Padi di Papua Ditanam Sejak Jaman Belanda

JUBI – Kultivasi padi bukanlah tanaman asli Papua tetapi merupakan tanaman yang didatangkan dari luar Papua sehingga barang baru bagi masyarakat Papua.

Masyarakat di Manokwari dan Numfor sejak dulu sudah mengenal beras merah asal Saukorem Manokwari. Beras ini rupanya sudah sejak lama ditanam warga di sana secara berladang dan tidak memakai pengairan sebagaimana lazimnya. Proyek pembangunan areal persawahan secara besar besaran dimulai sejak jaman Belanda. Sekitar tahun 1943 pemerintah Nederlands Nieuw Guinea melakukan proyek persawahan dengan memanfaatkan sungai Bian di daerah Muting untuk pengembangan persawahan Kali Kumbe. Begitu pula dengan masyarakat di Kampung Yanggadur, Rawa Biru, Sota dan Tomer di Distrik Sota Kabupaten Merauke.
Pengalaman masyarakat di sana bersama kaum transmigran menyebabkan Kabupaten Merauke ditetapkan sebagai salah satu lumbung padi di Provinsi Papua. Walau pun produksinya tidak sebesar yang dibutuhkan konsumen padi atau beras di Papua. Sampai saat ini kebutuhan beras di Papua masih didatangkan dari luar Papua terutama dari Pulau Jawa dan Sulawesi (Maros).
Sedangkan bagi masyarakat suku Dani di lembah Baliem baru mengenal budi daya padi sekitar tahun 1976, padi di Wamena tidak mengenal pupuk dan pestisida.
Sawah rawa merupakan teknologi baru yang dikenal oleh masyarakat suku Dani di Lembah Baliem pada tahun 1976. Teknologi ini diperkenalkan oleh petani asal tanah Toraja yang dibantu oleh orang Dani sebagai buruh mereka.
Mahasiswa pasca sarjana Institut Pertanian Bogor (IPB) Savitri Dyah pernah melakukan penelitian di Wamena tahun 1997 tentang Peranan Teknologi Pertanian Sawah Terhadap Perubahan Organisasi Sosial Studi Kasus Desa Tulem Distrik Kurulu Kabupaten Jayawijaya menuturkan masyarakat petani sawah di Wamena memberikan alasan pekerjaan di sawah menghabiskan waktu atau banyak menyerap tenaga mereka. Hal ini berakibat pada kurangnya waktu untuk bekerja di ladang ubi (hipere) Meski pun para ibu di sana (Desa Tulem) senang dengan adanya sawah tetapi untuk memilikinya mereka hanya sanggup untuk mengolah lahan yang tidak begitu luas, hanya secukupnya saja dan tidak ingin untuk memperluasnya. Sebenarnya kaum ibu mengeluh karena bekerja di sawah terlalu banyak menguras tenaga dan kaum laki laki kekurangan waktu untuk membantu mereka di kebun.
“Bapak sekarang ini malas, hanya mau bekerja di sawah, kebun tidak diperhatikan,”keluh mama mama di Kampung Tulem beberapa waktu silam. Bahkan seringkali kaum ibu harus menyusul bapak bapak di sawah meminta bantuan tenaga untuk bekerja di kebun. Hal ini berlangsung karena ubi (hipere) masih merupakan makanan pokok bagi mereka. Di samping itu konsep bekerja yang berkembang di sana adalah bertani atau berkebun ubi, sedang sawah belum dianggap kerja bagi sebagian orang terutama kaum ibu.
Bahkan dari pihak pemerintah juga memberikan bantuan teknis bagi para petani sawah di Kampung Tulem misalnya saja bantuan teknis yang diberikan Dinas Pertanian melalui tenaga Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Penyuluhan yang diberikan seputar masalah persawahan sebanyak dua minggu sekali. Juga dalam masalah pengaturan air serta pola tanam disesuaikan dengan kondisi cuaca di lokasi.Selain itu diperkenalkan pula beberapa alat (teknologi) seperti perontok sistem peda, sabit bergerigi. Perontok yang selama ini digunakan adalah diinjak injak.
Budaya menanam padi memang bukan pekerjaan gampang dan cepat sebab harus mengalami banyak penyeseuaian dengan kebiasaan makanan pokok masyarakat. Budi daya padi telah lama berlangsung selama berabad abad pada petani sawah di Asia. Jika membandingkan kerja di sawah dengan diladang ubi yang relatif tidak memerlukan tenaga, makan waktu, ketekunan dengan ketelitian seperti bekerja di sawah. Sifat sifat demikian tidak bisa diperoleh dalam waktu pendek tetapi mungkin memerlukan beberapa generasi. Jadi tak heran kalau salah seorang petani sawah asal Kampung Siepkosi Distrik Wamena Kota mengatakan makan nasi itu enak tetapi kalau kerja membuat sawah atau kolam padi itu sangat capai sekali. Waktu mulai tanam sampai panen harus terus dijaga, siang usir burung dan malam harus tangkap tikus.

Saatnya Pangan Lokal Ditanam
Menyimak pengalaman budidaya padi di wilayah Papua yang berlangsung cukup lama ternyata tak mampu jadikan tanah Papua sebagai lumbung padi nasional. Pasalnya kondisi dan iklim juga turut mempengaruhi termasuk kebiasaan dalam mengosumsi makanan padi. Makanan pokok selamanya tak harus diabaikan tetapi harus dikembangkan dan dibudidayakan. Pembantu Rektor I Universitas Cenderawasih (Uncen) Sam Renyaan mengatakan sudah saatnya budi daya dan perkebunan sagu digalakan di Papua sebab tanaman sagu ini tidak pernah terkena hama atau rusak akibat serangan hama. Sagu juga sangat bagus untuk penyerapan carbon dioksida di udara dan sudah jelas ramah lingkungan. Lain halnya kalau areal sawah, kalau terendam banjir dan terkena hama sudah pasti akan terjadi gagal panen.
Pasalnya suku Indian Maya di benua Amerika juga telah menyumbangkan kentang sebagai salah satu sumber pangan di dunia sehingga tak berlebihan kalau saat ini produksi pangan lokal harus dikembambangkan misalnya pokem, kumbili, aibon, betatas (hipere), buah merah dan juga perkebunan sagu.
Menurut Sam Renyaan di Papua banyak terdapat beragam jenis sagu dan saat ini tercatat puluhan jenis sagu asli asal Papua, mudah mudahan perkebunan sagu bisa menjadi alternatif pilihan terbaik bagi pengembangan pangan di Papua. (Dominggus A. Mampioper Carol Ayomi)

%d blogger menyukai ini: