Women’s Day : Aliansi Perempuan Menggugat

JUBI – Hari Perempuan Sedunia atau Internasional Women’s Day yang selalu diperingati pada 8 Maret lalu juga dirayakan di Kota Jayapura. Aliansi Perempuan mengisi acara itu dengan melalukan berbagai kegiatan antara lain orasi, tabur bunga dan teater seputar HIV/AIDS di Papua.

Sesuai data dari Dinas Kesehatan Propinsi Papua untuk triwulan III Sepember 2007 sudah terdapat 3434 orang yang terinfeksi HIV/AIDS. Menurut Fenomena gunung es, jumlah sebenarnya bisa mencapai 28.000 jiwa, hal ini tentu sungguh memprihatinkan.
Dari data itu mayoritas yang terinfeksi adalah kaum perempuan, di mana 21 persen dari jumlah yang terinfeksi adalah para ibu rumah tangga. Angka ini jauh melebihi angka Penjaja Seks Komersial (PSK) yang hanya berkisar 10 Persen.
Melihat perkembangan dan penularan penyakit kelamin yang mematikan ini Aliansi Perempuan menyatakan kekecewaan terhadap penaggulangan HIV/AIDS di tanah Papua. Pasalnya dalam penanggulangannya hanya menitik beratkan pada sebatas kampanye informasi dan edukasi (KIE) dan mereka menilai kegiatan itu terlalu memboroskan sumberdaya yang ada.
Selain itu Aliansi Perempuan Menggugat kecewa terhadap adanya stigma dan diskriminasi yang dialami oleh saudara-saydara yang terinfeksi atau ODHA.
“Peningkatan drastis Kasus HIV/AIDS sejak ditemukannya hingga saat ini sudah masuk dalam ketegori Generalize Epidemic ( > dari 2 persen jumlah Penduduk).Tetapi dapat kita lihat penagulangannya saat ini hanya sebatas slogan yang tidak mengena pada semua masyarakat.” ujar Fauzia HR kordinator aksi Perempuan Menggungat.
Bertitik tolak dari penanganan masalah HIV/AID di tanah Papua Ester Burako dari Pokja Perempuan Foker LSM Papua yang ditemui Jubi mengatakan perempuan sebagai pelanjut generasi yang melahirkan generasi tentu harus mendapat perlakuan dan perhatian khusus. “Dapat kita bayangkan apabila perempuan ini tertular penyakit yang mematikan ini bagaimana kelanjutan dengan kehidupan yang akan datang oleh karena itu perlu ada keterlibatan semua pihak,” ujar Burako.
Ditegaskan sebaiknya Pemprov Papua segera menetapkan raperdasi tentang tentang pencegahan dan penaggulangan HIV/AIDS seta infeksi menular seksual.
“Dalam pengendalian HIV/AIDS tentu mungkin dilakukan secara sendiri-sendiri dalam hal ini perempuan yang berteriak sendiri, tetapi marilah semua pihak untuk ikut terlibat secara nyata,” ujar Burako. (Yunus Paelo)

Iklan
%d blogger menyukai ini: