Perkebunan Kelapa Sawit Menghancurkan Kehidupan Kita!

Perkebunan Kelapa Sawit Menghancurkan Kehidupan Kita

Perkebunan Kelapa Sawit Menghancurkan Kehidupan Kita

JUBI – Beberapa LSM mengkritik subsidi pemerintah terhadap minyak sawit didalam Undang-Undang Energi terbaharukan. Berikut Laporan Wartawan Jubi, Pitsaw Amafnini dari Bonn, Jerman saat mengikuti The ninth meeting of the Conference of the Parties (COP 9) di Bonn, Jerman, dari tanggal 19 hingga30 Mei 2008.

JUBI – Pada tgl 6 Juni 2008 parlemen Jerman telah mensahkan pembaharuan undang-undang Energi terbaharukan. Beberapa LSM seperti; Watch Indonesia, ROBIN WOOD, Rettet den Regenwald dan Jaringan advokasi sosial dan Lingkungan (Jasoil) melemparkan kritik yang sangat pedis terhadap pemerintah Jerman. Menurut para aktivis LSM Lingkungan ini, di dalam Undang-Undang tersebut seharusnya minyak kelapa sawit dan minyak kacang kedelai tidak dimasukkan.
Selain itu para LSM ini menuntut supaya keadaan sosial dan kepentingan masyarakat di negara-negara produsen, dimana perkebunan kelapa sawit dan kacang kedelai ini berada lebih diperhatikan secara khusus untuk memenuhi kebutuhan konsumen di negara-negara industri.
“Pemerintah Jerman selalu mengelak dan plintat plintut apabila mereka dikonfrontasikan dengan masalah impor agroenergi, seperti minyak kelapa sawit dan kacang kedelai,karena hal ini sangat merugikan manusia, lingkungan hidup dan iklim.” kata seorang penggiat lingkungan hidup Klaus Schenck.
Seharusnya pemerintah Jerman mengeluarkan dua buah bahan minyak ini dari Undang-Undang Energi terbaharukan. Karena peraturan ini membuka peluang pemberian subsidi yang membawa akibat pada kerusakan lingkungan dan perampasan hak-hak masyarakat adat atas tanah leluhur mereka. Pemerintah Jerman seharusnya menyusun peraturan kelanjutan khusus untuk mengatur mekanisme perdagangan kedua jenis minyak ini secara adil.
Dipasaran tidak ada sawit dan kedelai yang diproduksi secara ramah lingkungan yang artinya, dalam prosesnya tidak merugikan baik lingkungan hidup maupun keadaan sosial masyarakatnya. Seperti kita ketahui bersama, tidak akan mungkin ada zertifikat ramah lingkungan yang benar dari negara seperti Indonesia.
Karena peraturan belum ada maka pemerintah Jerman memberlakukan administrasi sementara yang lemah untuk mengatur pembuktian produksi-produksi yang bersifat ramah lingkungan dan berkelanjutan. Hal ini pun karena mereka mendapat tekanan dari kelompok pengusaha produsen listrik bertenaga kecil yang memasok tidak hanya listrik kerumah-rumah, tetapi juga pemanas rumah .Tehnonolgi yang terbilang baru ini namanya BHKW.
Beberapa tahun terakhir ini di Jerman sudah berdiri lebih dari 1.800 BHKW, perkembangan pesat ini dimudahkan karena adanya subsidi dari pemerintah dalam rangka Undang-Undang Energi terbahrukan. Para BHKW yang bermunculan di Jerman ini lebih senang menggunakan minyak sawit dari Indonesia karena paling murah di dunia.
Dengan adanya permintaan yang terus-menerus naik akan minyak ini maka banyak hutan hujan di Indonesia yg di alihfungsikan menjadi lahan perkebunan kelapa sawit, dalam jangka waktu dua tahun hampir 2 juta hektar hutan dan lahan pertanian dibabat habis untuk kepentingan perkebunan.
Pietsauw Amafnini dari Jasoil dengan masyarakat adat di Papua adalah korban langsung dari kebijakan energi pemerintah Jerman yang salah. Dengan inisiatif sendiri dia pergi dari rimba Papua ke Jerman, untuk menghentikan pengrusakan hutan di tanah airnya. Tujuh tahun terakhir ini, hutan di Papua dibabat habis secara brutal. Pemerintah Indonesia berusaha keras untuk mengalih fungsikan dengan cepat hutan hujan menjadi perkebunan kelapa sawit.
“Saya mengikuti jejak minyak sawit sampai ke Jerman”, kata Pietsauw. “Pertama hutan hujan dihancurkan untuk menjadi perkebunan kelapa sawit. Setelah itu minyak sawit ini dikirim ke seluruh dunia, yang pada akhirnya hanya untuk dibakar sebagai tenaga pembangkit listrik. Tidak masuk akal.”
Menurut data laporan Undang-Undang Energi Terbaharukan dari pemerintah Jerman, kebutuhan BHKW untuk tahun 2006 saja adalah 340.000 ton minyak sawit per tahun. Kebutuhan ini sama dengan 100.000 Hektar perkebunan.”
“Saya menuntut pemerintah Jerman segera memberhentikan kegilaan itu”, kata Pietsauw. Perjuangan kami untuk menyelamatkan Hutan hujan di Indonesia adalah tanpa harapan, bila UU dan subsidi negara di Jerman mendorong kebutuhan meningkat secara artifical. Stopp segera Subsidi minyak sawit dengan dana negara. Perkebunan Sawit mengahncurkan kehidupan kami. Masyarakat adat di papua akan kehilangan hak atas tanah adat mereka.”
Harga listrik dari energi terbaharukan lebih mahal daripada harga listrik biasa”, dan sisanya dibayar oleh semua konsumen secara tambahan yang akan naik dari 3 Euro sampai ke 5 Euro.
“Pengusaha Energi seharusnya kembalikan subsidi yang tidak adil”, tuntut Robin Wood. “Hutan hujan ditebang habis, supaya perusahaan Jerman berprofit, supaya pemerintah Jerman berhasil melakukan pelindungan iklim di kertas saja.” Karena Deforestasi Indonesia telah menjadi penyebab iklim di dunia. Minyak sawit akan menambah kepanasan iklim di dunia, tegas Robin Wood
Watch Indonesia juga menegaskan bahwa di Indonesia, kira-kira 45 juta penduduk tergantung penuh dari hutan sebagai sumber daya kehidupan. Hutan dibutuhkan untuk kehidupan hidup harian dan juga untuk kebudayaan dan adat mereka. Ironisnya, monokultur sawit yang seperti gurun hijau dari tahun ke tahun memakan lebih banyak hutan. Perkebunan sawit tidak hanya berakibat buruk bagi iklim dunia tetapi juga bagi manusia di sekitar hutan yang masih bergantung pada hasil hutan.
Sejak tahun 1999 ekspansi lahan perkebunan sawit naik dari 3 juta hektar menjadi tujuh setengah juta hektar. Dari tahun ke tahun lebih banyak Masyarakat terusir dari tanahnya, bertambah dari tahun ke tahun, sampai mereka terjerat dalam kemiskinan. Masyarakat dan gerakan lingkungan di Papua bahkan seluruh Indonesia terancam oleh pemerintah dan perusahaan sawit yang selalu menggunakan kekuatan militer. Masyarakat mengalami tekanan dan selalu diawasi. Penolakan terhadap perkebunan selalu dijawab dengan kekerasan. Belum lama ini buruh-buruh di perkebunan Papua yang sudah produktif disiksa sampai meninggal.
“Tanah adat dimana kami tinggal dan mempertahankan hidup kami adalah tanah milik nenek moyang kami sejak dahulu kala. Tapi sekarang kami terancam oleh kebijakan politik pasar industri global bahwa kami akan kehilangan tanah kami untuk selamanya”, jelas Pietsauw. Kami mengelola hutan secara traditional dan dengan cara itu hutan tetap berada. Sekarang hak ulayat kami diinjak-injak oleh pengusaha kelapa sawit, sampai sumber kehidupan kami dan alam kami terbakar sebagai sumber energi pembangkit tenaga listrik yang terbaharukan di negara Jerman dan negara-negara Eropa lainnya. Perusahaan sawit yang hanya menproduksi untuk ekspor, selalu memperluas wilayah mereka. Sebab itu, harga bahan pangan naik sekali di Indonesia, dan masyarakat tidak mampu lagi membeli minyak goreng.” Sehingga, pemerintah Jerman harus mempertimbangkan hal ini. (Pitsaw Amafnini)

Iklan
%d blogger menyukai ini: