Laporan Narasi Stop Aids Now! Tahun 2007 di Tanah Papua (Bagian III)

Pada tanggal 2 November 2007, Koalisi SAN bersama Pokja Kesehatan Foker LSM Papua menyerahkan draft final Raperdasi Pencegahan dan Penangulangan HIV dan AIDS serta Infeksi Menular Seksual (IMS) kepada ketua Panleg DPRP di kantor DPRP Provinsi Papua.

4.Advokasi Media di Tabloid JUBI
Advokasi melalui media, selain dilakukan dengan cara siaran pers, juga dilakukan melalui kerjasama dengan sebuah media cetak lokal (Tabloid Jubi) untuk mensosialisasikan program-program SAN yang dilakukan oleh masing-masing organisasi maupun koalisi. Melalui advokasi media ini dipublikasikan juga artikel-artikel yang berisi informasi tentang pendidikan kesehatan reproduksi, HIV/AIDS, HAM dan Gender. Materi-materi ini berasal dari laporan partisipan koalisi, dokumen Komisi Penanggulangan Aids Provinsi Papua, wawancara aktivis LSM, wawancara tokoh masyarakat serta wawancara kalangan pemerintahan yang berkaitan dengan HIV/AIDS, HAM dan gender.
Tabloid ini dicetak sebanyak 3000 eksemplar setiap terbitan (2 minggu sekali) dan diedarkan di wilayah Jayapura, Merauke, Biak, Timika, Manokwari, Nabire dan Sorong. Sebanyak 1500 eksemplar tabloid ini diberikan secara gratis kepada masyarakat melalui jaringan LSM di Papua.

5.Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, Kampanye Hari AIDS dan Kampanye Hari HAM
Koalisi SAN menjadi aktor utama dalam memfasilitasi kegiatan Kampanye Hari AIDS Sedunia, Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Peringatan Hari HAM seDunia. Kegiatan-kegiatan ini diselenggarakan sejak tanggal 24 November hingga 1 Desember 2007 dengan Tema Utama, “Otsus Berlaku, Perempuan Papua Menderita”. Tema ini dipilih sesuai dengan tema nasional 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yaitu : PERLINDUNGAN TERHADAP PEREMPUAN PEMBELA HAM.

5.1 Kegiatan-kegiatan yang diikuti Koalisi SAN dalam kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan adalah :

· Langeng Suara;
Kegiatan Langeng Suara (LS) dilakukan melalui media RRI Jayapura. LS disiarkan di tgl 24-25 Nov 2007 (satu hari sebelum hari H dan Hari H).

· Ziarah;
Kegiatan Ziarah dilakukan tgl 24 November 2007 di 12 Makam Tokoh Perempuan Papua, di Pemakaman Umum Kristen di Tanah Hitam dan di Sentani. Sebanyak 54 orang perempuan dan 12 orang laki-laki terlibat dalam kegiatan ini

·Aksi Jalan Damai;
Kegiatan Jalan Damai dilakukan tgl 25 November 2007 untuk mengingatkan dan menggugah publik bahwa kekerasan terhadap perempuan harus diminimalisir dan dihentikan. Aksi Jalan Damai ini dilakukan dari depan Kampus Universitas Cenderawasih hingga Depan Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Papua. Peserta aksi ini melakukan orasi dan membawa poster serta pamflet yang isinya memperingatkan publik tentang kekerasan yang seringkali dialami oleh perempuan Papua.
Aksi ini diikuti oleh lebih dari 250 orang yang merupakan perwakilan dari lembaga-lembaga, Badan Pemberdayaan Perempuan (BPP) Provinsi Papua, BPP Kota dan Kabupaten Jayapura, Komisi F, DPRP, Kelompok Kerja (POKJA) Perempuan MRP, Koalisi SAN (Stop AIDS Now), P3W-GKI Papua, Yayasan Harapan Ibu (YHI), Biro Wanita SINODE GKI di Tanah Papua, Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (KPKC) – SINODE GKI Papua, Sekretariat Keadilan dan Perdamaian (SKP) Jayapura, Solidaritas Perempuan Papua (SPP), Jaringan Kesehatan Perempuan Indonesia Timur (JKPIT), Koalisi Perempuan Indonesia (KPI)-Papua, Polisi Wanita (POLWAN) dari POLRESTA Jayapura, Korps HMI Wati (KOHATI) HMI Jayapura serta asrama-asrama putri mahasiswa di Jayapura.

– Spot Iklan;
Kegiatan Spot Iklan (SI) dilakukan melalui media RRI Jayapura. SI disiarkan dari tanggal 25 Nov-10 Desember 2007 yang merupakan tgl diawali dan diakhiri kegiatan kampanye 16 HAKTP.

– Dialog Interaktif;
Kegiatan Dialog Interaktif (DI) dilakukan melalui media RRI Jayapura pada tanggal 27 Nov 2007. Hadir sebagai Narasumber dalam keg.Dialog Interaktif yaitu Ibu Fin Yarangga (Koalisi Perempuan Untuk Tanah Damai di Papua); Ibu Maria Ibo/Pulanda (Perempuan Basis); Ibu Mien Rumbiak (Ketua POKJA Perempuan MRP). Kegiatan ini merupakan kerjasama antara SKP, Foker LSM Papua dan Koalisi SAN.

– FGD (Focus Group Discussion) Refleksi Gerakan Advokasi terhadap Perempuan di Papua
Kegiatan FGD dilakukan tgl 29 November 2007, bertempat di P3W-GKI Sosial, Padang Bulan, Kota Jayapura, Propinsi Papua. FGD tentang Refleksi Gerakan Advokasi terhadap Perempuan di Papua. Hadir sebagai Narasumber dalam keg.FGD yaitu Ibu Yusan Yeblo (KKW), Ibu Mien Rumbiak (Ketua POKJA Perempuan MRP), Ibu Lunia Nere (P3W-GKI), Sdri. Rona Ramelia (KOHATI-HMI) dan Ibu Fin Yarangga (Koalisi Perempuan Untuk Tanah Damai di PapuaFGD ini diikuti oleh 32 orang peserta yang terdiri dari 25 orang perempuan dan 7 orang laki-laki.

– FGD (Focus Group Discussion) tentang Traffiking di Papua
Bekerjasama dengan ICMC (International Catholic Migration Commission) koalisis SAN memfasilitasi FGD tentang Perdagangan Orang di Papua (Trafficking). Diskusi dilakukan pada 30 November 2007, bertempat di LP3A-P. Diskusi diikuti oleh sebagian anggota Koalisi. Diskusi membicarakan tentang permasalahan perempuan salah satunya tentang Perdagangan Perempuan. 22 orang dari 11 lembaga terlibat dalam diskusi ini.

5.2 Kegiatan yang dilakukan dalam rangka Hari AIDS Sedunia
Koalisi SAN memfasilitasi kegiatan Kampanye Hari AIDS Sedunia, dengan memberikan dukungan kepada anggota Pokja-Kesehetan, seperti Perkumpulan Cenderawasih dan Jaringan orang yang terinfeksi HIV kota Jayapura (Jogja). Kegiatan ini dikoordinir oleh Henny Iswahyudi. Kegiatan ini ditujukan untuk mengurangi stikma dan diskriminasi terhadap ODHA. Dalam peringatan Hari AIDS sedunia ini dilakukan kegiatan lomba bola volly waria… (sebagain besar waria yang terlibat telah terinfeksi HIV), aksi bagi brosur dan penyuluhan HIV dan AIDS kepada masyarakat umum di sekitar Bucend 2 Entrop Jayapura pada tanggal 1 Desember 2007.

5.3 Kegiatan yang dilakukan dalam rangka Hari HAM sedunia
Dalam memperingati hari HAM sedunia, Koalisi SAN bersama Koalisi Perempuan Papua melakukan kampanye dengan membagikan Kartu Pos di sekitar pusat Kota Jayapura dan Abepura dari tanggal 5-10 Desember 2007. Kartu pos yang dibagikan berisi pesan-pesan HAM dan Gender dengan tema perayaan Natal 2007. Pembagian kartu pos ini dilakukan oleh 27 orang yang berasal dari aktivis LSM dan Mahasiswi. Sasaran utama pembagian kartu pos ini adalah staff pemerintah daerah setempat, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP), Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Kabupaten dan Kota Jayapura), Anggota Majelis Rakyat Papua. Khusus di pusat kota Jayapura, kartu pos ini juga dibagikan kepada masyarakat umum.

6. Konsultasi publik Tentang Raperdasi Pencegahan dan Penanggulangan HIV dan AIDS serta IMS
Kegiatan konsultasi publik tentang Raperdasi AIDS, pada hakekatnya untuk mendapat masukan strategis dari masyarakat luas. Kegiatan yang telah dilakukan dalam bentuk dialog interaktif di Radio Pro 1 RRI Jayapura. Acara dialog interaktif ini dilaksanakan pada pada tanggal 10 Desember 2007, dengan Meski demikian, strategi yang digunakan YPKM dengan melibatkan sanggar-sanggar tari dalam pelatihan pendidik sebaya, berikut metode yang digunakan dalam pelatihan tersebut (Tari, Drama) bisa disebut sebagai sebuah upaya yang baru. Walaupun sebelumnya KPA memiliki sebuah program yang disebut Dance for Life, namun program tersebut lebih menekankan pada metode kampanye. Selain itu, bentuk kampanye dalam peringatan hari AIDS sedunia, yaitu melibatkan waria secara langsung sebagai campaigner juga bisa disebut sebagai strategi dan metode baru di Papua. Yang cukup menggembirakan dari aktivitas koalisi adalah proaktifnya koalisi dalam proses penyusunan draft Raperdasi Pelayanan Kesehatan dan Draft Raperdasi HIV/AIDS. Hal ini menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat dalam proses-proses penyusunan regulasi daerah semakin meningkat, sebagaimana yang diamanatkan dalam Otonomi Khusus Papua.
Keterlibatan ODHA dalam aktivitas koalisi juga masih belum terlihat secara nyata. Beberapa ODHA memang dilibatkan dalam aktivitas koalisi maupun organisasi yang tergabung dalam koalisi, namun masih sekedar sebagai sumber informasi. Dalam perencanaan program ataupun diskusi-diskusi yang berkaitan dengan proses advokasi, keterlibatan ODHA belum terlihat secara nyata.

Bagian IV
Pengalaman dengan proses kolaboratif

· Secara kuantitas kolaborasi yang dilakukan antar sektor-sektor yang berbeda dalam koalisi berlangsung secara intensif. Misalnya dalam beberapa aksi dan kegiatan yang dilakukan oleh partisipan koalisi maupun koalisi sendiri. Namun secara kualitatif, kolaborasi belum menunjukkan pengaruh yang signifikan dari sebuah integrasi isu HIV/AIDS, HAM dan Gender. Misalnya, dalam mengintegrasikan ketiga isu terkait program-program yang dilaksanakan oleh masing-masing organisasi yang bekerja dalam sektor berbeda, sektor-sektor lainnya masih ditempatkan sebagai sumber informasi (narasumber).
· Kolaborasi mitra SAN! bisa dilihat dari diskusi-diskusi yang dibangun selama kunjungan SAN ke mitra-mitra lokal yang menunjukkan bahwa kedua pihak sangat terbuka untuk menjalankan sebuah agenda bersama. Hal ini sesungguhnya menunjukkan sebuah perubahan paradigma lembaga-lembaga donor, dimana SAN! sangat menghargai kapasitas lokal dalam merancang dan menjalankan programnya. Hal ini terlihat dari penekanan kepemilikan program bagi organisasi pelaksana.
· Kolaborasi antara mitra dengan Foker LSM Papua berlangsung cukup baik, meskipun tidak berlangsung secara reguler. Namun sejauh ini, kolaborasi ini baru bisa berjalan intensif dengan mitra-mitra di Jayapura. Misalnya dalam penyusunan Raperdasi Pelayanan kesehatan dan HIV/AIDS.
· Dibeberapa lokasi yang telah menjalankan programnya, kolaborasi antara mitra, koordinator koalisi dan para pelaku kunci bisa dikatakan berjalan cukup baik. Misalnya di Nabire, Primari berkolaborasi dengan FHI/ASA dan Dinas Kesehatan. Demikian juga dengan SKP Merauke yang berkolaborasi dengan beberapa LSM Lokal dan media lokal. Sementara kolaborasi antara mitra, koordinator koalisi dan para pelaku kunci lainnya baru terlihat jelas di Jayapura. Misalnya dalam penyusunan Raperdasi, lobby Raperdasi ke DPRP, Advokasi media hingga aktivitas kampanye. Aktivitas-aktivitas ini melibatkan secara aktif mitra SAN, koordinator koalisi dan pelaku kunci lainnya (Anggota DPRP, Media, LSM lokal, MRP, Aktivis LSM, Mahasiswa)
· Antara Koordinator Koalisi dan SAN!
Kolaborasi yang dilakukan antara Kordinator Koalisi dengan SAN sejauh ini berjalan cukup baik. Terutama pada saat pengumpulan proposal dari masing-masing anggota koalisi. Demikian juga dalam beberapa hal prinsip menyangkut kerjasama antara SAN! dan Koordinator Koalisi dalam pengambilan keputusan seperti perpanjangan waktu pengajuan proposal. Selama tahun 2007, proses sharing informasi maupun diskusi dilakukan via internet. Namun beberapa hal penting yang menyangkut arah dan kebijakan internal mitra, koordinator koalisi dan SAN! telah didiskusikan pada saat kedatangan SAN! di Papua, bulan September 2007.
· Antara Koordinator Koalisi dan para konsultan (para peneliti yang dikontrak, misalnya)
Pada tahun 2007, Koordinator Koalisi tidak melakukan penelitian. Hanya dalam penyusunan Raperdasi pelayanan kesehatan dan HIV/AIDS, koalisi melibatkan Yusak Reba, SH, seorang expert legal drafting dari Universitas Cenderawasih.

Jayapura, 21 Januari 2007

Iklan
%d blogger menyukai ini: