Perempuan Papua Juga Bisa Berkreasi

Perempuan Papua Juga Bisa Berkreasi“Sudah saatnya perempuan Papua bersaing dengan saudara-saudara kita dari luar, jangan hanya duduk diam saja dirumah serta melayani suami”
Pesta seni dan budaya Papua yang selalu diadakan tiap tahun pada bulan Oktober akhirnya bisa dilangsungkan pada bulan Januari 2008. Festival Seni Kreasi dan budaya Papua VIII tahun 2008 memang harus diundur karena banyak kendala, terutama kendala keuangan. Sampai pada saat pelaksanaannyapun, peserta Festival Seni dan Budaya yang diikuti oleh hampir semua Kabupaten yang ada di Provinsi Papua dan Papua Barat harus tidur beralaskan terpal dan tikar di tempat penampungan yang telah di sediakan oleh Panitia.
Apakah ini berarti panitia lokal Kabupaten Nabire belum siap untuk mengadakan event akbar antar Kabupaten se-Papua dan Papua Barat ini? Dengan kondisi tersebut, apa mungkin Kabupaten Nabire bisa menjadi Ibu Kota Propinsi Papua Tengah. Pertanyaan-pertanyaan ini muncul dari para peserta festival, selama festival berlangsung.
Meski demikian, walau ada beberapa kabupaten pemekaran yang tidak mengikuti Festival Seni Dan Budaya seperti Kabupaten Sarmi, Asmat, Boven Digoel, pengunungan Bintang, teluk Bintuni, Raja Ampat, Sorong selatan serta Fakfak tapi itu tidak mematahkan semangat juang seniman-seniman muda Papua untuk berlaga di pentas seni dan budaya.
Festival tersebut dilaksanakan di lokasi taman hiburan rakyat atau taman gizi Oyehe, milik dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Nabire. Festival Budaya ini berlangsung selama empat hari, mulai 21-24 Januari 2008.
Kota Minyak Sorong tidak bisa mempertahankan piala bergilir yang didapatkan sebagai juara umum festival seni kreasi dan budaya tahun 2006. Pada akhirnya Kabupaten Biak Numfor keluar sebagai juara umum serta berhak membawa pulang piala bergilir ke Kota Karang panas Biak. Sedangkan juara kedua jatuh pada Kebupaten Supiori.
Selain memperlombakan tarian-tarian kreasi baru, tiap kontingen disediakan stand-stand untuk mempromosikan potensi sumber daya alam (SDA) yang ada di Kabupatennya masing-masing. Yang uniknya adalah ibu-ibu PKK dari kabupaten Teluk Wondama. Walaupun stand mereka tidak di nilai oleh tim juri, tapi ibu-ibu PKK ini mendapatkan kredit point tersendiri dari masyarakat Kota Nabire. Masyarakat menilai ibu-ibu PKK Wondama stand ibu-ibu PKK Wondama yang paling bagus di antara stand-stand kontingen yang mengikuti festival tersebut.
Menurut Agu Samori (36), Stand Ibu-ibu PKK Wondama paling bagus dan yang paling banyak mendapat kunjungan dari pengunjung. Selain itu, ibu-ibu PKK Wandama paling kreatif dari pada ibu-ibu PKK Nabire dan Kaimana.
“Mama-mama Nabire dong hanya hiasi stand mereka dengan bunga dan noken sedangkan Mama-mama Kaimana memamerkan baju kaos, topi yang bertulisan Senja Indah di Kaimana serta tas dan tikar dari pohon daun tikar. sedangkan Mama-mama Wondama dong buat baju, topi, tas, sendal dari kulit kayu Buah roda, sampo dan sabun dari lidah buah, tepung ubi, minyak kelapa murni dll.” ungkap Agu Samori saat mengunjungi stand PKK Wondama. Agu Samori yang bekerja sebagai pengijil di pedalaman Kabupaten Puncak Jaya sangat mengharapkan ada kerja sama antara ibu-ibu PKK Kabupaten Teluk Wondama untuk memberi pelatihan membuat tepung ubi jalar kepada ibu-ibu PKK Kabupaten Puncak Jaya. Menanggapi Agu Samori, Ny. Jeanne Karubaboy Torey (52), Ketua PKK Kabupaten Teluk Wondama mengatakan kalau memang ibu-ibu PKK Puncak Jaya membutuhkan pelatihan keterampilan, tim PKK Wondama siap untuk memberi pelatihan. “Masalah dana untuk Transportasi jangan dipikirkan, yang penting disiapkan fasilitas penginapan.”. ungkap Jeanne Karobaboy Torey di Stans PKK Wandama.
Ibu-ibu PKK Wondama ini memanfatkan SDA yang ada di bumi Papua. Salah satunya kulit kayu buah Roda atau Bintagur (dalam bahasa Wondama Taruwapui) dimana kulit kayu ini dijadikan kain. Menurut Tokoh Perempuan Wandama Min Imburi (53), dulunya nenek moyang mereka menggunakan kulit kayu Taruwapui atau buah roda sebagai selimut. Sedangkan untuk kaum perempuan hanya dililit bagian dadanya serta bagian kelaminya. Untuk kaum laki-laki hanya dibuat rok atau cawat.
Jadi kulit kayu Taruwapai merupakan baju adat bagi masyarakat yang mendiami Teluk Wondama. Baju tersebut tidak hanya dipakai untuk keseharian, tapi juga dipakai untuk upacara pernikahan adat. Pada umumnya masyarakat asli teluk Wondama dapat dengan mudah membuat kain dari kulit kayu Taruwapui.
Prosesnya pembuatannya juga sangatlah mudah dan menggunakan metode tradisional. Siapapun dapat membuat kain dari kulit kayu Taruwapui. Meski demikian, proses pembuatannya memerlukan keahlian khusus yang bisa dipelajari oleh siapa saja. Orang yang sudah bisa membuatnya hanya membutuhkan tiga hari untuk menjadi kain yang dibutuhkan, ujar MIn Imburi saat ditemui wartawan Jubi di Stand PKK Wondama.
Awalnya membuat kain dari kulit kayu Taruwapui haruslah masuk kedalam hutan dan memilih pohon Taruwapui atau Bitangur sesuai dengan ukuran pohon yang diinginkan. Kalau ukuran kayu Taruwapui tinggi akan menghasilkan empat meter kain sedangkan ukuran kayu Taruwapui pendek akan menghasilkan dua meter kain.
sesudah pohon Taruwapui ditebang, kemudian dikupas atau dipisahkan kulit kayu dari batang pohon. Proses selanjutnya, kulit luar akan dipisahkan dari kulit dalam. Prosesnya ini sama halnya dengan mengupas kulit singkong. Kemudian kulit kayu Taruwapui yang sudah dipisahkan dari kulit luar akan dipukul dengan menggunakan air hingga menhasilkan serat kain. Paling bagus lagi proses pembuatannya serat kain dilakukan didalam kali, sehingga kulit kayu tersebut dipukulkan diatas batu hingga akan menghasilkan serat kayu yang bagus dan tahan lama. Masih ada tahap terakhir yaitu tahap penjemuran yang memakan waktu tiga sampai empat hari untuk menghasilkan kain kulit kayu dan juga tergantung panasnya matahari.
“Kalau semua proses sudah dilalui sesuai dengan prosedurnya maka akan menghasilkan kain dari kulit kayu Taruwapui atau Bitangur,” tutur MIn Imburi.
“Gagasan untuk membuat baju, topi, sendal dan tas itu muncul sekitar dua tahun lalu tepatnya tahun 2005,” ungkap Jeanne Karobaboy Torey. Saat mengunjungi Kampung-kampung yang ada di Kabupaten Teluk Wondama, Jeanne Karobaboy Torey mendapat tawaran dari masyarakat untuk membeli kulit kayu, karena posisinya sebagai ibu Bupati terpaksa harus membeli kain kulit kayu Taruwapui. Dengan keahlinya sebagai penjahit pakaian, maka Jeanne T. Torey mendesain baju, sandal, topi serta tas dari kulit kayu tersebut. Dari ide dan gagasan tersebut Jeanne K Torey sekarang ini memberi pelatihan kepada ibu-ibu yang ada di Kampung-kampung. Di harapkan dengan pelatihan tersebut ibu-ibu yang mendiami kampung-kampung di Kabupaten Teluk Wondama mendapat pengalaman dan kemudian hari dapat menopang perekonomian keluarga.
“Bukan hanya itu saja, baju yang dibuat dari kulit kayu Taruwapui sekarang ini dipakai untuk penerimaan tamu kehormatan serta pernikahan adat yang berlangsung di Kabupaten Teluk Wondama.” Ujar Ny. Jeanne K Torey.
Selain Memberi pelatihan membuat pakaian dari kulit kayu, Ibu-ibu PKK Wondama juga memberi pelatihan membuat Sampo dari lidah buaya, minyak kelapa murni, tepung ubi jalar, tepung sagu, abon ikan tenggiri, tempat tisu dari buah kalabasa (Siribou dalam bahas Wandamen) serta membuat pernak-pernik dari kulit bia atau kerang.
“Melalui pelatihan yang diberikan oleh ibu-ibu PKK ini, ibu-ibu yang tinggal di Kawasan Teluk Wondama bisa mandiri dalam hal mensejahterakan keluarga mereka,” tutur Ny. Jeanne K. Torey di sela- sela berlangsungnya Festival seni dan budaya Papua. Tujuan mengikuti Festival tersebut agar masyarakat asli Papua khususnya kaum hawa dapat memamfaatkan sumber daya alam (SDA) yang melimpah ruah untuk bersaing dengan saudara-saudara yang datang dari luar pulau Papua.
Senada dengan Ny. Jeanne K Torey, S Makatita Wayany (53) menghimbau agar mama-mama Papua tidak hanya duduk di rumah dan melayani para suami di dapur. Tapi bisa berkreasi seperti PKK Wondama dalam memamfaatkan kekayaan alam yang potensinya sangat besar untuk meningkatkan perekonomian keluarga.
“Namun harus menjaga dan melestarikan alam Papua. Jangan hanya ambil tapi tidak memperhatikan kerusakan lingkungan. Yang nanti kena dampaknya adalah anak cucu kita di kemudian hari.” katanya mengingatkan. (Carol Ayomi)

%d blogger menyukai ini: