PETISI SURVIOR PAPUA 2008 Survivor Di Papua Bersatu, Bangun Solidaritas Kaum Tak Bersuara

BERSATU UNTUK KEBENARAN (BUK)

Forum Survivor Papua di Biak pada tanggal 25-28 Maret 2008, yang di fasilitasi oleh PBHI, DEBAR (Debora-Barra), FOKER LSM Papua dan telah memfasilitasi para korban tak bersuara untuk berbagi pengalaman pencarian keadilan yang di alami serta upaya-upaya penegakan hak asasi manusia di Tanah Papua. Para korban berasal dari Biak, Jayapura, Timika, Wasior dan Wamena.
Forum ini berhasil membentak suatu wadah dengan nama Bersatu Untuk kebenaran (BUK) yang artinya “memberi” dalam bahasa Biak,” “gunung dalam bahasa Amungne, “bungkusan” dalam bahasa Wamena Timur”, pembentukan wadah ini, setelah belajar dari pengalaman pencarian keadilan kasus Abepura, 7 Desember 2000, yang mana para pelakunya di bebaskan oleh hakim di pengadilan Negeri HAM Makassar pada 8-9 september 2005, dan macetnya kasus-kasus kejahatan HAM di KOMNAS HAM.
Maka Forum Survior Papua mewakili sekian banyak kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi sejak tahun 1977-2006, yakni : Kasus Biak, 6 Juli 1998; Wasior, 13 Juni 2001; Wamena, 4 April 2003; Abepura, 7 Desember 2000; Abepura 16 Maret 2000, Pembunuhan dan penculikan Theys H. Eluay dan penghilangan paksa terhadap Aristoteles Maoka, dan kasus DOM di Wamena tahun 1977, dan Biak serta kasus-kasus pengibaran bendera bintang kejora di beberapa tempt 1998-2008.
Berikut, Forum Survior Papua juga menyatakan solidaritas terhadap 78 P Tahanan Politik dan Narapidana Politik yang berada di : Wamena 20 orang, Biak 3 orang, Nabire 2 orang, Jayapura 32 orang, Timika 6 orang, Manokwari 10 orang dan Jakarta 5 orang. Juga upaya pemulihan terhadap para mantan Tapol-Napol yang ada di seluruh Papua.

Demikian Tuntutan Sikap kami, Bersatu Untuk Kebenaran (BUK) yakni :
1. Segera tuntaskan proses ketidak jelasan Kasus Wasior 13 Juni 2001 dan kasus Wamena 4 April 2003 di Kejaksaan Agung dan Komnas HAM.
2. Mendesak Pembentukan KPP HAM untuk kasus Biak Berdarah 6 juli 1998, kasus Aristoteles Masoka, kasus Abepura 16 Maret 2006, Konflik Perairan di lapangan Maskura, Kimam 2001, kasus Wamena 6 Oktober 2000, Gejolak Sosial di Pegunungan Tengah 1977. Serta pengungkapan kebenaran untuk kasus-kasus pada masa DOM di Papua.
3. Mendesak untuk membebaskan tanpa syarat 78 Tapol Napol Papua serta berikan keadilan kepada mantan Tapol-Napol.
4.Mendesak untuk membentuk Pengadilan HAM di Papua,
5. Mendesak Komnas Perwakilan Papua untuk memperjelas status kasus Wasior dan Wamena.
6. Mendesak Majelis Rakyat Papua DPRPP dan Gubernur Propinsi Papua segera membuat PERDA tentang pemenuhan hak-hak reparasi dan perlindungan bagi korban kejahatan HAM.
7. Mendesak Masyarakat Internasional untuk memantau dan menekan pmerintah R.I dalam kebijakan keamanan dan pelaksanaan operas-operasi keamanan di Papua.
8. Apabila tuntutan kami tidak diindahka, maka kami siap mempersoalkan kasus-kasus tersebut ke mekanisme hukum Internasional.

Kami yang bergabung dalam Forum BERSATU UNTUK KEBENARAN (BUK)

Peneras Lokbere
Koordinator Umum BUK
Frans Samberi
Koordinator Wilayah Wasior
Yohanes Kibak
Koordinator Wilayah Timika
Tinus Matuan
Koordinator Wilayah Wamena
Fred Mesareak
Pjs. Koordinator Wilayah Jayapura

Didukung oleh :
Harry Maturbongs, S.H
Koordinatro Kontras Papua
Septer Manufandu
Sekretaris Eksekutif FOKER LSM Papua
Persila Mandowen
Ketua Komunitas Korban DEDAR
Gayus Yomaki
Ketua IKOHI K2N Papua
Benny Pakage, S.H
SKP Timika

%d blogger menyukai ini: