Ringkasan Umum STOP AIDS NOW! Proyek Pengembangan Gender Di Tanah Papua

1. Ringkasan umum Project LP3A-P
Judul Project : Pendampingan Dalam Rangka Penguatan Bagi Komunitas

Pendampingan dalam rangka penguatan bagi komunitas perempuan, komunitas gereja (pendeta, pelayan jemaat¸ persekutuan wanita, persekutuan kaum muda), tokoh adat, dan tokoh perempuan, dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan, kesadaran sekaligus mendorong gerakan bersama bagi pencegahan penularan virus HIV/Aids dan perlindungan bagi hak-hak perempuan di wilayah Nimboran dan Namblong.
Usaha membangun pemahaman, kesadaran serta gerakan bagi penerima manfaat secara substansial perlu dilakukan secara menyeluruh, artinya penanggulangan HIV/Aids itu, tak terbatas pada bagaimana menginforimasikan pengetahuan mengenai HIV/Aids (apa itu HIV/Aids, bagaimana cara penularan, metode pencegahan) tetapi perlu dikawal dengan transfomasi pengetahuan mengenai norma gender egaliter, konstruksi seksualitas, kesehatan reproduksi dan hak-hak asasi perempuan dimana aspek-aspek diatas, pada faktanya memiliki ketrkaitan dengan masalah HIV/Aids itu sendiri.
Hal ini, dimaksudkan agar usaha memotong mata rantai penularan HIV/Aids tidak terbatas pada motivasi “membebaskan” masyarakat dari ancaman HIV/Aids, tetapi perlu didorong dengan upaya untuk mewujudnyatakan suatu kondisi kehidupan masyarakat sehat, adil, setara dan menghargai hak-hak asasi perempuan.

Alasan pemilihan komunitas dan individu, adalah:
1) Kaum perempuan (termasuk remaja putri), merupakan komunitas yang rentan terhadap penularan virus HIV/Aids. Kategori komunitas perempuan, sebagai komunitas rentan dilandasi beberapa pertimbangan, bahwa kontruksi sosial masyarakat mengenai seksualitas (termasuk aspek kehidupan lain), dengan mengekalkan dominasi kekuasaan laki-laki atas tubuh dan seksualitas perempuan, mengakibatkan posisi tawar perempuan dalam aktivitas seksual sangat rendah. Konstruksi sosial masyarakat mengenai seksualitas dapat menciptakan peluang bagi perempuan tertular HIV/Aids.
Konstruksi peran gender, mempengaruhi pula terbatasnya akses bagi perempuan untuk dapat memperoleh informasi, pengetahuan atau ketrampilan dengan cukup, terkait dengan; kesehatan reproduksi, penyakit menular (HIV/Aids), hak-hak dasar dan sebagainya. Melalui informasi, pengetahuan dan ketrampilan diharapkan dapat membuka wacana sekaligus menjadi bekal dalam memproteksi diri, dan membagi informasi itu dalam keluarga, tetangga, sahabat, pacar dan sebagainya.

2) tokoh adat, tokoh gereja, tokoh perempuan, dan tokoh pemuda pada dasarnya mempunyai power serta kewenangan dengan tingkat interaksi, komunikasi, dan jaringan cukup luas dalam masyarakat. Dengan kekuatan dan kewenangan para tokoh, dapat melakukan tindakan intervensi sebagai salah satu bentuk strategi dalam mempengaruhi sikap, pola pikir anggota masyarakat. Langkah penguatan bagi individu-individu tersebut, dimana dengan informasi, pengetahuan mengenai HIV/Aids, seksualitas dan hak-hak perempuan diharapkan dapat melahirkan ide-gagasan yang dikembangkan dalam bentuk diskusi (atau kegiatan) atau merumuskan kesepakatan antara pihak (sesusai kapasitas masing-masing) untuk mendukung kepentingan penanggulangan HIV/Aids, dan advokasi hak-hak perempuan dalam masyarakat.
Dalam implementasi program, dan untuk tujuan pencapaian program secara maksimal, maka keterlibatan jumlah orang (penerima manfaat) dibatasi, bersandar pada pertimbangan-pertimbangan tertentu. Jumlah orang yang terlibat dalam kegiatan itu, diseleksi berdasarkan kebutuhan dan tujuan pelaksanaan program. Hal ini dimaksudkan, agar proses membangun pemahaman, kesadaran dan mengorganisir gerakan benar-benar lebih terarah, tepat sasaran dan pengetahuan dan ketrampilan dimiliki itu, penerima manfaat mampu mengorganisir aksi-aksi di tingkat lokal pada tataran: komunitas perempuan, komunitas gereja, adat, pemuda dan sebagainya.
Misalnya pada komunitas perempuan, informasi, pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh dapat dikembangkan lebih lanjut dalam bentuk diskusi-diskusi, sharing pengalaman dengan tema mengenai HIV/Aids, kesehatan reproduksi, hak-hak perempuan dan isu-isu perempuan lainnya.
Implementasi program ini, bekerjasama dengan lembaga-lembaga secara spesifik benar-benar memiliki kemampuan (pengetahuan dan ketrampilan) mengenai persoalan HIV/Aids di Papua. Lembaga dimaksud adalah: Yayasan Pengembangan Kesehatan Masyarakat (YPKM) Papua dan Persektuan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Papua. Kedua lembaga ini, dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan diskusi, lokakarya pelatihan dan berperan sebagai narasumber dan fasilitator.

Strategi komunikasi yang berkaitan dengan kegiatan/rangkaian kegiatan diajukan
a.Komunitas Pendukung (Support Group)
Masyarakat Nimboran dan Namblong, adalah komunitas dampingan LP3A-Papua (kurang lebih 3 tahun 2004-Agustus 2007) dalam program Layanan Berbasis Komunitas bagi perempuan korban kekerasan sebagai salah satu bentuk strategi advokasi bagi perlindungan perempuan di daerah ini. Program Layanan Berbasis Komunitas, dalam bentuk penanganan bersama korban maupun penguatan masyarakat yang dikemas dalam berbagai aksi (diksusi terfokus, pelatihan, workshop dan kajian) dengan melibatkan kelompok perempuan, tokoh perempuan, tokoh adat, tokoh gereja dan sebagainya. Melalui program yang dikembangkan LP3A-Papua mampu membentuk ikatan relasi yang cukup kuat, dengan tingkat komunikasi cukup rutin dan sangat terbuka antara lembaga dengan kelompok masyarakat di daerah ini.
Penguatan masyarakat lewat program layanan berbasis komunitas, perlahan-lahan mempengaruhi sikap serta respons kuat dari masyarakat untuk terus melakukan gerakan advokasi bagi perlindungan hak-hak perempuan dalam masyarakat. Terbentuknya kelompok perempuan dengan sejumlah aktivitas ditingkat kelompok ataupun lingkungan gereja serta tampilnya beberapa individu (perempuan) sebagai pekerja sosial memberikan layanan bagi perempuan dan anak korban kekerasan adalah bagian dari dampak kegiatan ini.

Kondisi diatas tentu saja dapat memberi ruang dan kontribusi amat positif bagi implementasi program Stop Aids Now! di wilayah ini. Kehadiran program SAN dalam bentuk penguatan dapat merangsang inspirasi individu dan komunitas untuk mengembangkan ide, gagasan yang dikembangkan dalam bentuk kegiatan diskusi, sharing dan atau kegiatan lainnya untuk mendukung kepentingan penanggulangan HIV/Aids dan perlindungan terhadap hak-hak perempuan dalam keluarga, komunitas dan masyarakat umumnya. Dalam konteks lain, bahwa kehadiran program SAN justru dapat memperkuat atau memperkaya program-program sebelumnya.

b.Melakukan sosialisasi, diskusi kelompok, pelatihan dan workshop pada kelompok sasaran dan pihak-pihak terkait bagi kepentingan penanggulangan HIV/Aids dan advokasi hak-hak perempuan untuk mewujudnyatakan kehidupan masyarakat yang bebas dai ancaman virus HIV/Aids, keadilan dan kesetaraan serta penghormatan terhadap hak-hak perempuan.

c.Melakukan interaksi dan komunikasi intensif dengan individu dan komunitas penerima manfaat dalam hubungan dengan kegiatan-kegiatan bagi kepentingan penanggulangan HIV/Aids dan advokasi perlindungan hak-hak perempuan.

Jenis Kegiatan yang diajukan LP3A-Papua, adalah:
a.Diskusi Kelompok
Diksusi kelompok dilakukan secara periodik dengan melibatkan komunitas dan individu berasal dari: kelompok perempuan, pemuda, organisasi gereja (persekutuan wanita, persekutuan kaum bapak, persekutuan kaum muda, pelayan jemaat), tokoh perempuan, tokoh gereja, tokoh adat dan tenaga pelayan kesehatan. Diskusi ini dilakukan 3 (tiga) kali, mengacu pada tahapan-tahapan yaitu: 1) sharing pengalaman pada tingkat individu maupun kelompok terkait dengan pemahaman mengenai HIV/Aids, upaya penanggulangan dan masalah dalam penanggulangan, 2) membangun penguatan bagi individu dan komunitas dengan membagi informasi, pengetahuan/pemahaman mengenai HIV/Aids, norma gender, seksulitas, hak-hak perempuan, dan merumuskan solusi bersama bagi penanggulangan HIV/Aids dan perlindungan hak-hak perempuan di daerah tersebut.

b.Sosialisasi HIV/Aids Bagi Pelajar SMU di Nimboran
Sosialisasi merupakan salah satu strategi dalam membangun penguatan bagi para remaja dengan membagi informasi, pengetahuan (HIV/Aids, masalah gender dan hak-hak perempuan) bagi para pelajar di SMU Nimboran. Pilihan sasaran tersebut, didasari pertimbangan bahwa komunitas pelajar (remaja) baik perempuan atau laki-laki adalah komunitas yang sangat rentan tertular HIV/Aids.
Peluang tertular HIV/Aids makin terbuka, sebab kenyataanya sebagian besar remaja belum memahami dengan baik mengenai perilaku seksual yang sehat dan bertanggungjawab, penyakit menular seksual, dan bukan rahasia lagi bahwa memang perilaku sek bebas berkembang dengan pesat dalam lingkaran kehidupan kaum remaja (pelajar) dalam beberapa tahun belakangan ini.
Membekali para pelajar dengan infomasi, pengetahuan mengenai aspek-aspek diatas, diharapkan para remaja (perempuan dan laki-laki) dapat memproteksi diri dari ancaman HIV/Aids, dan mampu menciptakan realasi yang adil, setara dan menghargai hak-hak perempuan baik pada lingkungan sekolah, dalam relasi personal atau masyarakat luas. Selanjutnya, diharapkan para pelajar dapat informasi, pengetahuan pada orang lain, seperti anggota keluarga, tetangga, sahabat, dan pacar.
Kegiatan sosialisasi dilaksanakan 1 (satu) kali dalam perncanaan program, dan peserta nya sebanyak 40 orang, wakil dari masing-masing kelas (I, II, III) dan beberapa orang guru (perempuan dan laki-laki). Materi sosialisasi, adalah pengetahuan dasar mengenai HIV/Aids (apa itu HIV/Aids, cara penularan, dan pencegahan), gender dan hak-hak perempuan.
c.Lokakarya Starategi Penanggulangan HIV/Aids Berbasis Komunitas
Lokakarya ini dimaksudkan untuk menggali dan merumuskan strategi (bersama) bagi kepentingan penanggulangan HIV/Aids dan perlindungan hak-hak perempuan di tingkat komunitas. Pendampingan dan penguatan yang dikembangkan dalam bentuk diskusi sosialisasi (sebelumnya) menjadi landasan penting untuk mengorganisir aksi-aksi di tingkat lokal dengan prinsip membagi peran sesuai dengan kapasitas masing-masing (apa yang harus dilakukan organisasi perempuan, gereja, adat, pemuda, dsb).
Lokakarya ini berlangsung 1 (satu) hari, dengan materi: a) Pengalaman (lembaga swadaya masyarakat dan pihak-pihak terkait) dalam Kerja-Kerja Penanggulangan HIV/Aids di Papua, b) Meningkatnya Penularan HIV/Aids dan strategi Penanganan (mengkritisi strategi penanganan HIV/Aids).

d.Pelatihan Ketrampilan Memimpin Diskusi Kelompok Di tingkat Basis
Pelatihan fasilitator diskusi kelompok merupakan salah satu bentuk penguatan kapasitas individu, komunitas dalam mendukung kepentingan penanggulangan HIV/Aids dan advokasi bagi perlindungan hak-hak perempuan dalam masyarakat. Penguatan kapasitas dalam bentuk pelatihan fasilitator diskusi kelompok di tingkat lokal dimaksudkan agar aksi-aksi yang dikembangkan dalam tingkat komunitas dapat diorganisir dengan baik; kemampuan memimpin suatu diskusi, ketrampilan berkomunikasi. Ketrampilan ini, diharapkan agar komunitas atau individu mampu mengorganisir aksi-aksi, mampu menuntun pemecahan masalah, serta mampu mengembangkan informasi, pngetahuan mengenai HIV/Aids, kesehatan reproduksi, hak-hak perempuan, norma gender secara dengan tepat.

2. Ringkasan umum Project AlDP
Judul Project : Pendampingan Komunitas bagi mahasiswi aktifis kampus berbasis organisasi ekstra dan intra kampus

Pendampingan Komunitas bagi mahasiswi aktifis kampus berbasis organisasi ekstra dan intra kampus yakni Mahasiswi dari Senat Mahasiswa dan Himpunan mahasiswi berbasis agama seperti HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia)dan PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia) sebagai bagian dari perempuan usia produktif dengan tujuan mengubah dan mengembangkan kesadaran perilaku yang bertujuan bagi pencegahan penularan HIV_Aids dan penguatan hak – hak perempuan untuk memperjuangkan kehidupan yang berkeadilan buat perempuan.

A.Deskripsi dari kelompok tujuan:
Komunitas Perempuan usia produktif yang terbagi dalam 2 kelompok yakni:
1.Mahasiswi yang merupakan bagian dari suatu komunitas atau organisasi ekstra kampus seperti: Mahasiswi GMKI (mahasiswa Protestan), Mahasiswi HMI (mahasiswa Muslim), Mahasiswi PMKRI (mahasiswa Katholik).
2.Mahasiswi berbasis organisasi Intra Kampus yakni mahasiswi yang merupakan perwakilan dari Senat Mahasiswa.

B.Alasan memilih kelompok tujuan adalah:
1.Merupakan bagian dari komunitas dan tidak merupakan individu terpisah sehingga ada dukungan dan interaksi internal serta interaksi eksternal yang memiliki jangkauan yang lebih luas.
2.Mahasiswi / perempuan usia muda lebih bersifat proaktif dalam menangkap informasi atau ide-ide dari luar dan bisa lebih kreatif dalam mengembangkan dan menggabungkan ide-ide baru untuk menerapkannya sesuai dengan realitas setempat.
3.Intensitas interaksi dan aktifitas mahasiswi /perempuan usia muda lebih tinggi dan luas sehingga lebih efektif mentransformasi dan mengkomunikasikan informasi serta ide-ide baru yang datang dari luar dengan komunitasnya sendiri atau dengan orang-orang di luar komunitasnya.
4.Komunitas mahasiswi yang dipilih adalah perempuan yang terlibat atau merupakan bagian dari suatu kelompok/komunitas yang sudah ada sebelumnya sehingga tidak perlu membentuk komunitas yang baru.

C.Perkiraan jumlah orang atau organisasi yang akan dicapai:
Bahwa dalam melaksanakan kegiatan melalui pendampingan dan pelayanan sengaja memilih cara untuk tidak melibatkan orang dalam jumlah yang terlalu besar sekaligus karena akan memakan waktu yang cukup banyak dan hasilnya kurang dipahami sehingga penerimaan manfaat kurang mampu mengembangkan ide-ide tersebut secara lebih luas. Cukup dengan jumlah yang terbatas pada periode waktu yang relatif panjang sehingga diharapkan cukup memberikan pemahaman dan menjadi motivasi kuat untuk melakukan perubahan dalam pencegahan penularan HIV_AIDs serta pengakuan dan penghormatan terhadap hak – hak perempuan.

D.Estimasi jumlah penerima manfaat:
Jumlah penerimaan manfaat : primer, sekunder dan tersier dapat dilihat pada tabel. Karena peserta diskusi merupakan bagian organik dari suatu komunitas, diharapkan dapat mentransformasi dan melanjutkan hasil pelatihan maupun diskusi dalam forum internal masing-masing komunitas.
E.Kelompok yang melanjutkan:
Penerimaan manfaat primer diharapkan dapat melakukan interaksi dan diseminasi yang lebih luas dalam kelompok yang lebih besar dan beragam. Misalnya untuk kelompok mahasiswi akan membangun kesadaran kembali dengan junior yang di organisasi, orang tua, lingkungan tempat tinggal mereka serta lingkungan keagamaan mereka.

Dalam program ini terdapat juga kerjasama dengan lembaga yang diketahui selama ini memiliki ketrampilan spesifik tentang HIV_Aids, seperti YPKM dan Jaringan Peduli AIDS_Papua, kedua lembaga ini akan diminta keterlibatannya dalam hal memberikan informasi mengenai penanganan HIV_Aids dalam kesempatan pelatihan setiap 2 bulan dan pendampingan/diskusi.

Strategi komunikasi yang berkaitan dengan kegiatan/rangkaian kegiatan diajukan
1. Support Group _ALDP
Sudah sejak lama teman–teman organisasi kampus adalah mitra ALDP dalam melakukan berbagai diskusi dan membangun gerakan demokrasi dan hak asasi manusia. Usaha memperjuangkan penegakan hak asasi manusia, demokrasi dan perdamaian menjadi hal yang terpenting terutama kaitannya dengan berbagai bentuk penguatan untuk membangun kapasitas diri sebagai perempuan yang selalu menjadi korban ketidakadilan gender. Dengan program SAN maka dapat merupakan pengembangan dan bisa memperkaya program sebelumnya, sehingga ada keberlanjutkan program. (Bersambung)

%d blogger menyukai ini: