Saatnya Melihat Pendidikan di Papua Berkualitas

“JUBI – Inilah saatnya melihat kualitas pendidikan di Papua, bukannya harus mengatakan pendidikan di Papua buruk”

Meski fakta menunjukan bahwa pendidikan di tanah Papua masih terpuruk tetapi ada pihak juga yang menilai kondisi pendidikan di Papua saat ini sudah mengalami kemajuan. Hal ini bisa dilihat dari pembangunan gedung sekolah yang bertingkat, kualitas guru, dosen, serta anak didiknya boleh dikatakan dapat bersaing dengan daerah lain. Proses itu terjadi karena sudah ada keperdulian dari orang tua dan pemerintah dalam mencerdaskan putra-putri Papua. Tapi sayang masih banyak anak-anak Papua yang belum bisa membaca di tingkat SD di daerah pedalaman atau daerah terpencil di Papua. Seharusnya seorang pendidik mempunyai dedikasi yang tinggi terhadap anak muridnya. Jangan cuma datang untuk mencari pekerjaan demi kepentingan pribadi dan jabatan.
Elly Waicang dari Dewan Persekutuan Masyarakat Adat Deponsero Utara (DPMA) Namblong, Distrik Nimboran Kabupaten Jayapura mengatakan guru guru sekarang di Kampungnya banyak yang meninggalkan tugas menyebabkan banyak anak sekolah yang tidak belajar alias libur panjang. Dampaknya memberikan sumber daya manusia (SDM) di kampung semakin merosot.
“Saya heran dulu waktu jaman penjajahan Belanda guru guru masih betah tinggal di kampung dan tetap menjalankan tugas. Berbeda dengan sekarang di jaman kemerdekaan mereka lebih banyak ke kota,”ujar Waicang dalam Pelatihan Pendidikan Demokrasi Dalam Sistem Pemerintahan Adat dan Pemerintahan Negara Bagi Community Leader kerja sama Satunama Jogyakarta; Foker LSM Papua dengan Pt PPMA Papua di Jayapura belum lama ini.
Lebih lanjut paitua Waicang menegaskan masalah ini menyebabkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di kampung semakin merosot dan banyak anak anak murid yang tidak tahu membaca dan menulis, meski mereka sudah duduk di bangku kelas VI.
Hal senada juga ditegaskan Direktur Pt PPMA Edison R Giay, selama delapan tahun tidak ada satu guru pun yang bertugas di Kampung Sentosa Distrik Urunumguay Kabupaten Jayapura sehingga sekolah kosong dan tidak ada aktivistas belajar mengajar.
“Saya melihat pendidikan bagi masyarakat kurang begitu diperhatikan terkecuali ada proyek perkebunan atau pun perlistrikan dan pembangunan pelabuhan kontainer di Depapre baru banyak pejabat yang mau terlibat,”ujar Giay heran.
Untuk menciptakan pendidikan yang baik seharusnya seorang guru mempunyai cinta kasih terhadap pekerjaan dan anak didiknya. Jika hal itu ada otomatis kemampuan pola pikir anak didiknya bisa maju. Ternyata masalah pendidikan bukan hanya monopoli sekolah-sekolah di daerah terpencil saja tetapi juga di jantung Kota Jayapura masih banyak anak-anak Papua yang belum bisa membaca dan menulis salah satu adalah SD Negeri 5/81 Gurabesi Kota Jayapura.
SD Negeri 5/81 Gurabesi ini letaknya dipinggiran kali Anafre Klofkamp ini memiliki satu kantor yang terdiri dari ruang guru dan ruang kepala sekolah, serta enam ruang kelas, tujuh guru tetap, dua guru kontrak, dan seratus empat puluh siswa. Kebanyakan anak-anak yang sekolah di situ adalah anak-anak Papua yang orang tuanya bekerja sebagai Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di pelabuhan Jayapura. Dengan profesi orang tua sebagai TKBM sudah tentu perhatianya terhadap pendidikan anaknya sangat berkurang. Hal ini di alami oleh salah satu siswi kelas 3 SD Negeri 5 Gurabesi, Monalisa Bonay (12). Hingga saat ini Ia belum bisa mengeja kata serta membaca. Monalisa terlihat tidak malu, takut serta ragu mengenai dirinya belum bisa membaca, tuturnya dengan wajah lengsung pipit, gadis serui yang satu ini saat di tanyai wartawan Jubi, Jumat, (11/4).
Selain Monalisa, ada beberapa temannya juga belum bisa membaca, antara lain Cristin, Icang, dan Ester. Keempat anak itu tidak merasa malu, tidak merasa minder, selalu ceria, gembira, dan bermain dengan teman-teman yang bisa membaca.
Menurut Bertha Panjaitan (36), guru kelas 3 SD Negeri Gurabesi, banyak kendala yang menyebabkan Monalisa dan teman-temanya tidak bisa membaca. Kendala-kendala tersebut antara lain kurang perhatian dari orang tua murid, penyedian buku paket yang terbatas, anak-anak yang malas belajar dan sekolah, faktor lingkungan. “Terkadang orang tua murid kurang perduli kalau anaknya tidak masuk sekolah, bahkan untuk membeli buku tulis dan bolpen saja setengah mati sekali”, ujar Bertha Panjaitan sambil mengunyah pinang.
Menurut Ketua Lembaga Penelitian Universitas Cenderawasih (Uncen), Dr. Lazarus. Revassy. MA (56), dosen Fisip Uncen, bahwa sekitar tahun 60-an sampai tahun 70-an kondisi pendidikan di Papua sangat terbatas, di Jayapura sendiri mempunyai Penguruan tinggi UNCEN dan beberapa SMA yang bagus. Sesudah masuk dekade tahun 80-an distribusi pendidikan di Papua seperti SMA semakin merata. Pendidikan di Papua khususnya di Jayapura sangatlah baik. Proses belajar mengajar berjalan cukup bagus dengan fasilitas yang memadai, guru serta murid dapat berinteraksi. Bukan saatnya kita mengatakan pendidikan di Papua sangatlah buruk.
Persoalan sekarang bagaimana lulusan-lulusan dari Papua bisa bersaing dengan lulusan-lulusan dari luar Papua. Ada yang mengatakan semacam Kondensesion bahwa lulusan dari Papua kalau melanjutkan ke kota-kota besar selalu kalah bersaing dalam dunia pendidikan khususnya skill individual.
“ Hal-hal yang membuat anak-anak Papua tidak bisa bersaing dalam dunia Pendidikan, karena faktor kendala budaya, sosial ekonomi dari orang tua sehingga tidak bisa mensuport kedepan lebih baik. Atau orang tua kurang memberikan perhatian serius,”ujar Revasi.
Sudah saatnya image yang mengatakan pendidikan di Papua sangatlah buruk haruslah dibuang. “Kalau kita berbicara soal pendidikan, kita akan berbicara soal kualitas, siapa yang mampu dan siapa yang tidak mampu ini merupakan persoalan. Sekarang ini kita tahu bahwa sudah banyak sekali anak-anak Papua yang diberikan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan di luar Papua dengan adanya bantuan beasiswa dari pemerintah,”ujar Revasi.
Kekurangan-kekurangan yang menyebabkan anak Papua tidak mendapatkan pendidikan. Mental dari anak-anak Papua yang kadang kala membuat mereka tidak mandiri, cara pandang yang sempit, hidup bergantung dengan oarang tua. Sedangkan anak non Papua mereka lebih maju pesat dalam dunia pendidikan, karena cara pandang yang jauh kedepan, hidup mandiri serta tidak bergantung kepada orang tua. Kekurangan-kekurangan Ini merupakan masalah bagi semua oarng Papua, sebab generasi muda Papua sekarang ini lebih banyak menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak berkaitan dengan pendidikan, sehingga anak-anak Papua kalah bersaing dengan anak-anak non Papua dalam dunia pendidikan.
Untuk mencerdaskan anak-anak Papua, hal utama ialah kesehatan atau gizi mereka yang harus diperhatikan. Jika mempunyai gizi yang baik, sudah tentu dalam proses belajar mengajar anak di sekolah akan memperoleh hasil yang memuaskan. Karena pendidikan awalnya dari kesehatan di dalam keluaraga. Kalau keluarga yang perduli akan dunia pendidikan pasti segala sesuatu disediakan.
“Lebih lagi mengatur disiplin belajar yang benar dirumah. Kadang persoalan yang terjadi banyak sekali keluarga kurang memperhatikan kualistas anaknya dalam pendidikan. Sehingga kemajuan pendidikan anak Papua sangatlah rendah. Oleh karena itu, keluaraga, sekolah serta masyarakat merupakan tiga hal yang harus melihat pendidikan secara baik,”tegas Revasi.
Selain itu tambah Revasi faktor lingkungan juga sangat menunjang anak tersebut dalam dunia pendidikan. Untuk itu, di sekolah harus ada persiapan yang baik dari seorang guru dalam proses belajar mengajar. Sehingga waktu yang sangat singkat yakni enam jam harus diperhatikan baik oleh para guru.
Harus kita akui bahwa faktor budaya membaca sangatlah rendah bagi masyarakat Papua. “Jadi seharusnya budaya membaca ditanamkan sedini mungkin didalam keluarga. Kalau seseorang gemar membaca, otomatis akan bertambah ilmu pengetahuannya. Karena ilmu pengetahuan berasal dari membaca. jika malas membaca sudah tentu pengetahuan akan terbatas,”tutur Revasi.
Jadi institusi terkait harus menyediakan wadah atau perpustakan dengan kualitas buku bacaan yang memadai. Memang harus diakui kualitas anak-anak didik di Papua dikatakan kurang bagus. Karena fasilitas pendukung seperti Perpustakaan, toko-toko buku, taman bacaan kekurangan buku. Bahkan kalau dilihat hampir semua buku-buku lama yang masih banyak dijumpai. Sedangkan untuk daerah luar Papau seperti Jawa, sumatra, kalimatan, sulawesi mempunyai fasilitas yang mendukung anak-anak untuk mencari ilmu pengetahuan sebanyak-banyak mungkin dari buku bacaan. Kebiasaan anak-anak di luar Papua mengisi waktu luang dengan membaca buku di perpustakaan dan toko-toko buku sehingga kualitas pendidikan mereka lebih bagus dari anak-anak Papua.
“Kebiasaan anak-anak Papua, sesudah mendapat materi dari dosen atau guru begitu pulang ke rumah mereka tidak mengulangi pelajaran yang didapat. Cacatan dilipat kemudian dibuang saja di atas meja atau tempat tidur. Pada saat ujian baru sibuk untuk belajar. Sehingga proses tersebut membuat kualitas pendidkan menurun. Jadi tidak heran ada orang mengatakan lulusan dari Papua kurang berkualitas”, ungkap Dr. L. Revasey. MA, dosen Fisip Uncen.
Ketua lembaga pendidikan Uncen Jayapura mengharapkan Pemerintah serius dan konsentrasi masalah pendidikan di Papua. Karena dana-dana untuk…… pendidikan sangatlah besar, sebaiknya dana-dana tersebut digunakan untuk menciptakan kualitas manusia Papua yang pintar. Apalagi ditambah dengan dana Otsus sekitar 30%, seharusnya dana-dana tersebut dialihkan untuk membeli buku-buku baru untuk mengisi perpustakaan daerah.
Senada dengan Dr. L. Revassy, Ma, Kepala sekolah SMU Negeri satu Jayapura Drs. Marthen Tanatti menjelaskan tidak semua SDM Papua dalam Pendidikan buruk. Sebenarnya anak-anak Papua memiliki potensi dan kemampuan yang cukup besar. Tapi semuanya itu harus digali terus menerus untuk memperoleh kualitas pendidikan yang bisa dipakai di segala bidang. Faktor-faktor penyebabnya adalah kurangnya perhatiaan dari keluarga dan faktor lingkungan ikut pula mempengaruhi. “Orangtua harus menyediakan tempat belajar khusus bagi anaknya rumah. Agar merasa nyaman belajar di rumah, orang tua harus menjadi guru sekaligus teman yang baik bagi anaknya dan diberi kesempatan untuk berkreasi,”tutur mantan Kepala Sekolah SMA Buper dan SMA Gabungan ini. Dengan proses tersebut tambah Tanati otomatis anak-anak akan betah tinggal dirumah dan tidak terpengaruh dengan lingkungan. Karena faktor lingkungan juga salah satu pemicu merosotnya dunia pendidikan di Papua. Marten menyarankan harus diberikan ujian kopentensi bagi guru-guru tiap tahun. Disitu barulah bisa diukur apakah masih layak seorang guru mengajar. Kalau tidak memenuhi target, maka guru tersebut tidak boleh mengajar dan dipindahkan ke dinas terkait. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang berbobot haruslah diperhatikan kesehatan gizi anak Papua. Jika gizi yang baik diberikan sejak dini maka kemampuan daya pikir anak akan meningkat.
Sudah saatnya pendidiikan di Papua disejajarkan dengan pendidikan di luar Papua. Kualitas anak-anak Papua sudah teruji yang memperoleh penghargaan tingkat Nasional behkan Internasional dalam dunia pendidikan. Bahkan sudah banyak yang disekolahkan di manca Negara. Tinggal bagaimana anak-anak Papua diberikan kesempatan sebanyak-banyak mungkin untuk berperan dalam memajukan pendidikan di Papua. (Carol Ayomi Dominggus Mampioper).

Iklan
%d blogger menyukai ini: