaman

JUBI – Ketua Pusat Studi Lingkungan Universitas Cenderawasih Dra Rosye Hefmi R Tanjung MSc PhD mengatakan dalam sistem pertanian berkelanjutan telah ada kesepakatan bahwa diversitas jenis tanaman perlu dipertahankan, sebab dalam pertanian tradisional para petani umumnya menanami lahannya dengan varietas lokal dan jenis-jenis yang berbeda, suatu praktek menjaga diversitas jenis tanaman pangan.

“ Akan tetapi dengan kedatangan pertanian komersial dan munculnya genotipe unggungl berproduksi tinggi, diversitas jenis tanaman-tanaman pangan terancam. Guna menghindari kepunahan tanaman-tanaman yang tidak digunakan lagi,maka dibuatlah germaplasm (plasma nuftah) oleh para ahli untuk menyimpan jenis-jenis tanaman tertentu dari kepunahan,”ujar Rosye Tanjung pakara Biologi dari Fakultas MIPA Universitas Cenderawasih di Jayapura belum lama ini kepada Jubi. Menyinggung soal Pertemuan Biologi International Papua New Guinea dan Provinsi Papua menurutnya akan berlangsung pada awal Juli nanti di Universitas Cenderawasih.
Ditambahkan saat ini koleksi germaplasm terbesar dimiliki oleh negara-negara maju seperti Eropah dan Amerika, sementara Amerika Latin dan Asia memiliki koleksi-koleksi pusat studi keragaman jenis tanaman internasional. “ Untuk menghindari kepunahan genetik, diversitas atau keragaman jenis perlu dipertahankan dengan kembali pada praktek penanaman lahan dengan berbagai jenis lokal,”ujar Rosye Tanjung doktor lulusan Canada.
Menurut Rosye pergantian dari sistem pertanian tradisional untuk kebutuhan hidup ke pertanian komersial terjadi di banyak negara berkembang, sejumlah petani dengan alasan bervariasi, tetap mempertahankan sistem tradisional, terutama yang bermukim di aera yang jatuhan hujan yang tinggi.
“Kenyataannya 60 % dari lahan pertanian di dunia dikelola dengan sistem pertanian tradisional, akan tetapi di aera pertanian komersial yang mempunyai sistem irigasi, penanaman dilakukan sepanjang tahun,”ujar Rosye.
Dikatakan penanaman secara berotasi dengan memasukan jenis legum pada pergantian jenis tanaman pangan seharusnya dilaksanakan, riset pada teknik baru sistem rotasi perlu dilakukan untuk mendapat masukan baru dalam praktek yang sudah diketahui manfaatnya.
“ Memang penggunaan pupuk kimia dan pestisida dirasa masih diperlukan untuk mencapai peningkatan produksi pangan hendaknya dilakukan dengan pertimbangan yang bijaksana. Kombinasi antara pupuk organik dan pupuk kimia seharusnya digunakan untuk menekan input eksternal ke alam dan tercapainya keberlanjutan jangka panjang,” ujar Dr Rosye Tanjung.
Ditambahkan sistem baru tentang pengaturan terpadu perlu dipikirkan dan didasarkan pada kestabilan resistensi host pada factor biotic dan abiotik,praktek-praktek tradisional yang sudah teruji manfaatnya serta penggunaann zat-zat kimia pada saat benar-benar diperlukan.
“ Memang saya sadari bahwa kenyataan di lapangan sangat sulit menganjurkan petani sekarang untuk mengurangi eksternal input berupa pestisida dan pupuk kimia. Namun tugas yang menantang ini perlu dijalankan, pesan ini perlu terus disampaikan pada petani komersial di negara berkembang demi tercapainya pertanian berkelanjutan jangka panjang,” ujar Rosye.
Ditambahkan banyak alasan untuk dipercaya bahwa bioteknologi akan mempunyai kontribusi yang berarti pada sistem pertanian berkelanjutan bioteknologi diharapkan dapat membantu pengembangan mikroorganisme bermanfaat bagi pertanian, teknik diagnosa penyakit tanaman berdasarkan pada penggunaan antibody monoclonal dan mnteksi residu beracun.
“ Pengembangan bioteknologi yang bermanfaat bagi pertanian berkelanjutan salah satu komponen yang terlihat di dalamnya adalah ilmuwan dalam bidang Pathologi tumbuhan,” ujar Rosye. (Dominggus A. Mampioper)

%d blogger menyukai ini: