Meniru Model Pendidikan Asrama Jaman Belanda

JUBI – Sejak jaman zending hingga pemerintah Nederlands Nieuw Guinea pola pendidikan asrama sudah jadi model. Bahkan pola ini banyak melahirkan para pemimpin di tanah Papua. Karena itu asrama sebenarnya bukan hanya sekadar tempat tumpangan dalam menempuh pendidikan semata tetapi merupakan tempat untuk membina dan mengarahkan untuk menjadi mandiri. Tentunya ada tata tertib yang harus ditaati setiap penghuni yang ada.

Agaknya model pendidikan rintisan jaman Belanda boleh dianggap cocok dan berkembang baik sehingga Pemerintah Provinsi Papua awal 1990 an mulai kembali menerapkan pendidikan pola asrama. Walau memang tidak semua model pola asrama itu berhasil karena motivasi dan situasi kondisi yang jauh berbeda sejak jaman Belanda.
Salah satu model pendidikan yang diterapkan saat ini adalah di SMA Negeri III Bumi Perkemahan Waena Kota Jayapura.
Sebagai salah satu sekolah favorit hingga tak heran kalau banyak orang tua murid yang ingin agar anaknya juga bersekolah di SMA Buper Waena ini. Yoshua salah seorang karyawan Kantor Wilayah Pos Maluku dan Papua mengaku anaknya pernah juga ikut seleksi di sekolah itu tetapi tak berhasil lolos. “ Padahal anak saya ini di SMP Negeri I Kota Jayapura termasuk lulusan terbaik dan terpaksa sekarang sekolah di SMU Negeri II Dok IX Kota Jayapura,” ujar Yoshua.
Memang sekolah ini pertama kali didirikan untuk mendidik putra putri terbaik Papua dan dibiayai oleh Pemerintah Provinsi Papua. Sedangkan SMA Negeri V Kota Jayapura di Angkasa Jayapura merupakan SMU yang biayanya ditanggung Pemerintah Kota Jayapura melalui Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kota Jayapura.
SMA Negeri 3 Bumi Perkemahan (Buper) Waena saat ini dengan visinya yakni mengupayakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif dalam menghadapi era globalisasi.
Guna menjadi siswa di sekolah ini memang melalui seleksi yang cukup ketat dan sangat kompetitif.
Siswa-siswa yang menempuh pendidikan di sekolah ini umumnya juga berasal dari beberapa kabupaten yang ada di tanah Papua. Dengan keberadaan asrama yang begitu lengkap dan juga disertai disiplin aktivitas belajar mengajar dapat berjalan lancar. Bahkan terdapat pula beberapa siswa-siswanya yang pernah meraih prestasi baik di tingkat nasional maupun internasional.
Peningkatan sumber daya manusia (SDM) yang handal dan mampu bersaing di era golabal sekarang ini sangat ditunjang dengan fasilitas pendukung-pendukung lainnya.
Selain Fasilitas seperti gedung sekolah dan tenaga pendidik derngan berbagai program sesuai dengan kurikulum yang diterapkan diberbagai sekolah keberadaan asrama bagi siswa-siswa juga sangat menunjang dan memperlancar aktivitas pembelajaran dalam ruang kelas.
Pembangunan asrama oleh masing-masing daerah baik secara swadaya maupun melalui bantuan dari masing-masing pemda dibeberapa tempat, dimana banyak putra-putri daerahnya menempuh pendidikan. Hal ini merupakan suatu langkah yang positif, guna menunjang kelancaran para siswa-siswa.
“Asrama sangat mempermudah kelancaran proses belajar mengajar, selain itu mampu membentuk seorang anak menjadi mandiri. Terutama dalam mengambil sikap, lebih terlatih, mampu menempatkan diri dalam lingkungannya, sehingga didapatkan kwalitas SDM yang mampu bersaing dan berprestasi, ujar Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Buper Waena dan sekaligus juga sebagai pembina Asrama,Paulus Gandeguai, SPP.MM, kepada Jubi belum lama ini.
Sampai saat lanjut Gandeguai siswa yang tercatat sebanyak 230 pelajar pada SMA Negeri 3 Buper dan umumnya tinggal di asrama.”Kalau pun ada yang tinggal di luar asrama hanya sebagian kecil saja,” ujar Gandeguai.
Siswa siswa ini tutur Gandeguai menempati barak yang berada dalam satu lokasi sekolah yang terdiri dari 4 barak untuk putra dan 3 barak untuk putri.
Dari ketujuh barak ini masing-masing mempunyai guru pembina yang mengatur masing-masing barak dan beranggung jawap pada pembina asrama.
“ Asrama ini bukan hanya berfungsi sebagai tempat tinggal saja tetapi asrama juga merupakan tempat pembinaan bagi siswa-siswa. Untuk itu seorang siswa yang akan tinggal dalam asrama harus memperoleh kesepakatan antara orang tua siswa dengan pengelola asrama perlu dilakukan. Kesepakatan ini harus dilakukan bersama agar siswa dan orang tua siswa mengetahui kedisiplinan yang berlaku,”ujar Gandeguai mantan Kepala Sekolah SMA Negeri I Kota Jayapura.
Lebih lanjut jelas Gandeguai bahwa dalam kesepakatan ini atau sosialisai tentang tata tertib asrama agar pihak orang tua siswa dapat memberikan suatu kritikan atau masukan tentang aturan yang harus ditaati oleh seorang anak yang ingin tingal diasrama. “ Jika ada mungkin ada tata tertib yang memberatkan siswa atau pun di luar kemampuan seorang siswa bisa saja ditinjau kembali bersama-sama orang tua siswa,”ujar Gandeguai.
Kalau kemudian ada sanksi sanksi yang diberikan kepada siswa lanjut Gandeguai tidak lagi menjadi pertanyaan mau pun mungkin klaim atau protes dari orang tua siswa karena sudah ada kesepakatan dan tata tertib asrama.
Ada beberapa aturan pendidikan asrama di SMA Negeri III Buper terutama menyangkut waktu yang harus dipatuhi oleh setiap penghuni. Misalnya jadwal bagun pagi yang harus dilakukan pada pukul 04.00 WIT dan dilanjutkan dengan beberapa kegiatan lainnya. Pukul 06.00 WIT semua siswa sudah harus melakukan makan pagi sekaligus apel dan dilanjutkan dengan memulai pelajaran pada pukul 07.00 Wit hingga 14.45 WIT.
Setelah menyelesaikan pelajaran pada jam tersebut siswa-siswa kembali istirahat dan pada pukul 15.00 hingga 17.00 merupakan jam tambahan pelajaran.
Jam tambahan pelajaran ini dapat diisi dengan berbagai kegiatan yang menyangkut pelajaran maupun kegiatan olahraga lainnya yang dilakukan 3 kali seminggu pada hari Senin, Selasa dan Rabu, sementara untuk hari Kamis dilakukan pelatihan olimpiade bagi semua siswa-siswa.
Sekalipun waktu aktivitas yang cukup banyak namun siswa-siswa ini juga diberi kesempatan untuk ijin keluar yang dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu.
Ijin yang diberikan dalam bentuk ijin pesiar dan ijin berlibur, ijin pesiar ini di mana seorang siswa bisa keluar tetapi harus kembali pada hari itu juga.
Sementara untuk ijin berlibur siswa-siswa dapat keluar asrama untuk bertemu orang tua selama 1 sampai 2 hari yang dimulai dari hari Sabtu hingga hari Minggu.
Dari jadwal yang sudah ditentukan ini jika ada siswa yang melanggar aturan yang sudah ditetapkan ini pihak pengelolah asrama memberikan suatu sangsi yang bersifat pembinaan atau teguran.
Jika hal ini dilakukan kedua untuk kalinya maka siswa tersebut digiring kepada pembina asrama dengan sanksi dalam bentuk pendidikan juga. Apabila hal ini belum mendapat perhatian dan masih dilakukan untuk ketiga kalinya pihak asrama memanggil pihak orang tua siswa secara tertulis untuk menyelesaikannya. Jika seorang siswa masih melakukan pelanggaran yang sama siswa tersebut di kembalikan kepada orang tuanya.
“Siswa yang masih melakukan pelanggaran setelah pemangilan orang tua tidak diperkenankan tinggal diasrama atau segera dipulangkan untuk didik oleh orang tuanya. Namun hak untuk belajar tetap ada, hal ini kita lakukan karena bisa saja tata tertib asrama belum mampu untuk ditaati atau siswa tersebut lebih menyukai kebebasan,” jelas Gandeguai
Lebih jauh di jelaskan Gandeguai bahwa selain sangsi kepada siswa yang melanggar tatatertib asrama sangsi akademik juga ada, pemberian sangsi akademik ini pada dasarnya sama dengan apa yang dilakukan di asrama namun sangsi akademik ini lebih ketat.
Bila melakukan pelanggaran satu kali mungkin saja masih bisa dilakukan pembinaan namun jika sudah 2 kali bahkan hingga 3 kali siswa ini secara otomatis dikembalikan keorang tua atau mencari sekolah lain karena tidak mampu beradaptasi atau mengikuti aturan yang sudah ditentukan oleh sekolah.
SMA Negri 3 Buper lebih mengutamakan jurusan Ilmu pengetahuan alam bagi siswanya, jika pada tahap semester satu seorang siswa tidak mampu mengikuti pelajaran yang yang diprogramkan. Siswa bersangkutan juga segera dipulangkan untuk mencari sekolah lain sesuai dengan jurusan yang mungkin siswa tersebut lebih pahami dan lebih menyenanginya..
Aturan yang diterapkan oleh SMA 3 baik secara akademik maupun bagi yang tingal diasrama memang dirasa cukup ketat. Namun dibalik itu banyak hal yang dapat di dapatkan, dengan kebiasan hidup disiplin dan teratur peraturan semacam ini tentu tidak menjadi kendala bagi seorang siswa. Justru aturan seperti ini akan lebih mengarahkan seorang anak bagaimana pola hidup yang teratur dan disiplin tanpa ada tekanan dari luar.
Pola pendidikan yang diterapkan di SMA Buper ini boleh dikata cukup berhasil dan beberapa prestasi yang telah diraih oleh siswanya, salah satuanya adalah juara I olimpiade fisika yang dilaksanakan di Amerika beberapa waktu lalu.
Lokasi SMA Negri 3 Buper yang cukup strategis dan jauh dari kebisingan kendaraan sangat menunjang siswa dalam melakukan aktivitas belajar. Faktor keamanan untuk sekolah maupun asrama juga tidak menjadi permasalahan sebab pihak sekolah telah bekerjasama dengan pihak Satuan Brimob Polda Papua dalam menjaga keamanan .
Sekalipun tatatertib yang diterapkan dalam asrama ini cukup ketat namun hal ini tidak mempengaruhi minat siswa untuk tinggal dalam asrama. Bahkan animo siswa masih cukup tinggi hingga sekarang ini sehingga kapasitas tampung asrama ini cukup padat.
“Bahkan siswa-siswa ini lebih senang tinggal diasrama, sekalipun ada kesempatan keluar untuk pesiar namun siswa-siswa lebih memilih untuk mencari kesibukan dalam asrama” ujar Gandeguai.
Bagi Naniek Caroline yang baru saja tingga di asrama mengakui bahwa resiko untuk tinggal di asrama terutama harus berpisah dari orang tua dan sanak saudara.
“ Meski berpisah sebenarnya pola ini dilakukan untuk mengubah pola pikir yang lebih kreatif, lebih disiplin, lebih terarah, juga pembinaan dalam asrama akan mengarahkan untuk mampu…… mandiri” ujar Naniek Caroline salah seorang siswa kelas II yang sejak dari kelas satu tinggal diasrama Buper.
Lain halnya dengan Dian Dita siswa kelas II menandaskan bahwa banyak hal yang didapatkan jika tinggal di asrama. Selain lebih terfokus pada mata pelajaran, banyak pelajaran tambahan yang ia dapatkan. Misalnya penyaluran bakat-bakat olahraga yang ada pada diri masing-masi, selain itu lebih mampu membagi waktu sehingga hal ini menjadi bekal untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi. (Yunus Paelo/Dominggus Mampioper)

%d blogger menyukai ini: