Distrik Poom, Yapen : Menggantungkan Hidup Pada Sagu dan Pinang

JUBI – Distrik Poom adalah salah satu Distrik yang berada di kabupaten Yapen dan saat ini memiliki 6 kampung yaitu Poom I, Poom II, Serewen, Rarisi, Worioi, Makiroan. Sebelumnya berjumlah 13 kampung. 7 (Tujuh) lainnya yaitu, Waisani, Munggui, Asai, Windesi, Saruman, Karawi, Kaonda. Namun sejak tahun 2007 kampung-kampung ini tergabung dalam wilayah Distrik Inanoi dengan ibukota Windesi.

Nama POM berasal dari kata PONG dalam bahasa daerah penduduk Pom yang artinya “Depan atau Kemuka” lalu dalam sebutan disingkat menjadi POM yang juga berarti sudah ada orang lebih dahulu. Sebutan ini berasal dari awal orang asli teluk Roni menyebut ini “Pong” kepada orang-orang asli yang sudah ada di teluk Roni tepatnya di gunung Manupui yaitu marga Kadiwaru. Penyebutan ini sekaligus sebuah pernyataan pengakuan bahwa sudah ada penduduk asli di teluk Roni.
Kampung Poom I letaknya berdekatan dengan kampung Poom II yang juga sebagai ibukota Distrik Poom. Dua kampung ini berada di teluk yang namanya Roni Airani. Perjalanan ke Distrik Poom dari ibukota Serui sekitar 6-8 jam jika menggunakan perahu motor. Sedangkan bila dari kabupaten Biak hanya berjarak sekitar 2 jam. Keadaan ini berpengaruh pada aktivitas dan mobilisasi warga yang lebih sering melakukan perjalanan ke Biak dari pada ke Serui ibu kota kabupaten Yapen.
Perjalanan dari kampung Poom II ke Poom I hanya sekitar 2-3 menit menggunakan motor tempel. Sedangkan dengan perahu dayung sekitar 5-7 menit perjalanan. Pada awalnya kampung Poom I masih bergabung dengan kampung Poom II ketika masih bergabung dalam Distrik Yapen Barat. Namun sejak menjadi Distrik sendiri kedua kampung ini terpisah. Namun warga dari kampung Poom I masih selalu melakukan perjalanan ke Poom II, selain untuk urusan pemerintahan tapi juga karena wilayah adat warga kampung Poom I ada juga di Poom II. Bahkan marga yang awal mulanya berasal dari Poom I sudah banyak yang bermukim di Poom II. Selain itu layaknya yang lain perjalanan dilakukan untuk kunjungan kekeluargaan.
Poom I merupakan kampung dengan jumlah penduduk terbanyak di Distrik Poom. Jumlah penduduknya adalah 283 KK dengan jumlah jiwa 1.304 orang dimana laki-laki berjumlah 663 dan perempuan 641. Secara pemerintahan kampung Poom I berbatasan sebelah Utara dengan kabupaten Biak dan Supiori. Selatan dengan gunung Manupui, Barat dengan kampung Poom II dan Timur dan kampung Serewen. Marga yang ada di kampung Poom I antara lain Berotabui, Heipon, Paririe, Bisai, Airi, Beroperay, Kadiwaru, Kapitarau, Manihiri, Bino, Hoor dan lain sebagainya. Bahkan ada juga warga dari Biak, Waropen, Jayapura dan Wandamen, namun jumlahnya sedikit. Selain itu menurut cerita bahwa ada satu marga yang sejak tahun 1969 sudah punah yaitu Pombawo.
Menurut Yakonias Beratobui, Kepala Kampung Poom I, kampunya memiliki 5 Rukun Warga (RW). 4 berada di pulau besar Yapen dan 1 lagi berada di pulau Miosnom yang bahasa Poom sebut Ausem. Menurut cerita warga wilayah kampung ini telah dibagi 2, sebagian masuk wilayah Distrik Yapen Barat yang beribukota di Ansus dan sebagian masuk wilayah Distrik Poom. Pembagian pulau ini dilakukan karena ada perebutan soal kepemilikan. Untuk menyelesaikan sengketa ini dibuatlah perlombaan menggunakan perahu antara dua pihak yang bersengketa untuk memutar pulau itu. Mereka mulai mendayung hingga tempat dimana keduanya bertemu itulah yang menjadi wilayahnya.
RW V hanya dihuni sekitar 37 KK yang berprofesi sebagai nelayan. Selain itu warga juga melakukan usaha membuat perahu dan menjual damar. Sedangkan warga yang berada di empat RW lainnya yang berada di pulau besar masih melakukan aktivitas sebagai nelayan dan juga berkebun.
“Warga di kampung ini menggantungkan hidup mereka pada pinang dan sagu. Pinang mendominasi sekitar 40 % pendapatan warga. Selain dijual di kampung warga Poom juga menjualnya ke Biak baik itu menggunakan kapal perintis maupun dengan kapal motor. Selain pinang hasil warga yang juga ada yaitu sagu, kelapa serta hasil kebun lainnya berupa kasbi, keladi, dan sayur-sayuran. Namun perdagangan ini tidak rutin dilakukan dikarenakan sulit serta mahalnya harga bahan bakar.” ujar Beratobui.
Dari pantauan Jubi, jika di Serui satu liter bensin harganya Rp 5.500 dan di Biak Rp 4.500 maka di kampung harganya mencapai Rp 10.000. Hal ini berdampak pada mobilisasi warga dalam melakukan aktivitas perekonomian. Karena itu warga jarang melakukan perjalanan ke Biak dengan menggunakan perahu motor. Warga lebih sering menggunakan fasilitas kapal perintis dalam menjual hasil alamnya. Namun terkadang, karena waktu kedatangan kapal yang sekitar 2 minggu sekali baru datang dan kadang tidak tentu maka warga akan menjual hasil kebun mereka dengan harga seadanya. Warga sudah menaksir antara barang bawaan dengan hasil yang akan didapatkan yang kesemuanya digunakan untuk membeli bahan kebutuhan harian rumah tangga. Karena itu warga Poom tidak terbiasa menabung kelebihan dari penjualan hasil kebun mereka.
“Sekali perjalanan warga biasanya membawa 5-10 karung pinang ukuran 20 dan 50 kg. Aktivitas ini hanya dilakukan sebulan sekali. Satu karung pinang berukuran 50 kg bisa laku Rp 300.000 sedangkan yang karung 20 biasanya dijual Rp 50.000. Namun jika pinang sedikit di pasaran maka harga pinang akan meningkat sebab satu karung 50 bisa terjual seharga Rp 500.000 dan karung 20 terjual Rp 100 hingga 200 ribu.” ujar Marthen Kapitarauw, Ketua Bamuskam Kampung Poom I.
Sedangkan sagu dijual warga bukan saja ke Biak tapi juga ke Numfor, Manokwari bahkan hingga ke Jayapura. Sekali menjual warga bisa membawa 20-50 tumang dengan ukuran yang besar dan kecil. Jika dijual ke Numfor dan Manokwari harganya bisa 80 hingga 100 ribu. Ke Biak seharga 70-80 ribu. Ke Jayapura seharga 100 ribu namun dalam bentuk karung. Selain itu warga juga terkadang menjual sagu dalam bentuk noken di pasar kampung Poom I maupun di kampung Poom II seharga 10 hingga 30 ribu. Sayangnya menjual sagu bukan merupakan pekerjaan tetap sebab dilakukan hanya sekali dalam sebulan. Untuk memproduksi sagu dalam jumlah banyak tentu membutuhkan tenaga yang banyak. Selain itu warga jugamasih menggunakan peralatan tradisional.
Warga juga mengeluhkan pungutan yang diberlakukan di kapal yang biasa mereka gunakan untuk membawa sagu. “Pungutan tersebut cukup memberatkan karena besaran pungutan disesuaikan dengan jumlah barang yang dibawa. Satu barang biasa dihargai 5 ribu rupiah sehingga ketika mereka membawa 20 tumang sagu maka mereka harus membayar hingga 100 ribu. Belum lagi jika ditambah bawaan warga lainnya seperti pinang dan kelapa. Tidak ada standar harga atas barang bawaan mengakibatkan seringnya warga yang membawa barang akan terlibat pertengkaran dengan petugas di kapal.” keluh mama Aplena Hoor yang sering membawa sagu untuk di jual ke luar distrik Poom.
Kepala Kampung Poom I juga mengatakan bahwa mereka memiliki kelompok usaha penyelam untuk mencari hasil laut. Namun kelompok ini belum terorganisir secara baik. Misalnya ketika mereka pergi mencari secara bersama, ternyata hasilnya akan dibagi sesuai usaha yang dilakukan. Jika ada kelebihan baru hasilnya dijual atau setelah hasilnya dikumpulkan dari beberapa kali menyelam. Selain itu, perlengkapan yang digunakanpun masih sangat tradisional sementara mereka harus menyelam di laut yang cukup jauh dari pantai. Padahal kelompok ini sangat potensial karena seringkali mencari lobster dan berbagai jenis ikan lainnya jika ada permintaan atau ada kunjungan pejabat dari kabupaten maupun provinsi.
Sarana pendidikan di kampung Poom I terbilang cukup memadai untuk sebuah kampung. Telah ada 3 sekolah yaitu SD YPK Poom I, SD Inpres dan SMP Satu Atap. “Selain itu juga telah didirikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dengan terdiri dari empat bagian yaitu Paket A,B dan C, Pendidikan Anak Usia Dini, Aksara Fungsional, serta kelompok keterampilan, ukiran dan lainnya. Namun yang baru berjalan adalah bagian paket A,B dan C yang jumlah siswanya 120 orang. Hanya saja distrik ini masih kekurangan tenaga guru, ruang belajar dan fasilitas penunjang proses belajar. Di SD YPK ratio perbandingan guru dan murid sebesar 1:13, di SD Inpres Negeri 1: 20 dan di SMP Statu Atap 1:8.” ujar Timotius Beratobui, Kepala Sekolah SMP 1 Atap Kampung Poom.
Sedangkan tenaga kesehatan yang ada di distrik ini sebanyak 3 orang (2 orang mantri dan 1 orang suster). Semuanya bertugas di Puskesmas yang letaknya di kampung Poom II sebagai pusat Distrik. Distrik ini tidak memiliki bidan desa. Saat ini hanya ada 8 orang kader Posyandu yang membantu melakukan aktivitas penimbangan. Masyarakat di distrik Poom juga rentan terhadap Malaria dan ISPA.
Di daerah kampung Poom I belum ada daerah yang menjadi objek pariwisata. Namun menurut keterangan warga, pernah dilakukan survei untuk potensi ecoturism pada Desember tahun 2006 namun hasilnya tidak diketahui warga. Selain itu, sekalipun bukan berada di wilayah kampung Poom I (namun pemilik kawasan adalah warga kampung Poom I) tapi ada daerah yang bernama Aikakopa merupakan tempat sarang burung Cenderawasih yang menjadi daerah tujuan wisata bukan saja lokal, nasional bahkan internasional yang berasal dari Perancis, Belgia, Inggris dan Belanda. “Turis yang datang berkunjung masih menggunakan tenaga guide dari travel di Biak. Sedangkan pemilik kawasan di kampung Poom I hanya sebagai penunjuk jalan. Selain itu ada objek pantai Saununi yang ramai dikunjungi warga jika libur terutama oleh anak-anak sekolah maupun dari anak sekolah minggu. Daerah ini sehari-hari menjadi tempat jalan warga ke kebun. Selain potensi wisata tersebut juga ada air terjun di daerah Haribi yang sering menjadi daerah persinggahan dari warga ketika melakukan perjalanan jauh dari kampung-kampung sekitar.” ujar Manuel Kadiwaru, petugas PPL yang bertugas di Kampung Poom.

Menurut Manuel, warga di Kampung Poom ini masih kurang mendapatkan informasi mengenai pembangunan. Hanya sedikit warga yang memiliki radio. Siaran yang didengar juga berasal dari Biak dan Manokwari. Sedangkan siaran radio dari kabupaten Yapen tidak bisa didapat. Siaran yang didengar warga biasanya hiburan serta berita dari daerah lain. Selain itu di kampung Poom I hanya ada 1 (satu) unit televisi parabol yang ditaruh di pasar kampung. Namun acara yang ditonton biasanya sifatnya hanya hiburan. Untuk menonton televisipun, warga kesulitan BBM sebagai bahan bakar mesin genset yang digunakan. (Aston Situmorang/Victor Mambor)

Iklan
%d blogger menyukai ini: