Hak Intelektual Masyarakat Adat dan Pelestarian Lingkungan

Peneliti dan biolog dari Fakultas MIPA Uncen Drs I Made Budi MSc mengatakan hak intelektual tanaman asli Papua termasuk buah merah (Pandanus) mestinya harus dilindungi agar tidak dicuri oleh pihak luar negeri. “ Jangan kaget kalau saat ini sudah ada jenis buah merah asal Thailand,”ujar ahli gizi dari Uncen ini kepada Jubi belum lama ini.

Menurut Made Budi pengurusan hak intelektual buah merah sudah lama diurus tetapi tak kunjung selesai hak patentnya. Padahal tanaman buah merah dan juga daun kerbar di Kabupaten Manokwari merupakan pengetahuan masyarakat adat yang seharusnya perlu dilindungi dengan mematentkannya.

Menarik untuk disimak adalah petani bunga di Sumatera Utara harus membeli bunga asli asal daerah mereka yang sudah jadi milik Thailand. Bukan itu saja rempah rempah asal Indonesia seperti kunyit pun sudah dimiliki Thailand. Ini salah siapa? Masyarakat adat atau pemerintah? Tak tahulah tetapi yang jelas masyarakat adat sedikit demi sedikit telah kehilangan hak dan pengetahuan mereka.

Apa yang dikeluhkan oleh peneliti biogi dari Uncen ini merupakan salah satu dari ribuan pengetahuan masyarakat adat yang perlu dikaji dan dilindungi. Pasalnya kalau tidak ada keseriusan dari pihak yang berkompenten sudah tentu akan hilang dan diambil oleh negara lain.

Bukan itu saja komunitas adat dengan sistem pengelolaan tradisional atau kearifan tradisional ternyata memiliki peranan sangat penting dalam menjaga dan melestarikan alam serta lingkungan. Bahkan dalam kehidupan keseharian, sistem pengelolaan lingkungan secara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat adat terbukti mampu menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Bagi masyarakat adat di Papua pelestarian alam di lingkungan sudah dilakukan sejak dulu hal ini bisa dilihat dari tradisi upacara adat di masyarakat suku Tepera Distrik Depapre Kabupaten Jayapura. Masyarakat suku Tepera mengenal tradisi Tiyatiki untuk melakukan perlidungan dan pelarangan selama beberapa lama untuk tidak boleh mencari atau memancing ikan di wilayah tertentu yang sudah diberikan tanda pelarangan.

Bahkan di PNG pengetahuan local tentang perlindungan sudah dimasukkan ke dalam kebijakan pemerintah di sana. Hal ini menyebabkan setiap kampung atau wilayah adat di sana bisa menentukan kawasan lindung seperti layaknya kawasan konservasi di Indonesia.

“Banyak pengamat menilai beberapa sistem pengelolaan tradisonal terbukti mempunyai nilai penting dalam konteks pelestarian alam dan lingkungan, termasuk dalam konteks sosial, khususnya bagi masyarakat pedesaan yang kehidupannya bergantung pada hasil-hasil pertanian,” kata Ketua Pusat Pengkajian Antropologi, Fisipol Universitas Indonesia, DR Suraya Afiff, yang dikutip Berita Bumi dalam sebuah dialog yang diselenggarakan pada Gelar Budaya Komunitas Adat di Makassar belum lama ini.

Ia juga menjelaskan bahwa praktik-praktik pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang dilaksanakan oleh berbagai komunitas adat di wilayah Indonesia dinilai selaras dengan prinsip pengelolaan lingkungan hidup dan alam yang lestari dan berkelanjutan.

Apalagi hal ini didukung oleh kebijakan adat yang secara turun-temurun sudah mengatur bahwa pengelolaan dan pemanfaatan alam harus memperhatikan kelestarian sumber daya alam serta lingkungan. Banyak komunitas adat yang memang dalam kehidupan sehari-hari melarang anggota kelompoknya untuk melakukan kegiatan yang mengakibatkan terjadinya kerusakan sumber daya alam yang menjadi sumber kehidupan mereka.

Ia mengambil contoh Kebun Agroforest Tembawang di Kalimantan Barat yang merupakan salah satu tempat dimana kebun itu dikenal luas sebagai habitat komunitas Dayak yang tetap mempertahankan pohon-pohon hutan alam terutama yang bernilai penting.

“Setelah ladang tidak lagi digunakan, masyarakat setempat melakukan pembudidayaan dengan berbagai jenis tanaman yang berasal dari hutan alam sekitar maupun tanaman yang bukan asli hutan misalnya tanaman karet,” katanya.

Dari kegiatan komunitas adat di sana, maka saat ini Tembawang mempunyai nilai ekonomis penting bagi masyarakat yang bersangkutan. Kepemilikan Tembawang umumnya oleh seluruh anggota keluarga yang diturunkan secara turun-temurun, maupun pribadi atau kepemilikan bersama masyarakat setempat.

Melihat potensi dari komunitas adat untuk berperan dalam menjaga kelestarian alam dan lingkungan tersebut, maka pemerintah harus memberikan kesempatan yang sama agar mereka dapat menjalankan kegiatan sesuai dengan kearifan yang mereka miliki. Apalagi selama ini di berbagai daerah dapat ditemukan begitu banyak kearifan tradisional yang ternyata justru mampu menjaga keberlanjutan akan kelestarian sumber daya alam dan lingkungannya.

Pada saat yang sama, pakar Antropologi Budaya dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Heidy S Ahimsa Putra, mengakui adanya kesulitan dalam mengaktualisasikan nilai-nilai budaya, baik tradisional maupun modern ke dalam kehidupan masyarakat menurut cara yang mereka anut.

“Aktualisasi nilai-nilai budaya, tradisional maupun kontemporer dalam kehidupan yang tradisional maupun modern diakui tidak selalu berlangsung dengan mudah dan lancar,” ujarnya.

Kesulitan itu diakuinya karena semua ditentukan oleh jenis atau isi nilai-nilai budaya yang akan diaktualisasikan itu, serta jenis ajang (setting) sosio-kultural dari aktualisasi nilai-nilai budaya itu sendiri. Ini juga termasuk bagaimana mengaktualisasikan nilai-nilai budaya itu dalam bersentuhan dengan alam, lingkungan, dan masyarakat di sekitarnya di luar komunitasnya.

Untuk itu, ia menyarankan agar dalam upaya aktualisasi nilai-nilai budaya lokal tradisional maupun kontemporer dalam kehidupan sehari-hari harus memilih mana nilai-nilai budaya yang dapat menimbulkan masalah atau yang tidak.

“Jika suatu nilai budaya yang hendak diaktualisasikan itu tidak akan menimbulkan masalah, maka bisa atau layak untuk disosialisasikan dan disebarluaskan,” tegasnya.

Namun jika berpotensi menimbulkan masalah, hendaklah dilakukan reinterpretasi yang tepat dan cerdas sehingga menimbulkan masalah sosio-kultural yang serius dalam kehidupan masyarakat. (Dominggus A. Mampioper dari berbagai sumber)

%d blogger menyukai ini: