Penulis Papua Deklarasikan Asosiasi Penulis Papua

JUBI – Selasa, 5 Februari Asosiasi Penulis Papua (APP) di deklarasikan di Aula STT GKI IS Kijane Abepura, Jayapura. Menurut Deklarator Benny Giay, Asosiasi ini didirikan untuk membangun dialog dengan orang Papua sendiri, dan juga untuk tempat berkumpul sesama penulis untuk belajar menulis baik Novel, cerpen dan berbagai bentuk tulisan lainnya.

“Sebab Pada saat yang sama kami juga mengakui bahwa ada banyak penulis yang sudah lama menulis seperti bapak Mampioper namun tulisannya tidak terinverntaris dengan baik. Untuk itu dengan adanya asosiasi ini dimungkinkan untuk menerbitkan sebagai usaha menginventariskan berbagai tulisan lama tentang Papua,” ujar Giay.
Deklarasi diawali dengan pemasangan lilin oleh Arnold Mampioper ketua kehormatan APP sebagai tanda dimulainya masa baru, bertepatan dengan masuknya injil ke 153. “Pada hari ini tanggal 5 Februari 2008, menyatakan berdirinya asosiasi penulis papua dan seterunya menjadi kendaraan perjuangan Papua baru Papua Tanah Damai dengan membangun budaya menulis sebagai sebuah bentuk penghayatan budaya Papua sekaligussebagai sarana dialog dengan masa lalu dan diri sendiri dan dengan sesama Papua maupun dialog antar identitas dengan kebudayaan lain,” ujar Benny Giay mendeklarasikan APP.
Deklarasi yang diikuti sekitar delapan puluhan penulis Papua dari kalangan akademisi, Legislatif, Birokrat, LSM dan jurnalis seperti Josh Mansoben, Septer Manufandu, Neles Tebay, Socrates Sofyan Yoman, SP. Morin, Don Flassy, Frist Ramandey ini diakhiri dengan penandatangan spanduk menyatakan dukungan dan ucapan selamat. Sebelumnya juga dilakukan seminar sehari bertema “Apakah memang benar rumpun melanesia sedang tenggelam” dari buku karangan Sendius Wonda yang dilarang beberapa waktu lalu dan peluncuran buku milik anggota DPR RI SP Morin yang berjudul AMYAS.
“Jika ingin melihat, seharusnya dilakukan sensus khusus untuk orang Papua asli.Lalu bandingkan dengan jumlah penduduk negara tetangga PNG. Jika benar-benar berbeda jauh dibandingkan dengan awal sewaktu Papua masuk negara ini, pemerintah harus mencari jawaban mengenai sebab sebabnya,” ujar Pdt. Willem Rumsawir, anggota Majelis Rakyat Papua yang ikut sebagai pembicara dalam acara ini.
Sedang Budi Hermawan, OFM dari Sekretariat Perdamaian dan Keadilan (SKP) Jayapura, mengatakan argumen argumen dalam buku Sendius bukanlah hal yang baru baik secara eksplisit maupun inplisit karena sudah sering diungkapkan dalam seminar seminar di Papua. “Pelarangan buku muncul dari asumsi bahwa buku ini akan menimbulkan perlawanan terhadap kekuasaan yang sah, namun nyatanya tidak kan,” kata Bruder Budi. Ia sangsi apakah benar para aparat yang menyita ini sudah membacanya atau belum. Menurutnya pelarangan ini muncul akibat pemerintah dan aparat yang tidak rasional. “Buku ini biasa saja, yang membuatnya terkenal justru kejaksaan dan saya rasa tidak ada alasan untuk melarangnya,” ujar Bruder Budi.
Hadir sebagai pembicara dalam seminar ini, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Bagus Sukaswara, DR Benny Giay, pengajar STAKIN Sentani, Herman Saud dan Gabriel Maniagasi, jurnalis suara pembaruan sebagai Moderator. Seminar ini terlaksana atas kerjasama dengan ELSHAM Papua, Foker LSM Papua, Justice and Peace Sinode Kingmi, Sinode Baptis, SKP, APP dan KIP. (Angel Flassy)

Iklan
%d blogger menyukai ini: