Kisah Penjahit Yang Mengalami Cacat Tubuh

Kisah Penjahit Yang Mengalami Cacat Tubuh/Jubi/Anang B

Kisah Penjahit Yang Mengalami Cacat Tubuh

Inginkan Kemudahan Akses Perbankan

JUBI-Siang sekitar pukul 11.00 Wit cuaca agak panas terik, wartawan JUBI bertandang ke rumah pasangan suami istri yang aktifitasnya sehari-harinya adalah menjahit. Rumah tersebut tidak susah untuk dicari, pasalnya berada di jalan utama BTN Organda, Padang Bulan. Bagian depan rumah tertulis “Grace Taylor”. Memang agak berbeda dengan kondisi rumah yang ada di kanan kirinya karena rumah tersebut belum di plester. 
Meski sempat menunggu di depan rumahnya sekitar 15 menit karena yang dicari sedang berbelanja dengan anaknya yang nomor dua, akhirnya muncul dengan menggunakan jasa angkutan ojek. Mengetahui kedatangan wartawan keduanya mempersilahkan masuk.
Setelah saling mengenal kemudian perbincanganpun dimulai di ruangan yang dipakai menjahit yang berukuran 2,5 meter persegi. Ruangan tersebut nampak sempit dengan keberadaan mesin jahitnya yang 4 unit, 1 unit mesin kamput (mesin pembuat garis jahitan pada kaos), 1 unit obras dan 1 unit gunting listrik. Dari 4 unit mesin jahit tersebut 3 diantaranya merupakan bantuan dari pemerintah kabupaten jayapura melalui dinas Sosial.
Dialah, Yakob Ohee (35) pria asal Sentani yang menikah dengan wanita asal NTT bernama Margaretha Welle (40) yang keduanya menderita cacat tubuh. Keduanya dalam berjalan menggunakan bantuan tongkat karena kakinya yang tidak sempurna. Kini dikaruniai 2 orang anak yang pertama duduk di bangku SMP bernama Agus Mariston dan adiknya Maria Bernadetha berumur 3 tahun yang keduanya mempunyai fisik normal.

Yakob mengawali pekerjaan menjahit pada tahun 1994 di Makassar, Sulawesi Selatan yang ketika itu menuntut ilmu di PRPCT (Panti Rehabilitasi Penyandang Cacat Tubuh). Awal pertemuanya dengan sang istri Bernadetha,tidak terlepas dari waktu itu sama-sama bersekolah di panti rehabilitasi. Bahkan sang istri lebih tinggi satu kelas diatasnya karena lebih dulu menuntut ilmu. Atas campur tangan Tuhan satu tahun kemudian keduanya menikah , dialah yang mempersatukan mereka dalam cinta hingga saat ini. Karena dialah yang merencanakan semua terhadap umatnya apapun kondisinya.
Walaupun dengan keterbatasan, Yakob bersama istri tidak kenal lelah atau mudah menyerah. Itu semua tergambar jelas saat mengambil bahan-bahan jahitan untuk dikerjakannya.Yakob sebenarnya boleh berbangga, pasalnya selesai menunutut ilmu di PRPCT kemudian mengikuti tes di Depnaker Sulawesi Selatan. Karena hanya dialah yang lolos untuk bekerja magang di sebuah perusahaan bidang konveksi pada tahun 1995. Selama 4 bulan magang dibiayai oleh Dinas Sosial setempat dan sudah mendapatkan gaji waktu itu sebesar 40 ribu per-bulan.
Kemudian lepas dari magang dia dipekerjakan untuk selanjutnya diangkat menjadi karyawan tetap di perusahaan Jaya Utama yang bergerak di bidang konveksi. Diperusahaan yang gajinya ditetapkan berdasarkan hasil jahitan dengan harga per-potongnya sebesar 300 rupiah tersebut Yakob bertahan hingga 4 tahun. Keluarnya dari perusahaan tersebut karena didorong oleh keinginan yang kuat untuk membuka usaha sendiri di rumah kontrakan dengan membuka jahitan. Sampai akhirnya pada tahun 2005 dirinya memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya di Sentani.
Pertama pindah ke Sentani menumpang di rumah saudara perempuanya. Karena tidak ingin berlama-lama menumpang dan juga saran dari saudaranya tersebut dirinya membuka usaha jahitan di Organda hingga saat ini.
“Pelanggan biasanya perorangan maupun kelompok dan sekolah-sekolah yang memakai jasa jahitan saya. Selain menjahit bersama istri saya juga membuat sablon motif Papua untuk pakaian. Tapi sekarang kalau lagi sepi jahitan rata-rata per-hari saya dapat 60 ribu rupiah bahkan terkadang kurang dari itu” ujar Yakob yang mengalami cacat bagian kaki saat umur 3 tahun menderita polio.
Meski diakuinya bahwa dengan pendapatan yang tidak menentu seperti itu ditambah harga-harga kebutuhan yang sudah naik pasca kenaikan BBM ini tentunya sangat menyulitkan orang seperti dirinya. Untuk harga, dirinya tidak terlalu mematok harga, tetapi lebih menyesuaikan dengan harga kewajaran yakni untuk satu potong pakaian dewasa dengan motif batik Papua sebesar 50 ribu rupiah. Untuk pakaian anak-anak sekolah biasanya sekitar 40 ribu rupiah.
Yakob setiap hari buka usaha jahitan dari pukul 8 pagi hingga 10 malam. Meskipun tidak jarang lembur malam jika mengejar pesanan untuk segera diambil pelanggan. Pernah dia mendapat orderan dari sekolah untuk mengerjakan baju batik sekolah. Tetapi karena uangnya baru keluar kalau orderan sudah jadi. Untuk membeli bahan-bahannya terpaksa dia mencari pinjaman dari koperasi yang dibayar dengan sistem cicilan perhari. Karena bahan-bahan tersebut harus dibeli dari surabaya yang setiap kali belanja bisa menghabiskan sekitar 4 jutaan.
Ketika disinggung soal pinjaman modal usaha ke bank, dirinya langsung berbicara dengan nada agak tinggi dimana sampai saat ini masih merasa rumit untuk berhubungan atau mencari pinjaman ke bank guna mendapatkan permodalan.
“Kami pernah mencoba ke bank untuk pinjam, tetapi dari pihak bank meminta surat-surat berharga seperti surat rumah, BPKB dan lainnya. Sedangkan kendaraan saja saya tidak bisa naik jadi tidak punya BPKB apalagi surat rumah karena tempat usaha disini kos yang sewaktu-waktu bisa diminta yang punya rumah” tuturnya.
Dirinya meminta perhatian dari pemerintah untuk memberikan kemudahan akses ke perbankan guna mencari modal usaha.
“Saya tidak mau dikasihani hanya karena keterbatasan kondisi tubuh saya yang cacat. Tapi saya punya niat jika saya pinjam di bank sudah selayaknya akan saya bayar dengan sistem yang tidak memberatkan yakni dengan jalan cicilan. Karena saya pinjam di koperasi ini bunganya sangat tinggi” urai Yakob. Istrinya menambahkan, mau bagaimana lagi kalau pinjam di bank susah ya terpaksa pinjam di koperasi yang sehari-hari diangsur.
Kemudian soal BLT (bantuan Langsung Tunai) dari pemerintah ternyata Yakob juga tidak terdaftar sebagai penerima. Ketika ditanyakan kepada petugas RT setempat mengatakan kalau nama-nama penerima bantuan tersebut berdasarkan nama penerima tahun 2006 yang mana dirinya tahun itu juga tidak mendapatkan bantuan. (Anang Budiono)

%d blogger menyukai ini: