Jika Kota Berulang Tahun, Mama-Mamapun Ditertibkan

Jika Kota Berulang Tahun, Mama-Mamapun DitertibkanJUBI – Siang itu, Kamis 28 Februari mama Yakoba, 65 tahun hanya dapat mengurut dada ketika petugas satuan Polisi Pamong Praja (satpol PP) Kota Jayapura membongkar paksa lapak miliknya di jalan raya Kelapa dua Entrop Kota Jayapura. Bangunan kayu berukuran 1,5 x 1,5 meter yang berada diatas selokan itu habis diterjang martil milik petugas.

Siang itu ia berdagang buah pinang, sirih dan sejumput kapur, tiga bahan untuk tradisi makan pinang orang Papua yang dilakukan oleh hampir sebagian besar masyarakat Papua. “Habis sudah modal saya. Padahal baru kemarin saya mengambil kredit di Primkopad (koperasi angkatan darat). Jika tahu begini jadinya, saya tidak ambil kredit dulu,” ujarnya sambil mengumpulkan sisa sisa dagangannya yang dapat Ia selamatkan. Ia tak tahu bagaimana mesti membayar tagihan kredit sebesar Rp. 5000 per hari yang harus ia bayar mulai hari ini hingga 22 hari kedepan.
Satu buah pinang, sepotong sirih dan sedikit kapur ia hargai dengan Rp. 1000. Tumpukan yang lebih besar dihargai Rp. 5000. “Untungnya sedikit saja, satu hari hanya sekitar Rp. 20.000 sampai Rp. 30.000. Dikurangi kredit Rp. 5000 sisanya itu sudah penghasilan mama,” kata Yakoba. Dagangan pinang ia beli di pasar Yotefa Abepura, kira kira 10 kilometer dari rumahnya. Namun jika air laut sedang surut di pagi hari, mama akan berjualan kerang. Biasanya pagi pagi sekali ia dan anak perempuannya mencari kerang di sekitar pohon bakau pantai Hamadi, 2 kilometer dari rumahnya yang berada di belakang kompleks angkatan laut kelurahan Hamadi, Kota Jayapura. Siang harinya Ia menjualnya di lapak ini juga.
Namun sudah seminggu ini petugas satuan Polisi Pamong Praja (satpol PP) Kota Jayapura melakukan penertiban di sekitar Kota Jayapura. Mulai dari ujung Dok IX Distrik Jayapura Utara hingga ujung kota Waena Distrik Abepura yang berbatasan dengan kabupaten Jayapura.
“Ini semua kami lakukan untuk memperingati HUT Kota Jayapura ke – 95. Dengan begitu saat ulang tahun 7 Maret nanti Kota Jayapura terlihat lebih bersih,” ujar Kepala sub dinas satuan polisi pamong praja Kota Jayapura, Fredrik Budiman yang ikut melakukan penertiban ini. Tahun ini ulang tahun Kota Jayapura memang dilaksanakan cukup meriah. Mulai dari pertandingan sepak bola, lomba celoteh anak, karnaval anak sekolah yang dilaksanakan disetiap distrik hingga gerak jalan yang melibatkan seluruh unsur masyarakat, diselenggarakan pemerintah Kota Jayapura sepanjang bulan ini.
Banyaknya lapak liar, maupun pedagang kaki lima yang berjualan di sepanjang jalan raya bukan hal yang baru bagi Kota Jayapura, bahkan sudah menjadi masalah tahunan di kota ini. Untuk Kota seluas 940 km2 dengan jumlah penduduk 200.360 jiwa Kota Jayapura hanya memiliki 4 pasar permanen, yaitu pasar Tanjung Ria (distrik Jayapura Utara), Pasar Hamadi (distrik Jayapura Selatan), pasar Entrop (distrik Jayapura Selatan) dan pasar Yotefa (distrk Abepura). “Namun yang aktif terpakai saat ini hanya dua pasar yaitu pasar Tanjung Ria yang baru diresmikan akhir tahun lalu dan pasar Yotefa. Pasar Hamadi sedang dalam proses pembangunan setelah terbakar tahun 2007 lalu sedangkan Pasar Entrop tidak terpakai karena sedang dalam penataan,” ujar kepala dinas Pasar Kota Jayapura, Partono HS.
Minimnya pasar permanen ini kemudian menyebabkan munculnya pasar pasar penyangga yang dipergunakan oleh para penjual untuk menjajakan dagangannya. Mama Yakoba adalah satu dari ratusan pedagang kaki lima yang tersebar di kota ini, yang didominasi oleh mama mama papua. Sehari hari mama mama pedagang ini menjual sayur mayur, ikan, ikan asar ataupun pinang beralaskan karung. Mereka tersebar di beberapa tempat seperti di halaman parkir Supermarket Gelael, jalan matahari samping Bank Mandiri Kota Jayapura, Cigombong Abepura, tepi lapangan Trikora Abepura, Expo Waena dan Perumnas III Waena “Mama mama ini dikelompokkan dalam dua kategori. Yang pertama pedagang musiman, artinya mereka berdagang hanya sewaktu waktu saja ketika ada panen hasil kebun, dan kelompok yang kedua adalah pedagang permanen, kelompok ini sudah memiliki modal, mereka biasanya membeli dagangan dari petani lain. Namun kedua kelompok ini melakukan dengan sangat tradisional dan dengan modal yang kecil pula,” ujar Rika Korain, dari Sekretariat Keadilan dan Perdamaian (SKP) Keuskupan Jayapura yang melakukan penelitian tentang mama mama Papua ini pada tahun 2006 lalu.
Dari sistem dan strategi dari 314 responden penelitian SKP Keuskupan Jayapura, 59 responden membeli dari Pasar sentral Yotefa, 49 responden yang berjualan dengan bergantung dari hasil kebun sendiri, sedangkan yang menambah dagangan dengan membeli di pasar sedikitnya ada 26 responden dan 9 responden mengaku berjual beli dengan pedagang disekitarnya.
Dari lama berjualan mama mama Papua ini bervariasi, dari 314 responden jumlah yang paling besar adalah 6 – 10 tahun sebanyak 97 orang, 11 – 15 tahun sebanyak 27 orang, 16 – 20 tahun sebanyak 10 orang dan lebih dari 20 tahun sebanyak 7 orang. “Ini menunjukkan bagaimana mama ini bertahan dan tetap eksis, karena ternyata pekerjaan ini mampu menghidupi keluarga mereka. Sebab itu mereka sampai mati matian mempertahankan lokasi penjualannya, walau harus berusurusan dengan sat pol PP,” lanjut Rika. Rata rata berjualan di pasar merupakan pekerjaan pokok, hasilnya dipegunakan untuk kebutuhan sehari hari,berobat maupun biaya pendidikan. Dari data penelitian SKP Jayapura, rata rata penghasilan mereka dari 314 responden, 62,42 persen atau 196 orang berpenghaslan Rp. 10.000 – Rp. 50.000 per hari. 23, 57 persen atau 74 responden memiliki pendapatan Rp. 60.000 – Rp. 150. 000 , lalu 6,69 persen atau 21 responden berpenghasilan Rp.160.000 – Rp. 310.000 dan 7,32 persen atau 23 responden berpenghasilan Rp. 310.000 – Rp. 500.000 perhari.
“Sementara pedagang lain menunjukkan kemajuan yang pesat dalam rentang waktu yang lama sekitar 30 tahun, mama mama ini tidak mengalami perubahan berarti. Walaupun pemerintah menyediakan pinjaman lunak lewat Bank Papua, namun mayoritas mama papua meminjam uang dari PRIMKOPAD, koperasi miliki angkatan darat dengan pembayaran setiap hari sesuai kesepakatam, atau dari BPR (Bank Perkreditan Rakyat)” lanjut Rika. Hal ini disebabkan panjangnya birokrasi dan tidak terakomodirnya pedagang musiman dalam mendapat kredit Bank karena salah satu syarat adalah berdagang secara tetap.
Menurutnya kesenjangan ini kemudian mulai menimbulkan konflik, “Mama mama selalu ingin memiliki tempat berjualan yang diijinkan pemerintah tanpa kawatir diusir sat pol PP atau tergusur pedagang lain. Untuk itu kami, teman teman LSM dan Aliansi Mahasiswa Peduli Kemanusiaan sudah beberapa kali melakukan dengan pendapat dengan anggota DPRD Kota Jayapura maupun DPR Provinsi Papua untuk meminta tempat yang pantas bagi mama mama ini sebelum mereka digusur dari tempatnya berjualan saat ini, karena mereka adalah tulang punggung keluarga mereka,” lanjut Rika. Menurut Rika, mama Pedagang sering kali tergusur adalah mereka yang berjualan secara musiman. Jika tidak sedang berjualan, tempatnya menjadi kosong. Tempat ini kemudian diisi pedagang tetap dengan membawa meja. Ketika mama-mama datang berjualan, tempat ini sudah terisi iapun tergusur ke tempat yang tidak strategis dan lama kelamaan tak memiliki tempat berjualan sama sekali.
“Dengan memiliki pasar, mama mama dapat menyimpan barangnya di lapak milik mereka. Tidak seperti sekarang,setiap hari mereka harus bolak balik pasar dan rumah dan dengan begitu mereka menghabiskan banyak uang transport dan juga tenaga, ujar Rika.
Untuk itu pihaknya sudah melakukan dengar pendapat dengan walikota, DPRD Kota Jayapura, DPR Papua, MRP dan juga menyurati secara resmi kepada gubernur Papua. Walaupun semua menunjukkan setuju dengan pendapat mereka tentang pentingnya pasar ini, namun menurut Rika hingga saat ini belum ada tindakan nyata. “Kami melakukan dengar pendapat mereka sudah mengetok palu, mereka menjanjikan akan memasukkan itu pada bulan Juni nanti pada saat perubahan tahun anggaran 2008. Ini hasil yang lebih maju jika dibandingkan tanggapan pemerintah Kota Jayapura yang sangat minim. Pada pembicaraan terakhir mereka melempar ke Provinsi dengan alasan tidak ada anggaran. Kecuali provinsi memberi uang mereka akan membangun,” lanjut Rika. Namun SKP Jayapura masih menunggu pasar sementara yang dijanjikan pada dengar pendapat November 2007 lalu. Saat itu Pemkot Jayapura, lewat Kepala Bappedanya, Thamrin Sagala menjajikan pasar sementara di lokasi Esk pasar Ampera minggu kedua Maret 2008.
Pemerintah Kota Jayapura sendiri hingga saat ini masih mengijinkan mama mama berjualan tengah kota seperti halaman parkir supermarket Gelael dan samping Bank Mandiri. Namun ini bersifat sementara karena pemerintah Kota tengah menyiapkan tempat bagi mama mama ini. “Kami setuju bahwa mama Papua ini memang harus diproteksi, itu sebabnya kami belum menggusur mama papua di depan Gelael, sebab pokok pokok pikiran tentang pembangunan pasar untuk mama Papua ini sedang digodok Walikota Jayapura bersama DPR Papua dan MRP,” kata Partono. Selain itu lanjut Partono, pemerintah kota Jayapura sebenarnya sudah membangun pasar pasar penyanggah seperti di Angkasa, Dok 7, Gelael, Cigombong, Yoka, Expo Waena dan Perumnas 3 Waena yang keberadaannya sebenarnya adalah partisipasi masyarakat, dan pemerintah hanya memfasilitasinya dengan membangun beberapa meja. Namun jika akhirnya tidak dipergunakan dan mama ini memilih berjualan beralas karung, ini hanya karena faktor kebiasaan semata.

Kali ini mama mama pedagang di Gelael dan Jalam Matahari sebelah Bank Mandiri tak tersentuh penertiban Satpol PP, namun mereka hanya diijinkan berjualan sejak pukul 16.00 hingga pukul 22.00, ketika perkantoran telah tutup karena kedua tempat ini tempat berada di jantung Kota Jayapura. Selain kedua tempat ini semua mama penjual dan pedagang kaki lima tidak diijinkan berjualan di sepanjang jalan.
Setelah bersih semua lapak, hari ini 29 Februari keperkasaan petugas Trantib Kota Jayapura berlanjut. Kali ini sasarannya adalah konter konter yang berada di dalam kompleks supermarket atau di mall. Seperti Konter funiture miliki Sagita Funiture yang berada di dalam kompleks Mega Supermarket Abepura. Konter ini disegel oleh petugas karena dianggap tidak memiliki ijin usaha. “Konter ini adalah cabang dari Toko Sagita Funiture di Kota Jayapura, jadi ijinnya ada. Tapi kata petugas cabang juga mesti mempunya ijin tersendiri,” ujar Franki, penanggung jawab Sagita Funiture Abepura. Kunci Konter ini diambil dan tutup hingga surat ijin selesai diurus.Hal serupa juga terjadi untuk konter-konter lain, seperti konter sepatu, handphone, komputer dan salon yang berada di dalam kompleks Saga Mall. Franki merasa sangat dirugikan, karena toko mereka akan tutup minimal hingga hari senin. Beginilah jika Kota Jayapura sedang ulang tahun. (Angel Flassy)

%d blogger menyukai ini: