Satu Bidan Untuk Dua Kampung

Selepa Ayomi ; Bidan Desa Juga Petugas Polindes

Jubi – Pelayanan dan peningkatan kesehatan bagi masyarakat di Papua yang sudah tertuang dalam UU No. 21 tentang Otonomi Khusus tentunya menjadi suatu prioritas yang diutamakan mengingat kesehatan bagi setiap manusia sagatlah vital.

Bagi kalangan masyarakat perkotaan, mendapatkan pelayanan kesehatan atau berkonsultasi dengan pihak medis bisa dikatakan bukan sesuatu yang sulit. Namun bagi mereka yang tinggal di daerah-daerah yang sulit dijangkau tentunya sangat susah mengingat berbagai keterbatasan yang ada. Misalnya saja keterbatasan tenaga medis. Walaupun telah ada Polindes namun belum tentu dapat menjangkau atau melayani masyarakat secara menyeluruh dan memuaskan sebagaimana layaknya sebuah rumah sakit.

Khususnya bagi mayarakat yang tinggal di pedesaan, pelayanan kesehatan anak-anak, balita, ibu hamil, ibu menyusui maupun ibu-ibu yang baru melahirkan, keberadaan tenaga medis seperti bidan sangatlah dibutuhkan. Dengan kehadiran bidan desa dapat lebih mengarahkan kaum ibu dalam merawat balita serta masalah kesehatan dalam keluarganya. Namun hingga kini, tenaga-tenaga medis seperti bidan desa masih sangat minim diberbagai daerah di Papua.

Seperti halnya desa Sabron Sari dan desa Sabron Yaru yang termasuk dalam wilayah distrik Sentani Barat, Kabupaten Jayapura. Daerah ini tidak begitu jauh dari ibukota kabupaten Jayapura, namun hingga saat ini keberadaan tenaga medis di daerah tersebut masih sangat minim.

Selepa Ayomi yang bertugas sebagai bidan desa untuk dua kampung tersebut ketika ditemui Jubi baru-baru ini mengungkapkan bahwa selain bertugas sebagai bidan desa dirinya juga bertugas sebagai petugas Polindes yang mengurusi setiap warga yang memerlukan bantuan kesehatan secara umum.

“Sebagai bidan desa seharusnya saya memberikan pelayanan bagi balita, ibu menyusui, nifas atau ibu yang baru melairkan serta melayani konsultasi ibu hamil. Sedangkan petugas Polindes seharusnya melayani masyarakat umum yang memerlukan pelayanan kesehatan atau mereka yang sakit.” jelas Ayomi.

Berdasarkan data kependudukan, Sabron Sari memiliki penduduk sebanyak 853 jiwa dan Sabron Yaru 620 jiwa. Dari jumlah penduduk ini jumlah bayi yang harus dilayani di Sabron Sari ada 22 bayi dan Sabron Yaru sebanyak 18 bayi. Sedangkan wanita usia subur berjumlah 188 di Sabron Sari dan 136 di kampung Sabron Yaru. Keadaan ini tentu cukup berat bagi seorang bidan desa untuk melayani dua kampung sekaligus yang menjadi lokasi kerjanya. Sekalipun dapat di layani sesuai jadwal namun dapat dibayangkan seberapa jauh hasil pelayanan yang didapatkan masyarakat dua kampung tersebut.

Selepa Ayomi sendiri, yang menyelesaikan pendidikan sekolah perawat kesehatan pada tahun 1993, kemudian melanjutkan sekolah kebidanan di Manokwari dan menyelesaikan pendidikan pada tahun 1996, dimana pada tahun itu juga ia mulai berprofesi sebagai bidan desa, hinga saat ini telah berpindah dari beberapa lokasi ke lokasi yang lain dan cukup punya pengalaman dalam hal pelayanan kesehatan bagi masyarakat luas.

Menurutnya kesehatan adalah merupakan suatu modal utama seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan atau aktivitas. Dan untuk mencapai suatu kesehatan yang ideal juga harus dimulai dari diri pribadi dalam masing-masing keluarga.

Utamanya bagi kesehatan anak, yang berperan penting adalah kehadiran seorang ibu dalam merawat anaknya sehingga terbebas dari berbagai hal yang dapat menggangu pertumbuhan anaknya. Selain faktor tersebut hal yang paling utama adalah menyangkut kebersihan.

“Untuk mendapatkan kesehatan yang cukup sangat ditunjang oleh kebersihan dan perlu perilaku bersih. Terkadang orang di kampung belum memahami hal ini. Sebab masyarakat di kampung juga hidup sangat sederhana sehingga jarang untuk mendapatkan informasi mengenai hidup sehat. Kalau informasi untuk hidup sehat saja tidak didapatkan, bagaimana mereka bisa memanfaatkan layanan kesehatan yang disediakan. Belum lagi kalau layanan kesehatan itu juga tidak memadai seperti sekarang ini.” ujar bidan yang juga petugas Polindes ini.

Lebih jauh dijelaskan bahwa pemberian makanan dan gizi yang berimbang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan anak tanpa mengesampingkan tentang kebersihan itu sendiri. Sebab menurut hasil penelitian RSUD. Dr. Soetomo, Surabaya, rata-rata tingkat konsumsi energi balita sebesar 76,25% dari angka kecukupan gizi yang dianjurkan (AKG). Konsumsi protein total telah melebihi angka kecukupannya (117,80% AKG), sedangkan asupan protein hewani sebesar 56,8% dari total protein. Konsumsi zat besi rata-rata telah mencapai angka kebutuhan yang dianjurkan untuk kelompok usia balita, dan konsumsi vitamin C sebesar 121,95% AKG..

Untuk mencapai hal tersebut juga perlu ada pengetahuan bagi kaum ibu, menyangkut perawatan anak balitanya, serta pengetahuan bagi ibu-ibu yang baru melahirkan, ibu-ibu yang menyusui dan kesehatan reproduksinya.

Pengaruh pendidikan ibu sangat besar, karena ibu menjadi penentu dan pengatur konsumsi makanan yaitu terhadap banyaknya masukan makanan pada balita. Pada usia ini anak rawan terhadap keadaan kekurangan zat gizi. Sebab umur 12–23 bulan bagi balita merupakan masa peralihan antara penyusuan dan makanan dewasa serta masa yang paling kritis karena adanya bahaya ketidakcukupan gizi dan penyakit infeksi. Menurut Jellife (1990), pada masa di atas satu tahun anak memerlukan makanan untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya, sehingga balita rentan terhadap anemia gizi.

Kurang energi protein (KEP) merupakan salah satu faktor yang dapat menunjang terjadinya anemia, karena pembentukan hemoglobin darah juga membutuhkan protein yang cukup. Pada anak yang KEP maka tubuhnya selain kekurangan energi juga mengalami kekurangan

protein, sehingga tidak mencukupi untuk mendukung dalam proses pembentukan hemoglobin darah. Menurut Kodyat (1995), penyebab utama kurang energi protein adalah kurangnya konsumsi pangan sumber energi yang kandungan zat gizi makronya adalah zat tenaga, zat pembangun dan lemak. Bila seseorang menderita kurang energi protein biasanya juga menderita kekurangan gizi mikro lainnya seperti anemia gizi besi.

Dalam hal ini, menurut Selepa, sebagai bidan yang merangkap petugas Polindes, harus diketahui oleh para ibu-ibu di kedua kampung yang dilayaninya. Karena kecil kemungkinannya untuk mendapatkan asupan gizi yang ideal, maka para ibu-ibu harus tahu bagaimana dan apa pengganti asupan gizi yang ada disekitar lingkungan mereka.

Hal ini akan dapat dicapai melalui suatu pelayanan misalnya melalui Pos pelayanan Terpadu (Posyandu) yang dilaksanakan dimasing-masing kampung, serta sosialisasi-sosialisasi kesehatan bagi masyarakat secara umum.

Mengenai tugas utamanya sebagai bidan desa dengan dua kampung yang menjadi lokasi kerjanya,diakui Selepa Ayomi memang cukup berat dan butuh kesabaran. Namun menurutnya pekerjaan sebagai bidan adalah merupakan suatu panggilan bagi dirinya yang harus dilakoni tanpa mengenal batas waktu baik di waktu malam ataupun siang bagi kaum ibu yang hendak melahirkan.

“Kalau malam hari ada ibu hamil yang siap melahirkan sekalipun jauh harus segera dilayani.” ujarnya.

Transportasi di kedua kampung tersebut yang bisa dijangkau kendaraan secara menyeluruh juga sangat membantu dan memperlancar tugasnya sebagai bidan.

Sebagai bidan desa sejak 1996 cukup banyak lokasi yang ia datangi dalam memberikan pelayanan. Misalnya jika ada ibu yang ingin melahirkan ataupun kegiatan-kegiatan sosialisasi lainnya.

Menurutnya saat membantu seorang ibu yang hendak melahirkan,momen ini dapat dijadikan sebagai suatu sosialisasi secara tidak langsung bagi masyarakat umum.

“Kesempatan membantu persalinan seperti ini bukan hanya sekedar membantu orang yang ingin melahirkan tetapi lewat kesempatan ini juga dapat memberikan suatu pemahaman bagi masyarakat secara luas tentang masalah kebersihan dalam rumah tangga dan kesadaran masyarakat untuk rajin berkonsultasi melalui posyandu yang dilaksanakan setiap bulan ditempat-tempat yang telah ditentukan. Sehingga jika ada kampung yang saya masuki pada saat memberikan pelayanan bisa saja pada saat yang bersamaan saya memberikan arahan dan pengetahuan secara umum bagi masyarakat tentang kesehatan dan bukan hanya terpaku pada satu tugas saja.” jelasnya lagi.

Khusus diwilayah kerjanya ini Selepa Ayomi berujar kalau kesadaran masyarakat untuk memperhatikan dan menjaga kesehatan mulai berubah dan mengalami peningkatan. Meski demikian sering juga ditemukan penataan rumah yang tidak mengutamakan kebersihan. Misalnya penempatan kandang hewan piaraan yang tidak memperhatikan jarak antara tempat tinggal dan tempat hewan piaraan. Tentunya hal ini dapat mengganggu kesehatan keluarga itu sendiri dan orang disekitarnya.

Ia juga mengakui jika tingkat kesadaran sebagian warga untuk memanfaatkan Posyandu masih sangat lemah.

“Pentingnya mengunjungi Posyandu bagi ibu-ibu yang hamil dan menyusui belum disadari secara menyeluruh oleh kedua warga kampung tersebut. Walaupun hanya lokasi-lokasi tertentu saja yang warganya tidak sadar akan pentingnya pelayanan ini, namun hal ini akan berpengaruh bagi generasi berikutnya.” terangnya.

Selain itu, menurutnya sebagian masyarakat masih ada yang lebih mementingkan kegiatan-kegiatan lain dalam rumah tangganya. Misalnya saja ada sebuah pesta yang dilaksanakan di kampung yang bertepatan dengan hari pemberian pelayanan posyandu maka warga, terutama kaum ibu itu lebih memilih mengikuti pesta tersebut dibanding datang ke Posyandu untuk pemberian imunisaai bagi balitanya maupun konsultasi yang sebenarya mereka sangat butuhkan. (Yunus Paelo)

%d blogger menyukai ini: