Dilarang Melaut, Nelayan Alami Kerugian

MERAUKE-Sejumlah nelayan yang mendiami pesisir pantai Merauke mengalami kerugian karena larangan yang diberlakukan oleh pemerintah akibat munculnya gelombang pasang.

Nurdin (34 thn) seorang nelayan yang dijumpai di pesisir pantai Lampu Satu (8/1) mengatakan bahwa sudah sebulan ini dirinya tak melaut akibatnya dirinya tak mendapat penghasilan seperti biasanya. “Biasanya selalu cari ikan, namun karena gelombang pasang terpaksa saya berhenti melaut”.
Aktivitasnya kini hanya membuat jaring yang pendapatannya tak seberapa jika dibandingkan dengan mencari ikan. Hal senada juga disampaikan oleh Kris Merom (29 thn) seorang nelayan pribumi yang sehari-harinya menggantungkan hidup dari hasil laut. “Sekarang saya nganggur, sebenarnya masih ada persediaan ikan di freezer tapi saya jual mahal karena sudah tidak ada persediaan lagi” jelasnya. Dirinya mengaku bahwa banyak konsumen ikan yang mengeluhkan harga ikan yang melambung tinggi, setali ikan bandang yang biasanya dijual seharga Rp.15. 000 kini dijual seharga Rp. 25.000.
Kelangkaan ikan ternyata dikeluhkan oleh sekelompok ibu-ibu yang tengah berbelanja di pasar Ampera Merauke. Mencari alternatif lain sebagai bahan makanan keluarga sangatlah sulit karena umumnya ikan merupakan kebutuhan pokok bagi warga Merauke. “Kalau waktu mau natal dan tahun baru hanya ikan Gembung yang lenyap, sekarang ikan su sedikit baru dia pu harga mahal lagi”, keluh mama Veronika yang tengah berbelanja. Larangan melaut memang baik untuk keselamatan diri, namun disisi lain dampak ekonomis sangat terasa bagi para nelayan dan konsumen. “Ya mau bagaimana lagi ini sudah resiko jadi nelayan…. daripada mati bunuh diri ditengah laut terpaksa kami nganggur sampai keadaan laut tenang kembali”, tutur Kris Merom pasrah. (drie/petfar/www.fokerlsmpapua.org).

%d blogger menyukai ini: