Akibat Aksi Mogok 18 Karyawan Di PHK

Akibat Aksi Mogok 18 Karyawan Di PHKJUBI-Melalui Federasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) PT Trakindo Utama yang bertugas sebagai wadah yang menjalankan fungsi untuk melindungi dan membela pekerja yang juga ikut bertanggungjawab terhadap penyelesaian perselisihan hubungan industrial akibat 18 karyawan PT Trakindo Utama yang sebelumnya menggelar aksi mogok damai berimbas kepada pemecatan atau PHK.

Melaui SPSI, mereka menyampaikan aspirasinya kepada Gubernur Papua yang isinya adalah: Pertama, memohon kepada Gubernur Papua agar 18 pekerja yang telah di PHK secara sepihak oleh PT Trakindo Utama akibat aksi mogok damai yang terjadi untuk dapat dipekerjakan kembali sesuai dengan sikap DPRD kabupaten Mimika per tanggal 24 Mei 2008. Kedua, Memohon kepada gubernur untuk menarik kembali sanksi dan tindakan disiplin yang diberikan PT Trakindo Utama kepada seluruh pekerja berupa warning letter. Ketiga,memohon agar seluruh hak-hak pekerja berupa gaji dan tunjangan tetap dibayar pasca mogok kerja yang terjadi secara sah dan legal sesuai dengan UU ketenagakerjaan tahun 2003 pasal 137-145. Keempat, memohon agar struktur dan skala upah harus dilakukan secara transparan dan kelima, mengenai kenaikan upah pekerja sesuai dengan kesepakatan bersama managemen PT Freeport Indonesia dan Tonggoi (wadah diskusi pekerja papua-red). Pernyataan sikap tersebut dibacakan sekretaris SPSI, PT Trakindo Utama, Ignatius P, dan ditandatangai oleh Ketua SPSI Maimun A.MD.
Kronologis kejadianya
Pada tanggal 6 Mei 2008.
Managemen IR/HR mengeluarkan surat INTER-OFFICE MAIL kepada salah satu karyawan atas nama saudara SANGKAN SIAHAAN. ID 817589 dan JULLIUS SOMPOTAN. ID . 877246 dengan nomor : Istimewa . Perihal Panggilan . dengan tujuan tidak jelas yang di tanda tangani oleh saudara DIDI P . MANUARON.

Pada tanggal 13 Mei 2008
Pimpinan manajemen kembali mengeluarkan surat pembebas tugaskan terhadap 9 orang karyawan termasuk pengurus serikat kerja . Dengan Nomor : 0016/HR/IR/V/2008 yang di tandatangani oleh masing-masing kepala departemen . adapun tujuan dariu pimpinan manajemen untuk mengamankan orang-orang yang di anggap sebagai profokator dalam menggerakan aksi amogok damai . pimpinan manajemen telah menyusun strategi balas dendam yang bekerja asama dengan pihak oknum kepoloisisan / orang yang berapakaian baju preman,dengan cara manajemen siapkan 9 taxi gelap untuk menghantarkan 9 karyawan ke rumah masing-masing, peristiwa tersebut di perkirakan di lakukan pukul 15.00 WIT terhadap 9 keryawan yang di dalamnya termasuk pengurus serikat kerja, yang pada saat itu sedang malakukan pembelaan kepada karyawan yang di kenakan sangsi PHK bersangkutan adalah bapak YUSRI SAPUTRA akibat dari ikut mogok . atas persetujuan manajemen HR yaitu bapak SIANTURI dab bapak SEMUEL TIKUPADANG sebagai atas langsung. Pengurus serikat kerja juga pada saat itu juga sedang melakukan proses pembelaan terhadap dua karyawan transport yang masuk kerja tidak diberikan pekerjaan oleh atasan dengan alasan belum di butuhkan . kami epngurus serikat pekerja dengan tiba-tiba di panggil oleh pihak manajemen untuk menanda tangani surat pembebas tugasan secara paksa dan kami tetap tidak ikut menandatangani surat tersebut larena tidak sesuia prosedur yang benar dengan tidak memberikan surat panggilan untuk mediasi secar tertulis dan juga telah melanggar pernyataan sikap dari DPRD sehingga ada persiapan pendampingan dari peringkat organisasi DPC SPSI yang perlu di ikut sertakan . adapun 9 karyawan yang di bebastugaskan adalah :
1. Yustinus Pigai
2. Maimun Amd
3. Ignatius Purwowidianto
4. Indria D.Haay
5. Christian Irjun Fonataba
6. Darwoto
7. Bedman Hutabarat
8. Aris Sapakoli
9. Jan Zet Suebu

Ada empat karyawan yang pada saat itu di antar pulang yaitu bapak INDRIA D HAAY , bapak CHRISTIAN IRJUN FONATABA , bapak ARIS SAPAKOLI dan Bapak DARWOTO . Masing-masing di kawal oleh oknum kepolisian dengan menggunakan taxi kaca gelap yang sudah di siapkan oleh manajemen trakindo . ada salah seorang karyawan yaitu bapak YUSTINUS PIGAI setelah keluar dari ruangan langsung salah seorang yang berpakaian preman secara paksa menarik yang bersangkutan sehingga terjadi tarik menarik yang mengakibatkan kerusakan / sobek pada kerah baju.
Berdasarkan kejadian tersebut di atas maka kami menyimpulkan bahwa pihak manajemen telah melakukan tindakan semena-mena terhadap pekerja dengan jelas tindakan ini sudah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM ) . akibat dri tindakan manajewmen tersebut di atas , seluruh karyawan trakindo yabg ada di kuala kencana secar spontan berkumpul di lunch room ,tujuannya unytuk mempertanyakan kepada pihak manajemen tentang tindakan warning serta pembebas tugasan yang telah di berikan kepda karyawan dan pengurus SPSI . sikap spontanitas para pekerhja di lakukan berdasarkan surat pernyataan sikap dari DPRD kabupaten Mimika . Kemudian pengurus menghubungi DPC SPSI dan juga ikut salah satu anggota dewan dari Komisi C , Pihak PT Freeport dan Kapolsek Kuala Kencana untuk melakukan perundingan dengan managemen guna menyikapi sikap managemen dalam situasi yang terjadi di Mimika. Didalam perundingan tersebut tidak ada penyelesaian.
Akibat dari tidak adanya penyelesaian maka karyawan tetap pada pendirian untuk meminta penjelasan pihak managemen atas tindakan yang dilakukan. Akibat dari kejadian itu pada tanggal 14 Mei pembebastugasan kerja bertambah lagi 9 karyawan sehingga jumlah seluruhnya mencapai 18 karyawan.
Ke 9 karyawan tersebut adalah:
1. Thomas Yenusi
2. Pilipus Dawile
3. Indra Muabuay
4. Haris RS Yocku
5. Andi Waromi
6. Nasrudin Annas
7. Yan.P Numberi
8. Yusrin Saputra
9. Yendi Togongki
Pada tanggal 14 Mei 2008
Karyawan PT Trakindo Utama Tembagapura Crew III mengeluarkan surat pernyataan sikap yang ditandatangani oleh seluruh karyawan Trakindo Crew III.
Managemen mengeluarkan inter-office mail yang ditujukan kepada seluruh karyawan dengan perihal penegasan larangan mogok kerja yang ditandatangani oleh Yushi T.Ismayudha sebagai HRD-Industrial Relation (IR) manager.
Pada tanggal 15 Mei 2008
Atas nama pengurus SPSI PT Trakindo Sdr Jemmy Kumbubuy dan Nasrudin Annas mengeluarkan pernyataan sikap karyawan yang ditujukan kepada pimpinan managemen serta ditandatangai oleh seluruh karyawan di Kuala Kencana. Adapun maksud pernyataan sikap tersebut adalah karyawan mengajukan 3 opsi yaitu:
1. Bahwa teman –teman kami yang diberikan sanksi PHK agar ditarik kembali bekerja seperti biasa.
2. Bahwa pihak managemen harus menarik kembali semua sanksi atau surat peringatan yang telah diberikan kepada semua karyawan.
3. Bahwa pihak managemen dapat menjamin keamanan dan kestabilan kerja tetap kondusif dengan tidak melakukan segala bentuk intimidasi terhadap karyawan. (Anang Budiono)

%d blogger menyukai ini: