Kesejahteraan Bukan Pergumulan Wartawan Tapi Semua Orang

JUBI – Jika menyimak kembali beberapa peristiwa bahwa kesejahteraan bukan saja menjadi perumulan wartawan tapi semua orang. Hal ini sangat terkait dengan masalah tenaga kerja.

“Bicara soal perusahaan, industri dan bagaimana kebijakan perusahaan terhadap organisasi. Saya melihat ada tiga hal antara lain pertama kebijakan perusahaan terkait kesejahteraan, kedua kepatuhan karyawan terhadap aturan dan ketiga tentang prouktivitas kerja,”ujar Kenny Manyabubun fasilitator pada Diskusi Kelompok Terarah kerja sama Aliansi Jurnalistik Independen (AJI ) Biro Jayapura Foker LSM Papua dan Yayasan Fredrik Stiffung (FES) di Hotel Mutiara belum lama ini di Jayapura.
Senada dengan Kenny, peserta dari Tribun Papua Victor Bato mengakui bahwa ada pengalaman pribadi tentang kasus kesejahteraan tetapi intinya adalah kenyamanan bekerja. “Saya lihat dari tiga hal yang dilemparkan tadi sebenarnya pada point pertama tentang kebijakan dan aturan. Produktivitas kurang diperhatikan. Jadi bila ada karyawan yang berani melawan maka akan langsung tersingkir dari sturktur yang ada dalam media itu. Saya pernah alami seperti itu. Kalau tidak tersingkir maka akan ada intimidasi,”ujar Bato mantan redaktur Harian Timika Pos.
Ditambahkan ketika menyinggung soal kesejahteraan maka langsung memperoleh intimidasi dari pemilik media.” Produktivitas, kurang menjadi ukuran. Kebijakan bukan saja soal kepemilikan, tapi dalam hal keredaksian juga,”ujar Bato.
Menurut Bato saat ini dalam mengelola Tabloid Tribun Papua di Timika memang sangat jauh dari kesejahteraan yang ideal. “Ketika kami keluar dari media, maka kami tidak lagi percaya dengan pengusaha media, sehingga akhirnya kami membuat media,” ujar Bato.
Ditambahkan kesejahteraan bukan saja dinilai dari nilai uang, tapi bagaimana dengan kenyamanan kerja.
Sementara itu Ketua AJI Biro Kota Jayapura Cunding Levi menambahkan bahwa persoalan kesejahteraan bukan hanya menjadi urusan media di Papua tapi semua orang. “Kita harus rumuskan standar kelayakan hidup bagi wartawan sehingga dapat didorong untuk setiap media dapat memberikan standar bagi kesejahteraan wartawan,” ujar Cunding Levi. (Dominggus A Mampioper)

Iklan
%d blogger menyukai ini: