Warga Asmat di Pomako Hidup Dibawah Garis Kemiskinan

JUBI – 300 kepala keluarga (KK) warga Asmat di Paumako, Distrik Mimika Timur masih hidup dibawah garis kemiskinan.

Sebanyak 102 rumah diatas hamparan air sekitar pelabuhan pelabuhan rakyat (Pelra) dimana setiap rumah didiami oleh 2-3 kepala keluarga (KK). Jarak rumah satu dengan yang lainnya sekitar 10-15 meter dan jembatan kayu seadanya menghubungkan antar rumah tersebut. Mata pencaharian mereka hanya mengandalkan mencari ikan secara tradisional dan menjadi tenaga kerja bongkar muat (TKBM) di pelabuhan rakyat (pelra) milik H Sumitro. Jaminan kesehatan dan pendidikan juga sangat memprihatinkan.
Anak-anak mereka setiap hari bergelut dengan kondisi alam yang rentan dengan berbagai penyakit seperti malaria, kutu air, Ispa dan lainnya. Jarang terlihat ada kain membungkus badan anak-anak harapan bangsa, mereka hanya mengenakan celana pendek. Meski demikian mereka tetap terlihat cerah ceria selalu bermain disekitar perairan Paumako. Mereka seakan tidak mengenal masa depan yang tahu hanya bermain dan bermain disepanjang perairan.
Kepala Suku, Silvester mengungkapkan, warga tersebut merupakan warga pindahan dari Asmat yang telah mendiami diarea Pelra sekitar 20 tahun. Namun sejak itu juga hingga kini perhatian pemerintah daerah ini dinilai masih sangat kurang. Pelayanan kesehatan dan pendidikan tidak berjalan optimal. Tidak ada Puskesmas atau Pustu serta sekolah disekitar daerah tersebut yang memadai. Sehingga jika mereka mau berobat harus pergi jauh ke Mapurujaya.
“Warga sangat mendambakan pelayanan kesehatan dan pendidikan yang memadai. Diharapkan Pemkab Mimika mengabulkan permohonan warga daerah ini,” ujar Silvester
Menurut dia, meski bukan daerah asalnya namun warga tersebut sudah merasa betah tinggal diaerah ini. Sehingga perkembangan jumlah penduduknya cukup banyak. Dari yang tadinya hanya puluhan rumah tinggal, saat ini sudah mencapai 102 rumah yang didiami oleh sekitar 2-3 KK setiap rumahnya. Mata pencaharian mereka bervariasi antara lain sebagai nelayan, petani serta TKBM. Sebagai nelayan hanya mengandalkan dengan perahu tradisional. Sementara itu ketika ada kapal barang di Pelra, sebagian warga menawarkan jasanya untuk menjadi TKBM. (John Pakage)

%d blogger menyukai ini: