ASAL MULA PULAU MAMBOR

Pulau Mambor tarmasuk salah satu pulau dari beberapa gugusan pulau di sebelah timur kota Nabire di Kabupaten Paniai. Di pulau ini terletak salah satu pegunungan dan slah satu puncaknya yang tertinggi adalah gunung Momurkotei.
Dahulu di gunung tersebut berdiamlah sepasang suami istri, berasal dari keturunan Mambri. Suami istri tersebut masing-masing bernama Mumu dan Waisei. Keduanya hidup rukun dan damai serta dikaruniai dua anak laki-laki.
Wonggora adalah nama kakaknya sedangkan adiknya bernama Nonambo. Keduanya diasuh hingga dewasa lalu dikawinkan. Dari perkawinan mereka lahirlah cucu-cucu Mumu dan Waisei.
Wonggora memperoleh seorang anak yang dinamai Tarahijori. Adiknya Nonambo memperoleh dua orang anak, yaitu seorang anak laki-laki yang bernama Dauma dan adiknya seorang anak perempuan. Mereka diasuh dan tumbuh menjadi dewasa. Dalam kehidupan sehari-hari mereka bermain dan bergaul seperti biasa, namun akhirnya Dauma dan Tarahijori memadu cinta. Hubungan antara keduanya semakin mendalam sehingga saling mengikat satu janji untuk sehidup semati. Keinginan mereka ini disampaikan kepada orang tua masing-masing.
Pada suatu hari Dauma bersama ayahnya berkunjung ke rumah Wonggora. Maksud kedatangannya hendak meminang Tarahijori agar dijodohkan dengan Dauma. Namun apa daya karena pinangannya ditolak oleh Wonggora. Bagi Dauna hal ini adalah suatu pukulan yang tidak habis dipikirkan olehnya. Sebab itu dari pada tidak memiliki kekasih lebih baik bunuh diri. Ia mencari akal bagimana cara membunuh kekasihnya dengan cara yang tidak mencurigakan. Oleh sebab itu ia mempelajari kebiasaan-kebiasaan Tarahijori yang setiap hari pergi membuang air besar di bawah pohon. Di tempat inilah Dauma melaksanakan niatnya dengan memasang sembilu di akar-akar pohon untuk mencelakakan kekasihnya.
Pada hari berikutnya Tarahijori hendak pergi membuang air besar seperti biasanya dilakukan. Tiba-tiba dari jauh terdengar suara jeritan di bawah pohon besar meminta pertolongan. Ternyata sembilu yang dipasang oleh Dauma kena kekasihnya dan banyak mengeluarkan darah.
Akibat sembilu yang dipasang maka meninggallah Tarahijori seketika itu juga. Kematian Tarahijori meninggalkan luka yang mendalam bagi keluarga Wonggora.
Akibat musibah ini, Wonggora menyatakan perang saudara terhadap adiknya, sebab musibah ini dilakukan oleh Dauma, karena lamarannya ditolak.
Nonambo pun menanyakan hal itu kepada anaknya dan ternyata Dauma mengakui perbuatannya. Sebagai orang tua yang bertanggung jawab terhadap perbuatan anaknya, maka tantangan Wonggora diterima.
Oleh sebab itu masing- masing mencari pengikutnya, lalu pecahlah perang sengit antar keluarga pihak Wonggora dengan Nonambo. Sementara perkelahian sedang berlangsung, tiba-tiba ada serangan masuk dari kampung lain di kampungnya. Akhirnya demi keselamatan dan kesatuan penduduknya, kedua bersaudara itu bersatu kembali untuk melawan musuh. Setelah mengusir lawannya, maka perang antara keduanya pun berhenti dengan sendirinya.
Untuk memulihkan persaudaraannya kembali, mereka bermaksud mengadakan pesta perdamaiaan. Berita pesta perdamaiaan itu tersiar keseluruh pelosok kampung di pulau itu. Terutama para pemudanya sangat tertarik lalu berdatangan hendak menyaksikan perayaan pesta tersebut. Saat pesta dilangsungkan, hadir pula seorang pemuda tampan yang membawa tifa di tangannya.
Pemuda tadi benar- benar terpesona oleh pandangan seorang gadis yang ikut melayani para tamu dengan makanan dan minuman. Gadis tersebut adalah anak dari Nonamba, dari pandang memandang akhirnya mereka berkenalan.
Mambarua, demikian nama pemuda itu putra raja kerajaan dasar laut. Ia menjelaskan bahwa sebelum naik takhta menggantingkan orang tuanya diharuskan mempersunting seorang gadis sebagai calon istrinya.
“Apakah anda tidak akan kecewa, bila mendapat gadis kampung seperti aku ini? Bukankah banyak wanita cantik di kalangan bangsawan?” tanya gadis itu.
“Betul adinda, tapi diantara mereka tidak ada seorang pun yang menarik perhatianku,” kata Mambarua.
Akhirnya gadis itu yakin terhadap Mambarua, lalu berpesan agar segera meminang melalui orang tuanya.
Malam berikutnya Mambarua berkunjung ke rumah orang tua gadis itu. Maksud kedatangannya hendak meminang anak gadis Nonambo. Setelah menungkapkan asal-usul dan keinginan hatinya, maka orang tua si gadis merestui kehendak kedua remaja itu. Namun Nonamba mengajukan suatu persyaratan yang harus dipenuhi sebelum mengadakan upacara pernikahan, yaitu pembayaran mas kawin berupa:
-sebuah dusun sagu
-sebuah jembatan penghubung pulau dan daratan
-serumpun bambu
-sebuah tifa dan
-sebuah gelang paseda

Mambarau berjanji bahwa mas kawi tersebut akan di penuhi setelah perkawinan mereka.
Untuk mengukuhkan kedua remaja yang baru berkenalan sebagai suami istri yang sah, maka dilakukan lah upacara pernikahan secara adat,. Pernikahan ini dimeriahkan oleh penduduk semalam suntuk.
Keesokan harinya Mambarua meminta diri mendahului rombongan yang akan mengantar istrinya, untuk mempersiapkan upacara penyambutan dan pelantikan di istana. Sebelum pergi ia berpesan pada istrinya supaya segera menyusul dan menunggu dipantai. Bila istrinya melihat tiga buah gelombang besar, itulah tanda bahwa Mambarua sudah siap menjemput rombongan.
Benar juga, ketika rombongan istrinya dengan ketiga perahu menunggu di pantai, terlihatlah tiga buah gelombang besar yang beriringan ke pantai. Permaisuri bersama orang tuanya berada di perahu depan. Ketiga gelombang itu sampai di tempat perahu- perahu tersebut, maka terjadilah keajaiban dimana perahu-perahunya langsung terbawa ke dasar lautan.
Rasanya seakan- akan mereka tidak memasuki lautan, tetapi memasuki sebuah wilayah yang luas dan menyenangkan. Mereka di sambut oleh sepasukan pengawal istana yang berderet di sebelah kiri-kanan jalan masuk.
Setiba di istana, Mambarua menyambut calon istrinya lalu membawa masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian dan berdandan. Sedangkan rombongan diterima oleh para pelayan di ruang upacara.
Saat yang dinantikan oleh para tamu sudah tepat dan sang raja memasuki ruang upacara. Upacara segera dimulai dengan acara pertama perkenalan permaisuri beserta rombongannya kepada para tamu. Berikutnya adalah upacara penobatan Mambarua sebagai raja yang dilaksanakan dengan penuh hikmat. Upacara perkenalan dan penobatan raja muda diakhiri dengan makan bersama di istana.
Setelah tiga hari para pengantar permaisuri diperkenankan meninggalkan istana sedangkan permaisuri tetap tinggal di kerajaan lautan.
Pada suatu hari Mambarua memberitahukan niatnya pada sang istri, bahwa ia hendak membayar mas kawi pada orang tuanya di kampung. Sesudah sepakat berangkatlah keduanya bersama beberapa prajurit dan setiba di kampung raja muda menyerahkan mas kawin berupa :
-Sebuah tifa kebesaran yang disebut BIRINEBISEI
-Empat buah mata air yang masing- masing bernama SERU, BATAIBORO, KAKURU, dan BABINGGATU.
-Sebuah jembatan yang bernama BABISIR
-Serumpun bambu yang bernama WAHAMU, dan
-Sebuah gelang poseda.

Hari berikutnya raja muda bersama istrinya meninggalkan kampung mertuanya lalu kembali ke dasar laut. Sedangkan penduduk kampung yang ditinggalkan berpestapora sehubungan dengan penerimaan mas kawin yang baru saja diselesaikan. Namun di tengah-tengah puncak keramaian pesta itu, tiba- tiba ada musuh yang menyerang. Akibat penyerangan itu banyak penduduk yang melarikan diri jauh dari kampung.
Pada saat bersamaan Mambarua merasa gelisah. Rasanya ada sesuatu firasat jelek. Firasat tersebut menimbulkan rasa curiganya dan ingin tahu akan keadaan di daratan.
Oleh sebab itu Mambarua bermaksud melihat-lihat keadaan di kampung mertuanya. Istrinya menyetujui keinginan suaminya serta berpesan agar berhati-hati dalam perjalanan.
Saat itu juga Mambarua berangkat dengan para pengawalnya dan setibanya di sana ternyata firasatnya benar sebab ada laporan dari penduduk, bahwa baru saja ada perampokan di kampungnya dan musuh telah melarikan diri ke arah barat.
Setelah memperoleh petunjuk, sang raja perintahkan para prajuritnya melakukan pengejaran dan ternyata mereka berhasil menguasai musuhnya serta membawa kembali barang- barang yang dirampas tadi. Namun masih ada satu benda yang paling berharga, yang tidak dapat di bawa olehnya, yaitu tifa kebesaran karena sempat di bawa kabur oleh musuhnya.
Karena RAO yang menyerang kampung mertuanya maka pulau yang digunakan untuk beristirahat, di balik oleh raja muda itu dengan gelombang dashyat. Akibatnya hingga kita tempat itu tidak ditumbuhi apa-apa hanya berkarang dan disebut : ROF KAREY.
Dari pertempuran ini sebagian dari pihak Rao dapat menyelamatkan diri ke daerah Wandamen dengan membawa tifa kebesaran, sedangkan pulau yang di mana mertua Mambarua bertempat tinggal dinamakan pulau MAMBOR.*

Iklan
%d blogger menyukai ini: