Di Asmat, PNS Juga Mau Ikut Ujian

JUBI – Seperti biasanya Akhir tahun ajaran menurut kalender pendidikan selalu diadakan ujian bagi siswa –siswi terutama kepada siswa-siswi yang menduduki tingkat atau level terakhir dalam jenjang pendidikan tertentu.

Misalnya SD kelas VI, SMP Kelas III dan SMA Kelas III dan sedikit perbedaan pada tingkat perguruan tinggi Universitas atau institut tertentu. Memang namanya ujian selalu ada dalam hidup sebagai seorang pelajar, siswa/i atau mahasiswa pegawai negeri atau swasta. Bahkan manusia berstatus pengangguran dalam menjalani kehidupannya. Kehidupan pada umunya juga merupakan sebuah ujian demi mempertahankan nilai-nilai, norma atau aturan dan peraturan sebagai tolak ukur bahan ujian.
Terungkap dalam sebuah laporan oleh Kepala Seksi Bina siswa dan sekolah TK – SD Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Asmat Paulus Wurbopan bersama Kepala Seksi Ketenagaan dan Pengangkatan Karier, Paulus Kaye yang ditemui TABLOID di ruang kerjanya pada tanggal 10 April 2008. Jumlah total sekolah Dasar yang murid-muridnya siap ikut USBN adalah sejumlah 84 Sekolah Dasar. Jumlah siswa/i yang siap ikut Ujian USBN, laki-laki 601 dan perempuan 293 sehingga total Murid adalah 894 orang. Sedangkan Kepala Seksi Bina siswa dan sekolah SMP – SMA Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Asmat Donatus Tamot, S.Pd.M.Pd. bersama Sekretaris Panitia Pelaksanaan USBN Kab Asmat Bonaventura Silu, S.Sos kepada TABLOID di ruang kerjanya pada tanggal 11 April 2008. Jumlah total SMP dan SMA yang murid-muridnya siap ikut UN masing-masing adalah sejumlah 366 murid SMP dan 207 murid SMA, tersebar di 9(sembilan) sekolah Tingkat SMP dan 1(satu) sekolah Tingkat SMA di Asmat. Jumlah siswa-siswi SMP berdasarkan jenis kelamin adalah 270 laki-laki dan 96 perempuan, sehingga total Murid SMP yang siap ikut Ujian Negara (UN) adalah 366 orang. Jumlah siswa-siswi tingkat SMA kategori/Jurusan IPA sebanyak 19 laki-laki dan 21 Perempuan, Jurusan IPS masing-masing 141 laki-laki dan 26 Murid Perempuan. Jumlah peserta USBN Tingkat SMA adalah 207 orang. Sehingga Jumlah peserta Ujian SMP dan SMA menjadi 573 peserta murid USBN. Dan total peserta siswa-siswi SD,SMP dan SMA yang ikut ujian adalah 1467 murid.
Tak kalah ketinggalan juga dengan para pegawai negeri sipil di lingkungan PemDa Asmat. Ujian penyesuaian Dinas dalam rangka penyesuaian pangkat kini berlangsung di lingkungan PemDa Kabupaten Asmat. Ujian yang direncanakan akan berlangsung selama 2(dua) hari (14-15 Mei) tersebut di mulai pagi ini di dua tempat sesuai jenjang atau levelnya. Tingkat I, yang menurut Bapak Asisten III Elmas Emanuel, S.Sos,M.Si merupakan kelas uji taraf Asisten, terdiri dari pegawai di bawah golongan III-B sebanyak 9 orang. Dalam pelaksanaan kepengawasan langsung ditangani oleh perwakilan dari tingkat Provinsi Papua di Jayapura yang turut hadir. Sedangkan kelas Kedua yaitu taraf untuk rebut SekDa. Kelas ini terdiri sekitar 7 orang ditangani kepengawasan langsung oleh Asisten III Bupati Asmat, Elmas Emanuel.
Memang Ujian selalu ada, entah di tingkat usia pelajar, pegawai, atau tani dalam musim dan menuai panenan, nelayan dalam melaut angin dan gelombang atau status pekerjaan golongan manusia manapun. Manusia dari berbagai status pekerjaan termasuk pengangguran dari kelas ekonomi manapun sebenarnya yang terpenting adalah sejauh mana manusia itu berpikir dan bertindak melakukan sesuatu bagi dirinya sendiri, bahkan keluarga, sesama manusia lain. Ujian seberat atau seringan apapun bukan masalah utama. Percuma saja jika produk ujian adalah pelecehan dan pemerkosaan hak azasi manusia. Parah jika produk ujian mengasah kemampuan untuk melukai, menodai sesama manusia lain. Sudah Gila jika produk ujian hanya meninggalkan bekas pelecehan dan pelanggaran HAM pada diri sendiri dan tidak mengenalinya. Tidakkah tolak ukur ujian yang kita tinjau adalah pelanggaran hak-hak dasar manusia, budaya, adat istiadat, norma atau nilai-nilai moral manusia? Percuma saja jika dasar hukum hanya dijadikan sebagai sebuah simbol hukum. Produk hukum hanya meningkatkan kuantitas mallpraktek dimana-mana. Peraturan undang-undang, kepres, Keputusan Gubernur, Keputusan Bupati, PerDa dan kebijakan hanya menjadi sebuah catatan yang terlupakan ketika nafsu manusia membabi buta. Sejarah hidup manusia menjadi saksi dalam meninjau kembali pengaturan hidup manusia bersama. Kenyataan dalam menjalani kehidupan masyarakat sosial terjadi diskriminasi, terjadi pelanggaran hak asasi manusia di atas tanah adat-ulayat dan budaya yang berharga sebagai sebuah bangsa beridentitas dan memiliki asal usul budaya. Hak ulayat masyarakat pun dipermainkan.
Inikah sebuah proses ujian negara dan proses bernegara? (Willem Bobii)

Iklan
%d blogger menyukai ini: