30.000 ORA Quick Test, Terancam Mubazir

IST)JUBI-Hingga Bulan ketiga 2008, 30.000 Ora Quick Test kiriman Departemen Kesehatan RI belum digunakan. Padahal akan kadaluarsa Juni 2008 nanti. Terlambatnya DIPA dari Deparemen Kesehatan mengakibatkan ke-30.000 Ora Quick Test Terancam Mubazir.

Menjadi daerah dengan angka kasus HIV tertinggi di Indonesia menjadikan Papua sebagai salah satu penerima bantuan proram HIV terbesar dengan jumlah bantuan mencapai jutaan Dolar Amerika. Salah satunya adalah bantuan 52. 000 Ora Quick Test untuk pemerintah Indonesia, dimana 30.000-nya untuk Provinsi Papua, sedangkan sisanya diperuntukan bagi Propinsi DKI Jakarta.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Ora Quick tes HIV Aids adalah reagen baru diperkenalkan di Indonesia. Kedudukannya nanti sama dengan dengan reagen reagen lain. Apa itu determine, apa itu SD, ataupun yang lainnya. “HIV rapid test- Ora Quick for oral fluid adalah reagen klinik yang biasa kita gunakan untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat cepat. Jika selama ini semua reagen menggunakan darah, maka Ora quick menggunakan cairan mulut. Stik uji hanya digosokan diantara gusi dan gigi lalu di celupkan di reagen saja, kita sudah dapat memperoleh hasilnya,” Kata dr. Bagus Sukaswara, Kepala Dinas kesehatan Provinsi Papua. Tidak seperti sampel yang menggunakan darah Kita tahu sendiri jika menggunakan darah berarti mememerlukan tingkat kemampuan yang lebih tinggi dari si paramedis, juga sampel darah memiliki resiko yang tinggi pula bagi paramedisnya.
Namun Itu baru screening test. Jika dinyatakan positif, maka Setelah itu harus dilakukan test lagi dengan tiga reagen lainnya. Namun Bagus menilai jika dilakukan pada suati wilayah yang luas, maka bisa menghemat waktu karena lebih praktis, lebih mudah dioperasionalkan dan lebih tahan terhadap cuaca. Sayangnya Ora Quick Test belum distandarsasi oleh Departemen Kesehatan RI maupun oleh WHO. “Kita belum menstandarisasinya. Apakah sama standarnya dengan determine atau dengan SD. Kalau sama kita bisa menggunakan sebagai pengganti. Jika tidak, kita tidak anjurkan,” lanjut Bagus.
Untuk itu selanjutnya akan dlakukan standarisasi bersamaan dengan aplikasi pertamanya nanti. Bagus menegaskan uji standarisasi bukan dilakukan orang per orang, tetapi bersamaan dengan yang standar, “Jadi bukan dicoba coba atau Papua digunakan untuk cocba coba. Jika ditanya kenapa Papua yang digunakan pertama kali selain DKI Jakarta ya.. jawabannya karena kemungkinan menemuinya kasusnya lebih besar dibandingkan dengan provinsi lain. Itu saja,” kata Bagus.
Kabar ini diterima para petugas VCT sebagai kabar yang sangat menggem-birakan. Karena selama ini untuk melakukan pemeriksaan seorang petugas VCT harus memanggil petugas laboratorium untuk mengambil sampel darah dan harus menunggu beberapa hari untuk memperoleh hasil. “Jika benar hanya menggunakan air liur saja tentu sangat memudahkan kami petugas VCT. Tapi apa benar air liur bisa mendeteksi adanya virus HIV/AIDS? Dan jika betul tentu akan mematahkan semua teori yang pernah kami pelajari selama ini,” ujar Conny Tan, S.Kep NZ saat ditemui diruang kerjanya di VCT Abepura.
VCT RSUD Abepura yang berada tepat di ruang unit Gawat Darurat (UGD) ini berdiri sejak Januari 2005 dan ditangani oleh 13 orang, yang terdiri dari 3 orang konselor, 2 orang lekonselor, 3 orang manager kasus, 1 orang administrasi, 3 orang dokter umum dan 1 orang suster. Sehari hari VCT sangat minim kedatangan pengunjung yang ingin memeriksa HIV/AIDS. “Biasanya mereka datang karena merasa berperilaku beresiko atau karena sudah terinfeksi TB paru meluas,” lanjut Conny. Ketika akan memeriksa petugas tidak ada atau reagen sedang kosong, terpaksa harus menunda pemeriksaan.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan, Ora Quick Test tidak memeriksa memeriksa ada virus HIV/AIDS, tetapi memeriksa ada tidaknya imunoglobulin. Dengan mengetahui ada tidaknya sistem imuno dapat diketahui apakah orang tersebut terserang HIV/AIDS ATAU tidak. Ora Quick Test juga bisa dilakukan dengan mengunakan darah, plasma dan serum .
Sayangnya 30.000 Bantuan Departemen Kesehatan RI yang tiba akhir Desember 2007 lalu hingga kini belum digunakan. Padahal ke 30.000 Ora Quick Test ini akan kadaluarsa (expired) JUni 2008 nanti. “Masalah teknisnya adalah DIPA dari Depkes hingga saat ini belum datang, jadi belum ada dana oprasionalnya alat ini. Mestinya jalan mulai Januari, namun saat ini belum jalan. Padahal selain melakukan test, standarisasi, kami juga harus meIaksanakan pelatihan, sayakawatir akan ada yang mubazir” ujar dokter Bagus. Dibandingkan tahun 2007 lalu yang tiba awal Januari, tahun 2008 dinilai benar benar terlambat.
Direktur Yayasan Pelayanan Kesehatan Masayarakat (YPKM) Papua, Tahi Butar Butar saat ditemui diruang kerjanya menjelaskan bahwa ORA Quick Test, adalah tes yang mengguji antibodi dengan menggnakan cairan tubuh. “Ada virus di ludah tapi tidak menularkan penyakit. Jika pengambilan dengan menggunakan darah pada dasarnya sama saja, yang tes juga anti bodynya. Hanya saja dengan Ora Quick Test sampel yang diambil adalah air liur,” ujar Butar Butar.
Menurutnya penggunaan Ora Quick Test lebih aman dan lebih baik dibandingkan darah karena mengurangi tingkat resiko. “Ora Quick Test dikeluarkan oleh Centre for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika, dengan spesifikasi sensintitifitas 93,3 % artinya untuk mendeteksi seseorang apakah terindentifikasinya sangat tinggi. Sedangkan Spesififitasnya 98,9 %. Hal ini dapat diartikan bahwa alat ini dikatakan cukup bagus,” katanya. Menurutnya Ora Quick Test sesungguhnya sudah dilakukan pengujian di Amerika tahun 1998 hingga januari 2003 dan diumumkan 2004 dan kemudian mendapatkan sertifikasi dari CDC tahun 2004.
Reagen ini sudah banyak digunakan di negara-negara maju, bahkan di Amerika sudah dipergunakan seperti testpack hamil yang dapat dipergunakan oleh siapa saja di rumah. “Kelemahan reagen ini kadangkala walaupun hasilnya positif, bisa terjadi positif palsu demikian juga sebaliknya, tetapi jika dilihat dari tingkat spesifikasinya. Tentu sangat kecil. Sehingga perlu dilakukan tes bertahap,” Lanjut Butar Butar. Namun jika dilihat dari keunggulannya yang mudah dibawa kemana-kemana dengan suhu 59 – 99 derajat Farenheit dan aman penggunaannya Oral Quick Test sangat baik.
Namun jika melihat ada 30.000 Ora Quick Test yang belum terpakai dan akan kadaluarsa Juni nanti, Butar Butar turut prihatin. “Ini tanda bahwa di Papua tidak siap dan dapat diakibatkan oleh banyak faktor, misalnya kemampuan tenaga laoratorium belum siap atau lainnya. Tapi jika reagen ini saja bisa kadaluarsa , berarti bukan saja reagen ini saja yang kadaluarsa, tetapi bisa saja reagen reagen lain, mengingat minimnya orang pergi ke VTC,” ujat Butar Butar.Menurutnya mengingat besarnya jumah reagen ini maka ia menyarankan agar Dinas kesehatan harus segera melakukan traning dan sosialisasi, di pusat pusat pelayanan HIV/AIDS baik negeri maupun swasta. K arena 30.000 Oral Quick test ini tentu memiliki harga yang mahal.
“Semakin cepat test dilakukan dengan berbagai macam reagen dan alat yang berkualitas, tentu harus diimbagi dengan promosi dan upaya upaya kepada masyarakatuntuk datang memeriksakan diri. Akan tidak berguna reagen adan alat-alat ini jika tidakk diimbangi dengan promosi perubahan perilaku dalam masyarakat,” ujar Butar Butar mengingatkan.Menurutnya Pemerintah dan masyarakat juga harus siap dengan ledakan kasus yang terjadi jika reagen ini habis semuanya dipergunakan, sehingga penting juga untuk mempersiapkan para pendamping. Sebab saat ini banyak kasus HIV positif yang ditemui di Rumah sakit diserahkan kepada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk mendapatkan dampingan.
Direktur YPKM menghimbau agar alangka baiknya jika pemerintah juga mempersiapkan pendamping demikian juga dengan rumah singgah. Sebab sampai saat ini rumah singgah di Jayapura hanya milik Jayapura Support Group dan milik YPKM. Di kota lain hanya ada di Wamena milik YPKM dan di Merauke. Sedangkan kota lain belum ada. “Daerah seperti Mimika yang memiliki tk penyebaran tertnggi tidak memiliki rumah singgah, untuk itu perlu perhatian yang lebih besar lagi karena pendampingan mulat diperlukan oleh etiap ODHA,” kata Butar Butar (Angel Flassy).

Iklan
%d blogger menyukai ini: