Potensi Sumberdaya Pesisir Dan Lautan Kep. Padaido Bagi Usaha Perikanan

Potensi Sumberdaya Pesisir Dan Lautan Kep. Padaido Bagi Usaha PerikananIndonesia merupakan negara kepulauan (archipelago state). Keberadaan pulau-pulau kecil sangat penting dalam pembangunan berkelanjutan karena jumlahnya yang banyak dan memiliki kawasan pesisir dan laut yang mengandung sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang sangat kaya. Sumberdaya alam di kawasan pesisir pulau-pulau kecil terdiri dari sumberdaya alam yang dapat pulih (renewable resources), sumberdaya alam yang tidak dapat pulih (non-renewable resouces) dan jasa-jasa lingkungan (environmental services) (Dahuri, 2000). Kekayaan sumberdaya alam tersebut menimbulkan daya tarik bagi berbagai pihak untuk memanfaatkannya dan berbagai instansi untuk meregulasinya (Ginting, 1998).
Salah satu gugusan pulau-pulau kecil di Indonesia adalah Padaido. Padaido merupakan salah satu distrik kepulauan di Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua. Distrik ini terdiri dari 29 pulau-pulau kecil dan 5 (lima) gosong karang yang dikelilingi oleh laut dalam. Pulau yang dihuni secara permanen oleh masyarakat sebanyak 8 (delapan) pulau, sedangkan pulau-pulau lain dimanfaatkan sebagai tempat usaha penduduk dalam bidang perikanan tangkap, perkebunan kelapa dan jasa pariwisata serta sebagai tempat singgah bila cuaca buruk. Berdasarkan laporan BPS Biak Numfor (2006), penduduk Distrik Padaido berjumlah 4.303 jiwa. Secara tradisional, pulau-pulau tersebut dikelompokkan atas dua gugusan pulau-pulau, yaitu gugus pulau-pulau Padaido Bawah dan gugus pulau-pulau Padaido Atas. Secara fisik, kepulauan Padaido Bawah merupakan pulau-pulau karang atol, sedangkan kepulauan Padaido Atas merupakan gugus pulau-pulau karang yang tidak berikat.
Gugusan pulau-pulau Padaido memiliki kawasan pesisir dan laut yang mengandung sumberdaya alam yang kaya dan beranekaragam. Sumberdaya pesisir dan laut terdiri dari terumbu karang, berbagai jenis ikan (ikan ekonomis penting dan ikan hias), mamalia laut (lumba-lumba), moluska (tiram mutiara, kima raksasa, kerang anadara), krustasea (udang karang, kepiting, dan lain-lain), ekinodermata (teripang, bulu babi), tumbuhan laut (rumput laut jenis Eucheuma spp, dan lain-lain), padang lamun dan hutan mangrove (Hutomo, et al, (1996), Yayasan Hualopu dan Yayasan Rumsram (1997), Wouthuyzen (1995), Yayasan Terangi – Rumsram dan LP3O LIPI-Biak (2000), COREMAP Reports (2001 dan 2003)).
Kekayaan dan keanekaragaman sumberdaya pesisir dan lautan tersebut menjadikan kawasan kepulauan Padaido sebagai salah satu potensi sumberdaya perikanan. Hal ini sejalan dengan arah kebijaksanaan Pemerintah Daerah Kabupaten Biak Numfor yang menetapkan wilayah kepulauan Padaido sebagai kawasan pengembangan perikanan dan pariwisata. Sumberdaya perikanan yang menonjol adalah sumberdaya ikan karang, tiram mutiara, kima raksasa, kerang anadara, udang karang, kepiting, ikan dasar serta sumberdaya ikan pelagis. Sumberdaya tersebut telah dimanfaatkan oleh masyarakat, baik yang berasal dari kepulauan Padaido maupun yang dari pulau Biak. Selain itu, kawasan kepulauan Padaido memiliki lahan perairan pesisir yang cukup luas, yang tersebar mengelilingi pulau dan berpeluang dimanfaatkan untuk pengembangan budidaya perikanan sebagai sarana mata pencaharian alternatif masyarakat.
Kepulauan Padaido merupakan salah satu wilayah pelaksanaan Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang II (COREMAP II) yang dilakukan oleh pemerintah. Program ini mulai tahun 2005 dan bertujuan (1) untuk memperkuat kapasitas kelembagaan dalam pengelolaan terumbu karang di tingkat nasional dan daerah dan (2) melestarikan, memanfaatkan dan merehabilitasi ekosistem terumbu karang serta memfasilitasi kelompok masyarakat pengelola untuk mendapat pertambahan manfaat dan pendapatan. Untuk melaksanakan COREMAP di tingkat kabupaten dibentuk 5 (lima) unit pelaksana program, yaitu (1) CRITC (coral reef information and training center), (2) PBM (pengelolaan berbasis masyarakat), (3) MCS (monitoring, controlling and surveillance), (4) PA (penyadaran masyarakat) dan (5) PKK (pengelolaan kawasan konservasi).
Sebagai salah unit pelaksana COREMAP II, penyediaan informasi tentang pengembangan usaha perikanan, yang berkelanjutan yang berbasis pada ekosistem terumbu karang sangat diperlukan. Penyediaan informasi tersebut bertujuan untuk memberikan peluang usaha perikanan alternatif kepada masyarakat sebagai mata pencaharian untuk menambah pendapatan sehingga tekanan penangkapan ikan dan biota lain di sekitar terumbu karang yang selama ini dilakukan dapat dikurangi. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, melalui unit pelaksana CRITC (Coral Reef Information and Training Center) COREMAP Biak pada tahun 2005 dan tahun 2006 telah melakukan beberapa penelitian dan survey yakni survey sosial ekonomi masyarakat, penelitian pengembangan usaha perikanan, analisa potensi sumber daya lahan pesisir dan laut serta pengembangan budidaya rumput laut.
Penelitian dan survey tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi usaha-usaha perikanan yang berlangsung di kepulauan Padaido dan mengkaji kemungkinan pengembangannya berdasarkan aspek pasar, potensi sumberdaya perikanan, sarana dan prasarana, teknis, sosial dan aspek finansial, mengidentifikasi usaha-usaha perikanan yang berlangsung di kepulauan Padaido dan mengkaji kemungkinan pengembangannya berdasarkan aspek pasar, potensi sumberdaya perikanan, sarana dan prasarana, teknis, sosial dan aspek finansial, dan dan terbentuknya kawasan-kawasan pengembangan usaha perikanan budidaya dan perikanan tangkap laut dalam di kepulauan Padaido, mengetahui kondisi sosial ekonomi masyarakat yang mendiami pula-pulau Padaido.
Keadaan Sosial Ekonomi Masyarakat Kepulauan Padaido
Berdasarkan hasil survey sosial ekonomi masyarakat di Distrik Padaido dan Distrik Biak Timur tahun 2005 menunjukan beberapa hal sebagai berikut; (1). Rata-rata investasi usaha perikanan rakyat tertinggi dengan menggunakan perahu motor tempel terdapat di Pulau Meosmanguandi yakni sebesar Rp.20.008.333 dan terendah terdapat di Pulau Auki yakni sebesar Rp.8.678.333. Sedangkan rata-rata usaha perikanan tertinggi dengan menggunakan perahu dayung terdapat di Pulau Nusi yakni sebesar Rp.509.741 dan terendah di Pulau Bromsi yakni sebesar Rp.257.800. (2). Adapun status kepemilikan peralatan tangkap adalah milik pribadi, dimana persentasi tertinggi dalam memperolehnya adalah melalui pembelian tunai yakni di Pulau Padaidori sebesar 85 %, Bromsi sebesar 70 %, Meosmanguandi sebesar 83 %, Pai sebesar 90,6 %, Nusi sebesar 95 % dan di Pulau Auki sebesar 82 %. (3). Produksi usaha perikanan rakyat berdasarkan beberapa jenis alat tangkap menunjukkan bahwa penggunaan jaring memberikan produksi tertinggi di lima pulau yakni di Pulau Padaidori, Meosmanguandi, Pai, Nusi dan Auki sedangkan penggunaan pancing memberikanan konstribusi hasil tangkapan tertinggi di Pulau Bromsi. (4). Jumlah penerimaan masyarakat berdasarkan jenis usaha penangkapan di beberapa lokasi penelitian menunjukkan bahwa penggunaan perahu motor tempel memberikanan rata-rata penerimaan tertinggi bila dibandingkan dengan penggunaan perahu dayung. Sedangkan total penerimaan tertinggi terdapat pada masyarakat di Pulau Auki yaitu sebesar Rp.360.240.000 dan terendah di Kampung Saba-Marao sebesar Rp.28.520.000. (5). Pendapatan tunai masyarakat nelayan tertinggi untuk jenis usaha penangkapan dengan menggunakan perahu motor tempel terdapat di Pulau Auki yakni sebesar Rp.26.191.500 dengan rata-rata Rp.8.730.500 perkeluarga dan terendah di Kampung Saba-Marao yakni sebesar Rp.1.649.333. Sedangkan untuk jenis usaha penangkapan dengan menggunakan perahu dayung, pendapatan tunai tertinggi juga terdapat di Pulau Auki yakni sebesar Rp.217.674.917 dengan rata-rata Rp.8.062.034 perkeluarga dan terendah adalah di Kampung Saba-Marao yakni sebesar Rp.22.928.750 dengan rata-rata Rp.2.547.639 perkeluarga. (6). Variasi harga dari beberapa komoditi perikanan menunjukkan terdapatnya beberapa komoditi yang memiliki nilai ekonomis tinggi yakni jenis ikan kerapu, teripang dan lobster.
Potensi Lahan Untuk Pengembangan Usaha Perikanan
Analisis potensi sumber daya lahan pesisir dan lautan untuk pengembangan usaha perikanan (tahun 2005) menunjukkan bahwa pemanfaatan potensi sumberdaya lahan pesisir dan laut yang sesuai peruntukkannya adalah budidaya rumput laut (13.349,005 ha), budidaya teripang (13.348,915 ha), budidaya ikan dalam keramba (3.692,808 ha), pariwisata pesisir (11.378,337 ha), penangkapan ikan karang (15 lokasi) dan ikan pelagis (5 lokasi).
Analisis peluang investasi menunjukkan bahwa peluang investasi usaha perikanan tangkap dan pengolahan ikan sangat menjanjikan (layak) dikembangkan di pulau-pulau Padaido. Usaha penangkapan ikan dengan perahu tanpa motor tempel layak dilakukan di kawasan pulau-pulau Padaidori dan kampung Saba. Sedangkan usaha pengolahan ikan asin/asar memiliki peluang investasi di pulau-pulau Padaido Atas.
Terkait dengan potensi lahan bagi pengembangan usaha perikanan di Kepulauan Padaido maka perlu dilakukan hal sebagai berikut;
(1). Lahan pesisir perairan ternyata tidak hanya sesuai untuk satu peruntukkan tetapi sesuai juga untuk peruntukkan lain, seperti perikanan budidaya, pariwisata pesisir, perikanan tangkap (ikan karang dan pelagis kecil) dan jalur transportasi perahu nelayan. Untuk menghindari konflik pemanfaatan ruang diperlukan penyusunan matriks keserasian (compatibility matrix) antar kegiatan pembangunan di wilayah pesisir dan laut pulau-pulau kecil. Penyusunan dilakukan dengan melibatkan pihak-pihak yang berkompeten terutama masyarakat adat.
(2). Alokasi kegiatan pembangunan pada lahan atau kawasan yang sesuai harus mempertimbangkan daya dukung (daya tampung) kawasan atau lahan. Selain itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui kapasitas asimilasi lingkungan perairan yang sesuai untuk budidaya ikan dengan keramba terhadap beban limbah yang masuk untuk menghindari kerusakan atau degradasi lingkungan.

Budidaya Rumput Laut
Sebagaimana hasil penelitian CRITC tahun 2005 yang menunjukkan bahwa salah satu potensi sumberdaya lahan pesisir dan laut yang sesuai peruntukkannya adalah budidaya rumput laut seluas 13.349,005 ha. Untuk itu tahun 2006 pihak CRITC Coremap Biak telah melakukan uji coba penelitian budidaya rumput laut jenis Cottonii di pulau Auki, Padaido Bawah.
Eucheuma cottonii merupakan salah satu jenis rumput laut bernilai ekonomis penting yang saat ini banyak dibudidayakan. Hasil pertumbuhan rumput laut Eucheuma cottonii dengan berbagai metode budidaya yang dilakukan selama delapan minggu penelitian disajikan pada Tabel 1 dan Gambar 1. Pada metode dasar, pertumbuhan rata-rata mengalami peningkatan berat dari 100 gram (To) menjadi 142 gram (T3) namun mengalami penurunan berat rata-rata pada minggu terakhir (T4) menjadi 74.67 gram. Penurunan berat rata-rata tersebut disebabkan oleh kematian dan kerusakan dari bagian-bagian rumpun rumput laut. Berdasarkan pengamatan, kematian rumput laut tersebut disebabkan oleh endapan lumpur yang menutupi permukaan rumput laut. Endapan lumpur tersebut dapat menghalangi tumbuhan untuk mengambil oksigen dan melakukan aktivitas fotosintesisi. Kerusakan rumput laut disebabkan oleh ikan-ikan herbivor yang memakan ranting-ranting rumput laut.
Pada metode rakit dan rawai, pertumbuhan rata-rata rumput laut cenderung meningkat. Hal ini disebabkan karena letak/posisi kedua metode budidaya tersebut. Metode rakit dan rawai terletak relatif sangat dekat dengan permukaan perairan sehingga rumput laut dapat menerima sinar matahari secara langsung untuk aktivitas fotosintesis tanpa halangan. Selain itu bila terjadi turbulensi karena arus dan gelombang, sedimen yang mencapai rumput laut pada kedua metode tersebut relatif sedikit dibandingkan dengan rumput laut yang dibudidayakan dengan metode dasar. Walaupun terdapat beberapa rumpun yang mati atau rusak, namun tingkat kematian atau kerusakan tersebut tidak mempengaruhi pertumbuhan rumput laut secara kumulatif.

Laju Pertumbuhan Nisbi (%)
Laju pertumbuhan nisbi dirumuskan sebagai persentase pertumbuhan pada tiap interval waktu atau dengan kata lain ialah perbedaan ukuran pada waktu akhir interval dengan ukuran pada akhir interval dibagi dengan ukuran pada awal interval. Tujuan pengukuran laju pertumbuhan nisbi adalah untuk mengetahui seberapa besar pertambahan ukuran pada interval waktu tertentu dengan ukuran pada awal interval. Hasil analisis laju pertumbuhan nisbi Eucheuma cottonii dengan metode budidaya yang berbeda disajikan pada Gambar 1.
Pada metode dasar, laju pertumbuhan nisbi meningkat dari 28,3% menjadi 42% pada minggu ke-6 namun laju pertumbuhan tersebut selanjutnya menurun sebesar 25% pada minggu ke-8. Berbeda dengan metode dasar, pada metode rakit dan rawai, laju pertumbuhan nisbi Eucheuma cottonii mengalami peningkatan sampai minggu ke-8. Pada metode rakit, laju pertumbuhan nisbi yang dicapai sebesar 195,3% sedangkan pada metode rawai laju pertumbuhan nisbi adalah 283,3%. Hasil penelitian ini memberikan hasil atau pola yang sama dengan penelitian budidaya rumput laut yang dilakukan oleh La Tanda, dkk (2003), dimana laju pertumbuhan rumput laut cenderung meningkat. Mereka menemukan bahwa pertumbuhan rumput laut Eucheuma cottonii dengan metode rakit pada akhir budidaya menghasilkan pertumbuhan sebesar 80 – 85% di pulau Nusi, Kepulauan Padaido.
Alternatif Pengembangan Metode Budidaya Rumput Laut Eucheuma Cottonii
Pengembangan usaha bididaya rumput laut diarahkan sebagai alternatif mengembangkan usaha ekonomi masyarakat nelayan berbasis pada sumberdaya alam. Berdasarkan data laju pertumbuhan rata-rata dengan menggunakan beberapa metode budidaya rumput laut menunjukkan bahwa penggunaan metode rawai dan rakit sangat baik dikembangkan bila dibandingkan dengan metode tanam dasar. Hal ini dimungkinkan karena apabila terjadi turbulensi karena arus dan gelombang akan menyebabkan terangkatnya sedimen yang kemudian akan terikat dan menutupi permukaan rumput laut yang dibudidayakan. Kondisi ini menyebabkan kemampuan tanaman ini untuk menerima sinar matahari dan menyerap oksigen agak terhambat yang berdampak pada terganggunya proses fotosintesis. Dengan demikian kondisi ini memungkinkan terjadi pada metode tanam dasar karena sangat dekat dengan dasar perairan bila dibandingkan dengan penggunaan metode rakit dan rawai yang relatif berada di permukaan perairan.
Pernyataan tersebut di atas dibuktikan dengan hasil analisa data rata-rata laju pertumbuhan nisbi dimana untuk metode tanam dasar pada minggu kedua hingga minggu keenam mengalami sedikit peningkatan tetapi pada minggu kedelapan laju pertumbuhannya mengalami penurunan hingga -25,3%. Hal ini sangat berbeda dengan penggunaan metode rakit dan rawai, dimana laju pertumbuhan pada minggu kedua hingga minggu kedelapan terus mengalami peningkatan yakni mencapai 195,3% untuk metode rakit dan 283,3% untuk metode rawai.
Dengan demikian dari hasil penelitian menunjukan bahwa; (1). Laju pertumbuhan rumput laut (Eucheuma cottoni) dengan menggunakan metode tanam dasar, rakit dan rawai pada minggu kedua hingga minggu keenam mengalami peningkatan tetapi pada minggu kedelapan pertumbuhan rumput laut dengan menggunakan metode tanam dasar mengalami penurunan drastis bila dibandingkan dengan penggunaan metode rakit dan rawai. (2). Dari ketiga metode budidaya rumput laut yang digunakan menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan rumput laut dengan menggunakan metode rawai memberikan persentasi pertumbuhan tertinggi yakni mencapai 283,3%, sedangkan untuk metode rakit 195,3% dan dasar-25,3%. (3). Pengembangan usaha budidaya rumput laut sebagai tanaman yang memiliki nilai ekonomis penting dapat memberikan hasil secara optimal apabila dikembangkan budidaya dengan metode rawai dan rakit.
Selama ini masyarakat nelayan khusunya nelayan di Pulau Auki telah mengupayakan berbagai metode budidaya rumput laut, tetapi belum ada suatu kajian yang dapat menyajikan informasi tentang efektifitas dari setiap metode budidaya rumput laut yang digunakan. Dengan demikian melalui data hasil kajian ini dapat memberikan informasi tentang alternatif pengembangan metode budidaya rumput laut (Eucheuma cottoni) yang lebih baik dan berkelanjutan. Oleh karena itu dalam rangka pengembangan usaha budidaya rumput laut sebagai mata pencaharian alternatif masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil, maka perlu disarankan sebagai berikut;
(1). Perlu dibangun kesepakatan di tigkat masyarakat tentang penataan lokasi budidaya dan lokasi yang diperuntukan untuk aktifitas transportasi laut dengan selalu berkoordinasi dengan masyarakat pemilik lokasi dan masyarakat pemanfaatan wilayah pesisir perairan. (2). Perumusan arah pengembangan usaha budidaya rumput laut harus dilakukan secara terpadu dengan melibatkan Pemerintah Daerah dan Stakeholders yang ada di Kabupaten Biak Numfor diikuti dengan penyediaan fasilitas usaha, pendampingan masyarakat dan strategi pemasaran hasil produksi.
(3).Untuk mendapatkan pertumbuhan rumput laut yang optimal maka kegiatan pembersihan rumput laut dari endapan sedimen yang menempel pada ranting rumput laut perlu diperhatikan. Disarankan untuk melakukan kegiatan pembersihan setiap tiga hari sekali.
(4). Saat penelitian ini dilakukan kemampuan dan ketrampilan masyarakat pulau Auki dalam budidaya rumput laut cukup memadai. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat perlu diperhatikan pada waktu-waktu mendatang. Masyarakat harus diberikan kesempatan yang luas untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan budidaya rumput laut sehingga pengetahuan dan ketrampilan mereka menjadi meningkat.**

%d blogger menyukai ini: