Tong Pu Suara, Edisi XVI, 19 Maret 2008

Beberapa rekan dari kalangan wartawan pernah berdiskusi tentang betapa sulitnya mendapatkan data jumlah penduduk asli Papua. Bahkan instansi seperti BPS Provinsi Papuapun tidak memiliki data yang akurat tentang jumlah penduduk asli Papua ini. Anehnya, jika kemudian sebuah daerah akan dimekarkan barulah angka-angka jumlah penduduk Papua, terutama penduduk asli Papua bermunculan di banyak instansi. Demikian juga pada saat-saat menjelang Pemilu atau Pilkada. Apapun itu, tak bisa dipungkiri bahwa populasi penduduk asli Papua mulai terancam. Secara kasat mata kita bisa melihat eksistensi penduduk asli Papua mulai terhimpit oleh derasnya urbanisasi. Perubahan dan laju perekonomian Papua yang sangat cepat di era Otsus ini telah menjadikan Tanah Papua sebagai surga bagi pencari kerja. Sebuah masyarakat yang notebene masih berada dalam kultur peramu tiba-tiba harus berhadapan dengan segala macam eksistensi baru. Jika dibandingkan dengan penduduk Papua New Guinea yang memiliki persamaan kultur dengan penduduk asli Papua, maka jumlah penduduk asli Papua tertinggal berkali-kali lipat dari saudaranya ini. Di sisi lain, derasnya arus pendatang yang masuk tidak diimbangi oleh sebuah kebijakan tingkat provinsi yang mampu memberikan perlindungan, keberpihakan dan pemberdayaan pada penduduk asli Papua. Terutama dalam mengakses lapangan kerja, sarana pendidikan, sarana kesehatan dan modal usaha. Dengan kondisi seperti ini, tak heran jika banyak penelitian yang menggambarkan populasi penduduk asli Papua akan berbanding terbalik dengan populasi penduduk non-Papua. Dan pada akhirnya, penduduk asli Papua akan menjadi minoritas di atas tanahnya sendiri Redaksi

Iklan
%d blogger menyukai ini: