Sedimentasi Tailing Putuskan Rantai Makanan

JUBI – Salah satu kasus pembuangan tailing langsung ke sungai di Indonesia yang dilakukan perusahaan tambang raksasa di Mimika (PT Freeport Indonesia) menyebar hingga ke pantai Mimika dalam bentuk sedimentasi atau pasir halus menyerupai lumpur halus.

Hasil pencitraan gambar satelit tahun 2000, menunjukkan setidaknya seluas 84.158ha wilayah laut dangkal akibat sedimentasi oleh tailing, meliputi muara Sungai Mawati hingga muara Sungai Kamoro. Radius penyebaran sedimentasi tailing di laut dari muara Ajkwa adalah sejauh 6 km dari garis pantai menuju laut lepas, sementara dari muara Sungai Ajkwa Barat sejauh lebih kurang 10 km dari garis pantai menuju laut lepas.
Pembuangan limbah tailing langsung ke sungai merupakan langkah termuda untuk mengurangi ongkos pembuangan yang mahal kalau tailing itu dialirkan melalui pipa tentu akan mahal harganya sehingga lebih murah kalau langsung dialirkan lewat sungai atau ke badan air (sungai dan laut).
Pembuangan tailing ke badan air menurunkan kualitas air sungai hingga terjadi penyerapan oleh air bawahtanah. Yang paling tampak adalah terjadinya pendangkalan sungai dan laut sehingga memutuskan mata rantai makanan. Hal ini juga dapat menurunkan kualitas air bawahtanah sebagai akibat terjadinya terserapnya mineral ikutan seperti tembaga, besi dan logam lainnya. Materi, batuan dan meteri pembawa dan penyimpan air bawahtanah pun terserap karena radiasi mineral ikutan sisa pengolahan tambang yang dibuang melalui tailing.
Materi pembawa air bawahtanah (biasanya berupa batuan sebagai penyimpan air tanah) ikut terkontaminasi.
Adanya dugaan pembuangan Air Asam Batuan (Acid Rock Drainage) sangat membahayakan air tanah dan sungai.
Apalagi penduduk setempat juga mengosumsi air dari sungai tersebut bahkan ada juga yang membuat sumur sebagai sumber air utama untuk kebutuhan sehari-hari bagi keluarganya. Mulai dari mandi, cuci hingga dijadikan air minum keluarga dan masyarakat. Bahkan ikan, udang, kepiting sulit hidup karena air berwarna sangat keruh. Bahaya kontaminasi radiasi bagi kesehatan manusia sedang menjemput manusia melalui rantai makanan/minuman. Inilah ancaman bagi warga, masyarakat dan etnis Papua sekitar areal penambangan dan areal pembuangan tailing.
Perijinan yang diberikan oleh pemerintah terhadap perusahan sebagai bukti bahwa Lemahnya Peran Pemerintah dalam Menjaga Lingkungan. Dengan paradigma mengejar pertumbuhan ekonomi pemerintah tetap saja memberi ijin terhadap pembuangan tailing ke sungai aijikwa atau ke laut Arafura.
Kritik atas ancaman ekosistem air sungai dan laut hingga manusia di Wilayah Mimika pun ditujukan. Sejumlah kritik dan tuduhan ditujukan kepada pihak PTFI berkaitan dengan pembuangan limbah tailing ke sungai dan laut. Salah satu kutipan adalah laporan oleh : P. Raja Siregar, tentang : Singkap Buyat, Temuan, Pengabaian, Kolusi, (Jakarta: WALHI, 2006) yang dimuat pada situs web WALHI dengan tanggal update 25 Juni 2007. Kutipan ini memohon ke perusahaan yang bersangkutan untuk tidak membuang limbah tailing ke badan air(sungai dan laut). Memerintahkan dengan menuliskan “Stop Pembuangan Tailing ke Badan Air”. Apakah tujuan pembuangan tailing ke badan air? Adakah pihak PTFI mempunyai maksud dan tujuan serta kepentingan sendiri? Salah satu praduga ketika Papua bergejolak dengan politik, social, budaya, ekonomi, pertahanan dan keamanan beserta pelanggaran hak-hak dasar manusia Papua menjadi semakin besar adalah dapat dipikirkan dan menjadi “wajib diwaspadai” bagi warga dan etnis Papua. Apakah Tidak ada tempat pembuangan tailing lain atau teknik pembuangan dan pengolahan tailing lain? Ataukah ini adalah perhitungan penghematan biaya produksi perusahan dengan muatan berbagai tujuan dan harapan agar menguasai tanah dan membrondong kekayaan Papua? Jika tailing digunakan untuk pengaspalan jalan dan bahan bangunan lainnya maka bahaya radiasi tetap ada dan pemanfaatan ini memperluas dan meningkatkan bahaya radiasi.
Saya melihat secara langsung gejala alam. Alasan saya tanpa pengukuran parameter tertentu yang biasanya dilakukan dalam kajian ilmiah dan sains tertentu. Alasan demikianlah mendorong saya untuk mengetahui bukti adanya perubahan pada keragaman hayati, biota dan ekosistem air (sungai dan laut) yang sedang terjadi di Timika. Perubahan dan gangguan akibat logam berat pun dapat dilihat dengan adanya kelainan kesehatan masyarakat sekitarnya. Adanya berbagai macam penyakit dan kelainan pada bayi hingga orang tua. Secara langsung saya membayangkan bahaya limbah logam dan bahaya radiasi akibat logam berat sisa penambangan emas dan tembaga seperti: selenium (Se), timbal (Pb), arsenik (As), seng (Zn), mangan (Mn), dan tembaga (Cu). Logam-logam yang mampu memancarkan radiasi dengan dosis yang berbeda dan waktu paro yang berbeda itu telah dibuang dan mengalir berkepanjangan kurang lebih 40-an tahun(1.261.440.000sekon atau selama 350.400jam), radiasi logam dapat terakumulasi hingga melewati batas daya tahan organ.
Menembus dan mematikan sel-sel tubuh manusia. Kelewatan batas dosis yang diterima oleh manusia sehat pada umumnya. Organ dan sel-sel tubuh manusia rusak secara permanent. Kerusakan susunan kromoson pun akan terjadi pada tanaman, hewan dan bahkan pada manusia. Pada manusia akhirnya terjadi gangguan kesehatan seperti: kerusakan pada sistem syaraf, pencernaan sum-sum tulang/sel-sel darah (sel darah merah, sel darah putih dan sel darah yang membantu pembekuan darah), kerusakan pada organ reproduksi, kerusakan kelenjar tiroid, mata, paru-paru dan ginjal. Gangguan secara tidak langsung pun dapat terjadi setelah beberapa waktu detik, jam, hari, bulan bahkan beberapa tahun kemudian, seperti : kanker paru-paru, kanker kulit, kanker darah (leukemia), kanker tulang dan sebagainya, serta katarak, kemandulan sampai akhirnya berkurangnya usia harapan hidup dan hambatan pada pertumbuhan misalnya hambatan pertumbuhan janin yang dipengaruhi oleh faktor umur janin dan dosis radiasi yang diterima.
Lebih bahaya lagi dapat terjadi gangguan secara genetic, akibatnya akan terjadi setelah beberapa generasi berikut. Bahaya mutasi gen pada manusia ini menyebabkan Bayi laki dan perempuan lahir dalam keadaan cacat secara mental atau cacat secara fisik. Proses ini sedang terjadi melalui rantai makanan karena warga sekitar menanam dan mengambil makanan dan minuman dari areal sekitar pembuangan tailing. Inilah penyebab terjadinya “mutasi gen” akibat penambangan dan pembuangan tailing , bukan karena peristiwa pemboman nuklir. Ataukah memang perang mempertahankan status politik Papua sedang terjadi, salah satunya melalui ancaman tailing ini? Dalam wacana ini penulis melihat sebagai ancaman bagi keragaman hayati sungai dan laut bahkan kepunahan manusia sedang menjemput. Sebuah ancaman kesehatan masyarakat yang berada di sekitar pembuangan tailing. Terutama bagi warga dan suku-suku sekitarnya. Jangan heran kalau dalam awal tahun 2007 awal ditemukan adanya 49 orang warga di daerah Banti (dekat penambangan Freeport) mengalami gangguan penyakit saraf, yang disebut-sebut sebagai penyakit miningitis. Secara awam meningitis dapat diartikan: mining= pertambangan, itis=bersifat seperti,pengaruh). Jadi miningitis diartikan atau dikategorikan sebagai penyakit/gangguan akibat adanya kegiatan pertambangan.
Pembuangan tailing ke laut Arafura pun dapat berakibat fatal dan berbahaya bagi ekosistem dan warga yang bermukin sekitarnya. Penghuni dan pemegang hak ulayat yakni suku Kamoro dan suku lain/pendatang pribumi dan non pribumi di daerah Amamapare dan Aika menjadi korban dan ancaman tailing. Apalagi mata pencahariannya adalah nelayan. warga di pulau-pulau terpencil dengan tidak adanya air tawar. Salah satu sumber air minum dengan tingkat sanitasi yang sangat rendah mengandalkan konsumsi air hujan atau laut. WALHI dalam web situsnya menulis: Pembuangan Limbah tailing Freeport yang mengandung logam berat ini pun sudah menghilangkan 35% total populasi ikan, kepiting, dan kerang yang hidup di Muara. Sementara itu 30-90% dari total spesies yang ada di muara terancam terkontaminasi racun dan punah.
Jika dialirkan melalui pipa menuju laut Arafura pun menjadi kendala yaitu bagi perusahan harus mengeluarkan penambahan biaya operasional. Kesulitan dan bahaya pun sangat berpotensi mengingat ketinggian yang relative tidak berbeda jauh sepanjang sungai Ajkwa hingga perairan laut Arafura. Hal ini membutuhkan energi untuk memompa saluran pipa untuk menghindari tersumbatnya pipa oleh tailing akibat ketinggian tanah yang tidak berbeda jauh. Tidak adanya palung laut atau kedalaman laut yang relative curam menjadi sulit untuk menampung kuantitas tailing yang beribu-ribu ton perhari.
Bahaya lain adalah semakin memperbesar luas bahaya radiasi logam berat atau mineral ikutan tersebut. Bagaimana pun ancaman dan kepunahan keragaman hayati laut, ekosistem laut dan bahkan kepunahan manusia sekitarnya menjadi sorotan utama.

Tanaman dengan Penyerapan Logam
Berdasarkan monitoring report PT Freeport Indoenesia pada Juni 2006 melalui Departemen Lingkungan Hidup bahwa telah ditemukan sekitar 15 jenis tanaman yang di panen dan dikumpulkan dari kebun percontohan hasil bumi di Mile 21 adalah Seledri, Sawi Hijau, Bayam Merah, Bayam Hijau, Kangkung, Sawi “petsay”, buncis, bengkoang, kentang, singkong, talas, padi, ketimun “Hercules”, mentimun hijau “Rocket” dan mentimun ‘Venus” untuk di analisis kandungan logam. Hasil analisa belum di publikasikan oleh Laboratorium Lingkungan Timika.
Tabel dibawah ini menunjukkan kandungan logam dari tujuh hasil tanaman yang dianalisis pada bulan Januari 2006. Seluruh produk pertanian yang di tanam pada lahan tailing adalah dibawah standar Pemerintah Indonesia dalam hal kandungan logam.
Tabel 1 menunjukkan kandungan logam dari ke-tiga belas hasil bumi… yang dianalisis pada bulan Februari 2006. Semua produk pertanian yang ditanam pada lahan tailing adalah dibawah Standar Pemerintah Indonesia dalam hal kandungan logam.
Data metals up-take dari 5 jenis tanaman yang telah dianalisis menurut analisa dapat disimpulkan di bahwa masih di atas ambang batas sesuai dengan standar kandungan-kandungan logam yang menjadi standard baku analisa. Namun pada tanaman kol logam Zinc (Zn) tinggi dengan nilai 5.45 di atas batas ambang dari 4.00 !
Bahaya kerusakan lain studi dokumen yang dilakukan oleh WALHI adalah proses sedimentasi yang terjadi di Muara mengancam wilayah Taman Nasional Lorentz terutama di daerah pesisir. Ancaman pokok selain limbah adalah kontaminasi logam berat pada tumbuhan bakau dan spesies-spesies yang ada di pesisir Taman Nasional Lorentz. Kawasan ADA (Ajkwa Deposition Area) seluas 230 km persegi yang telah mengalami kematian tumbuhan akibat tailing takkan pernah bisa kembali ke komposisi spesies semula meski pembuangan tailing berhenti. Diperlukan intervensi teknologi irigasi yang rumit dan asupan pupuk, kompos atau tanah subur yang luar biasa banyaknya untuk bisa membuat kawasan ini bisa ditanami kembali.
Emas, tembaga, perak adalah merupakan bahan radiotoksitias tingkat sedang setelah uranium. Sorotan emas, tembaga, perak dan mineral-mineral lainnya sebagai bahan radioaktif pun dapat ditinjau. (Willem Bobi)

Iklan
%d blogger menyukai ini: