Sampan, Sungai dan Sagu; Nasib Kampung Atuka

JUBI – Pada umumnya kampung-kampung di daerah Mimika berada di pesisir pantai. Airnya keruh dan dangkal, lautnya selalu berombak sehingga selalu merubah garis pandai. Pantainya panjang luas dan indah dihiasi dengan pohon-pohon cemara dan kelapa. Jika ingin berjalan le-bih ke dalam, kita akan menemukan daerah berlumpur dan rawa. Di sana banyak pohon bakau. Sedangkan se-makin kita ke udik, tanahnya basah dan banyak ditumbuhi pohon-pohon sagu. Daerah sini merupakan dusun sebagai sumber hidup orang Mimika. Daerah sekitar udik banyak pohon-pohon yang biasa diproduksi seperti kayu besi, dll.

Hubungan satu tempat ke tempat lain melalui laut atau kali. Keadaan laut atau kali perlu perhitungan khu-sus. Jika melalui kali harus memperhitungkan air pasang dan surut. Air surut mengakibatkan kali kering sehingga perahu tak bisa lewat. Orang juga harus memperhitungkan arus ke mana agar perjalanan dengan perahu tidak membuat banyak waktu dan tenaga. Mereka mempunyai keahlian untuk memperhitungkan kapan air pasang dan kapan air surut serta ke mana arus itu pergi.
Hubungan melalui laut juga perlu perhitungan. Bila laut berombak atau bergelombang besar sangat berbaha-ya untuk dilalui. Perjalanan laut biasanya ditempuh saat laut tenang. Kekhususan orang Mimika biasanya mempergunakan layar pada perahu, dengan bantuan angin perahu itu melaju. Kekhususan ini hanya ada pada orang-orang di Mimika barat. Pada umumnya hutan di daerah Mimika berawa dan berlumpur. Pada waktu air pasang semua tempat terge-nang air sehingga mempermudah orang masuk dengan perahu. Alam sangat kaya. Dalam lumpur terdapat banyak siput dan kepiting. Di dataran kering terdapat bi-natang-binatang seperti babi, kasuari, dll. Dalam kali dan laut terdapat bermacam ikan. Tak lupa pula bermacam burung menghiasi udara.
Menyatu Dengan Alam, sebuah kata yang bisa menggambarkan suku Mimika atau Kamoro. Dalam setiap aktivitas hidup keseharian mereka sekeluarga hidup berpindah di tepi sungai-sungai besar. Menyusuri sungai dengan perahu khas ‘Kole-Kole’, menangkap ikan dengan jala dan pancing, mencari karaka atau kepiting di hutan bakau, menerabas hutan sagu untuk diolah menjadi makanan pokok dan menebang kayu untuk dijadikan perahu dan kayu bakar

Itulah aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan orang Mimika yang seolah tak pernah gentar dengan ganasnya sungai-sungai besar di pesisir pantai barat Papua. Hanya dengan bermodalkan sampan kecil bernama Kole-Kole, mendayung menyusuri sungai berliku/ mencari hidup dan mendidik anak untuk dapat bertahan hidup dari kerasnya alam. Peralatan lain yang ikut dibawa adalah parang, kampak jala, pancing atau dalam bahasa Kamoro disebut Wapuru Atau alat pangkur sagu dan Kawata, sejenis tombak untuk berburu atau berjaga dari serbuan binatang buas. Panci dan terpal plastik seadanya untuk berteduh. Tak pernah mengeluh walau dengan berbagai keterbatasan. Tetap bersemangat menjalani hidup. Bertelanjang badan bahkan tak jarang tanpa busana sama sekali bermain di pasir rawa atau sungai-sungai dan setelah itu membuat api, membakar sagu serta hasil buruan hari ini. Entah Karaka, Kerang, ataupun ikan. Sebuah gaya hidup yang sangat sederhana di alam yang tidak sederhana.
Dalam keluarga orang Mimika atau suku Kamoro dan suku Sempan, posisi kaum hawa sangat berperan penting dan memiliki fungsi ganda. Selain bertugas nengurus anak dan dapur, pekerjaan mencari makanan juga dilakukan para kaum perempuan. Misalnya menangkap ikan atau mencari karaka ataupun beternak.
Kaum Bapak atau laki-laki bertugas untuk berburu binatang misalnya Babi, serta pekerjaan berat seperti menebang pohon sagu lalu mengolah menjadi sagu, mengukir serta bertugas menjaga keamanan keluarga atau dulunya bertugas untuk berperang.
Orang Mimika senang akan seni musik. Mereka mempunyai banyak lagu-lagu dan bermacam-macam tarian. Mereka bergembira pada waktu pesta sambil menari dan menyanyi. Lagu-lagu selalu disesuaikan dengan pesta yang diadakan. Mereka mendirikan sebuah pondok sebagai tempat orang-orang dewasa pukul tifa sambil bernyanyi.
Selain seni musik, seni ukir juga mendapat tempat khusus dalam
masyarakat. Hasilnya antara lain mbitoro (patung yang besar, setinggi rumah), tongkat berukir, patung-patung kecil. Ukiran ini punya arti tersendiri.
Tidak sembarang orang boleh mengukir kecuali orang-orang tertentu yang mendapat hak warisan secara turun-temurun. Karena itu, seni ukir tidak begitu berkembang di Mimika. Semua keindahan alam tanah Kamoro kini hancur sudah, itulah yang diucapkan Pilipus Nimaipo seorang kepala suku Komoro. Betapa tidak, ketika kepada wartawan Pilipus mengatakan, “Dulu kami memiliki beribu-ribu hektar tanaman sagu namun kini berkurang dan dari pohon sagu yang ada pun telah hilang kelezatannya. Tinggal sagu yang tidak serasa sagu-sagu dulu. Kini rasanya berbeda dan dulu kami biasa menyimpan sagu dalam jangka waktu yang lama tapi kini belum satu bulan sagu sudah busuk dan rusak. Keawetan sagu sudah tidak ada lagi.’ tegasnya.
Daerah tersebut adalah desa Tipuka Distrik Mimika Timur. Konon daerah ini pernah mengalami banjir besar karena aliran-aliran sungai mengalami penyumbatan.
”Dulu tidak pernah banjir tapi tahun 2002 dikampung kami mengalami banjir besar karena terjadi penyumbatan aliran akibat limbah.” ungkapnya.
Banjir besar yang pernah mengancam kehidupan warga tersebut akhirnya menarik perhatian dari PT. Freeport Indonesia terhadap kelangsungan hidup warga Tipuka. PT. Freeport dalam merealisasikan perhatian tersebut telah berjanji akan memberikan bahan makanan kepada warga Tipuka.
“Pada awalnya perjanjian tersebut berjalan baik namun kini sudah jarang ada pemberian bantuan makanan tersebut.” tegasnya. Lebih jauh ia mengatakan perusahaan sudah tipu diatas tipu, areal kami sudah rusak, sungai kami sudah rusak, sedikit lagi kampung kami akan ada limbah, ungkapnya sedih.
Tentang hal ini, perusahaan tidak mau tahu dan CLO PT. Freeport sudah pernah melakukan pengontrolan tapi tidak ada tindakan konkret untuk menyelesaikan masalah ini.
“Makanan pokok kami sudah rusak, hidup kami hancur. Jika kini terjadi hujan secara terus menerus sepanjang satu atau dua malam maka, kampung kami akan banjir, dulu tidak seperti ini ’ ungkap Nimaipo.
Lebih dari itu, binatang seperti rusa, kasuari, babi semua sudah lari dari sekitar kampung mereka. Ikan yang dulunya menjadi lauk seperti ikan duri, ikan tawar dan lainnya, kini setelah dimakan oleh mereka, mereka merasakan gatal-gatal.
Karena perjanjian yang pernah diberikan oleh PT. Freeport kepada masyarakat tersebut tidak lagi disikapi serius dan makanan pokok sagu cepat rusak dan tidak awet lagi maka, untuk menyambung hidup, warga masyarakat Tipuka dengan jumlah 72 kepala keluraga ini terpaksa harus mengeluarkan ongkos yang lebih mahal dari sebelumnya.
“Kami harus makan untuk kelangsungan hidup kami selanjutnya untuk itu walaupun kami harus keluarkan 20 liter bensin sekali tokok sagu. Karena Kami harus pergi menokok sagu ke dusun yang lebih jauh.’ tegasnya.
Jika dihitung-hitung 1 liter bensin Rp 5000 rupiah dikalikan 20 liter
yang dibutuhan, maka Rp. 100.000 sekali jalan tokok sagu. Dan jika satu minggu 2 kali pergi maka biaya yang harus ditanggung untuk ungkos bensin selama satu bulan sebesar Rp. 800 ribu hanya untuk biaya transportasi. Bagi orang tertentu jumlah tersebut tidak seberapa, namun bagi warga Atuka yang kebayakan adalah petani tradisional dan tidak memiliki pendapatan sungguh sangat berat bukan kepalang.
Namun demikian, kepala suku tersebut telah mengakui bahwa PT. Freeport Indonesia telah membantu masyarakat dengan pemberian makanan kepada warga tersebut. Selain itu, sejumlah fasilitas telah dibangun Perusahaan.
“Freeport telah bangun fasilitas yang ada disini di banding pihak Pemerintah Daerah yang walaupun telah dibangun kantor kecamatan dengan perumahan karyawan namun hingga kini kami tidak tahu rimbanya.” ujar sang Kepala Suku.
Kantor camat itu satu bulan baru buka dan setelah satu-dua hari camatnya tidak berada di kampung’ tegas salah seorang warga setempat. Dari pantauan Jubi terlihat gedung kantor distrik yang berdiri gagah ditengah kampung. Namun rumput dihalaman gedung tersebut cukup lebat dan tingginya hampir menutup kantor megah bercat putih tersebut.
Terlihat kaca jendela telah hancur lebur. Gedung tersebut sangat tidak terawat dan itu menggambarkan bobroknya system pemerintahan dan pelayanan public yang macet.
‘Kami biasa urus surat ataupun KTP (kartu tanda penduduk, red) di Mapuru Jaya, padahal kami bukan warga disana. Hal itu kami lakukan karena Kepala distrik hanya berkantor satu bulan sekali.’ tegas Stevanus Nimaipo, seorang tokoh pemuda.
Selain itu kepada Tabloid ini Nimaipo mengakui bahwa dana satu persen yang selama ini dikucurkan hanya dinikmati oleh menejemen LPMAK
‘Kami peroleh dana satu persen perorang lima puluh ribu sampai seratus ribu untuk satu tahun dan jumlahnya ini tergantung banyak sedikitnya jumlah keluarga di satu desa untuk itu LPMAK yang makan uang itu.’ ungkapnya.

Dalam kondisi dan situasi kampung seperti itu apakah penyaluran dana seratus juta ke kampung-kampung akan berjalan lancar dan akan dirasakan masyarakat sasaran?
Yang jelas masyarakat membutuhkan perhatian serius dari semua komponen baik pemerintahan maupun swasta karena mereka sangat terancam. Makanan pokok mereka tercemar, kampung mereka sudah dikepung limbah dan pemerintah tidak melakukan pelayanan public kemasyarakatan dan PT. Freeport tidak lagi memberikan bantuan makanan kepada warga ini sesuai perjanjian yang pernah disepakati bersama
Atuka ku sayang- Atukaku malang bagaimana nasibmu nanti? (John Pakage/Victor Mambor)

%d blogger menyukai ini: