Mencari Model Pendidikan Di Papua

JUBI – Kondisi isolasi geografis papua yang tidak semuanya mudah ditembus dan masyarakat yang penyebarannya terpencar-pencar serta terpencil, perlu diusahakan model pendidikan sekolah yang dapat mengadaptasi kondisi geografis, sosial budaya dan ekonomi.

Pendidikan yang tepat bagi suatu masyarakat dapat didekati dari berbagai cara pandang. Diantaranya pendidikan yang memberdayakan potensi anak didik agar mampu beradaptasi dengan lingkunganya. Di lain pihak menganggap pendidikan yang tepat adalah sebuah pendidikan yang relevan dengan pertumbuhan ekonomi dan pasar kerja.
Penataan sisten dan struktur kebijakan dan regulasi pendidikan yang memberi peluang terhadap penyelenggaraan pendidikan partisipatif melalui dekonsentrasi dana pendidikan yang saat disebut sebagai blok grant dan otonomi sekolah. Sedangkan dalam aspek mikro telah dikembangkan model MBS (manajemen berbasis sekolah) serta metode pembelajaran aktif kreatif dan menyenangkan (Pakem). Untuk merealisasikan semua ini diperlukan upaya bersama dalam memberdayakan setiap stakeholder untuk mencapai pembelajaran yang membangun kekuatan batin, kepercayaan diri dan harapan akan masa depan peserta didik.
Pengembangan pendidikan terutama pendidikan dasar di papua diarahkan untuk menjangkau komunitas masyarakat terisolir dan terpencil serta perkampungan di papua berupa pendidikan SD kecil dan SD SMP satu atap, PKBM (pengembangan kegiatan belajar masyarakat) yang menyelenggarakan kelompok belajar paket A dan keaksaraan fungsional, kecakapan hidup yang terselenggara dengan baik ditunjang dengan penyediaan fasilitas belajar yang memadai dan lebih penting lagi dapat mencapai semua kampung-kampung yang ada.
Untuk menjawab permasalahan tersebut, pendidikan merupakan kunci utama dalam pengembangan SDM dan mengentaskan kemiskinan. Maka kebijakan pendidikan yang strategis untuk dilaksanakan di Papua adalah: 1. perluasan akses pendidikan dasar yang baik dan gratis bagi masyarakat yang tinggal di kampung. 2, percepatan pengembangan anak-anak berbakat melalui sentra-sentra pendidikan unggulan guna mendapatkan calon anak papua menjadi tekhnokrat dan pemimpin masa depan setelah otsus berakhir. 3, pengembangan keahlian kejuruan melalui SMK dan pelatihan kejuruan sesuai potensi SDA dan pertumbuhan investasi di setiap wilayah. 4, pengangkatan serta penyebaran tenaga pendidik hingga tercukupi kebutuhan di setiap kampung-kampung. 5, yang terakhir peningkatan tata kelola pendidikan yang bermutu, transparan, akuntabel dan dapat dipercaya.
Untuk papua ada beberapa model pendidikan yang telah lama berjalan diantaranya pendidikan berpola asrama yang dirintis oleh para misionaris dan sending dan yang kini tengah diperkenalkan yakni pendidikan dengan pola semi asrama.

Pendidikan Pola Asrama
Penyelenggaraan pendidikan yang telah lama dikenal di Papua yakni sekolah dengan model asrama telah banyak menghasilkan pembangunan SDM yang saat ini telah tersebar di berbagai instansi, lembaga pemerintah maupun swasta bahkan tidak sedikit yang menelurkan para elit politik dan pejabat.
Pelaksanaan sekolah yang pertama dirintis oleh para sending dan misionaris tersebut memiliki struktur yaitu sekolah rakyat dengan sistem asrama.
Pendidikan dengan pola asrama ini memberikan manfaat sebagai bentuk proses inisiasi (akulturasi) yang sangat efektif. Pelajar yang berasal dari masyarakat tradisional dipisahkan dari sistem tradisionalnya dan diantarkan kedalam sistem nilai modern yang menghargai waktu, disiplin, tanggungjawab, rajin, kerja keras, hidup bersih, kerjasama, menghargai eksistensi setiap individu, solidaritas dan taat terhadap norma agama. Pendidikan berasrama ini memberikan hasil yang optimal karena dilaksanakan memenuhi kriteria komprehensif serta aspek-aspek kompetensi manusia modern yang kognitif, efektif dan juga psikomotorik.
Masa kini pembangunan pendidikan melalui jalur sekolah dilaksanakan dengan pendekatan penyediaan sekolah dan sarana belajarnya yang mendekati pusat pemukiman masyarakat. Konsep ini dilaksanakan secara merata hampir diseluruh wilayah di indonesia.
Namun, sayang pendekatan yang dianggap serba sama ini ternyata kurang menjawab persoalan keaneka-ragaman sosial ekonomi dan budaya masyarakat di Papua.
Kepala Dinas Pendidikan Dan Pengajaran Provinsi Papua, James Modouw, SE.MMT memberikan pemaparan sebagai pembanding dalam sebuah dialog publik yang bertajuk “Pendidikan yang memberdayakan dalam konteks otonomi khusus Papua suatu upaya mencari model pendidikan yang tepat.
Dalam pemaparannya dijelaskan kondisi isolasi geografis papua yang sangat sulit ditembus dan kondisi masyarakat yang penyebarannya sangat jarang terpencar-pencar serta terpencil. Sehingga perlu diusahakan model pendidikan sekolah yang dapat mengadaptasi kondisi geografis, sosial budaya dan sosial ekonomi masyarakat.
Pemerintah Provinsi Papua sejak tahun 1996 telah membangun 26 asrama yang berorientasi mutu disetiap kabupaten bekerjasama dengan lembaga-lembaga pendidikan swasta keagamaan. Setiap tahun kebutuhan asrama ini di subsidi oleh pemerintah melalui yayasan-yayasan atau badan pengelolaan pendidikan berpola asrama. Dari 26 asrama ini yang masih aktif dan berjalan normal hingga saat ini sebanyak 18 asrama, sedangkan 8 asrama sisanya masih dihuni namun tidak memiliki pengurus yang bertanggungjawab untuk mengelolanya.
Kondisi pendidikan di Papua saat ini terutama pendidikan dasar berada pada kondisi yang sangat memprihatinkan. Hal ini disebabkan karena setelah adanya desentralisasi pemerintahan, penanganan pendidikan dasar yang kewenangannya berada pada pemerintah kabupaten/kota menjadi tidak terurus sebagai mestinya. Fokus pembangunan lebih dititik-beratkan pada pembangunan fisik guna memenuhi kebutuhan dasar infrastsruktur pemerintahan yang belum memadai.
Akhirnya penyelenggaraan pendidikan terabaikan, guru tidak mendapat layanan kebutuhan dan akhirnya tidak sedikit yang meninggalkan tugasnya untuk kembali ke kota mengurus nasibnya. Padahal ini situasi seperti ini sangat berdampak pada siswa-siswi didik dan proses belajar mengajar yang dilaksanakan secara asal-asalan. Sehingga banyak anak didik dinaikkan kelas dan diluluskan sekalipun kemampuannya tidak memenuhi syarat.
Masalah guru yang meninggalkan tugas dan memilih ke kota sebenarnya bukan hal baru. Namun seorang guru juga seharusnya dituntut mempunyai jiwa pengabdian. Jadi diperlukan perubahan sistem dalam perekrutan tenaga guru yang akan ditugaskan di daerah pedalaman.
Disisi lain selain masalah guru, masyarakat yang terpencil semakin jauh dari jangkauan layanan pemerintah akan pendidikan sebagai kebutuhan dasarnya. Akibat pertambahan penduduk kampung-kampung otomatis semakin bertambah sehingga diperlukan upaya sistematis dan strategis untuk mengembalikan kondisi pendidikan di papua sebagai mestinya.

Pendidikan Pola Semi Asrama
Sebuah model yang kini tengah diperkenalkan oleh Penasehat Gubernur Papua, Agus Sumule dalam sebuah kajian mencari bentuk model pendidikan yang memberdayakan dalam konteks otonomi khusus papua.
Menurutnya model pendidikan semi asrama adalah sebuah alternatif. Pendidikan berpola semi asrama (PPSA) dapat diartikan sebagai bentuk pendidikan yang diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang antara lain, disiplin tinggi, mutu akademik tinggi, gizi baik dan berkemampuan tinggi untuk kerjasama dengan orang lain yang berlatarbelakang berbeda. Namun dengan tidak mewajibkan peserta didik untuk hidup bersama secara terus menerus dalam batasan-batasan fisik bangunan yang dikenal selama ini dengan sebutan asrama.
Dalam model PPSA “Asrama” adalah sekolah itu sendiri. Hanya saja peserta didik lebih lama beraktifitas disekolah dibandingkan jam sekolah normal. Didalam model ini peserta didik datang lebih pagi kesekolah dan pulang ke rumah sore hari. Dengan penambahan jam seperti ini diharapkan berbagai fungsi asrama dapat diakomodir sehingga tujuan-tujuan asrama dapat dicapai.
Pola semi asrama ini para peserta didik mengusulkan jadwal harian yang antara lain memuat agenda aktivitas. Misalnya peserta didik datang lebih pagi jadi tidak perlu mandi dari rumah kemudian tiba disekolah baru mandi, mengenakan seragam serta menyiapkan buku-buku belajar. Setelah itu baru makan pagi bersama untuk selanjutnya belajar normal.
Peranan orang tua di dalam PPSA sangat besar. Pola ini tidak mengambil alih tanggung jawab orang tua terhadap anaknya, bahkan sebaliknya melalui model seperti ini diharapkan orang tua dapat bekerjasama agar mutu pendidikan anak-anaknya meningkat secara signifikan. Dengan kata lain apabila orang tua tidak mau bekerjasama dengan memenuhi tanggung jawabnya maka pola semi asrama ini tidak mungkin berhasil sebagai salah satu alternatif peningkatan mutu pendidikan di daerah pedesaan. Secara umum ada dua macam tanggung jawab yang diharapkan dari para orang tua di dalam model ini. Yang pertama menyediakan sumberdaya lokal yang dibutuhkan peserta didik secara cuma-cuma. Sumber daya lokal yang dimaksud adalah: bahan makanan, ubi ,sagu, sayuran, buah-buahan, ikan, hasil buruan dan lainnya. Kemudian bahan bangunan untuk pembangunan fasilitas penunjang seperti kayu dan pasir.
Semua kebutuhan PPSA yang dapat disediakan secara lokal harus disumbangkan oleh masyarakat setempat secara cuma-cuma. Hal ini didasarkan atas asumsi dasar yang telah dikemukakan bahwa pola asrama tidak mengambil alih tugas dan kewajiban masyarakat di dalam pendidikan anak-anaknya.
Dengan demikian peranan sumber daya yang berasal dari pihak luar terbatas pada hal-hal yang tidak bisa dihasilkan sendiri oleh masyarakat setempat. Pihak luar yang dimaksud adalah pemerintah, institusi atau kelompok yang peduli dengan peningkatan SDM papua. (Anang Budiono)

Iklan
%d blogger menyukai ini: