Perencanaan MIRE Tak Libatkan MasyarakatTani

MERAUKE-Merauke Integrated Rice Estate (MIRE) yang digembar-gemborkan pemerintah Kabupaten Merauke tak melibatkan masyarakat dalam perencanaannya. Alhasil, sejumlah petani transmigrasi yang dijumpai di kampung Marga Mulya Distrik Semangga tak merespon positif konsep tersebut.

Sutrisno, salah seorang petani yang dijumpai di kampung ini (9/1) mengatakan bahwa konsep ini sudah terlambat disosialisasikan dan tidak melibatkan masyarakat dalam perencanaan sehingga ketika sosialisasi dilakukan, warga jadi kebingungan. “Seharusnya kan kita dilibatkan, sehingga warga tani jadi paham apa itu MIRE dan bagaimana proses bekerjanya nanti”, tuturnya. Dirinya juga menjelaskan bahwa warga tani terkejut dengan konsep yang sudah jadi yang sejujurnya sangat bagus, namun itu tidak menjawab kebutuhan masyarakat. “Lahan dibuka sejuta hektar, dan setiap warga tani akan diberikan 5 hektar lahan proyek MIRE untuk dikelola. Lahan sejuta hektar itu membutuhkan tenaga 200 ribu orang, memang mencukupi tetapi seharusnya pemerintah memperhitungkan warga tani yang berada di tempat yang jauh seperti di Muting, apakah mereka akan dipaksa untuk menanam padi di Wapeko Distrik Kurik yang lokasinya sangat jauh dari tempat tinggal mereka?”, jelasnya panjang lebar.
Menurut Sutrisno, warga transmigrasi sebenarnya siap untuk mendukung program pemerintah, namun belum tentu dengan warga pribumi. “Hal ini akan menimbulkan kecemburuan, karena lebih banyak warga pendatang yang dilibatkan dalam mendukung MIRE”, tuturnya. Sutarno ( 34 thn) salah seorang petani di Kampung Marga Mulya mengatakan bahwa dirinya sudah mendapatkan lahan 5 hektar yang siap dikelola, namun dirinya belum mengolahnya karena lebih mendahulukan lahan yang dimiliki di sekitar pekarangannya. “Saya dapat lahan itu sebulan lalu, dan untuk dapat bekerja di lahan pemerintah harus petani yang berusia 20 hingga 40 tahun”, tuturnya.Berbicara keuntungan yang akan diperoleh nantinya, dirinya mengatakan belum tahu menahu, pasalnya belum ada pembicaraan yang jelas. “Saya nggak tahu pembagian hasilnya bagaimana, kita hanya disuruh kerja saja”, ucapnya.
“Konsep ini terlalu terburu-buru dan tidak melibatkan warga, waktu saya tantang Kepala Dinas Pertanian saat disosialisasi dia malah bilang saya ini anak Merauke jadi lebih tahu dari para petani, akhirnya saya diam saja”, ungkap Sutarno menjelaskan sosialisasi MIRE yang mengejutkan warga beberapa waktu lalu. (drie/petfar/www.fokerlsmpapua.org)

%d blogger menyukai ini: