Bencana Tambang Emas Timika

Oleh: Willem Bobii, S.Si. (*)

Sebuah Bencana Sianida
Tulisan ini merupakan sebuah renungan “katakan sejujurnya ada bahaya radiasi” yang pernah dimuat di beberapa harian Pos di Papua salah satunya Pasific Post Jayapura, tulisan-tulisan lain tentang radiasi di Papua pos Nabire beberapa waktu lalu. Sianida Freeport menjemput kita dalam ruang bencana generasi yang diawali di Timika. “Bijih emas dapat ditambang dengan kualitas yang lebih rendah dibandingkan logam lainnya,” ujar Mike Wireman, spesialis tambang dari EPA cabang Denver.” Itu artinya tambang terbuka yang besar. Tapi, untuk mendapatkan keuntungan penambangan juga harus mudah dan murah, dan itu artinya penggunaan sianida.” Selain PT.Freeport Indonesia di Timika, sebagai gambaran jenis operasi pertambangan besar semacam itu dapat ditemukan di Yanacocha, sebuah tambang besar di Peru utara yang dikelola oleh Newmont. Di kawasan peternakan dan pertanian itu, bukit-bukit hijau telah dikeruk hingga yang tersisa adalah tanah-tanah pasir datar. yang lebih menyerupai wajah Amerika Barat daripada dataran tinggi Andes. Gunung-gunung dihancurkan secara sistematis, tanahnya diangkut oleh truk-truk sebesar rumah untuk ditimbun kembali menjadi gundukan bijih logam. Selang-selang irigasi lalu ditempatkan pada gunung-gunung baru buatan manusia tersebut. Setelah itu berjuta-juta galon larutan sianida akan mengaliri bebatuan tersebut selama bertahun-tahun. Sianida melarutkan emas sebelum dapat dipisahkan dan dilebur.
Sianida bukanlah satu-satunya pilihan. Tapi dianggap cara paling hemat biaya untuk mengambil kepingan-kepingan kecil emas yang halus. Menurut para penambang, keuntungan bisnis emas terlalu kecil, sedangkan cadangan emas dunia sudah terlalu sedikit untuk ditambang dengan cara lain.
Cara penambangan emas yang disebut cyanide heap leaching atau pencucian tumpukan dengan sianida adalah Cara penumpukan lebih murah seperti ujar Shannon W. Dunlap, manajer lingkungan di Placer Dome. “Bijih kami tidak dapat diuraikan tanpa pencucian tumpukan dengan sianida.” Banyak bebatuan yang telah dibongkar tersebut, yang terpapar hujan dan udara untuk pertama kalinya, juga menjadi sumber bom waktu lingkungan dengan ongkos pemulihan milyaran dollar. Sulfida pada bebatuan akan bereaksi dengan oksigen, menimbulkan asam sulfur.
Asam tersebut mencemari alam dan juga membebaskan logam-logam berat seperti kadmium, timah dan merkuri, yang berbahaya bagi manusia dan ikan, dalam konsentrasi rendah sekalipun. Reaksi berantai ini dapat berlangsung berabad-abad. Lihat saja limbah tailing begitu saja dibuang ke badan air yaitu ke sungai dan laut yang merupakan habitat udang, kerang, kepiting, ikan dan lainnya yang merupakan sumber mata pencaharian masyarakat setempat dan sumber makanan bagi masyarakat dan warga yang bermukim di Timika dan sekitarnya. Biota-biota sungai dan laut tersebut sebenarnya sudah terkontaminasi oleh logam-logam hasil reaksi Sulfida pada bebatuan dengan oksigen.
Banyak pejabat dalam Perusahaan tersebut, enggan menggunakan kata polusi, membantah bahwa sebagian besar yang mereka tinggalkan bukanlah limbah melainkan sekadar timbunan batuan. Menurut mereka, penambangan dengan pengelolaan terbaik memulihkan kondisi tanah dengan cara “menutupi” tumpukan batu dengan tanah dan menggunakan kapur untuk mencegah timbulnya asam. Tetapi, supaya diketahui bersama bahwa sulit mencegah polusi secara tuntas. Bahkan tumpukan bebatuan yang ditutupi, untuk mencegah masuknya udara dan air, dapat melepaskan zat-zat polusi terutama pada iklim basah. Itu perlu dicatat. Hentikan pembohongan data penelitian. Untuk membuktikan mari kita lakukan penelitian secara terbuka dari berbagai pihak tanpa penyodoman nafsu duniawi. Sianida juga dapat menimbulkan masalah jangka panjang. Banyak ilmuwan setuju sianida mengalami dekomposisi bila terkena sinar matahari dan tidak berbahaya bila sangat diencerkan. Namun, sebuah penelitian oleh Survei Geologis Amerika Serikat pada tahun 2000 mengungkapkan bahwa sianida dapat berubah menjadi racun lain dan menetap, terutama dalam iklim dingin. Dan ketika melalui proses kimiawi menahun sianida melepaskan emas dari bebatuan, logam lain yang berbahaya juga ikut terlepas.
Pernah terjadi beberapa kecelakaan besar yang berkaitan dengan sianida. Menurut laporan Program Lingkungan PBB (UNEP), dari tahun 1985 hingga 2000, lebih dari selusin waduk pembuangan limbah tambang mengandung sianida ambruk. Bencana terparah terjadi di Rumania pada tahun 2000, ketika limbah tambang tumpah ke sungai Danube, membunuh lebih dari seribu ekor ikan dan tumpahan sianida mengalir sejauh 1.600 mil ke Laut Hitam. Kebocoran itu menimbulkan tuntutan agar industri emas meningkatkan penanganan sianida. Setelah lima tahun berdiskusi, industri ini mengeluarkan aturan baru bulan ini. Peraturan ini menetapkan standar untuk pengangkutan dan penyimpanan sianida dan meminta para perusahaan untuk diperiksa oleh sebuah badan baru. Tapi peraturan tentang sianida ini bersifat suka rela dan tidak ditegakkan oleh pemerintah. Glenn Miller, profesor ilmu lingkungan di University of Nevada, mengatakan peraturan tersebut tidak mampu menjawab salah satu pertanyaan terpenting namun kurang diperhatikan tentang pertambangan, yaitu: Apa yang terjadi bila tambang tutup? Itulah pertimbangan watak penjajah!

Bencana di Rocky Mountain
Sebuah jawaban dapat ditemukan di suatu kawasan pedesaan yang berbatu-batu di bagian timur laut Montana, yang dikenal sebagai Little Rocky Mountains. Di sana Dale Ployhar sering datang ke lereng gundul di sekitar bekas tambang emas Zortman-Landusky untuk menanam tunas-tunas pinus di lereng bukit sepi yang hanya ditumbuhi rerumputan. “Saya membawa biji pinus dan menyebarkannya di sini, mudah-mudahan dapat tumbuh kembali,” ujarnya, seraya memandang kota kecil Zortman yang hanya berpenduduk 50 jiwa.
Ketika dibuka pada tahun 1979, Zortman-Landusky adalah penambangan terbuka dengan sianida berskala besar pertama di Amerika Serikat. Jejaknya masih tercetak pada lingkungan, jiwa penduduk dan politik di Montana hingga hari ini. Berbagai bencana yang terjadi di sana – meliputi kebangkrutan, ilmu pengetahuan yang buruk, kerusakan lingkungan dan kesenjangan peraturan – menjadi pertanda jalan berisiko yang telah ditempuh industri emas selama ini, demikian pandangan para ahli pertambangan, pejabat pemerintahan dan ahli lingkungan. “Banyak kegetiran yang tersisa,” kata Ployhar, 65 tahun, seorang operator alat berat. Anak lelakinya membeli sejumlah bidang tanah bekas tambang yang dilelang akibat bangkrut empat tahun lalu. Sejumlah ahli tambang mengatakan Zortman-Landusky – gabungan dua tambang terbuka di desa Zortman dan Landusky yang bertetangga – memberi pelajaran penting tentang bagaimana penggunaan bahan kimia dalam pertambangan bekerja, dan kegagalannya.
Penambangan dengan sianida berisiko bahkan pada kondisi terbaik. Di Zortman, perusahaan membuat kesalahan dengan membangun timbunan sianida di atas bebatuan yang berubah menjadi asam. Sianida dan asam bercampur menjadi larutan racun yang merembes dari gundukan. Penambangan berhenti pada tahun 1996, dan dalam pernyataan publik pada tahun berikutnya pejabat perusahaan bersikeras bahwa mereka ingin menjadi warga korporasi yang bertanggung jawab dan akan membersihkan wilayah tersebut. Namun harga emas saat itu jatuh menjadi $280 per ounce. Pegasus pun tutup. “Kasus itu menjadi salah satu contoh yang terburuk di Montana,” ujar Wayne E. Jepson, manajer proyek Zortman pada Montana Department of Environmental Quality. “Akan tetapi, bahkan hingga akhir 1990-an, salah satu penelitian terhadap tambang Landusky mengungkapkan tidak terdapat asam dalam jumlah berarti.” Risiko lingkungan dari tambang batuan keras sering disepelekan dan tidak diberitakan, demikian menurut dua penelitian terbaru.

Dampak Mutu Air

Robert Repetto, seorang ahli ekonomi dari University of Colorado, memeriksa 10 tambang di dalam dan di luar Amerika Serikat yang dikelola oleh perusahaan-perusahaan publik. Dalam laporannya yang terbit bulan Juni diungkapkan, hanya satu perusahaan yang menyampaikan secara lengkap tentang “risiko dan tanggung jawab” kepada pemegang saham. Kelompok lingkungan, Earthworks, meneliti 22 tambang untuk sebuah laporan yang akan diterbitkan pada bulan November. Hampir semuanya mempunyai masalah tentang air, sehingga kelompok tersebut menyimpulkan “dampak mutu air hampir selalu disepelekan,” sebelum penambangan dimulai. Pada awal 1990-an, seorang konsultan EPA dan mantan praktisi pertambangan, Orville Kiehn, dalam sebuah memo kepada bosnya memperingatkan bahwa perusahaan tidak menyediakan cukup dana untuk pengolahan air limbah.
Kasus seperti ini terbukti biasanya tidak mendapat tanggapan. Sehingga badan lingkungan memiliki otoritas hukum yang kecil untuk melindungi masyarakat dari penambangan yang sedang beroperasi, kecuali dengan mengajukan tuntutan hukum. Seperti misalnya dilakukan oleh badan lingkungan pada tahun 1995 ketika Pegasus terbukti melanggar standar federal tentang air bersih. Permasalahan tentang air yang beberapa waktu lalu dikeluhkan oleh beberapa Pejabat Eksekutif dan legislative Kabupaten Timika menjadi prioritas untuk meningkatkan dan memperluas unit pengolahan air.

(*) Alumnus FMIPA, Universitas Sebelas Maret, Surakarta

%d blogger menyukai ini: