Membangun Sentani Sebagai Gerbang Wisata Papua

JUBI-Pesta budaya akbar yang kali pertama digelar di Danau Sentani Ibukota Kabupaten Jayapura yang bertajuk Festival Danau Sentani baru saja usai. Namun pembangunan menuju pencitraan Sentani sebagai tujuan wisata harus tetap ditumbuh-kembangkan sampai kapanpun.

Festival Danau Sentani (FDS) merupakan ungkapan budaya masyarakat Sentani dengan adat istiadat yang turun temurun dengan latar khasanah alam danau, gunung-gunung yang khas serta beragam seni budaya sebagai bentuk cerminan aktifitas kehidupan masyarakatnya.
Melalui even budaya tersebut identitas budaya rakyat Sentani yang selama ini tersimpan rapi dan kurang diekspos di kampung-kampung saat inilah waktunya untuk dikemas dalam sebuah even yang rencananya akan menjadi agenda tahunan di masa mendatang.
Dengan adanya sarana transportasi bandara internasional Sentani, tidak seharusnya budaya sentani berada di posisi belakang. Gabungan akses transportasi alam danau yang indah dan budaya serta corak seni masyarakat merupakan nilai tersendiri dalam industry pariwisata. Dan yang terpenting dari itu semua adalah menempatkan masyarakat sentani di titik utama sebuah proses industry pariwisata bukan sebaliknya menjadi penonton lalu lintas devisa yang pada akhirnya berimbas kepada pembangunan kesejahteraan.
Festival yang digelar selama 3 hari dari tanggal 19 hingga 21 Juni lalu selalu dibanjiri penonton yang melihat dari dekat. Hal ini menunjukkan Papua terutama kabupaten Jayapura berhasil masuk dalam kalangan even nasional pariwisata, sesuai hasil uji kelayakan masuk daftar sebagai wilayah yang banyak dikunjungi wisatawan.
Keindahan alam danau sentani serta keunikan seni budayanya akan menjadi salah satu suguhan dalam pertunjukan yang mempesona karena didalamnya memiliki nilai-nilai primitive bahkan juga terkolaborasi oleh nilai-nilai peradaban masa kini yang memperkaya keaslian budaya Sentani sebagai pemilik kesenian khas budaya di atas air telaga.
Materi pagelaran itu sendiri meliputi: seni tari tradisional diatas perahu (Isosolo), tarian di darat, sastra tradisi (Ehahino) serta berbagai pameran benda-benda budaya, makanan tradisional serta obat-obatan tradisional.

Atraksi Buaya Diatas Perahu
Atraksi buaya ini juga bagian dari budaya dan hanya ada di Danau Sentani, dan akan dipandu oleh seorang pawang buaya dari daerah tersebut. Keberadaan buaya tersebut sebelumnya masih dirahasiakan oleh panitia atas perintah tua-tua adat. Kemungkinan bertujuan memberi kejutan kepada para pengunjung pada puncak acara FDS.
John Wahae, salah seorang tokoh adat berujar kalau pertunjukan dengan menampilkan buaya yang masih hidup ini merupakan bagian dari khasanah budaya yang hanya dimiliki oleh daerah Sentani.
“Dalam melakukan atraksi buaya masih hidup ini nantinya penonton diajak melihat bagaimana seseorang menari dan naik diatas buaya dengan dipandu oleh seorang pawang” terangnya.
Menurutnya, selain atraksi buaya ada juga tarian diatas perahu atau disebut Isosolo (isolo) yakni sebuah tarian perang yang ditampilkan diatas perahu oleh masyarakat.
Selain itu penyerahan benda-benda budaya seperti gelang batu, manik-manik dan lainnya yang memiliki nilai tak ternilai dan hanya dimiliki oleh para ondoafi atau tetua adat yang masih berbau magis.
Selain itu lanjutnya, juga akan ditampilkan tarian kikaro atau sanjungan yang merupakan sebuah tarian tradisional asli masyarakat adat kampung Dondai distrik Waibu. Tarian ini biasanya ditampilkan pada upacara adat guna memberikan sanjungan terhadap ondoafi misalnya ketika terjadi musibah atau meninggalnya ondoafi, untuk menghibur mereka yang sedang berduka atau juga untuk memberi penghormatan kepada Ondoafi atas kepemimpinan.
Sentani Harus Menjadi Kota Tujuan
Salah satu tujuan pemerintah Kabupaten Jayapura menggelar Festival Danau Sentani (FDS) adalah karena di daerah tersebut memiliki potensi keindahan alam budaya masyarakat danau Sentani.
Bupati Jayapura, Habel Melkias Suwae,S.Sos.MM kepada wartawan mengatakan bahwa, banyak kekayaan yang berasal dari potensi alam maupun budaya serta peninggalan perang yang berasal dari Kabupaten Jayapura. Dan potensi seperti ini yang tidak dimiliki didaerah lain. Ditambah keberadaan airport. Untuk itulah wilayah Kenambay Umbay tidak saja sebagai pintu masuk atau transit semata, tetapi dapat menjadi tujuan utama.
“Dengan bandara udara yang berfungsi sebagai terminal sebelum memasuki daerah-daerah lain di Papua kecuali Biak, menyebabkan kemanapun seseorang akan pergi pasti lebih dulu melewati Sentani. Sehingga pemerintah berupaya untuk mengemas bagaimana agar para tamu yang datang baik dari luar maupun dalam negeri dapat menikmati nuansa alam yang ada di kabupaten Jayapura ini” tutur Bupati yang didampingi Wakilnya serta Kepala Dinas Pariwisata. (Anang Budiono)

Iklan
%d blogger menyukai ini: