Raja Laut Selatan

Raja Laut SelatanJUBI – Agats, Asmat terkenal dengan budaya seni ukir dan tarian di wilayah selatan Papua. Selain hasil laut, kehidupan orang Asmat sangat tergantung juga pada hasil hutan seperti kayu untuk bahan ukiran, perahu, bangunan rumah dan jalan (jembatan), kayu gaharu untuk dijual, rotan dan bunga anggrek. Makanan pokok selain hasil laut juga merupakan hasil hutan seperti Sagu dan ulat sagu.

Alam yang sangat unik karena berada di atas rawa berlumpur sehingga sarana transportasi yang layak dan umum digunakan adalah transportasi air. Transportasi air yang harus melewati sungai dan laut ini, sering juga terjadi musibah yang memakan korban seperti hilangnya cameramen trans 7.
Tak heran saat Kabupaten Asmat mempunyai kapal baru, dinamakan sama seperti raja laut selatan menurut mitos masyarakat Asmat “SANPAI” Penandatanganan dan Penyerahan pengelolahan Kapal LCT. SANPAI yang berlangsung di Gedung PemDa “Ja Asamanam Ap Camar” Kabupaten Asmat. Penyerahan kapal dari Pihak PemDa kepada Pihak Pengelolah yaitu PT. Marind Mina Lestari Merauke
Kapal dengan panjang 36 meter dan lebar 8 meter ini merupakan bantuan PemDa Provinsi Papua dengan kapasitas angkutan 300 Ton. Kemudian diuji coba Kapal SANPAI dengan rute Pelabuhan Ferry menuju Pelabuhan/dermaga baru dan kembali ke Pelabuhan Ferry di muara kali Flaminggo. “Untuk pelayaran, kami sudah biasa mengoperasikan kapal semacam ini sejak tahun 2006, jadi bagi kami biasa” jelasnya Direktur PT. Marind Mina Lestari, Kasri Gunawan Pengelolah yang baru menjalin kerja sama dengan PemDa Asmat dan telah mengoperasikan beberapa kapal ikan di Merauke
Menurut tua-tua asmat yang diwawancarai Jubi, SANPAI merupakan nama moyang masyarakat Asmat. Cerita tentang SANPAI tidak boleh diceritakan oleh siapa saja atau pamali, termasuk tua-tua adat atau kepala suku atau kepala kampung dan lainnya. Apabila diceritakan akan terjadi musibah atau malapetaka pada hari itu juga. Musibah yang terjadi bagi orang yang menceritahkan kisah SANPAI adalah Kematian. “Malam tidak akan kamu lewati, roh kamu akan dicabut, dibawa pergi bersama Moyang “ ungkap bapak yang enggan disebutkan namanya karena takut.
Keterangan lain, konon SANPAI adalah nama sebuah pulau kecil ke arah timur dari Asmat (dekat Merauke) yang dihuni oleh Moyang yang bernama SANPAI. Menurut pandangan, keyakinan dan cerita adat masyarakat Asmat, SANPAI adalah penjelajah laut, penghuni laut, penguasa laut. Apakah SANPAI pernah hidup dan mati? Dari manakah SANPAI berasal? Pertanyaan seputar itu pun tidak boleh ada pembahasan, titik. Tidak ada keterangan lanjut.
Esok harinya pagi, hujan deras guntur dan kilat semakin menjadi besar tak henti-henti. Kilat dan guntur diteras rumah, atap dan dahan pohon di depan rumah. Tenggelam sudah Asmat ini jika hujan tidak berhenti dan terus menguyur kota Agats dalam volume (hujan) yang cukup besar. Sediakala air pasang mengenangi rumah-rumah di kota Agats hingga setinggi beberapa centmeter diatas lantai berumah panggung. Hari ini hujan deras.
Wakil Bupati Asmat Drs. F.B.Soring, S.Sos, M.M dalam sambutan penyerahan pengelolaan Kapal tersebut menyinggung harapan pengadaan kapal tersebut. Salah satu harapannya adalah tidak menginginkan cepat rusak atau mengalami musibah seperti kapal-kapal sebelumnya. Demi maksud tersebut, sebagai manusia yang tidak terlepas dari 2 (dua) sisi dunia/ alam yaitu dunia maya dan nyata atau adanya makhluk yang kelihatan dan tidak kelihatan (makhluk halus) mempunyai peranan masing-masing dalam hidup di duniha, tempat yang sama ini.
Di segi sosial maupun tinjauan alam dalam kehidupan manusia pada prinsipnya sama yaitu masing-masing memiliki aturan alami yang tidak bisa kita (manusia) melanggar batas-batas tertentu. Dengan demikian adanya aturan, budaya, adat atau kebiasaan di suatu tempat dan lain-lain. Hakekat demikian menjadi sebuah pegangan, pandangan yang sebenarnya merupakan potensi pembangunan dan tidak bertentangan dengan modernisme, maupun agama apapun sebenarnya. Justru agama berasal dari pandangan, aturan, budaya, kebiasaan dan niat manusia untuk memandang sesuatu baik atau buruk. Serta pembangunan sebenarnya berlandaskan pada nilai-nilai tersebut.
Bapak Uskup Agats, Mgr. Alowisius Murwito, OFM. pernah mengulaskan panjang lebar akan pandangan ini, dalam sebuah khotbah beberapa waktu lalu. Khotbah yang merupakan hasil renungan musyawarah Pastoral Wilayah Agats pada bulan September 2007 lalu “Sepertinya kita tidak punya pegangan yang sebetulnya merupakan pendorong untuk maju. Sebetulnya kita sudah punya pegangan tetapi karena pengaruh dari luar maka hal itu diabaikan dalam mengambil pertimbangan baru. Pegangan yang kita miliki adalah warisan melalui nilai-nilai adat dan budaya. Orang malas pergi pangkur sagu, malas bekerja, barangkali cerita rakyat atau nasehat orang tua dan aturan adat tidak dipandang dan tidak diceritakan kepada masyarakat sekarang. Cerita demikian dianggap tidak ada nilai moral dan nilai budaya lainnya sehingga nilai adat dan budaya tidak dipertimbangkan lagi dalam mengambil keputusan atas tanah, kali dan sungai di Asmat.” Katanya. Bahkan mungkin penamaan nama untuk sebuah Kapal. Maksud demikian apa salahnya kalau menjadi sebuah pandangan kita ke depan dalam kerangka Pembangunan di wilayah Asmat dan sekitarnya.
Jika SANPAI adalah mitos yang memiliki kekuatan mistik yang perlu diperlakuakan secara khusus, maka apakah cukup hanya dengan melakukan pemukulan Tifa Sebelum acara penandatangan dimulai? Dormom! (Willem Bobii-Asmat)

Iklan
%d blogger menyukai ini: