Rumah Sakit LPMAK Minim Tenaga Kerja Asli Papua

Rumah Sakit LPMAK Minim Tenaga Kerja Asli PapuaJUBI, Timika – Kemajuan suatu rumah sakit tergantung kepada sumber daya manusia dari para stakeholder. Ungkap Sekertaris Eksekutip Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro ( LPMAK) John Nakiaya beberapa waktu lalu kepada tabloid ini ketika ditanya tentang pengembangan dan kemajuan pengelolahan RSMM.

Lebih jauh misalnya Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) sudah mulai menunjukan kemajuan dengan terlaksananya program pelayanan medis umum dan spesialis kepada masyarakat antara lain : bedah, perawatan anak, persalinan, penyakit dalam, pemeriksaan dan operasi mata, patologi klinik dan anastesi. Terlaksananya program HAART (Highly Active Antitroviral Treatment) bagi pasien HIV/AIDS. Selain itu penemuan obat malaria terbaru, yakni Artekin/Artesunate, sebagai hasil penelitian bekerjasama dengan Menzies School of Australia dan BALITBANGKES (Badan Penelitian Pengembangan Kesehatan) Departemen Kesehatan RI. Kemajuan lain terlihat ketika RSMM mengontrak Konsultan PERDHAKI/HCM Excellence untuk menyusun sebuah konsep business plan RSMM. Telah dilaksanakan pengembangan manajemen rumah sakit antara lain : Penguatan komite medis dan asuhan keperawatan yang berkelanjutan serta persiapan akreditasi rumah sakit serta memperbaiki implementasi sistem informasi kesehatan. Laporan keuangan dan statistik rumah sakit sudah berjalan dengan baik, tepat waktu
menerapkan penggunaan kartu identitas berobat bagi pasien tujuh suku(Amungme, Kamoro, Damal, Mee, Moni, Nduga dan Dani)’ akunya.
Kemajuan dalam proses pengembangan rumah sakit lambat laun semakin dirasakan oleh para petugas dilapangan. Hal ini telah dicapai karena Peningkatan sumber daya manusia sedang dalam pengembangan melalui berbagai kegiatan pembinaan maupun program studi bagi karyawan. Kemajuan dan terpopulernya nama Rumah Sakit Mitra Masyarakat ini juga disebabkan karena ada sumbangsi besar dan positif dari Ring Papua pada unit RSMM.
Mengapa tidak, ternyata Ring Papua cukup berperan dan berhasil terutama dalam menyelesaikan sejumlah persoalan antara pihak menejemen dengan para pekerja yang tergabung dalam wadah Ring Papua. Keberhasilan Ring Papua terutama karena bentuk pendekatan dari para pengurus ring Papua terhadap anggota mereka yang dianggap bermasalah. Terutama masalah disiplin kerja yang kurang.Dalam penyelesaian persoalan Ring Papua bertindak sebagai mediator antara pihak menejemen dengan karyawan RSMM. “Sebagai fasilitator kami melakukan bentuk pendekatan dari hati kehati dan pendekatan langsung kepada anggota, kami mengunjungi bahkan kadang kami menjemput teman kami yang bermasalah dirumahnya untuk menanyakan sebab musebabnya permasalahan, setelah kami mengetahui kami mencari solusi yang terbaik, jika persoalan tersebut melibatkan antara pihak menejemen dan karyawan, maka kami berusaha mempertemukan kedua belah pihak agar dicari solusi bersama’ tegas ketua Ring Papua Maria Florida Kotorok.
Bentuk pendekatan dalam proses penyelesaian masalah ini dilakukan sesuai dengan motto Ring Papua. ‘ kami berpegang pada motto kami yaitu Saling merangkul untuk Maju, itu menjadi pedoman kami sejak berdirinya Ring Papua ini’ tegas Maria. Masih menurut Mey begitu nama yang disapanya, sejak tahun 2002 Ring Papua telah kami bentuk, pembentukan wadah ini berawal dari ide Direktur Yayasan Caritas Thomas Murdjito (Kini telah pensiun. Setelah dibentuk sempat ring Papua tidak berjalan karena kesibukan badan pengurus dan akibatnya terjadi kevakuman pengorganisasian selama 2 tahun. Dari berjalannya waktu dan karena wadah ini dianggap penting dalam pengembangan rumah sakit terutama karena sering mengalami sejumlah persoalan antara karyawan dengan menejemen maka diadakan pemilihan dewan kepengurusan baru. Akhirnya Januari 2004 terbentuk kepengurusan baru. Sejak dibentuk hingga kini sudah berusia 2 tahun program kerja satu demi satu mulai teraplikasi. Sebagai mediator ring Papua menjadi corong dari karyawan orang Papua di RSMM selalu menghendaki adanya pemberdayaan dan penambahan tenaga kerja Papua sesuai kebutuhan, selain itu wadah ini juga berusaha mengimbangi agar tidah hanya menuntut hak-hak bagi karyawan lokal namun juga menjujunjung tinggi serta menjalankan kewajiban karyawan dengan mematuhi aturan yang berlaku.
Lebih dari itu ring Papua memahami bahwa pihak menejemen adalah ‘mitra kerja’ untuk pengembangan dan pelayanan kepada masyarakat yang berobat. “Kepuasan para pelanggang (pasien) adalah harapan kami, sehingga kami berupaya semampu kami untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi antara pihak manajemen dan karyawan agar persoalan ini tidak menjadi penghambat pelayanan kepada masyarakat’ tegas Mey. Lebih lanjut ‘ awalnya wadah ini belum diakui oleh pihak manajemen dan kami sering kali dianggap sebagai wadah ilegal dari pihak manajemen sehingga dianggap tidak perlu ada di lingkungan RSMM bahkan dianggap wadah yang tidak penting dalam proses pengembangan demi pelayanan, padahal kami justru berada untuk berperan ganda dalam menyelesaikan persoalan yang terjadi dan sekaligus ini kami membantu tugas dari pihak menejemen. Kami sangat paham akan pentingnya pengembangan RSMM kedepan namun kami hanya dibutuhkan pihak manajemen ketika ada persoalan dari karyawan orang Papua, bahkan kami kadang dijadikan semacam tameng, padahal kami tetap propesional dan tetap royal kepada pihak menejemen sesuai dengan aturan yang berlaku, kami menghendaki agar pelayanan kami memuaskan semua orang, itu kewajiban dan untuk itu kami ada dan bekerja namun ketika hak-hak kami tidak lagi diperhatikan maka karyawan yang bernaung dibawah wadah Ring Papua RSMM berharap agar pengurus memperhatikannya dan melaporkan hal tersebut kepada pihak menejemen. Perjuangan kami kini sudah ada hasil yang bisa kami rasakan, kini anggota ring Papua sudah ada yang menjadi kepala bagian, selain itu hasil lain misalnya sudah ada yang melanjutkan studi baik di Papua maupun diluar papua dibawah tanggungan RSMM dan LPMAK, ini kami bangga, selain itu kedepan ring Papua berharap agar dalam proses perekrutan karyawan wadah ini dilibatkan. Kami sudah mengusulkan kepada pihak manajemen agar perekrutan pada tingkatan non skil harus orang Papua.
Lain halnya yang berkaitan dengan skil namun tetap ada porsi untuk orang Papua. Ring Papua memiliki visi sebagai mitra kerja antara karyawan dengan manajemen dalam mengembangkan sumber daya manusia Papua secara bertanggungjawab, berkesinambungan dan bermartabat. Misi wadah ini adalah meningkatkan ketrampilan karyawan Papua, menjadi media komunikasi antara karyawan dengan menajemen RSMM, meningkatkan kesejahteraan karyawan Papua’ ungkap Kotorok. Struktur wadah ini terdiri dari 2 orang penasehat, 3 orang pengurus inti (ketua, sekertaris dan bendahara), dilengkapi dengan 2 orang pembina dan juga bidang kerohanian dan usaha dana. Ternyata wadah ini juga memiliki kriteria bagi anggotanya, kriteria menjadi anggota wadah ini adalah pertama ia harus orang papua asli, kedua campuran darah dan ketiga, bagi orang non papua yang lahir besar di Papua dan diakui oleh masyarakat setempat sebagai orang papua. Secara otodidak wadah ini juga mengadakan sejumlah kegiatan sosial seperti memberikan bantuan bagi kaum lemah terutama dalam memberikan sumbangan pakaian yang layak pakai kepada sesama. “ kami memberikan bantuan sosial ini atas inisiatif kami sebagai mahluk sosial, kami kumpulkan pakaian layak pakai dari seluruh anggota Ring Papua dan kami salurkan kepada mereka yang membutuhkannya’ ungkap perempuan yang masih single ini. Dalam perkembangannya RSMM yang pada awalnya hanya didukung oleh 16 orang tenaga dokter, terdiri dari dokter umum 12 orang, dokter gigi 1 orang dan dokter spesilis 3 orang. Sedangkan tenaga medis berjumlah 184 orang terdiri dari para medis perawatan 132 orang, bidan 19 orang, paramedis non perawatan 33 orang. Selain itu dipekerjakan tenaga non medis berjumlah 109 orang terdiri dari sarjana 13 orang, lain-lain sebanyak 96 orang.
Namun telah terjadi kemajuan secara pasti dari waktu kewaktu. Dari Data yang diperoleh menunjukan bahwa permaret 2006 tidak ada tenaga medis orang papua, sedangkan non papua terdapat 16 orang, untuk tenaga para medis karyawan 24 orang papua, sedangkan 122 orang non papua dan jumlah 146, untuk tenaga penunjang medis terdapat 2 orang Papua asli dan 34 orang non papua, dan tenaga non medis 39 orang asli Papua dan terdapat 70 orang non Papua, dengan demikian jumlah karyawan orang asli Papua 65 orang dari 307 karyawan RSMM. Walaupun secara kwantitas karyawan orang Papua masih kurang, namun Ketua Ring Papua RSMM mengatakan bahwa tak dapat disangkal bahwa keberadaan PT Freeport Indonesia (PTFI) telah membantu mempercepat proses pembangunan masyarakat pribumi di Kabupaten Mimika pada khususnya dan masyarakat lainnya di Provinsi Papua pada umumnya. Masyarakat telah menikmati pengobatan gratis di RSMM yang dikelola oleh YCT (Yayasan Caritas Timika). Fasilitas pendukung di RSMM terdiri dari Unit Gawat Darurat (UGD), bangsal bedah, bangsal anak, bangsal penyakit dalam, bangsal kebidanan, ruang rawat insentif dan neonatal ICU.
Kedepan Ring Papua tetap optimis dan eksis dalam perjuangan membantu manajemen RSMM sebagai mediator antara karyawan Papua dan pihak menejemen untuk itu berharap agar Ring Papua dimanfaatkan (didukung, diakui dan dilibatkan) oleh pihak menejemen dalam pengembangan RSMM kedepan. Dalam waktu yang tidak terlalu lama akan diadakan pemilihan badan pengurus Ring Papua RSMM yang baru dan kedepan berharap kepada pihak menejemen agar ada dukungan dana operasional Ring Papua dan Sekertariat tetap. Semoga wadah yang bermasa bakti 2 tahun ini tetap eksis dalam pengembangn dan karya pelayanannya. (John Kristian Pakage)

Iklan
%d blogger menyukai ini: