Satelit Rusia di Biak Tetap Jalan, Bagaimana Dengan Masyarakat?

JUBI – Direktris Yayasan Beatrix, Ny Ir Salomi K.N. Mauboy mengatakan proyek peluncuran satelit Rusia di Biak merupakan perjanjian antar negara (MoU) antar Presiden Indonesia dengan Presiden Rusia sehingga sulit untuk dibatalkan atau pun digagalkan. Pasalnya masyarakat juga harus bersiap diri kalau memang benar benar proyek itu dilaksanakan.

“Saya melihat proyek ini melibatkan pimpinan negara sehingga sangat sulit untuk digagalkan sehingga yang terpenting di sini bagaimana masyarakat menyikapi kehadiran program tersebut dan memperkuat posis tawar terutama program ke depan. Pasalnya kalau tidak ada kesiapan bagi masyarakat sudah tentu akan terus dikorbankan,”ujar Salomi KN Mauboy kepada Jubi di ruang kerjanya Samofa Biak belum lama ini.
Sementara itu beberapa waktu lalu di Biak sebanyak masyarakat adat di Kabupaten Biak Numfor,Papua, pada tanggal 5 Maret lalu di Biak, berdialog dengan anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Nur Cholis terkait dengan program peluncuran satelit Rusia tahun 2010.
Dalam pertemuan itu Ny Alama Mampioper mengatakan, pihaknya sangat khawatir dampak dari peluncuran satelit Rusia karena mengancam kehidupan lingkungan masyarakat adat yang berdiam di areal bandara Frans Kaisiepo.
Senada dengan Mama Alama, Ibu Rumbiak, warga Kampung Amroben, Distrik Biak Kota mengakui, masyarakat yang tinggal dekat kawasan bandara Frans Kaisiepo Biak yang dijadikan tempat peluncuran satelit Rusia merasa was-was dengan rencana itu.
Terlepas dari keberatan mau pun kekhawatiran masyarakat Biak dan sekitarnya ternyata proyek ini tetap akan berlangsung sebab Dubes Rusia di Indonesia Alexander Ivanov untuk berkunjung ke Biak selama beberapa hari dan berdiskusi dengan tokoh tokoh adat mau pun Muspida Kabupaten Biak Numfor. Ivanov mengunjungi lokasi eks hotel berbintang empat Marauw, Rumah Sakit dan juga memberikan beasiswa pendidikan kepada masyarakat adat.
Menurut catatan Jubi investasi program peluncuran satelit dari udara yang dilakukan Airlunch Aerospace Corporation Rusia di Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua, pada 2010 mencapai 31 hingga 40 juta dolar AS. Sedangkan total nilai investasi program peluncuran satelit peluncuran satelit Rusia itu secara keseluruhan berkisar 200 juta hingga 250 juta dolar AS.
Pemerintah Kabupaten Biak Numfor melalui Bappedanya terus melakukan sosialisasi tentang program melalui banner dan iklan di pertigaan lampu merah Biak, Ringkasan Sistem Peluncuran Satelit antara lain,
1. Bandara Frans Kaisiepo Biak hanya digunakan sebagai landasan pacu pesawat Antonov 124 dan fasilitas penunjangnya.
2. Roket dan satelit tidak diluncurkan dari Pulau Biak melainkan di perairan International minimum 400 KM dari Pulau Biak.
3. Pesawat, roket dan satelit menggunakan bahan bakar ramah lingkungan.
4. Bahan bakar yang digunakan tidak beracun dan tidak beradiasi nuklir yaitu oksigen cair dan kerosine( minyak tanah).
5. Operasi peluncuran roket dan satelit di perairan International (Lautan Pasifik) hanya dapat disaksikan melalui layar monitor/TV.

Memang kampanye dan sosialisasi program satelit di Biak kelihatannya tidak terlalu membahayakan bagi warga sekitar lokasi peluncuran dan jauh sekitar 400 KM dari Pulau Biak. Sebab, Kamis, 6 September lalu, roket Proton-M milik Rusia yang membawa satelit komunikasi Jepang meledak sesudah lepas landas dari pangkalan Baikonur di Kazakhstan, pukul 2: 43 dini hari waktu Rusia. Roket itu meledak setelah gangguan mesin dan gangguan dalam pelepasan tingkat dua roket itu, 139 menit setelah terbang, dan jatuh di stepa Kazakhstan, 50 km sebelah tenggara Kota Dzhezkazgan (RIA Novosti, 7 September 2007). (Dominggus A. Mampioper dari berbagai sumber)

Iklan
%d blogger menyukai ini: