Remaja Dan Perilaku Beresiko Siapakah Mereka?

Penelitian yang dilakukan di negara maju menunjukkan bahwa remaja laki-laki lebih banyak melakukan hubungan seksual pada usia yang lebih muda dibandingkan dengan remaja perempuan. Remaja yang lebih tua umurnya lebih cenderung melakukan hubungan seksual, tepai mereka juga lebih cenderung menggunakan alat kontrasepsi.
Perkembangan fisik tubuh remaja jaman sekarang lebih cepat besar, hal ini dapat dilihat dari semakin mudanya umur menstruasi pertama dikalangan remaja perempuan. Namun perkembangan fisik yang cepat sering kali tidak diikuti oleh perkembangan mental atau kepribadian yang dewasa serta bertanggung jawab.
Selain dari remajanya sendiri, factor luar juga mempengaruhi remaja untuk berperilaku beresiko. Seperti yang dirangkum dalam Cooksey (2000) dari beberapa hasil penelitian tentang remaja di Amerika Serikat, factor luar yang paling dekat dengan remaja adalah latar belakang keluarganya. Remaja yang mempunyai ibu yang melahirkan pada usia muda juga akan melakukan hubungan seksual pra nikah pada usia muda pula. Remaja yang rendah rasa percaya dirinya sering melakukan perbuatan yang beresiko dan cenderung untuk melakukan hubungan seks pra nikah pada usia muda.
Perilaku remaja tidaklah terlepas dari pendefisian masyarakat tentang siapa remaja, serta nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat. Ada masyarakat yang secara tidak langsung mendorong orang muda untuk terlibat dalam perilaku-perlikau yang mengarah pada resiko. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Christian Kiem (2003 dikutif oleh Situmorang menemukan bahwa dalam masyarakat Maluku lelaki muda menganjurkan untuk melakukan hubungan seks pra nikah karena dipercayai akan menunjang keberhasilan kehidupan keluarganya kelak.
Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Hanum (1997) menemukan bahwa diantara kalangan orang tua yang merupakan migran di daerah Bengkulu yang berasal dari Jawa memiliki kebiasaan menikahkan anak perempuannya langsung setelah anak akil baligh yang ditandai dengan menstruasi. Kebiasaan yang sama juga dilakukan oleh para orang tua di daerah Indramayu yang mempunyai anak perempuan akan menikahkan anak mereka pada usia muda (Utami 2002).
Menurut laporan SKRRI 2002-2003, presentase remaja laki-laki yang pernah melakukan hubungan seksual sekitar 5 persen sedangkan remaja perempuan yang mengaku pernah melakukan hubungan seksual kurang dari 1 persen. Jika dibandingkan dengan penelitian-penelitian yang lain maka presentase ini sangatlah kecil.
Penelitian tentang keperawanan yang dilakukan di Kota Medan, sekitar 27 persen remaja laki-laki (dari 463 orang) dari 7 persen remaja perempuan (dari 412 orang) mengaku sudah melakukan hubungan seksual pra nikah. Sedangkan menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh LD-FEUI (2002) 5 persen remaja laki-laki mengaku sudah pernah melakukan hubungan seks dan 3 persen remaja perempuan, dengan remaja kota lebih tinggi prosentase yang mengaku pernah melakukan hubungan seksual dibandingkan remaja pedesaan (5 persen dari 3 persen).
Berbedanya persentase remaja yang mengaku pernah melakukan hubungan seksual, karena adanya rasa malu dari remaja untuk mengaku bahwa mereka pernah melakukan sek pra nikah. Tingginya persentase remaja yang pernah melakukan hubungan seks pra nikah dari penelitian Situmorang, bisa disebabkan cara pengumpulan informasi dari remaja yang berbeda antara LD-FEUI dengan SKRRI.
Remaja laki-laki yang berumur lebih tua tinggal didaerah perkotaan dan dengan pendidikan lebih tinggi cenderung untuk melakukan hubungan seks pra nikah. Pendapat yang umum mengatakan bahwa remaja berperilaku beresiko karena tekanan dari kelompoknya (peer). Remaja laki-laki yang telah melakukan hubungan seks pra nikah mengaku alas an mereka melakukan hubungan seks karena mereka menyukai pasangan seksnya sebanyak 39 persen. Dari setiap 10 remaja 3 orang mengaku mereka melakukan hubungan seks pra nikah karena ingin tahu, dan hanya 1 dari 7 remaja yang melakukan hubungan seks pra nikah karena tekanan dari peernya. Remaja perempuan lebih rendah kemungkinan untuk berperilaku beresiko, dari data yang sama menunjukkan bahwa remaja perempuan hanya 0,02 kali remaja laki-laki untuk melakukan perilaku yang beresiko.
Remaja yang mempunyai sikap yang menolak hubungan seks pra nikah dan lebih berarti pada penderita HIV/AIDS mempunyai kemungkinan yang lebih kecil berperilaku beresiko. Kemungkinan kelompok remaja ini berperilaku beresiko hanyalah 0,086 kali dari remaja yang mempunyai sikap menerima hubungan seksual.
Remaja pada saat pertama kali melakukan hubungan seksual membahayakan diri mereka, karena seringkali mereka tidak menggunakan kondom. Mereka dapat terekspos pada penularan penyakit menular HIV/AIDS.
Dibandingkan dengan remaja yang lebih muda remaja yang lebih tua lebih mawas dalam melindungi dirinya saat pertama kali melakukan hubungan seks. Demikian halnya dengan remaja yang tinggal di perkotaan lebih berhati-hati saat pertama kali melakukan hubungan seksual. Saat mereka melakukan hubungan seks berikutnya remaja sudah lebih mawas diri dengan menggunakan kondom pada saat mereka melakukan hubungan seksual.
Remaja yang berasal dari latar belakang keluarga yang lebih mampu akan memiliki kesempatan untuk mengakses kepada pendidikan yang lebih baik. Pendidikan yang lebih baik karena sekolah yang berprestasi atau bisa juga dalam pengertian ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Dengan pendidikan yang tinggi mereka memiliki kemungkinan terpapar kepada informasi yang lebih benar. Remaja yang berasal dari kalangan keluarga yang berada pada kuantil kekayaan teratas memiliki kemungkinan 0.616 kali untuk berperilaku beresiko dibandingkan remaja yang keluarganya berada pada kuantil kekayaan terbawah.

Bagaimana Pengetahuan Yang Baik Dapat Melindungi
Remaja Dari Perilaku Beresiko?
Dari beberapa hasil yang dilakukan tentang pemberian informasi kesehatan reproduksi kepada remaja menunjukkan dapat menurunkan perilaku beresiko remaja. Namun demikian pemberian informasi kesehatan reproduksi kepada remaja di beberapa negara majupun masih menjadi perdebatan apalagi bila diberi judul pendidikan seksual. Hal ini juga tidak terlepas dari situasi yang terjadi di Indonesia.
Penelitian di Amerika Serikat yang dilakukan oleh Cooksey (2003) menemukan bahwa sepanjang tahun 1990-an terjadi penurunan kehamilan dan persalinan di kalangan remaja. Seperempat dari penurunan ini di sebabkan karena remaja memilih untuk puasa kumpul sampai menikah. Pilihan menunda melakukan hubungan seks oleh remaja karena sikap remaja yang berubah pula.
Remaja senang melakukan tindakan yang berbahaya atau membahayakan dirinya sendiri. Awal dari perilaku beresiko adalah dengan merokok. Merokok sudah banyak diterima masyarakat sebagai suatu perilaku yang normal. Diawali dengan merokok kemudian minum serta diikuti oleh Napza dan hubungan seksual yang mana hal ini juga berlaku bagi remaja yang ada di Indonesia.
Bagaimana dengan remaja di Indonesia, apakah pemberian informasi dapat mencegah berilaku beresiko? Dari hasil olahan lebih lanjut terlihat bahwa remaja yang mempunyai pengetahuan kesehatan reproduksi yang cukup hanya 35 persen pernah melakukan aktifitas yang beresiko. Remaja yang kurang pengetahuan akan kesehatan reproduksi 40 persen berperilaku beresiko. Remaja yang mempunyai pengetahuan cukup memiliki kemungkinan untuk berperilaku beresiko 0,965 kali dibandingkan yang pengetahuan kesehatan reproduksinya rendah.
Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang cukup dan benar akan mengarahkan seseorang untuk mempunyai sikap yang benar serta perilaku yang menjauh dari resiko. Dari hasil penelitian SKRRI 2002-2003 ditemukan bahw remaja yang mempunyai pengetahuan kesehatan reproduksi tinggi serta sikap menolak hubungan seks pra nikah serta tidak menolak penderita HIV/AIDS mempunyai persentase berperilaku beresiko hanya 32 persen persentase ini lebih rendah dari mereka yang berpengatahuan rendah (37 persen). (Anang Budiono, sumber: Informasi Kesehatan Reproduksi Remaja)

Iklan
%d blogger menyukai ini: