Masih Ada Pungutan Uang Pada UAN

JUBI – Sekolah-Sekolah Yayasan Masih Membutuhkan Sokongan Dana dari Orang Tua Murid Dalam Menghadapi Ujian Nasional.

Memang harus diakui bahwa perhatian pemerintah lebih cenderung memihak kepada sekolah-sekolah Negeri atau Inpres. Bahkan bantuan dana pendidikan lebih banyak diberikan kepada sekolah yang berstatus dibawah naugan pemerintah. Kebanyakkan gedung sekolahnya bertingkat dua dan dilapisi tehel putih dengan dominasi guru berstatus pegawai negeri serta fasilitasnya lengkap mulai dari perustakaan sampai laboratorium. Sedangkan untuk sekolah yang berstatus Swasta atau Yayasan cenderung dijadikan anak tiri atau dinomor duakan. Dalam hal gedung sekolah swasta justru kalah jauh dengan gedung sekoilah negeri, fasilitasnya juga tidak lengkap. Sudah saatnya sekolah-sekolah Swasta atau Yayasan disamakan dengan Sekolah-sekolah yang berbasis pemerintah.
SMU Gabungan Katolik dan Protestan yang berada di Kelurahan Mandala, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura, Provinsi Papua memiliki 42 guru pengajar serta 365 murid. Dari 365 murid paling banyak adalah anak-anak Papua 305 anak. Tapi sayang kurang mendapat perhatian dari Pemerintah. Untuk menghadapi Ujian Nasional Tahun Ajaran 2007/2008 pihak sekolah memintah bantuan dana dari orang tua murid melalui surat resmi. “Karena bantun Dana Ujian Nasional dari Pemerintah Kota Jayapura untuk tiap anak SMU Gabungan Rp. 50.000,” ungkap Kepala Sekolah SMU Gabungan Katolik dan Protestan, T.Fransicus Wayne, S.pd. MM (52).
Dana sebesar Rp. 50.000, memang tidak cukup untuk persiapan-persiapan yang dilakukan kurang lebih tiga bulan. Untuk persiapan selama tiga bulan sebelum ujian nasional masing-masing anak menghabiskan dana Rp.300.000,- dana tersebut untuk pembelian alat tulis, biaya transport, foto copy serta biaya guru pendidik. Ditambahkan pria asal Monamani, orang tua merupakan aset yayasan. Jadi sudah seharusnya mereka mendukung setiap program yang dibuat oleh sekolah. Sejauh ini tidak ada orang tua yang protes mengenai pungutan biaya tambahan untuk ujian nasional. Untuk standar kelulusan rata-rata haruslah 6,00, jika nilainya pas di 5,2 dinyatakan tidak lulus dan itu sangatlah berat bagi SMU Gabungan.
Tapi dewan guru akan berupa semaksimal mungkin agar SMU yang bersebelah dengan kolam renang Tirta Mandala seluruh siswa harus lulus ujian nasional. “Kami para guru tidak kuatir lagi, karena mereka sangat serius dalam mengikuti les-les tambahan selama tiga bulan yang dilakukan oleh pihak sekolah. Kami percaya bahwa sekolah kami akan lulus semuanya.” ungkap Wayne di ruang kerjanya.
Yang sangat disesalkan oleh pihak sekolah, adanya surat perintah dari Kepolisian Sektor Jayapura Utara untuk menempatkan dua anggota polisi dalam pengamanan ujian nasional dan pihak sekolah tidak meminta pengamanan.
Menurutnya, tidak usahalah karena sudah ada satpam sekolah dan selama ini aman-aman saja, kecuali pada saat pengumuman kelulusan barulah dibutuhkan pengamanan dari pihak Kepolisian. Karena dana yang dibutuh akan membengkak dan tidak sesuai dengan dana yang dianggarkan oleh Panitia penyelenggara ujian nasional.
Immanuel Inarkombu (18) siswa SMU Gabungan peserta Ujian Nasional mengatakan tidak tahu menahu mengenai permintaan dana dari pihak seolah kepada orang tua murid. Yang Immanuel tahu hanyalah bersekolah dan lulus tepat waktu. Saat ditanyai oleh wartawan Jubi soal mana yang paling sulit, “Jujur saja kak yang paling susah adalah ujian Bahasa Inggris. Kami hanya mendengar (listening) melalui kaset dan langsung menjawab serta waktunya sangat singkat sekali. Kalau tidak cepat-cepat tulis maka akan terlewatkan soal berikutnya,” tuturnya.
Saul Sawaki Siswa Kelas III SMU Nergeri I Abepura mengungkapkan pihak sekolah tidak memunggut biaya sepeserpun dari siswa dan orang tua murid. Mungkin dana yang dibutuhkan sudah memadai sehingga pihak sekolah tidak meminta bantuan dana. Senada dengan Saul Sawaki, Vany Wangai Siswi SMK I, orang tua tidak dibebani uang ujian nasional. Hanya saja untuk praktek saat ujian orang tua dibebani biaya tambahan.
Sementara itu, Kepala sekolah SMP Advent Abepura, ketika di temui Jubi di ruang kerjanya,belum lama ini, mengatakan, jumlah siswa yang ada sebanyak seratus delapan puluh sembilan orang. untuk kelas sembilan atau kelas tiga berjumlah delapan puluh satu orang.Tenaga pengajar sebanyak tiga belas orang di tambah dengan satu orang pegawai dari yayasan jadi jumlah seluruhnya empat belas orang. Guru PPL dari Uncen yang melakukan praktek selama enam bulan berjumlah enam belas orang.
Menurut Djemie Katang (42), khususnya SMP Advent sudah mempersiapkan kegiatan UANAS sejak Nevember 2007. Persiapan yang dilakukan berupa pengayaan-pengayaan atau penambahan pelajaran di luar jam sekolah. Mata pelajaran yang berikan dalam pengayaan tersebut adalah mata pelajaran yang dinasionalkan, antara lain Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Sejarah, dan PPKN.
Mata pelajaran ini diberikan dengan cara mengajarkanya kepada setiap murid, tatap muka antara murid dengan siswa tetapi juga diputarkan lewat kaset CD kepada siswa.
Selain pemberian mata pelajaran kepada siswa, siswa-siswi ini juga dilatih dengan Tray out, atau melepaskan siswa untuk mengerjakan soal dengan sendiri. Trayout ini sudah dilakukan sebanyak lima kali. Persiapan ini dilakukan dengan tujuan agar siswa-siswi tersebut benar-benar sudah benar-benar disiapkan untuk menghadapi ujian akhir nasional. selain itu, persiapan selanjutnya yang nanti akan di lakukan adalah pihak sekolah dan orang tua murid akan melakukan doa penyerahan siswa-siswi sebelum mereka menghadapi ujian nasional. ujar Djemie Katang selaku kepala sekolah.
Kata Djemie Katang kendala yang dihadapi dalam persiapan UANAS tersebut adalah kurangnya kehadiran siswa dalam mengikuti pengayaan yang dilakukan oleh sekolah. Sehingga siswa-siswi yang malas atau kehadirannya kurang, Selain itu mereka harus mempersiapkan diri mereka secara baik dalam menghadapi ujian nanti. “Kehadiran siswa-siswi kami seperti ini sangat merepotkan pihak sekolah dan susah untuk menangani serta mengendalikan mereka,” ujar kepala sekolah.
Kemudian bantuan dana dari Pemerintah Kota Jayapura untuk SMP Advent dalam menghadapi UANAS hanya sebesar Rp. 2.430.000,-, per anak diberikan Rp.30.000,-,. Dana itu hanya di berikan kepada siswa kelas sembilan atau siswa kelas tiga. Sedangkan Untuk Dana Otonomi khusus yang dibagikan kepada para siswa-siswi, satu orang sebesar empat puluh tiga ribu rupiah. itu pun hanya dibagikan kepada siswa kelas tiga atau kelas sembilan atau kelas tiga saja.
Lanjut kepala sekolah, walaupun ada bantuan namun masih pihak sekolah masih memungut biaya dari setiap siswa-siswi sebesar tujuh puluh lima ribu rupiah. Biaya ini sudah di bicarakan bersama antara pihak sekolah dengan orang tua siswa-siswi. Dana ini di gunakan untuk membiayai guru honor dan tetap yang memberikan pengayaan. Biaya ini sangat di sesalkan oleh kepala sekolah, karena kata kepala sekolah pungutan ini sudah disampaikan kepada kasubdin SMP ditingkat Kota, namun sampai saat ini tidak ada tanggapan yang baik dari Kasubdin.
Harapan kepala sekolah SMP Advent Abepura, ada peningkatan standar kelulusan yang tinggi oleh para siswa-siswi. Karena standar kelulusan siswa-siswi SMP Advent Abepura harus empat koma lima.
Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kota Jayapura Dra.WW Kambuaya, MM mengungkapkan, tingkat kelulusan peserta UAN pada 2008 ini ditargetkan tetap di atas 90 %. Oleh karena itu, selain program yang telah disiapkan Dinas P dan P dalam penyediakan latihan soal atau try out, pihak sekolah diharapkan juga mengintensifkan pengayaan materi dan latihan ujian.
“Diharapkan para guru sekolah menyiapkan anak-anak didiknya lewat pengayaan materi maupun latihan ujian,” ujar WW Kambuaya. (Musa Abubar/Carol Ayomi )

%d blogger menyukai ini: