Tambang Dan Galian Sektor Pertumbuhan PDRB Tertinggi Di Papua

Tambang Dan Galian Sektor Pertumbuhan PDRB Tertinggi Di PapuaJUBI-Berdasarkan berita resmi Statistik Provinsi Papua yang dilansir pada 3 Maret 2008 ini, perekonomian Papua pada triwulan IV dimana PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) sebesar 11,30 trilyun rupiah meningkat dibanding PDRB triwulan ketiga 2007 yang bernilai 10.83 trilyun rupiah.

“Pertumbuhan ekonomi Papua pada triwulan keempat ini meningkat sebesar 4,64 persen, sedangkan peertumbuhan antar tahun (y-on-y) mengalami penurunan sebesar 27,53 persen. Secara sektoral pertumbuhan PDRB Papua tertinggi dialami sector pertambangan dan penggalian yakni sebesar 10,81 persen dan terendah sector keuangan , persewaan dan jasa perusahaan yakni sekitar –10,54 persen.
Sementara itu kontribusi PDRB tertinggi tanpa tambang dan galian ada di sector pertanian yakni sebesar 30,26 persen. Kemudian nilai ekspor provinsi Papua sebesar 8,67 trilyun rupiah (76,74 persen dari total PDRB yang nilainya 11,30 trilyun rupiah)” demikian dikatakan Kepala BPS Papua, Ir Djarot Soetanto.
Menurutnya, gambaran perekonomian Papua lebih riil apabila PDRB dilihat tanpa tambang. PDRB tanpa sub sector pertambangan tanpa migas (tanpa konsentrat tembaga) senilai 4,76 trilyun rupiah, atau meningkat 6,08 persen dari triwulan ketiga tahun 2007 yang sebesar 4,48 trilyun rupiah. Peningkatan nilai tersebut akan nampak lebih signifikan apabila dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2006 (antar tahun) yang nilainya 3,91 trilyun rupiah.
Struktur ekonomi Papua jika dilihat dari kontribusi persektornya, nampak bahwa pertambangan konsentrat tembaga masih mendominasi dengan peranannya sebesar 58,36 persen pada triwulan keempat tahun 2007 ini. Sementara sector pertanian yang menghidupi sebagian besar penduduk Papua berperan 12,74 persen merupakan urutan kedua dan ketiga adlah sector jasa-jasa 6,75 persen.
Sedangkan peranan terendah diberikan oleh sector listrik dan air bersih sebesar 0,20 persen. Peranan sector ini memang relatif kecil karena hanya sebagian kecil masyarakat yang mendapat pelayanan listrik dan air bersih yakni yang tinggal di wilayah perkotaan.
Jika tambang konsentrat tembaga dieliminir maka sector pertanian menduduki peringkat pertama pembentukan PDRB Papua, yakni sekitar 30,26 persen. Keadaan ini kelihatan lebih riil menggambarkan keadaan perekonomian Papua karena sebagian besar penduduknya hidup disektor ini. Peranan terbesar kedua adalah sector jasa-jasa sebesar 16,04 persen disusul sector bangunan dengan peranan 16,02 persen. Posisi keempat disumbangkan oleh sector perdagangan, hotel dan restoran sebesar 14,26 persen menyusul sector pengangkutan dan komunikasi sebesar 12,51 sedangkan empat sector lainnya memberikan sumbangan dibawah 10 persen.
Apabila melihat pertumbuhan ekonomi Papua selama lima triwulan terakhir yakni dalam rentang waktu triwulan IV 2006 dan triwulan IV 2007 atau pertumbuhan antar triwulan mengalami fluktuasi sedangkan pertumbuhan antar tahun terus mengalami penurunan.
Nilai tambah sub sector pertambangan tanpa migas (konsentrat tembaga) sangat dominan terhadap pembentukan PDRB Papua dengan sumbangan sebesar 57,91 persen sedikit menurun dari triwulan sebelumnya yang mampu memberikan sumbangan sebesar 58,61 persen. Karena peranannya yang demikian besar maka gerak laju pertumbuhan tambang konsentrat tembaga juga sangat mempengaruhi gerak laju pertumbuhan bagi Papua.
PDRB perkapita merupakan salah satu indicator kemakmuran suatu daerah, pada triwulan keempat tahun lalu PDRB Papua sebesar 5,91 juta rupiah meningkat (4,16 persen) dari triwulan ketiga yang nilainya 5,68 juta rupiah.

PDRB Provinsi Papua Menurut Penggunaan
Jika dikaji dari sisi permintaan, PDRB provinsi Papua dipengaruhi oleh beberapa komponen permintaan yaitu konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, pembentukan modal serta ekspor netto.
Pada Desember 2007 konsumsi rumah tangga mengalami pertumbuhan sebesar 5,74 persen apabila dibandingkan dengan triwulan III tahun yang sama. Sedangkan dibandingkan dengan kondisi setahun sebelumnya (triwulan IV 2006) konsumsi umah tangga mengalami pertumbuhan yang lebih signifikan yaitu sebesar 16,22 persen.
Konsumsi pemerintah pada triwulan IV tahun 2007 tumbuh sebesar 7,70 persen apabila dibandingkan dengan triwulan III tahun yang sama. Sementara itu pembentukan modal tetap bruto (PMTB) pada triwulan IV mengalami kenaikan, terlihat dari nilai atas dasar harga berlaku dari 2,76 triliun rupiah padfa triwulan ketiga menjadi 3,12 triliun rupiah pada triwulan keempat.
Ekspor provinsi Papua merupakan factor yang sangat dominan dalam pertumbuhan ekonomi. Dimana nilai ekspor papua saat itu sebesar 8,59 triliun, memberikan sumbangan sebesar 79,30 persen dari nilai PDRB provinsi Papua yang bernilai 10,83 triliun rupiah.
Sedangkan import sebagai pencerminan tingkat ketergantungan akan kebutuhan barang dan jasa dari luar negeri provinsi Papua atas dasar harga konstan, kelihatan mengalami pertumbuhan tetapi tidak terlalu besar yaitu sebesar 5,30 persen, meningkat menjadi 7,66 triliun rupiah pada triwulan keempat tahun 2007.
Ekspor migas dan non migas berdasarkan dokumen FOB (freight on board) nilai ekspor Papua pada bulan November 2007 2007 tercatat sebesar 85,88 juta US$ atau mengalami penurunan nilai sebesar 67,65 persen dibandingkan nilai pada Oktober 2007 yang tercatat sebesar 265,48 juta US$.
Ekspor non migas golongan bijih tambang dan konsentrat (HS26) tercatat sebesar 85,77 US$ atau mengalami penurunan 67,54 persen. Ekspor non migas lainnya yang tercatat pada bulan November adalah ekspor ikan (HS03) senilai 0,11 juta US$ yang mengalami penurunan sebear 91,07 persen disbanding bulan Oktober yang tercatat 1,23 juta US$. Penurunan tersebut dikarenakan pada beberapa bulan tersebut cuaca di hampir seluruh perairan Indonesia agak buruk.
Ekspor menurut negara tujuan utama pada bulan November ini hanya ditujukan ke 3 negara yakni Spanyol sebesar 85,77 juta US$, ke Singapura sebesar 0,024 juta US$ dan ke Australia sebesar 0,09 juta US$. Ekspor ke Spanyol mengalami penurunan sebesar 11,03 persen disbanding pada Oktober, Singapura juga turun sebesar 21,68 persen dan ekspor ke lima negara lainnya secara umum juga turun.
Sementara itu di wilayah Kota Jayapura pada Februari 2008 ini mengalami inflasi atau perkembangan indeks harga konsumen sebesar 2,90 persen. Inflasi yang terjadi pada Februari sangat dipengaruhi oleh kenaikan indeks pada kelompok bahan makanan 6.06 persen. Sub kelompok yang mengalami kenaikan cukup tinggi yaitu sub kelompok ikan segar 14,24 persen, sub kelompok sayur-sayuran 12,81 persen dan sub kelompok ikan yang diawetkan 9,75 persen.
Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan indeks cukup signifikan memberikan andil inflasi kota Jayapura selama bulan Februari ini antara lain: ikan segar ekor kuning 0,53 persen, kacang panjang 0,49 persen, bayam 0,40 persen, ikan cakalang 0,26 persen, ikan kembung 0,24 persen, minyak goring 0,17 persen, beras 0,16 persen, mie 0,12 persen, kangkung dan cabe rawit masing-masing 0,11 persen serta tempe 0,10 persen.
Sedangkan andil komoditas yang mengalami penurunan indeks yang relatif tinggi adalah, tomat sayur 0,23 persen, bawang merah 0,21 persen, telur ayam ras 0,13 persen dan sawi hijau 0,07 persen.
Perbanding laju inflasi tahunan Kota Jayapura jika sekarang dilihar bahwa laju inflasi sebesar 2,90 persen pada Februari 2008 ini, untuk tahun 2006 dan tahun 2007 masing-masing sebesar 1,36 dan 1,76 persen, itu berarti bahwa untuk laju inflasi tahun kalender bulan februari 2008 sebesar 6,33 persen pada tahun 2006 dan 2007 masing-masing sebesar 2,05 dan 4,60 persen. (Anang Budiono)

Iklan
%d blogger menyukai ini: