Kotoran Ternak : Antara Polusi Lingkungan Dan Sumber Energi Alternatif

Oleh : Freddy Pattiselanno (*)

Pencemaran lingkungan akibat usaha peternakan
Perkembangan usaha peternakan di negera-negara berkembang memberikan dampak ganda.  Di satu sisi secara ekonomi usaha peternakan membawa perubahan serta manfaat yang besar.  Usaha peternakan (produksi peternakan) adalah bagian penting yang tak terpisahkan bagi umumnya masyarakat petani-peternak di negara-negara berkembang karena kurang lebih 2/3 dari ternak di dunia berada di negara berkembang.  Di sisi lain tujuan utama memelihara ternak adalah sebagai sumber pangan “daging” dan umumnya ternak besar dimanfaatkan sebagai ternak kerja. Buktinya di India, usaha produksi peternakan berskala kecil memberikan kontribusi yang sangat penting terhadap ekonomi masyarakat yaitu sebesar 30% dari total output farm, dan sekitar 80% dari produksi peternakan berasal dari peternak skala kecil dengan jumlah ternak peliharaan 3-5 ekor, dan luas lahan kurang dari 2 hektar.
Di sisi lain muncul dampak negatif yang mengakibatkan terjadinya degradasi lingkungan secara luas.  Hal ini dapat dimaklumi sebagai akibat kotoran (feces), urine, sisa pakan, air buangan, alas kandang (litter) atau bangkai ternak dan sisa hasil olahan produk peternakan (bulu, darah, kulit, isi perut) yang dihasilkan notabene adalah limbah yang harus dibuang.  Masalah ini kemudian menjadi serius, karena sistem yang dikembangkan hanya dari sisi input dan produksi saja, dan kurang memperhatikan usaha menjaga keseimbangan antara produksi limbah yang dihasilkan dengan daya tampung lingkungan.
Limbah peternakan menghasilkan gas-gas yang cepat menguap dan menimbulkan bau yang tidak sedap.  Dari berbagai hasil penelitian terungkap bahwa beberapa jenis gas yang dihasilkan antara lain CO, CO2, CH4, NO2, NO, NH3, H2S, SO, SO2 konsentrasinya bervariasi menurut jumlah dan species ternaknya. Pada usaha peternakan yang intensif, sejumlah besar limbah bahkan melebihi kapasitas memberikan kontribusi terhadap meningkatnya nitrogen dan fosfor.  Sebaliknya nitrogen dan fosfor dikenal sebagai pemicu utama terjadinya penurunan kualitas aliran air permukaan dan air bawah tanah yang merupakan sumber air alami, bahkan hasil studi terakhir di bebarapa negara industri berbasis peternakan menunjukkan dampak serius limbah peternakan terhadap perubahan iklim (climate change) di era sekarang ini yang lebih popular dengan istilah pemanasan global (global warming).

Solusi penanganan limbah
Sudah sejak dahulu diketahui bahwa kotoran ternak memainkan peranan yang tidak kalah penting bagi lahan pertanian.  Hal ini cukup menggembirakan karena ekses dari produksi limbah yang dihasilkan usaha peternakan merupakan input yang bermanfaat bagi petani untuk mendapatkan pupuk dengan harga yang terjangkau serta kualitas yang cukup baik.  Dihapusnya subsisi pupuk oleh pemerintah pada bulan Oktober 1994 terasa sangat memberatkan para petani apalagi dengan kenyataan yang dihadapi harga pupuk selalu mengalami kenaikan harga.  Secara tidak langsung kondisi ini memacu motivasi petani untuk memanfaatkan sumber daya yang selalu tersedia dan mudah ditemukan di lahan pertanian mereka yaitu pupuk kandang. Tidak dapat dipungkiri bahwa ternak merupakan salah satu komponen pendukung usaha tani yakni sebagai penghasil pupuk kandang.  Beberapa kelebihan pupuk kandang yang merupakan campuran dari kotoran ternak (feces dan urin + sisa pakan dan alas kandang) mengandung unsur hara yang lengkap dan sangat dibutuhkan oleh tanah dan tanaman, memperbaiki aerasi dan drainase tanah, meningkatkan daya ikat air serta mampu meningkatkan aktivitas jasad renik.
Selain itu juga kotoran ternak dapat dibuat menjadi kompos yaitu kombinasi bahan-bahan organik yang telah lapuk.  Bahan organik bisa berasal dari daun-daunan, jerami, batang dan tongkol jagung serta kotoran ternak.  Pembuatan kompos tergolong sederhana dan dapat dikerjakan petani/peternak di desa.  Dengan mencari tempat yang baik (letak lebih tinggi) sehingga tidak mudah tergenang, kemudian dibuat lubang yang di atasnya diberi pelindung atap sebagai pelindung pada waktu hujan.
Bahan asal tanaman (daun, jerami, dll) dipotong dengan ukruan 30 cm atau semakin pendek semakin baik dan dicampur dengan kotoran ternak dan air dengan perbandingan jerami: kotoran ternak: air 5: 1: 15.  Campuran ketiga bahan ini diaduk dan dimasukkan ke dalam lubang secara berlapis, disesuaikan denan kondisi tempatnya.  Jika perlu dapat ditambahkan kapur atau abu dapur secukupnya.  Setelah semua campuran sudah dimasukkan, lubang tadi dapat ditutup dengan anyaman bambu (gedek) dan dibiarkan selama 1-2 bulan.  Setelah jangka waktu tersebut, tumpukan dapat dibongkar, diaduk dan ditumpuk kembali dan dibiarkan selama sebulan hingga kompos betul-betul dapat digunakan.

Kotoran ternak sebagai sumber energi alternatif
Dewasa ini semua elemen masyarakat prihatin dengan rencana pemerintah menaikkan harga BBM, serta meningkatkan harga tarif dasar listrik di Indonesia.  Langkah yang ditempuh pemerintah pada akhirnya semakin memperburuk kondisi 19,1 juta orang yang tergolong dalam rumah tangga miskin di Indonesia. Di Papua sendiri sebagian besar masyarakat di pedalaman masih sangat bergantung kepada kayu yang digunakan sebagai kayu bakar dalam kebutuhan rumah tangga mereka. Di malam hari penggunaan listrik dari mesin pembangkit tenaga listrik (generator) yang ada di tingkat distrik pun masih terbatas penggunaannya (umumnya jam 6 sore sampai jam 12 malam).  Keadaan akan menjadi semakin tidak menentu dengan rencana kenaikan harga BBM karena akan semakin sulit mensuply kebutuhan bahan bakar untuk mengoperasikan mesin pembangkit tenaga listrik.  Di kota sendiri misalnya di Manokwari sering terjadi pemadaman listrik secara bergilir dan beberapa usaha skala besar belum dapat beroperasi secara optimal karena keterbatasan daya listrik terpasang sesuai permintaan.
BMPU atau Unit Pengelolaan Bio-manure adalah salah satu aplikasi teknologi tepat guna yang cocok dikembangkan dalam system pertanian terintegrasi dalam upaya menghasilkan energi.  “Biodigester” (tangki pencerna) adalah salah satu teknologi yang sangat berguna dan mengefisienkan pemanfaatan biomass seperti sisa hasil panen dan kotoran ternak serta mengatur sirkulasi zat-zat makanan dan energi dalam sistem pertanian.  Teknologi ini telah berkembang di beberapa Negara misalnya India, Cina, Nepal dan Vietnam sebagai upaya memanfaatkan sumber energi alternatif.
Daya kerja mikroorganisme dalam kondisi anaerob, bahan organik seperti limbah pertanian, limbah peternakan dan hasil ikutan lainnya  yang dimasukkan ke dalam tangki pencerna akan diubah bentuknya menjadi biogas dan pupuk organik yang berkualitas tinggi.  Biogas yang dihasilkan dapat secara langsung digunakan untuk memasak, sumber penerangan, dan pupuk yang berfungsi untuk memupuk tanaman pertanian para petani/peternak.  Oleh karena itu sistem ini dapat dikategorikan dengan sistem tertutup, dimana produk limbah yang dihasilkan oleh komponen-komponen di dalam sistem diolah lagi dan dikembalikan ke sistem melalui satu bentuk sirkulasi yang terpelihara.
Manfaat yang dapat diperoleh dengan adanya unit pengelolaan bio-manure atau tangki pencerna dan perlengkapannya yaitu:
1.Menyediakan energi untuk memasak dan sumber penerangan tanpa merusak lingkungan (ramah lingkungan) dan ikut menjaga kesehatan para wanita tani yang menghabiskan sebagian besar waktunya di dapur karena tidak adanya asap yang dapat mengakibatkan ISPA (infeksi saluran pernapasan atas) serta iritasi mata
2.Mengurangi ketergantungan akan kayu bakar yang pada akhirnya menjaga kelestarian lingkungan karena mengurangi kegiatan penebangan kayu serta kemungkinan erosi serta menekan laju emisi gas methan yang memberi kontribusi terhadap pemanasan global atau menciptakan usaha pertanian yang bernuansa “agro-ecology”
3.Mengurangi pengeluaran biaya pembelian bahan bakar untuk kompor dan lampu sebagai sumber penerangan, sehingga biaya tersebut dapat dialihkan untuk melakukan pengembangan usaha produktif lainnya.
4.Meningkatkan kebersihan dan sanitasi lingkungan baik di lahan pertanian maupun di kandang atau areal umbaran ternak, karena sisa atau residu dari lahan pertanian maupun peternakan langsung dimasukkan ke delam tangki pencerna.  Hal positif lainnya yaitu mengurangi penyebaran bibit penyakit (bakteri dan parasit) yang mudah tumbuh pada media potensial seperti litter/bedding atau alas kandang, sisa pakan atau kotoran ternak.
5.Meningkatkan kualitas manur yang dimasukkan ke dalam tangki pencerna menjadi pupuk yang berkualitas tinggi, karena endapan gas bio dapat digunakan oleh petani/peternak sebagai pupuk dalam menanam rumput atau legum (pakan ternak) dan tanaman pertanian/perkebunan dengan tujuan pengembangan pertanian organik yang lebih produktif.
Berbagai rancangan unit penghasil biogas saat ini dapat dikembangkan sesuai dengan keperluan pengguna.  Salah satu mahasiswa teknik listrik di UNIPA yang diwisuda Februari lalu misalnya mampu mendesain unit penghasil biogas melalui pemanfaatan kotoran ternak sebagai tugas akhirnya.  Menurut hemat saya pemerintah daerah seharusnya lebih berbesar hati untuk melaksanakan hal-hal sederhana yang lebih aplikatif dari pada memikirkan hal bombastis yang masih perlu dikaji lagi sebagai sumber energi alternatif misalnya minyak jarak dan lain sebagainya.  Hal ini cukup beralasan karena proses yang dibutuhkan masih sangat panjang untuk sampai pada tahapan…… produksi sumber energi alternatif dimaksud.  Selain itu juga program pemerintah di bidang peternakan perlu dikaji secara lebih arif dan bijaksana misalnya model pendistribusian ternak kepada masyarakat ke seluruh pelosok Papua seyogianya diikuti dengan program pemberdayaan masyarakat.  Dengan kata lain, penekanan bukan hanya diarahkan pada peningkatan produk utama (daging, telur dan susu)  tetapi  juga pada produk sampingan yang mampu menekan laju degradasi lingkungan serta meningkatkan taraf hidup masyarakat di tengah arus kebijakan pemerintah yang semakin memberatkan beban hidup masyarakat kecil.  Semoga….!

(*) Pengajar Ilmu Lingkungan Ternak pada Program Studi Diploma III Kesehatan Hewan
Fakultas Peternakan Perikanan & Ilmu Kelautan Universitas Negeri Papua Manokwari
Email: fpattiselanno@yahoo.com

%d blogger menyukai ini: