50 % Murid Tak Bisa Baca Tulis di Kabupaten Keerom

Jubi – Yayasan Wahana Visi Indonesia (WVI) pernah melakukan uji coba ujian pelajaran bahasa Indonesia pada tiga distrik di Kabupaten Keerom masing masing Skanto, Waris dan Waris dengan menggunakan buku bahasa Indonesia kelas I, terhadap siswa kelas III, ternyata ditemui ada sekitar 50 persen siswa tidak bisa baca tulis.

“Kondisi lebih memprihatinkan karena Distrik Web dan Senggi kekurangan guru dan sangat minim jumlahnya,”ujar Benny Sweny aktivis pendidikan dari Yayasan Wahana Visi Indonesia (WVI) Kabupaten Keerom kepada Jubi belum lama ini.
Berdasarkan pengalamannya menjadi tim pemantau Independen UAN SMP tahun 2007 kata Benny dari sebanyak 108 peserta UAN SMP Negeri Arso Kota ternyata hanya 42 siswa saja yang lulus UAN. “Ini merupakan gambaran pendidikan di kabupaten ini dan bagi saya sangat sulit membayangkan jika tahun ini akan berlaku lagi UAN untuk tingkat dasar,” ujar Swenny.
Persoalan ini lanjut Benny hingga bulan Februari ini belum ada sosialisasi atau persiapan untuk siswa tingkat dasar di Kabupaten Keerom. “Berbeda dengan siswa SLTA dan SLTP yang sudah mendapatkan pelajaran tambahan selepas sekolah sejak bulan Januari lalu,” tambah dia.
Memang jika disimak selama ini hanya dikenal ujian akhir nasional (UAN) pada jenjang pendidikan setara SMP dan SMU tetapi pada tahun ini akan segera diberlakukan bagi jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD). Hal ini disesuaikan dengan PeraturanPemerintah (Permen) No 39 tahun 2007 tentang ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) bagi tingkat sekolah dasar dan madrasah Ibtidaiyah.
“Sistem baru ini terutama untuk tingkat pendidikan dasar merupakan tantangan besar. Ujian Akhir Nasional pada tingkat sekolah dasar sangat menantang dan apakah anak anak bisa nerhasil atau tidak,”ujar aktivis pendidikan Benny Sweny.
Apalagi rencana pelaksanaan UASBN untuk tingkat SD dilakukan dengan system komputerisasi ini masih sangat baru bagi siswa-siswa. Guna menghindari adanya kendala pada saat pelaksanaan sekolah-sekolah, sudah dimulai dengan latihan-latihan serta pelajaran tambahan menyangkut cara-cara pengisian jawaban maupun materi-materi yang akan diujikan.
“Untuk itu kami berusah memback-up siswa siswa tingkat SD ini dengan menggandeng lembaga pendidikan Primagama untuk 300 siswa tingkat akhir sekolah dasar dampingan kami ,” ujar Sweny yang telah bekerja di kabupaten ini sejak tahun 1999. Sedangkan saat ini WVI sendiri sedang menyantun lebih dari 3000 siswa di kabupaten ini.
Untuk pelaksanaan ujian berstandar nasional bagi sekolah dasar di Kota dan Kabupaten Jayapura cukup mendapat dukungan dari berbagai sekolah-sekolah. “Setelah diadakan sosialisasi di tingkat kelompok kerja sekolah-sekolah untuk gusus delapan dan gugus sembilan Jayapura maka selanjutnya kami melakukan pertemuan dengan kepala sekolah seluruh guru-guru kelas 6 dari kedua gugus tersebut untuk mendapatkan informasi lengkap UASBN” ujar Robert Sedubun,SH kepala sekolah SD Negeri Kotaraja yang ditemui Jubi baru-baru ini.
Menghadapi UASBN yang akan dilaksanakan pada tanggal 13 hingga 15 Mei pihak SD Negeri Kotaraja berusaha memberikan berbagai latihan yang sudah dijadwalkan untuk semua mata pelajaran. Mata pelajaran itu sendiri terbagi dalam dua kelompok yaitu mata pelajaran yang termasuk dalam UASBN yaitu Bahasa Indonesia, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam yang akan dikerjakan dengan menggunakan Lembaran Jawaban Komputer (LJK). Sementara untuk mata pelajaran diluar UASBN dilaksanakan seperti ujian biasa, yang sudah sering dilakukann siswa.
Dari tiga matapelajaran yang ditetapkan sebagai UASBN komposisi soal terdiri dari 25 persen ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang berlaku secara Nasional, semenatara 75 persennya ditetapkan oleh badan penyelenggara UASBN tingkat Propinsi. Untuk mata pelajaran bahasa Indonesia dengan jumlah 50 soal 25 persen atau sebanyak 13 soal merupakan soal dari pusat dan sisanya 75 persen atau 37 soal berasal dari daerah, begitu pun dengan matematika dan IPA yang rencananya berjumlah 40 soal.
“ Untuk menghindari adanya kendala dalam mempersiapkan para siswa-siswa yang akan segera mengikuti ujian ini sebelum adanya format jawaban yang diturunkan kita dari pihak sekolah memberikan latihan-latihan dengan mengcopi lembaran jawaban yang digunakan pada tingkat SMP dengan membuat sol-soal yang telah dibuat bersama gugus 8 sehingga siswa-siswa dapat beradaptasi ataun paling tidak mengetahui secara garis besar tentang lemabaran jawapan dan cara pengisiannya” ungkap Robert. Dengan dilaksanakannya UASBN bagi sekolah dasar ini menurut Robert bahwa langkah ini tentu sangat positif dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan baik secara nasional maupun kedaerahan.
“ Kita juga perlu belajar dari negara tetangga seperti Malaysia dimana pada era tahun 1970 mereka pernah mereformasi sistem pendidikan mereka dengan mengontrak guru-guru SMA dan dosen serta beberapa pakar pendidikan lainnya dalam rangka pendidikannya. Sekarang ini Malaysia cukup maju dibanding kita Indonesia. Oleh karena itu pelaksanaan ujian yang bertaraf nasional tidak bisa ditunda lagi tetapi harus kita laksanakan dengan catatan bahwa kelulusan merupakan kewenagan tingkat satuan pendidikan yang bersangkutan” jelas Robert. Lebih jauh diungkapkan bahwa alokasi dana pendidikan ini tentu harus disediakan dalam jumlah yang memadai untuk menjawap kepentingan pendidikan secara menyeluruh kedepannya.
Menyangkut masalah kesiapan siswa-siswa menurutnya tentu tidak terlalu masalah yang penting upayah-upayah dalam bentuk latihan yang harus dimulai dari sekarang secara rutin utamanya dalam hal pengisian jawapan ini tetap diberikan kepada siswa sehingga mereka mengetahui secara jelas pada saat ujian nanti.
Sementara itu SD Inpres Kemiri di kabupaten Jayapura juga tidak ketinggalan dalam hal menghadapi pelaksanaan UASBN. “UASBN yang akan dilaksanakan Pada tahun ajaran ini alangka bagusnya kalau semua siswa dapat siap atau mengetahui secara pasti tentang cara-cara pengisian jawaban yang menggunakan sistem komputerisasi tetapi dengan adanya waktu yang masih cukup para guru-guru masih punya kesempatan untuk memberikan latihan-latihan bagi siswa-siswa menjangkut cara-cara dalam hal mengisi lembaran Jawapan Komputer.” ungkap S. Hokoyoku, A.Ma.Pd kepada Jubi.
Menurutnya dengan adanya pelaksanaan ujian secara nasional, tentunya masyarakat Papua juga harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Dan jika tidak diterapkan di Papua justru akan membawa keterpurukan. “Jika tidak sekarang, kapan baru kami siap untuk mengikuti? Seakan-akan kami disini dimanjakan,” tambahnya.
“Dengan Adanya UASBN ini ketimpangan pendidikan diberbagai daerah mampu ditekan karena akan memberikan suatu kompetisi utamanya bagi sisiwa untuk ingin mengetahui maupun para guru dalam memberikan pelajaran sehingga hasil yang didapatkan setiap siswa dapat lebih memuaskan.walaupun pelaksanaan UASBN dengan menggunakan LJK yang cukup masih baru bagi setiap siswa namun dengan adanya latihan hal ini tidak terlalu menjadi suatu kendala” Jelas Hokoyoku. Untuk persiapan dalam UASBN Hokoyoku berujar bahwa pihaknya telah membentuk tim Pelaksana ujian dengan melibatkan seluruh guru-guru. Tim ini bertangung jawap atas masing-masing matapelajaran dengan memberikan tambahan pelajaran diluar jam sekolah serta latihan-latihan dalam mengisi Lembar Jawaban Kerja. (Yunus Paelo)

Iklan
%d blogger menyukai ini: