Sulitnya Perdamaian di Tembagapura

JUBI – Setelah Libur selama Natal dan tahun Baru, Perang suku timbul kembali lagi di Tembagapura . Perang terjadi sejak pekan lalu di Tembagapura, Areal konsesi PT Freeport. karenanya peristiwa perang kali ini menjadi tertutup dari konsumen public lantaran kejadiannya di Tembagapura yang mana tidak semua masyarakat dapat mendatangi wilayah tersebut.

Hingga saat ini telah menelan delapan korban meninggal dan ratusan mengalami luka. Perang suku yang terjadi kali ini antara Suku Dani, Damal, dengan Suku Amungme di dua kampung di Distrik Tembagapura, Mimika,. Kampung Banti merupakan basis warga suku Amungme sedangkan kampong Kimbeli adalah basis kehidupan suku Dani.

Dua penglima perang diringkus
Menyikapi berlarutnya konflik massal antara kelompok massa Kampung Banti dan Kampung KImbeli yang dimotori oknum yang disebut sebagai kepala perang (waemun-Red) maka, jajaran POlres Mimika dan beberapa aparat gabungan berhasil meringkus dua oknum warga yang adalah kepala perang dari Kampung Kimbeli pada Selasa (8/1).
Kapolres Mimika AKBP Godhelp C, Mansnembra yang memimpin penyisiran mengatakan bahwa, awalnya meringkus oknum berinisial PW/Pius Waker sekitar pukul 06.00 WIT. Selanjutnya target penangkapan berikutnya terhadap oknum berinisial Km/Kamaniel baru terjaring sekitar pukul 09.00 WIT pada Selasa lalu.
dijelaskan, upaya penyisiran dan menangkap dua kepala perang telah dilakukan sejak Senin (7/1) lalu sekitar pukul 04.00 WIT, namun upaya waktu itu gagal karena kedua oknum tersebut berhasil kabur dan baru dibekuk pada hari berikutnya.
Kedua oknum itu kemudian langsung diamankan dan digiring ke Mapolres Mimika mile 32 guna menjalani proses hukum selanjutnya. Selain itu upaya untuk meredam dan menghentikan konflik missal, Kapolres yang berada di lokasi konflik sejak Minggu (6/1) lalu juga melaksanakan sweeping dari upaya penyisiran yang dilakukan selama dua hari sejak Senin hingga Selasa lalu.
Dari operasi tersebut, aparat keamanan berhasil mengamankan sejumlah alat perang tradsional. Termasuk beberapa pucuk senapan angin.
Alat perang yang diamankan pada Senin (7/1) adalah 1130 anak panah, 272 busur panah, 10 pucuk senapan angin, 30 buah tombak, 130 mata panah, 5 buah ketapel, dua buah tulang kasuari, empa bilah parang, satu buah sangkur dan dua buah kampak.
Sementara pada operasi Selasa (8/1) berhasil diamankan 106 buah busur dan panah, 765 anak panah, 148 mata panah, 2 pucuk senapan angina, enam bilah parang, satu buah pisau, empat buah tombak besi, dua buah senter, dua buah ketapel, 1 buah tulang kasuari dan dua buah tang.
Untuk itu, dari upaya represif ditindaklanjuti karena bertambahnya korban. Sehingga atas seijin Kapolda, Kapolres mengambil tindakan tegas. Dengan satu perhitungan jika ada korban dari massa ataupun aparat itu sudah resiko.
Ini dilaksanakan aparat keamanan sembari menunggu proses negosiasi hingga penyelesaian damai sesuai dengan tahapan penyelesaian adat sehingga tidak ada lagi ekses selanjutnya dari upaya represif.
Menindaklanjuti hal tersebut, Kapolres Mimika juga menegaskan bahwa pihaknya telah mengultimatum kepada masyarakat dari dua kelompok massa yang bertikai dalam beberapa kali pertemuan untuk tidak lagi ada gejolak.
“Kemarin (Selasa-Red) saya tegas katakan kalau ada ‘ditembak’ dalam arti dilumpuhkan bukan ditembak mati,” tegas Kapolres.
Dan ultimatum komando itu sudah diperintahkan kepada seluruh aparat keamanan yang bertugas melakukan pengamanan di lokasi pertikaian warga. Dimana upaya pencarian dan penysiran dilakukan terus sehingga tidak berlarutnya konflik missal antara kedua kelompok massa.
“Kami tidak akan biarkan mereka bawa alat perang. Kita mau setelah diatas di Timika juga aman,” terang Kapolres.
Bahkan hal demikian juga sampaikan Kapolres kepada warga Timika agar tidak ada lagi gejolak atau aksi massa hingga melakukan tindakan anarkis.
“Sebelum ada korban banyak kita yang ambil alih lebih dulu”
Dari upaya penyisiran dan gelar sweeping yang dilakukan itu, Kapolres menggambarkan bahwa secara umum situasi konflik sudah mulai redah.
Namum selama ini yang terjadi adalah, kedua kelompok massa saling mempertahankan wilayahnya dan yang selalu menyerang adalah warga Kimbeli. Ini kita melihat dari awal persoalannya. Dimana kedua oknum kepala perang itu yang lebih dahulu menyerang masuk sehingga mengakibatkan kelompok Banti tidak dapat kemana-mana. “Mereka terkepung di Banti”
Dan tindakan yang diambil aparat keamanan semata hanya untuk membuka jalur.
“Tetapi secara adat belum bisa menyeberang keluar karena kepercayaan adat mereka setelah ditandai dengan darah kurban atau siram darah, baru bisa keluar,” tutur Kapolres lagi.
Meski telah mendapat jaminan keamanan dari pihak aparat akan tetapi warga dari Kampung Banti masih bertahan karena terpaku pada adat dan kepercayaan mereka.
Selain itu, Kapolres juga sudah melakukan pendekatan dan meminta kepada tokoh masyarakat dan tokoh agama dari Timika untuk bertemu dengan kedua kelompok massa dengan harapan dapat melaksanakan ibadah bersama
Sedangkan menanggapi soal keterlibatan Pemerintah Daerah (Pemda) setempat, Kapolres menyatakan bahwa upaya Pemda selama ini, telah dilaksanakan maksimal sejak pecahnya pertikaian warga 16 September 2007 silam. Tetapi karena upaya meredam dan mendamaikan menemukan jalan buntu sehingga Pemda tingkat II melimpahkan untuk ditangani Pemprov tingkat I dengan adanya koordinasi.
Dan sampai saat ini pejabat dari pemerintah tingkat I masih dinantikan untuk menyikapi situasi konflik di tahun 2007 silam yang masih berlanjut hingga tahun 2008.
Kapolres juga menghimbau kepada warga yang terlibat konflik pada waktu itu dengan menggunakan mubail (pengeras suara-Red) agar masyarakat sadar dan supaya dibodohi lagi oleh oknum-oknum yang berkepentingan didalamnya.
Menyoal adanya actor intelektual, kapolres menegaskan bahwa indikasi tersebut akan diselidiki dengan diamankannya panglima perang.
“Kita akan lihat siapa actor intelektual di belakang mereka (panglima perang-Red),” tukas Kapolres (John Pakage)

%d blogger menyukai ini: