Papua Butuh Terobosan Baru Dalam Mendidik

JUBI – Pendidikan alternatif bagi pengembangan mutu sumberdaya manusia (SDM ) merupakan suatu persoalan yang kompleks. Karena itu untuk mencapai keberhasilan tanah Papua sangat membutuh terobosan baru dalam mendidik terutama ketrampilan praktis sesuai karakter masyarakat setempat. Namun yang jelas pendidikan dasar bagi siswa dan keterlibatan orang tua siswa justru sangat menentukan dalam pengembangan selanjutnya.
Belajar tidak selamanya bisa dicapai dalam ruang kelas saja tetapi dengan adanya pendidikan alternatif mampu membuka wawasan seorang anak untuk lebih kreatif dalam lingkungannya..
“Untuk mencapai SDM yang mampu bersaing tentu ada keseriusan dalam menanganinya, dan juga dibutuhkan metode-metode yang ditempuh dalam pendidikan semua itu bisa terlaksana melalui pendidikan formal maupun pendidikan alrternatif lainnya,” ujar Benny Sweny aktivis pendidikan dari Yayasan Wahana Visi Indonesia kepada Jubi baru-baru ini.
Pendidikan secara formal yang didapatkan siswa lewat bangku sekolah maupun non formal sebaiknya perlu ada keselarasan dan perlu dibarengi dengan keterampilan-keterampilan sehingga kemampuan dari seorang siswa dapat bertambah bukan hanya dari segi ilmu pengetahuan secara umum tetapi keterampilan juga dapat diandalkan
Tentang pendidikan di tanah papua sendiri, menurut Benni berjalan cukup lambat, sekalipun ada kebijakan pendidikan secara nasional yang cepat tetapi tidak diikuti di tingkat lapangan. Sesuai dengan Undang-undang Otonomi Khusus di Papua sebenarnya sudah diberikan kewenangan di tingkat kabupaten yang bisa dijabarkan hingga tingkat sekolah serta ditunjang dengan dana yang cukup besar. “Namun sayangnya tidak ditunjang dengan faktor kwantitas dan kwalitas guru. Bahkan kemampuan guru masih rendah selain itu sarana dan prasarana dalam kelancaran pendidikan yang hingga saat ini belum sepenuhnya lengkap,”tutur Benny koordinator YVI di wilayah Kabupaten Keerom..
Menyikapi hal demikian memang perlu ada suatu terobosaan yang perlu dilakukan yang bersifat inovatif dengan mencari suatu model-model pendidikan yang tepat. Salah satu pola pendidikan yang dikenal sekarang adalah pola pendidikan asrama. Pola ini tentu mempunyai banyak keunggulan namun terdapat banyak kelemahan-kelemahan yang didapatkan.
Kelemahannya antara lain tidak dapat menjangkau seluruh peserta didik terutama di daerah terpencil. Tentunya semua sekolah sekarang ini belum mampu menyiapkan sarana asrama bagi murid-muridnya. Sehingga dengan model seperti ini hanya sejumlah kecil peserta didik yang mampu menikmati fasilitas tersebut sementara banyak rakyat kecil yang menikmati pendidikan yang tidak memadai di daearah-daerah. Selain itu model ini tidak dapat memberdayakan potensi yang ada di masyarakat, di mana peranan masyarakat dalam pendidikan juga sangat dibutuhkan.
Di era pembagunan sekarang ini pendidikan formal belum sepenuhnya dapat menjamin SDM untuk itu perlu juga adanya pendidikan-pendidikan alternatif atau non formal untuk memperkaya keterampilan-keterampilan sesuai karakter, bakat dan talenta masing-masing siswa, yang mungkin saja sesuai dengan potensi daerah masing-masing.
Untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan seorang siswa, dapat juga ditempuh melalui perencanaan di sekolah-sekolah masing-masing melalui pendekatan manajemen berbasis sekolah (MBS) sehingga sekolah mampu membuat suatu strategi perencanaan guna mengembangkan semua potensi yang ada di wilayah sekolah masing-masing.
“Berdasarkan dari adanya perencanaaan-perencanaan dari sekolah ini dapat diidentivikasi kebutuhan keterampilan-keterampilan apa saja yang dibutuhkan di wilayah lingkungan sekolah untuk diberikan keada anak-anak tersebut,” jelas Benny.
Salah satu contoh yang bisa diterapkan bagi siswa, misalnya di seputar lokasi sekolah dengan potensi perkebunan yang bagus, maka perlu anak-anak sekolah ini difasilitasi untuk belajar dengan metodologi sekolah alam dengan tema-tema tertentu. Misalnya mereka diarahkan untuk belajar tentang bagaimana berkebun yang baik dan mampu menguntungkan namun tidak meninggalkan pendidikan atau mengesampingkan pendidikan formal dalam kelas sesuai bidang studi yang dipelajarinya.
Selain itu dapat pula mengembangkan potensi lain dari siswa misalnya dari segi olah raga ataupun seni budaya dan upaya seperti ini harus dikemas dalam suatu metode dan perencanaaan yang matang serta sudah terjadwal bagus sehingga tidak ada waktu yang terbuang percuma dalam mengejar pendidikan. Dengan adanya metode seperti ini anak-anak lebih kreatif dan inovatif serta semakin tertarik untuk mengetahui masalah yang lebih luas.
Pendidikan alternatif ini memang sebaiknya dimulai dari sekolah sendiri.Untuk mengembangkan strategi semacam ini sesuai dengan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) ada tiga unsur yang punya peranan penting dalam menggerakkan proses belajar mengajar diantaranya kepala sekolah selaku manajer, pendidikan pembelajaran yang aktif kreatif efektif dan menyenangkan (Pakem) serta peranan bagi masyarakat luas atau orang tua siswa.
Ketiga unsur tersebut di atas harus berjalan sesuai dan serasi serta tidak mengesampingkan keterlibatan orang tua siswa dalam pendidikan .Sebaiknya peranan orang tua perlu didorong dengan berbagai cara guna memberikan suatu ilmu sesuai dengan kemampuannya yang mungkin dapat dikembangkan dan di bagikan kepada anak murid.
Misalnya saja salah satu orang tua siswa yang mampu melukis dengan baik atau keterampilan lainnya mereka ini bisa diajak bekerja sama dengan pihak sekolah untuk membagi ilmu seni melukis bagi anak didik.
Untuk pengembangan pendidikan altenatif, kemampuan sekolah utamanya sekolah-sekolah dengan tenaga pengajar yang minim memang butuh tantangan karena tanggung jawab guru begitu besar dalam kelas, sehingga untuk meningkatkan keterampilan siswa dibidang lain mungkin tidak dapat dilakukan. Tetapi ini dapat ditempuh dengan adanya keterlibatan kelompok masyarakat serta Non Government Organisation (NGO) yang membidangi tentang pendidikan.
Keterlibatan pihak lain atau masyarakat juga harus didukung dengan memahami prinsip-prinsip dalam mendidik seorang anak serta mampu menggalang masyarakat desa untuk ikut beperan secara aktif guna memberikan andil dalam meningkatkan pengetahuan dibidang keterampilan-ketarampilan teretentu..
Lebih lanjut Swenny mengatakan bahwa, untuk mencapai kemajuan pendidikan seperti di daerah lain tentu juga dapat dicapai.” Kita mempunyai sumber daya yang begitu besar dan ini tentu dapat dicapai dengan adanya kemauan politik serta kemauan baik dari pengambil kebijakan pemerintah dari tingkat propinsi hingga kabupaten, eksekutif dan legislative, tidak hanya sekedar wacana saja, terutama pendidikan dasar,” ungkapnya.
Dengan adanya keterampilan-keterampilan seorang siswa jika menyelesaikan pendidikan tidak begitu susah dalam mencari pekerjaan namun dengan adanya pendidikan keterampilan yang dimiliki mereka mampu untuk mengembangkannya lagi
Mencari suatu perkerjaan bukan hanya mengandalkan kemampuan otak saja namun harus ada keterampilan, di mana sekarang ini terkadang pihak perusahaan lebih mengutamakan keterampilan – keterampilan dari pencari kerja..
“Pendidikan dasar memang perlu segera dibenahi sekarang ini untuk mengejar ketertinggalan kita. Bahkan ada mahasiswa yang sudah masuk perguruan tinggi tetapi untuk membaca saja sudah setengah mati karena tidak adanya pendidikan dasar yang baik. Ironinya justru sekarang ini alokasi anggaran dari kabupaten kota atau pemerintah propinsi lebih banyak membiayai mahasiswa-mahasiswa di Perguruan Tinggi. Mau dikemanakan pendidikan di Papua,” jelasnya.
Menurutnya untuk mengejar ketertinggalan yang sedang dihadapi sekarang ini sebaiknya konsentrasikan semua resource, sumber dana dan sumberdaya yang dimiliki untuk membangun pendidikan dasar yang lebih kuat.
Secara terpisah pengamat pendidikan Bambang Wisudo justru menegaskan bahwa pendidikan alternatif merupakan suatu modal untuk bisa berkarya sesuai dengan kebutuhan dan keinginan anak didik. “Namun sangat dipengaruhi juga dengan tingkat kecerdasan masing-masing anak didik,” ujar Bambang wisudo salah satu pengamat pendidikan dari Jakarta yang di temui Jubi baru-baru ini.
Lanjutnya, pendidikan alternatif sangat dibutuhkan guna meningkatkan kemampuan anak dari segi intelejensi berfikir serta dapat merangsang seorang anak untuk mampu bertanggung jawap terhadap diri sendiri dan lingkungannya, sehingga anak didik akan mampu melakukan suatu perubahan-perubahan, serta dapat mengetahui sejauh mana kemampuan pada dirinya, kemampuan keluarganya dan potensi yang masyarakat sekelilingnya.
Pendidikan alternatif tentu juga harus relefan dengan kondisi anak didik di dalam komunitasnya namun pendidikan tidak bisa menjangkau pendidikan secara seragam karena ditentukan oleh faktor-faktor seperti karakter, talenta serta potensi masyarakat setempat..
Sesuai dengan kondisi pendidikan di Papua, pendidikan alternatif ini juga sangat di butuhkan, namun perlu adanya tanggung jawab social dari semua unsure, sekalipun cukup banyak hambatan yang dihadapi karena untuk melaksanakan ini pemerintah tidak mampu menjangkau secara sendiri dan menjeluruh. Seharusnya perlu ada jalinan kerja sama dengan berbagai NGO, tokoh masyarakat, tokoh adat serta para pemerhati pendidikan lainnya. Ini dapat memanfatkan potensi penduduk local yang mengetahui dasar pendidikan misalnya saja seorang guru jemaat, namun perlu kontrol, dan mereka yang terlibat betul-betul mensupport pendidika yang benar sebab pendidikan ini tidak datang dari suatu kurikulum. Oleh karena itu tidak ada batasan-batasan tertentu namun harus jeli melihatnya apakah pendidikan yang diberikan ini cocok untuk lokasinya sesuai dengan kebutuhannya anak didiknya dan masyarakat setempat maupun talenta bagi seorang anak. (Yunus Paelo)
.

%d blogger menyukai ini: