Petani Kangkung, Bergantung Dari Sewa Tanah

Musa Abubar)JUBI – Jayapura Siang itu, di bawah panas terik matahari yang semakin panas dan kebisingan kendaraan yang lalu lalang masuk keluar Pasar Yotefa Kotaraja, tak mengganggu mama Nober Gobay dan mama Anace untuk terus bergelut di dalam kolam kangkung mereka yang berada ditepi jalan ini.

Peluh mereka tak tertahan, mereka terus menggali kolam untuk ditanam keesokkan harinya. Setelah itu keduanya memetik kangkung di kolam yang telah ditanam lebih dahulu, untuk dijual ke pasar.
“Saya pertama tinggal di Padang Bulan di kompleks Uncen lama. Disitu saya punya kolam kangkung sendiri, tapi disana kalau hujan sedikit itu kolam kangkung kebanjiran akhirnya saya sering mengalami kerugian. Dan ketika rumah saya terbakar, akihrnya saya pindah ke jalan baru,” ujar mama Noper sambil mencangkul tanah di kolam kangkung yang baru di buatnya itu.
Pekerjaan mulai dilakukannya sejak pukul 08.00 hingga sore hari. Dalam satu hari ada dua pekerjaan yang dilakukannya, pertama membuat kolam kangkung baru untuk ditanami sayur kangkung atau membersihkan rumput dari kolam kangkung lama sampai sore hari. Kemudian pekerjaan selanjutnya yang dilakukan adalah memetik sayur dan diikat lalu dibawa ke pasar untuk dijual. Setiap harinya pekerjaan itu dilakukan secara bergiliran. “Sekop yang biasa mama gunakan untuk membuat kolam kangkung baru. Ketika membersihkan kolam kangkung, mama butuh waktu yang lama karena mama tidak punya cangkul,” cerita mereka. Sebenarnya jika menggunakan cangkul lebih mudah, namun karena hanya sekop yang dimilikinya, terpaksa dilakoni juga
Satu kolam kangkung dapat diselesaikannya sekitar 2 hingga 3 hari, tergantung tinggi dan lebat rumput. Jika rumput-rumput di lokasi baru lebar dan tinggi, satu kolam diselesaikannya dalam 3 hari, namun jika hanya sedikit rumput, satu kolam dapat diselesaikannya dalam sehari lalu dilanjutkan dengan menanam kangkung. “Batang kangkung yang ditanam saya beli dari tetangga seharga lima puluh ribu rupiah., lalu langsung ditanam. Namun jika kolam kangkung yang baru selesai dipanen, dapat langsung dipergunakan.” ujar mama beranak lima ini. Kangkung yang berumur satu bulan sudah dapat di panen, untuk kemudian ia jual ke pasar Yotefa. Dan untuk kelangsungan usahanya, minimal Ia harus memiliki dua atau tiga kolam kangkung agar ia dapat memanen kangkung setiap hari. Ketika ada satu kolam baru yang dibuat, masih ada dua kolam yang siap dipetik untuk dijual. Kolam kangkung yang telah berumur empat bulan harus dibersihkan untuk ditanam kembali, karena lewat dari empat bulan sayur kangkung sudah tidak subur lagi dan tidak layak untuk di jual.
“Sayur kangkung yang kami jual ke pasar itu satu ikat dijual dengan harga tiga ribu rupiah, kadang tidak laku semua. Biasanya kalau dalam satu hari kalau sudah tidak laku sampe sore maka harga turun sampai dua ribu rupiah. Jadi pengahasilan dalam satu hari sebesar seratus lima puluh ribu sampai dua ratus ribu saja. Belum ditambah dengan harga pupuk yang digunakan. Jika ramai pembeli, hasilnya juga agak lumayan” ujar Gobay kepada Jubi sambil memegang sekop di tangannya. Uang yang ia peroleh masih harus ia sisihkan sebesar Rp. 100.000 untuk membayar sewa tanah pada pemiliknya, sisanya ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti ongkos taksi, pupuk dan kebutuhan rumah tangga lainnya “Kalau tidak bisa bayar tanah, uang sewa dapat ditunda bulan berikutnya,” jelas mama Gobay kepada Jubi. Pupuk yang biasa digunakan adalah pupuk urea, NPK, gandasil, dan lainnya.
Pupuk – pupuk ini dibelinya dengan harga yang berbeda. Misalnya, pupuk urea dibeli dengan harga Rp. 4000 per kilogram, pupuk gandasil di beli dengan harga Rp. 5000 per bungkus dan pupuk NPK dibeli dengan harga Rp. 8.000 . Pupuk pupuk ini harus dibeli, agar sayur kangkung yang baru ditanamnya dapat tumbuh subur. “Jika salah satu pupuk yang ada tidak dibeli maka sayur kangkung tersebut tidak subur. Satu minggu sekali di berikan pupuk pada sayur yang baru ditanam,” ujar mama berusia 62 tahun ini.
“Tanah yang selama ini kami kelola bukan kami punya tanah sendiri, tanah ini milik orang Nafri atau pak Haji. Jadi kami sewa tanah ini seharga Rp. 100.000. Kami harus setor setiap bulannya pada orang yang punya tanah ini. Tanah yang disewakan kepada kami ini bisa di lihat sendiri tidak terlalu luas juga tidak terlalu lebar. Panjangnya sekitar sepuluh meter meter dan lebarnya sekitar empat meter, untungnya sedikit sekali,” ujar mama Noper.
Mama Noper gobay mengaku selama ia bekerja melakukan pekerjaannya ini di Jayapura, belum sekalipun ia menerima bantuan dari pemerintah ataupun yang lainnya. Selama ini ia hanya berusaha dengan tenaga dan apa dimilikinya. Di pasarpun ia tidak memiliki tempat berjualan yang layak. Selama ini ia hanya berjualan di pinggiran jalan atau di trotoar saja.
Lain halnya dengan Mama Anace Kadepa yang beralamat di Argapura, Jayapura. Mama Anace yang ditemui Jubi di kolam kangkungnya, mengatakan ia mulai menekuni pekerjaan membuat kolam kangkung sejak tahun 1999 hingga 2008 dengan alasan yang tidak berbeda jauh dengan mama Gobay karena tidak ada pekerjaan lain. Karena tempat tinggal yang jauh akhirnya mama Kadepa harus keluar dari rumah pukul 04.00 ke kolam kangkung untuk bekerja hingga pukul 16.00. “Awalnya saya buat kolam kangkung pertama di Padang Bulan tepatnya di belakang lapangan Trikora Abepura selama dua bulan. Terus saya pindah ke Kali Acai lagi. Di kali Acai saya cukup lama bikin kolam kangkung sebelum pasar Abe pindah. Tetapi karena pasar pindah akhirnya saya juga pindah ke jalan baru sini. Alasannya karena di sana transportasi sangat susah untuk mengangkut hasil sayur yang baru panen. Memang kendaraan banyak tapi banyak yang tidak mau angkat sayur. Hanya satu dua kendaraan saja yang mau angkat kami punya sayur,” ujar mama Kadepa. Tanah yang digunakan bukan tanah milik mereka secara pribadi tapi tanah milik orang lain. Ia harus menyewa setiap bulan kepada pemiliknya.
Dahulu ia berjulan di pasar Yotefa, tetapi karena tempat tinggal jauh dan kadang kesulitan memperoleh taksi untuk pulang, ia kemudian pindah berjualan ke Argapura. ‘’Sayur kangkung satu ikat saya jual Rp. 3.000. Saya juga menjual daun petatas. Untuk daun petatas bisanya setiap hari saya jual dengan harga dua ribu rupiah satu ikat. Kalau sayur lagi pasti kita harus turun harga. Sayur kangkung yang harganya tiga ribu rupiah bahkan empat ribu rupiah turun sampai dua ribu rupiah. Terus untuk sayur daun petatas harganya seribu lima ratus.’’ ujar mama Gobay kepada Jubi sambil mengusap keringat di badannya. Penghasilan yang diperoleh sekali panen sebesar Rp. 120.000, jika pembelinya ramai banya bisa mencapai Rp. 170.000. Namun jika di total, dalam sebulan ia hanya memperoleh Rp. 300.000. Hasil yang didapat ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya setiap hari serta untuk membiayai adik-adiknya yang sedang kuliah. Dan sisanya di gunakan untuk ongkos taksi dan membeli pupuk.
“Ongkos taksi untuk satu hari pulang pergi sepuluh ribu rupiah, itu dari Jayapura ke Abepura. Itu belum tambah dari sini ke pasar. Kalau dari sini ke pasar itu ongkos taksinya sudah beda lagi. Akhirnya tidak ada keuntungan dari hasil jualan, tidak ada yang di pisahkan untuk ditabung,” ujar mama beranak tiga ini dengan serius. Mama Anace Kadepa juga mengeluhkan bahwa selama ini ia bekerja tidak ada bantuan satu pun dari pihak pemerintah untuk usahanya. Ia hanya berusaha sendiri, bahkan untuk sekedar mengikuti pelatihan mengelola keuangan hasil usaha saja ia tidak pernah.

Sayangnya, akhir akhir ini pembangunan di Abepura berlangsung sangat cepat. Banyak lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi bangunan rumah toko (ruko) ataupun perumahan dan perkantoran. Hal ini sangat menggelisahkan hati mama Kadepa. “Tanah ini bukan milik saya, sewaktu waktu jika diminta kembali oleh pemiliknya saya tidak tahu harus bertani dimana lagi. Trus kalau tidak bertani saya juga harus bekerja apa, saya tidak punya keahlian lain,” tutur mama Kadepa. (Musa Abubar).

%d blogger menyukai ini: